
Calista mulai tersadar matanya mencoba menetralisasi dengan suasana yang remang-remang di ruangan itu, tangannya terikat di sebuah kursi duduk yang menghadap ke arah depan.
" Mom." Calista berteriak ketika melihat Nona Smith dan ayahnya terikat dan di rantai di seberangnya.
" Wah kau sudah bangun." Fiona kini menghampiri Calista dan menjambak rambutnya.
" Tenanglah sayang." William berkata lirih pada Fiona membuat Fiona melepas kasar jambakannya.
" Mulai." Fiona menginstruksi 2 orang anak buah untuk menyiksa nyonya dan tuan Smith.
" Jangan Siksa orang tuaku." Air mata sudah membanjiri pipi Calista. Tatapannya memohon ke arah Fiona dan William yang menampilkan wajah datar dan tajamnya.
" Kumohon, aku akan melakukan apapun, siksa aku tapi jangan orang tuaku." Calista berontak mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
Calista semakin Histeris mendapati kedua orang tuanya merintih kesakitan, seorang anak buah Fiona menampar wajah Nyonya Smith dan 1 nya lagu mencambuk Tuan Smith dengan keras. Dan terakhir seorang menodongkan Pistol ke arah mereka.
" Jangan." teriak Calista berontak hingga terjatuh dari kursi.
seketika tubuh Calista melemas, Saraf nadinya seakan berhenti berdenyut, dan hidupnya runtuh di depan mata kepalanya sendiri Orang tuanya di tembak hingga darah bermuncrat ke baju pengawal yang menembak mereka.
terdengar ketawa keras dari Fiona menyaksikan kejadian itu. Tapi Calista tidak bisa mencerna dengan cepat, titik hidupnya berada di 0, tenaga nya terkuras habis, dan akhirnya jatuh pingsan.
3 bulan kemudian.
" Jangan mendekat kalian." wanita itu memeluk boneka taddy bear dengan erat, perawat hanya ingin memberinya makan tapi selalu mendapatkan perlakukan buruk dari wanita gila ini.
wanita itu adalah Calista kejadian demi kejadian merenggut kewarasannya, rambutnya tak lagi terurus, wajahnya pucat pasih, hidupnya kini berantakan.
" makan yaa, kami tidak akan mengambil anakmu." salah satu perawat mencoba tersenyum dan menenangkan Calista.
" Tidak! kau berbohong." Calista duduk di pojokan memeluk erat boneka taddy bear coklat nya yang di anggapnya sebagai anak.
" ustt,, anakku menangis. menjauh kalian." Teriak Calista mendorong perawat membuat perawat itu hampir saja jatuh ke lantai.
" Baiklah,, saya taruh makanan nya di meja yaa." Perawat wanita itu masih menampilkan senyumnya dan berlahan keluar menutup kembali pintu ruangan Calista.
" huh,,anak mom, kesayangan nya mommy" Calista menimang-nimang bonekanya.
" Banyak orang jahat, mommy takut mereka mengambil kau lagi." Calista mencium boneka itu dengan tulus dan penuh cinta.
" mommy sendiri, semuanya pergi, mommy takut kau juga akan pergi." Calista menangis sesenggukan menatap boneka di tangannya.
" Tidak ada yang boleh memisahkan kita sayang." Calista kini berdiri dan mulai duduk di ranjang rawat.
......................
" Bagaimana keadaan wanita itu." Seorang wanita berbicara dari balik telpon.
" Memprihatinkan, semakin hari semakin memburuk." lantas kabar itu membuat Senyum licik itu mengembang di wajah wanita tua itu.
Jahat, dunia itu memang tidak adil tapi terkadang kejahatan itu tersembunyi rapat sehingga tak seorangpun menyadarinya. wajah yang bak malaikat pun belum tentu mencerminkan hatinya. dan yang terlihat jahat pun belum tentu memiliki hati sekejam tatapannya. Lantas siapa yang harus di percaya hanya Tuhan bukankah seperti itu harusnya.
wanita tua itu berjalan pelan ke arah Sofa mendapati seorang lelaki muda yang seakan frustasi. Dia adalah Max yaa Max yang merasa bersalah besar akan perbuatannya. Tapi demi apapun Max tidak tau rencana besar yang akan terjadi waktu itu.
" Nak, kau tidak harus menyalahkan dirimu." Wanita tua itu mengelus bahu Max menyalurkan kekuatan pada anak angkatnya.
" Aku yang terburuk, pengkhianat, dan terjahat." Max memejamkan matanya kedua tangannya memengang kepalanya sendiri.
pikirannya riuh bersorak sarkastis kepada dirinya sendiri.
Wanita tua itu adalah Nyonya beth. yang kini mulai menangis menatap kondisi Max.
" Mom, jangan menangis. Aku menyayangimu." Max memeluk nyonya Beth yang di sayanginya.
bukankah yang tersayang bisa saja mengkhianati? dunia ini berlaku hukum tabur menabur. Apa yang kau tabur itu yang kau dapat Max. Batin Nyonya Beth kini teriris begitu sakit.
" Nak, tidak ada kah niatan untuk memberitahu Kondisi Calista pada Sean untuk menembus rasa bersalah mu." Nyonya Beth Kini menatap mata Max yang hampir mengeluarkan air mata.
" Percayalah padaku mom, aku akan menyatukan mereka walau nyawaku taruhannya." Ucap Max terasa pahit di kerongkongan saat mengungkapkannya.
" Mom akan terus mendukungmu." Nyonya Beth mengelus kepala anak angkatnya.
......................
" nona waktunya tidur." perawat kini menuntun Calista duduk di ranjang rumah sakit. Calista hanya menurut dan terus menggendong Teddy bear nya.
diam-diam perawat itu menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Calista yang membuat kesadarannya hilang
" Menyusahkan." Perawat itu kini tersenyum licik memperbaiki tidur Calista dan meninggalkannya.
Hening di ruangan Calista selepas kepergian suster tapi tidak dengan penjagaan di luar, sangat ketat. Seorang bertopi yang memperhatikan Rumah sakit itu dari beberapa hari lalu msih memikirkan cara untuk masuk kesana, 1 salah langkah habislah semua nya akan terbongkar, terlebih sulit untuk membohongi orang yang sudah terlatih handal. matanya menelusup tajam ke arah salah satu penjaga di pintu yang menerima obat-obatan dan menaruhnya di saku.
satu yang bisa membantunya sekarang hanya Sean. Namun ketika dirinya muncul Sean malah hilang bak di telan bumi. Dan ini pasti sudah dalam rencana Tua bangka yang licik itu. Deon kini mundur dan berjalan menjauh masuk ke dalam mobil Sedan nya. Ponsel yang sedari tadi bergetar kini terangkat juga
" Bagaimana Bee kau baik-baik saja?" Suara perempuan yang di cintainya kini mulai terdengar Khawatir.
" Tenanglah bee, aku baik-baik saja. ingat pesanku jaga dirimu jangan keluar sebelum aku di rumah." Wajah Deon kini berubah serius.
" Iya bee." Sesimpel itu wanita itu menjawab tanpa ada pertanyaan lainnya. Wanita itu masih yang di cintai Deon.
" Love You." Deon mematikan ponselnya dan kini menyalakan mesin mobil.
jika Deon tidak lekas mengambil Rose saat itu sudah di pastikan Rose akan dalam bahaya dan bisa saja pergi untuk selamanya. Bahkan sampai detik ini pun wanitanya itu menjadi incaran. Awal yang di Kira Deon akan berakhir baik dengan meninggalkan Rose malah menjadi hal terburuk yang terus Deon sesali. Bukankah perlakuan buruk itu jauh dari perjanjian ketika Deon memutuskan hilang. Perjanjian yang di buatnya dengan orang ter licik tuan Otoriter yang mengendalikan anak buahnya seperti robot. Suka menjadikan orang lain mangsa dalam menutupi kebusukannya tanpa harus mengotori tangannya sendiri dan membiarkan orang lain dalam bayang- bayang penyesalan.
Deon memutarkan Setirnya ke arah Kanan dan berhenti di pinggiran jalan yang sepi.
Tangannya meraih Ponsel untuk menghubungi seseorang. Kali ini dirinya harus benar-benar kembali menjadi orang yang seperti dulu tanpa belas kasih menyerang dan menjadi yang lebih licik dari semua yang terlicik.