
" Aku bisa saja menyuruh ayahku untuk membunuhmu!" tegas seorang gadis cantik dengan sorot mata tajam ke arah lelaki yang kini menghadang jalannya. Dia adalah Bella anak dari Sean William Charless pemilik perusahaan ternama dan pimpinan organisasi ilegal.
" minggir, biarkan aku lewat." lelaki itu tersenyum remeh ke arah Bella yang kini pucat pasih. Sepertinya dia menyesali perbuatannya karena kabur meninggalkan Adrian yang sedang sibuk dengan acara makan malam bersama rekan kerja mereka.
Pria itu mendekat ke arah Bella yang berjalan mundur beberapa langkah. Sepertinya nyali Bella ciut ketika menyaksikan jalanan yang sepi dan tidak ada penjagaan bodyguard di sekelilingnya.
Lelaki itu meringis kesakitan ketika sebuah batu mengenai kepalanya. Seorang gadis memukul kepalanya dengan batu berukuran sedang hingga kepalanya mengeluarkan darah segar. Dia menggeram marah ketika gadis itu menarik mangsanya untuk berlari kali ini.
" Ayo lari." Bella terkejut ketika seorang gadis menarik tangannya namun langkah Bella tetap ikut berlari dengan High Heels yang kini di lepasnya.
mereka bersembunyi di balik tumpukan sampah yang membuat Bella harus menahan muntahnya karena bau yang di akibatkan sampah di dekatnya.
Bella mengambil ponselnya, dengan cepat mengirimkan Share Lokasi kepada Adrian dan mengirimkan teks meminta tolong padanya.
" hey kalian." langkah lelaki itu semakin mendekat membuat Bella dan Gadis itu semakin cemas.
Gadis itu Gesit mengambil apapun benda keras yang ada di dekatnya untuk berjaga jika lelaki itu menemukan dia dan Bella.
" Hah, kalian di sini rupanya." tawa lelaki itu semakin membuat Bella panik dan ketakutan.
Belum Sempat gadis itu hendak melayangkan besi yang di dapatnya ke arah lelaki itu. Tapi sebuah peluru tepat mengenai kepala lelaki yang ada di depannya, membuat gadis itu membelalakkan matanya dan menutup mulutnya tak percaya atas apa yang di lihatnya langsung.
" ka Adrian." Bella memeluk Adrian erat, dia menangis di pelukan kakaknya yang kini menyorot tajam ke arah mata gadis itu.
" Ka, gadis itu yang menolongku." Ucap Bella membuat Adrian kini mendekat kearah gadis yang masih duduk berjongkok di dekat tumpukan sampah.
" Terima Kasih." Suara Adrian yang dingin dan serak membuat Gadis itu membuka matanya dan menatap pentopel hitam lelaki yang berdiri di depannya.
" ayo pulang dengan kami, aku akan mengantarmu." Bella kini menarik pelan tangan Gadis itu dan menuntunnya ke arah mobil Adrian yang mahal.
" bereskan semuanya." Ucap Adrian ke 2 orang bodyguard yang kini bersamanya.
" Maafkan aku ka, yang pergi tanpa izin darimu." Bella kini menunduk sedang Adrian hanya diam tanpa menatap Bella atau membalas ucapan Bella.
" Namamu siapa?" Bella kini menatap gadis yang ada di sampingnya.
" Shanum dari Indonesia." gadis itu tersenyum hangat ke arah Bella. Bella mencoba membalas dengan senyum hangat ketika mendapati dia bertemu dengan orang dari negara yang terkenal keramahannya.
" Aku pernah tinggal di sana waktu kecil." Bella kini seperti sudah akrab dengan Shanum bercerita tanpa jeda tentang bagaimana dia sangat merindukan Indonesia. Padahal hanya beberapa menit lalu mereka kenal.
Adrian yang menyetir hanya menyimak pembicaraan kedua gadis di belakang tanpa mau menoleh ataupun ikut bergabung dengan pembicaraan tanpa manfaat untuknya.
Shanum mulai menghela nafas panjangnya ketika suasana menjadi hening dan Bella mulai mengantuk.