
" Aku kekasihmu!" Adrian menatap tajam mata Shanum yang entah ke berapa kali telah mengeluarkan air mata.
" mengapa kau sangat suka menyiksaku!" Shanum bersuara pelan ketika Adrian melepaskan tangannya dari mulutnya.
" kau bilang mencintaimu, tapi kau menyakitiku." lanjut Shanum Suara Shanum terdengar frustasi dan perkataannya sudah tidak bisa di kontrol.
" Aku hanya ingin kebahagiaan di hidupku!" Shanum memejamkan matanya, isak tangis nya semakin kencang.
" Bunuh saja aku Adrian, bunuh." Ucapan Shanum yang bergetar membuat Adrian menghilangkan jarak di antara mereka.
" Benarkah kau ingin di bunuh?" Adrian berbisik di telinga Shanum yang sudah tidak peduli.
" Baiklah." Bukannya mengeluarkan pisau Adrian malah menarik Shanum ke dalam pelukannya dan mencium pelan kening Shanum.
" Menurut Lah padaku." Adrian mengelus pelan surai rambut Shanum.
Shanum hendak mengelak tapi itu bisa saja membuat Adrian berlaku lebih kejam padanya hingga dirinya diam dan tangannya berlahan menerima pelukan Adrian.
di dalam hati terdalamnya Shanum masih sangat mencintai Adrian Tapi terkadang cinta itu berubah menjadi benci ketika Adrian berlaku kasar padanya.
" Bersama lah denganku jika kau tak ingin Antonio terluka." Suara Adrian penuh penekanan membuat Shanum semakin terisak.
" Aku bersamamu." Suara Shanum bergetar di sela isak tangisnya.
...****************...
Sedari tadi Adrian tak henti mengelus tangan Shanum, tatapannya masih fokus ke arah Jalan.
Shanum mulai menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Matanya menoleh ketika melihat toko Es cream di pinggir jalan.
" Kau ingin Es cream?" Shanum masih takut untuk bersuara membuat Adrian memberhentikan mobilnya di area parkir mobil penjual Ice Cream.
Adrian mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Shanum.
Shanum sangat malu jika harus turun dengan penampilan seperti ini. Bukankah dirinya seperti gembel mengenakan dress dan sendal dengan rambut yang terikat asal dan mata yang sembab.
" Tidak usah malu, aku bersamamu sayang." Adrian menarik pelan tangan Shanum untuk mengikutinya berjalan ke arah toko Ice cream.
" Duduklah." Adrian menarik pelan kursi di meja dan menyuruh Shanum duduk sedangkan dirinya kini berjalan untuk mengantri Ice cream di depannya.
Shanum masih terdiam, tatapannya mengarah ke jalan yang tidak macet.
" Anne kau di sini?" panggilan itu sontak membuat Shanum terkejut dan menoleh. Di lihatnya Ariana teman sekantornya yang sudah siap berangkat kerja.
" Apa kau membolos kerja? Karena kulihat penampilanmu tidak seperti biasanya." Ariana yang tidak suka dengan Shanum kini mulai duduk di depan Shanum.
" kerja." Shanum menatap Ariana yang memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah.
" Apakah kau habis menjadi pelacur?" Ucapan Ariana langsung terkekeh dan menutup mulutnya sendiri.
" apa pekerjaanmu mewawancarai ku?" Shanum bersuara membuat Ariana Semakin terkekeh.
" Hari ini perusahaan kita akan kedatang CEO dari pewaris perusahaan. Kuharap kau akan sedikit lebih rapi ketika bertemu dengannya nanti. " Ariana berdiri dan meninggalkan Shanum.
" Minimal menutupi KissMark di lehermu pelacur." Ariana berbisik setelahnya pergi membuat Shanum membelalakkan matanya tak percaya.
Ulah Adrian yang terpampang jelas di leher Shanum, membuat Shanum langsung melepas ikat rambut dan membiarkan rambutnya terurai.
tangan Adrian menyodorkan ice cream coklat ke arah Shanum, membuat tangan Shanum sedikit bergetar ketika mengambilnya.
" Adrian hari ini aku kerja." Suara Shanum tidak menghalangi Adrian yang hendak menjalankan mobilnya.
" lalu?" Adrian sesekali menatap wajah Shanum yang ketakutan.
" Aku harus bekerja hari ini, jika tidak hal buruk akan terjadi." Shanum sedikit kesal dengan Adrian membuatnya menaikkan suaranya.
Dia baru menyadari mobil Adrian mengarah ke kantornya.
" Adrian yang benar saja. " Shanum memegang lengan Adrian, dia panik bukan main ketika mobil Adrian parkir di depan kantornya. Masalahnya Shanum belum siap jika harus berpenampilan seperti ini ketika penyambutan tamu besar.
" Bukankah kau ingin bekerja?" Adrian menatap Shanum yang mulai menutup wajahnya.
" Aku malu Adrian, penampilanku seperti gembel, kau ingin mempermalukan ku?" Shanum melampiaskan kekesalannya, air matanya kini menetes kembali.
" Tidak ada yang berani mengejek penampilanmu." Adrian menghapus air mata Shanum.
Tangan Adrian menarik keluar tangan Shanum.