One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
pembunuhan?



"berbahagialah karena tuhan masih mau menyelamatkanmu." Suara itu samar di telinga Calista.


Calista berlahan membuka matanya, dirinya terikat di sebuah kursi dengan tangan yang di borgol.


tenggorokannya sangat kering. Terlihat Sean yang menatapnya tajam.


" Ku harap ini hanya mimpi." Calista memejamkan kembali matanya sebelum akhirnya Sean menyemburkan air di wajahnya. Membuat mata calista terbuka lebar.


" Bayiku mana Sean!" Calista mencoba berteriak namun hanya terdengar suara pelan dan parau dari tenggorokannya.


" Bukan bayimu Calista, tapi bayiku, penerusku!" Sean kini berdiri mendekati Calista.


" aku yang mengandungnya Sean! kau tidak bisa memisahkan aku dengan anakku." Suara Calista penuh penekanan, tatapannya tajam ke mata Sean yang juga menyorotnya. Sean hanya tersenyum licik membuat Calista semakin geram.


" keparat! apakah tidak ada rasa Iba di hatimu." Ucap Calista yang kini menangis ketika Sean menampar pipinya.


" aku tidak punya rasa Iba, aku hanya punya rasa benci." Sean menjambak rambut Calista.


" apa yang ku perbuat, hingga kau sangat membenciku? harusnya aku yang membencimu Bajingan karena telah menghancurkan hidupku!" Kesabaran Calista di bang batas, ingin rasanya membunuh lelaki di depannya ini.


" Jaga ucapanmu!" Sean menekan kedua pipi Calista dengan tangan kirinya dan menghempasnya keras sebelum akhirnya meninggalkn Calista di ruangan pengap itu.


calista mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ruangan itu bau amis darah, pandangannya bertemu dengan tulak belulang dan tengkorak yang ada di pojok ruangan. Tangisnya semakin menjadi ketika melihat organ lunak di dalam toples-toples yang tersusun rapi di rak lemari. pikirannya kuat bahwa itu adalah organ tubuh manusia.


Tubuhnya bergetar hebat, tangannya yang terborgol berusaha melepaskan tali di tubuhnya.


Calista tidak mau mati konyol di sini, dirinya harus berjuang setidaknya untuk bayinya yang masih hidup.


Calista bergerak hingga jatuh dari kursi. Berusaha menyeret kursi itu ke pinggiran lemari yang tajam.


Dia tidak sadar bahwa seorang lelaki sedari tadi memperhatikannya yang berusaha melepaskan tali dari tubuhnya sendiri.


Calista terkejut Ketika tali itu semakin longgar, dirinya ketakutan ketika melihat Sean yang memotong ikatan tali dengan pisau daging.


“ berusaha kabur, kesalahan besar.” Sean kini menarik paksa Calista untuk berdiri, sorot matanya merah dan tajam menahan amarah.


“ Sean lepaskan aku!” Calista berusaha memberontak namun tenaga sean jauh lebih besar darinya.


“ beri aku alasan kenapa harus melepaskanmu?" Sean kini menarik tubuh Calista hingga menubruk dada bidangnya.


" Bukankah kau mencintaiku Sean, maka lepaskan aku, ku Mohon biarkan aku hidup tenang bersama bayiku" Suara Calista melemah, tangannya bergetar memohon tepat di depan Sean, dirinya terisak dalam tangisnya. cekung matanya sangat terlihat, wajahnya semakin pucat namun tak membuat Sean merasa iba dan menyeret Calista ke deretan lemari yang berisi toples-toples.


" kau tau apa ini?" Sean memegang salah satu Toples yang masih ada di rak lemari.


Calista tidak menjawab namun tangisnya semakin menjadi.


" Kau baca tulisan ini." Sean menunjuk ke tulisan yang ada di kertas toples itu.


" Baca!" Sean semakin marah ketika Calista hanya diam.


" Baca!" suara Sean penuh penekanan dan nail 1 oktaf membuat Calista terkejut.


" Juan Albert." tangis Calista semakin menjadi ketika membaca kertas itu.


" organ tubuh kekasih tersayangmu kan." Sean kini menatap Calista, tangannya berlahan mengelus rambut panjang calista yang sudah tidak terawat.


" Sean kau membunuhnya." Suara Calista bergetar, ada kekecewaan yang mendalam di hatinya.


" Menurutmu, ayo sini mari ku tunjukkan." Sean menuntun tubuh Calista ke arah toples-toples lain.


Sean membaca satu demi satu toples di hadapan Calista.


" Cukup Sean, cukup." Teriak Calista. tubuhnya luruh lagi ke lantai. dirinya ingin menutup telinganya sendiri dnegan tanganny tapi lagi-lagi borgol menyulitkannya.


" Kau pembunuh, psikopat, tidak punya hati, tempatmu di neraka Sean!" Calista memaki Sean. mentalnya terguncang hebat, kewarasan Calista hampir hilang sekarang.


" Sejak kapan psikopat mempunyai hati Calista, jaga ucapanmu!" Sean semakin mengintimidasi Calista, seperti tujuan utamanya membuat wanita ini gila, lagi-lagi Sean menarik Calista menunjuk lemari yang masih tertutup rapat dan kini berlahan membukanya di hadapan Calista.


menyeruak bau amis dan darah ketika Sean membukanya. sebuah lemari pendingin dan di dalamnya banyak sekali daging yang tertata di dalam freezer.


" Ini daging anjing-anjing kesayangan." Ucap Sean membuat Calista mundur beberapa langkah.


" apa kau mau bernasib sama seperti mereka sayang." Sean kini menutup kembali lemari itu dan melirik Calista dengan senyum licik.


ini tindak kriminal, ini tindakan kejahatan yang harus di laporkan, tidak manusiawi, Baru pertama kali Calista menyaksikan hal seperti ini, Calista benar-benar kecewa, ketakutan, dan tak tau harus berbuat apa, nyawanya ada di ambang nafas ketika Sean mulai melangkah ke arahnya.


" Sini kulepaskan borgol di tanganmu." Sean mulai mendekat dan Calista semakin berjalan mundur.


" pembunuh menjauh. " Calista melirik sekelilingnya mencari sesuatu hal yang bisa di gunakan untuk melindingi diri.


" Sean." Teriak Calista menghindarkan diri ketika Sean menerjangnya dengan pisau daging.


" wah, kau hebat." Sean kembali menatap Calista yang menghindarinya.


" Sean kau gila!" Calista berteriak dantetap berhati-hati dengan langkah Sean.


" dan kau baru menyadarinya." Sean kini melangkah mendekati Calista.


bagaimana Calista melepaskan diri, Sulit untuk bisa melepaskan diri dari seorang seperti Sean. Terlebih kekuasaannya di mana-mana.


Suara tembakan bersuara. membuat Sean melirik ke arah pintu yang di dobrak dan beberapa polisi yang sudah mengepungnya dengan pistol.


" Sialan." kedua tangan Sean ke atas, menyerah. Sedang Calista kini menyumpah serapah ke arah orang yang pernah di cintainya ini.


" game over, kau telah kalah Sean. kau pembunuh, aku menyesal pernah mencintaimu dan percaya padamu."


Calista mengatakan, entah berapa air mata telah keluar karena lelaki itu.


polisi kini memborgol Sean. menbawanya ketat ke luar ruangan.


" Nyonya, kami harus membawa anda untuk menberikan keterangan lebih pada kami."


Seorang Polisi melepaskan Borgol di tangan Calista dengan alat khusus.


" Bayiku bagaimana?" Calista menatap Polisi dengan wajah datar itu.


" Tenanglah, kami telah mengamankan 2 bayi yang kami temukan di ruangan ini."


Calista tak sabar untuk bertemu bayi-bayinya. hanya ada harapan pada tuhan untuk menjaga kedua bayi nya sekarang.


Calista melangkah ke luar ruangan yang menyeramkan itu. tubuhnya ambruk ketika berada di pintu membuat polisi kaget dan langsung mengangkatnya keluar.


Sedangkan polisi lainnya memeriksa ruangan tersebut menemukan temuan yang sangat tidak manusiawi.


polisi menemukan lorong di ruangan tersebut menyelusuri hingga tembus ke sebuah pintu, ruangan kembali di temukan di dalam ruangan tersebut. Ruangan yang tertata rapi, terawat dan bersih.


banyak album foto keluarga yang terpajang di sana.