
" Mom bangun,,hiks,,hiks." Bella menangis di samping Calista yang masih setia memejamkan matanya. Adrian juga berada di samping Calista dan mengelus pelan kepala Bella. Matanya sedari tadi memperhatikan ke arah adiknya yang tidak berhenti menangis, sejak kepergian Arthur keluar ruangan hingga sekarang membuat hatinya juga terasa sakit.
" Bella, mom akan baik-baik saja." Adrian mencoba berbicara pelan dan lembut. Sedikit menampilkan senyum yang tak kentara.
Bella langsung memeluk Adrian. Tangisnya semakin menjadi membuat Adrian bingunh harus berbuat apa.
" Bella, don't cry, I am here." Adrian kini mengelus rambut Bella pelan. mata adiknya sudah mulai sembab, tapi ibunya belum berniat untuk membuka mata.
" Bella." panggilan parau dari Calista membuat Bella menatap ke arahnya dan langsung menerjang Calista dengan pelukan.
" Mom aku takut." Bella menangis sesenggukan dalam pelukannya membuat hati Calista teriris. Sedang Adrian kini ikut mengeluarkan air mata namun lekas di sekanya dengan tangannya oleh anak lelaki itu.
" Adrian, kemari." Kini Calista menarik Adrian untuk ikut di pelukannya.
" Maafkan Mommy yaa." Calista mencium kening Bella dan Adrian bergantian. Senyumnya kembali merekah melihat kedua buah hatinya.
" Sayang mom tidak apa-apa, hanya kelelahan saja." Calista menatap Adrian yang kini menatapnya lekat, bisa di lihat air mata yang di tahan oleh anaknya ini.
" Calista kau sudah sadar." Arthur yang baru masuk dengan jas kedokterannya kini menghampiri mereka.
" Arthur tidak usah khawatir, aku baik-baik saja." Calista mencoba tersenyum di depan Arthur.
ekspresi Calista berubah, tatapannya tajam ke arah lelaki yang berdiri di depan pintu ruangannya. Langkah kaki itu mulai mendekat membuat Calista was-was dan menarik kuat Bella dan Adrian ke dalam dekapannya.
" Hentikan langkahmu Sean!" Suara nyaring Calista membuat Bella dan Adrian terkejut. baru pertama kali mereka melihat Ibunya kasar seperti ini.
Sean tersenyum licik, dan menghentikan langkahnya.
" Tidakkah kau lihat anak kita ketakutan mendengar suaramu?" Kini Calista melihat Bella yang hendak menangis kembali.
" Maafkan mom yaa sayang." Calista mengelus pelan kepala Bella, sedangkan Adrian menatap tajam ke arah Sean begitupun Sean yang menatap tajam ke arah Adrian.
" Sean pergilah." Arthur yang menatap tajam Sean membuat Calista Was-was.
" aku ingin bertemu dengan anak-anakku." Sean kini mendekat ke arah Arthur. tangan yang semula di luar kini beralih ke dalam saku nya.
" Arthur biarkan Sean bertemu kami." Suara Berat dan bergetar Calista membuat Arthur terdiam. Padahal kini pikiran dan hati Calista berkecamuk. mengingat Sean yang bisa saja membunuh Arthur seperti mantan kekasihnya dulu.
" aku menang." Sean berbisik di telinga Arthur dan melanjutkan jalannya menghampiri Bella.
" apa kau daddy ku?" Bella yang masih Polos kini menatap ke arah Sean yang mulai tersenyum.
" Yes, aku minta maaf karena tidak bersamamu selama ini." Sean mengulurkan kedua tangannya ke arah Bella.
Calista yang masih menahan Bella kini mulai melepaskan pegangannya. hatinya was-was ketika Bella memeluk Sean dan berada di gendongan lelaki bajingan itu.
" Sebelumnya kita sudah pernah bertemu." Kini Sean mengelus pelan kepala Adrian.
" Sean, aku ingin berbicara denganmu." Calista kini menatap Sean tajam.
" Bicaralah sayang." Sean mulai memperbaiki anak rambut Calista yang mulai berantakan. Sedangkan Arthur yang sudah mengepalkan tangan sedari tadi langsung ke luar ruangan.
" Max,, bawalah Bella dan Adrian bermain di luar, jaga dengan penjagaan ketat." Perintah Sean.
" Dad aku lapar. Bella menatap ayahnya yang begitu tampan dan mempesona.
" Pergilah cari makan sesukamu dengan paman Max." Sean kini mencubit hidung Bella yang mirip dengannya.
" dan kau Adrian." Kini Sean menatap anak lelakinya.
" Aku ingin bersama Mom." Ketus Adrian membuat Sean menatapnya dalam.
" Mom, tidak apa-apa sayang. Pergilah sebentar bersama paman Max, kau juga harus makan dan jaga adikmu yaa." ucap Calista yang mulai mengelus kepala Adrian dan mencium kening Adrian yang berada di sampingnya
" Ayolah kak, kau lambat sekali." Ucap Bella yang sedikit kesal dengan Adrian. Terlihat Ekspresi yang menggemaskan dari Bella yang marah membuat Max tersenyum.Sedangkan Adrian kini mengikuti langkah Bella yang menuju pintu keluar kamar.
Kini hanya tinggal Sean dan Calista di ruangan itu, seketika ruangan menjadi hening dan mencekam. ketika Mata Calista bertemu dengan mata Sean yang menatapnya tajam.
" Sean,.please kumohon jangan sakiti anak-anakku." Tangis Calista pecah, dirinya tak mampu menahan tangis dan berpikir jernih, sepertinya semuanya buntu terkecuali meminta langsung pada Sean untuk tidak membunuh kedua anaknya.
Sean hanya diam menatap Calista yang mulai terisak.
" juga jangan sakiti Arthur. kumohon dia telah membantu kami selama ini. Calista kini memegang dadanya sendiri yang mulai sesak dan sakit.
" kau Mencintai Arthur?" Kini Sean yang malah bertanya pada Calista membuat Calista tak habis pikir dengan lelaki di depannya.
" Kau hanya boleh mencintaiku!" suara Sean Posesif dan egois.
" Sean kau gila!" kini Calista mulai kesal terhadap lelaki di depannya. Sean adalah racun benar-benar racun, dan apakah Calista harus menelan racun lagi kali ini.
" Beberapa detik lalu kau memohon padaku, dan sekarang kau malah mengatakan seperti ini padaku." Sean melangkah dan duduk di pinggiran ranjang. memperbaiki anak rambut Calista yang mulai berantakan.
" Kau lelaki brengsek yang pernah aku temui Sean." Calista mulai menghempaskan tangan Sean.
" Jadi kau mau aku membunuh Arthur?" Pertanyaan Sean membuat Calista menahan nafas.
" Aku tidak ada meminta seperti itu." Calista kini menatap tajam Sean tangannya menahan untuk tidak menampar lelaki ini.
" kau mau aku membunuh Arthur atau anak-anak kita?" Pertanyaan Sean, ekspresi Sean masih saja datar dan tenang tapi membuat Calista terintimidasi di sini.
" pilihan bodoh macam apa ini Sean! Calista kini benar-benar marah dan hendak menampar Sean. Namun tangan lelaki itu gesit menahan dan malah menarik Calista ke dalam pelukannya.
" Aku tidak akan tega membunuh darah dagingku sendiri Sayang." Sean kini mengelus surai rambut Calista.
" Tapi, aku harus membunuh Arthur karena berusaha menggantikan posisiku." Calista mendorong Sean kencang.
" Kenapa? apa kau mencintainya?" Kini Sean menahan kedua pipi Calista, mengunci tatapan Calista.
Sedangkan Calista tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki ini. Sean benar-benar Racun di kehidupannya membuat Calista gila.
" Tidak." Calista berusaha tenang menjawab pertanyaan Sean.
" Benarkah?" Sean kini semakin mendekatkan bibirnya ke wajah Calista tatapannya jatuh ke arah bibir berwarna cherry milkk Calista.
" Iya." Calista mulai memundurkan wajahnya namun tangan Sean begitu kuat menahan wajahnya.
Sean menarik paksa tubuh Calista untuk lebih dekat padanya. Calista berusaha memberontak tapi kondisinya sudah sangat lemah. Dan Sean menggunakan kesempatan itu untuk mempengaruhi tubuh Calista.
" Sean Berhentilah, aku tidak mencintaimu!" Ketus Calista berusaha menghentikan tangan Sean yang mengelus pelan pipi Calista.
" Benarkah?" Sean tak menghiraukan perkataan dari bibir Calista dan malah mencium bibir itu. dirinya hanya merindukan wanitanya dan keluarga kecilnya kali ini.
...****************...