One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Pengkhianat!



"aku benar-benar akan membunuhmu jika Calista tau kebenarannya!" Suara Sean penuh penekanan terhadap orang yang menelponnya.


Sean menggenggam erat benda kotak di tangannya. wajahnya memerah menahan amarah ketika terdengar suara tawaan dari balik telpon dan sambungan yang di matikan sepihak membuatnya semakin geram, melemparkan ponselnya ke dinding.


...****************...


Calista berlahan membuka matanya, suasana samar kini menjadi semakin jelas. pandanganya beredar hingga pandangannya bertemu dengan box bayi di depannya.


" bayiku." Calista berlahan turun dan membawa infus nya mendekat ke bayinya.


air matanya luruh melihat bayi yang begitu suci,mungil dan tak berdosa ini. dirinya merasa bersalah karena pernah berniat membunuhnya.


" Bukankah hidungmu sangat mirip dengan ayahmu, tampan." Calista memegang pipi bayi nya sendiri.


" kenapa hanya ada 1 bayi? bukankah aku melahirkan 2 bayi!" Calista menggendong 1 bayinya ini.


suster yang masuk ke ruangannya membawa alat-alat medis kini terkejut ketika melihat Calista terbangun.


" mana bayiku yang 1 lagi?" tatapan Calista sinis terhadap suster itu.


suster itu mendekat mengelus bayi dan berbisik di telinga Calista pelan tangannya


" nyonya biarkan aku menaruh lagi bayimu, baca surat ini, aku tidak punya banyak waktu. ku harap kau berhati-hati, ruangan ini ber cctv."


suster itu menaruh suratnya tepat di saku baju rawat Calista ketika mencoba menggendong bayi dan menaruhnya di box bayi.


Sean yang tiba-tiba masuk membuat Suster itu menunduk mundur beberapa langkah.


" sayang kau sudah sadar." Sean tersenyum bahagia melihat Calista.


" Sean mana 1 lagi bayiku." Calista terdiam menyorot tajam ke mata Sean.


" Kau keluar." Sean menyuruh Suster yang berada di ruangan nya untuk keluar. sorot mata Sean mengintimidasi suster itu.


" Duduklah dulu." Sean ingin menuntun Calista duduk di pinggiran tempat tidur rumah sakit namun tangannya kini di tepis oleh Calista.


" Berhenti basa basi Sean, di mana bayiku!" Calista kini menyorot marah ke arah Sean.


" Maafkan aku sayang, ini berat tapi kau harus ikhlas 1 bayi kita tidak bisa di selamatkan." Sean menatap nanar ke arah Calista yang kini menangis. dirinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya dan hampir luruh jika saja Sean tidak menahannya.


" Sayang." Sean memeluk erat Calista. meredam suara Calista dengan pelukannya yang hangat tapi suara tangis itu semakin kencang dan menjadi.


" Sean kau bohong kan padaku, bayiku pasti selamat, aku tidak mau sendiri." Calista sesegukan dan memeluk erat tubuh Sean. Dia benar-benar tidak kuat menahan semuanya sendiri.


" Kau tidak sendiri sayang, aku selalu bersamamu, bayi kita selalu bersamamu." Sean memegang kedua pipi Calista mengunci mata yang berair itu dengan tatapannya yang lembut.


sudaj beberapa jam tangis Calista sudah mereda, dan Sean kini bermain dengan bayi di gendongannya.


" Calista lihatlah anak kita, tampan sepertiku." Sean terlihat sangat bahagia atas kehadiran bayinya. Calista memperhatikan bayi mungil itu dengan senyuman, begitu damai dan segala kesedihannya mendadak hilang.


" Sean aku ingin ke toilet sebentar, kau temani saja bayi kita di sini." Calista kini berusaha turun dan masuk ke bilik toilet.


dengan cepat Calista mengunci pintu dan membuka surat yang di berikan suster tadi.


maafkan aku nyonya, aku tidak bisa memberitahumu secara langsung. aku takut ancaman dari Tuan Sean. keluargamu telah di bunuh, 1 bayimu telah di bunuh, dan kini target selanjutnya adalah dirimu sendiri. bagaimanapun caranya kau harus berusaha menyelamatkan diri, aku tidak bisa membantu banyak, penjagaan rumah sakit sangat ketat. sangat sulit untuk keluar dari sini, tapi ada lorong kecil di jalan belakang rumah sakit, kau bisa melewatinya.


tangan Calista bergetar, dirinya luruh ke lantai. antara percaya dan tidak. Calista kini melepaskan jarum infus yang ada di tangannya, dirinya masih sulit menerima kebenaran ini. hingga suara tangis bayi menyadarkannya. Dengan cepat Calista keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka.


" Ada apa sayang?" Calista kini berlahan mundur ketika Sean ingin memegangnya.


" Pembunuh, menjauh dariku." teriak Calista membuat Sean menatapnya nanar.


" Sayang, kau kenapa? tanganmu berdarah." Sean memperhatikan tangan Calista yang berdarah di tempat jarum suntik yang di lepasnya. langkahnya mulai mendekati Calista.


" Menjauh Sean,,awwh" tangis Calista pecah ketika Sean menjambak rambutnya.


" kenapa Calista? apa kau sudah tau kebenarannya? kasian sekali!" Sean semakin menjambak rambut Calista. Matanya menyorot tajam ke wanita yang menangis sedih di depannya. Tak di dihiraukannya suara bayi uang mulai menangis itu.


" Kau tau aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai kedudukanku!"


Calista tak bisa bersuara lagi. hatinya begitu sakit kali ini. Sean yang di kira melindunginya kini malah menyakitinya. semua cinta yang pernah terucap kini terbayang dan menjadi semu.


Sean tertawa, dan kini mulai mencium bibir Calista rakur walaupun Calista menolaknya.


ada rasa teriris di setiap perasaan yang di sesali Calista karena mempercayai lelaki ini.


" Bodoh." Sean kini tertawa licik menatap bayi yang ada di gendongan Calista.


" Biarkan aku pergi bersama bayiku Sean." Setengah mati Calista berusaha bersuara menelan pahit di kerongkongannya.


" lari dariku sama saja kau menyerahkan diri untuk di bunuh." Calista menutup matanya tak kuasa menyaksikan kepura-puraan sean selama ini. Sedang lelaki itu kini berbisik di telinganya.


" apa kau pernah mengira aku akan berbuat seperti ini?" Sean mengelus lembut wajah Calista matanya memerah menatap wanita yang hanya diam tanpa mengeluarkan suara.


Calista diam, matanya terbuka dan kini bertatapan dengan mata elang milik Sean.


berat untuk menghirup udara di sekitarnya.


" kenapa kau membohongiku sean?" Suara Calista parau. Sean terdiam sebelum akhirnya merebut bayi dari gendongan Calista.


" karena aku ingin bayiku!" Sean menggendong bayinya dan mengarahkan pistol dari sakunya ke arah Calista.


Calista lunglai terduduk di lantai, kondisinya begitu lemah, terlebih lagi mengetahui kebenaran yang pahit membuatnya tak bisa menahan tangis.


" Kenapa Sean? kenapa kau begitu tega padaku! aku memberikan 100% kepercayaan padamu, tapi kau malah mengkhianatiku, berpura-pura mencintaiku, aku memberimu beribu kesempatan, tapi kau sia-siakan!


aku membencimu, sangat, sangat membencimu Sean!" teriak Calista nafasnya tersengal-sengal dirinya memegang dadanya sendiri.


" Kau salah mempercayai orang sepertiku!" Sean menyorot tajam ke arah wanita yang terduduk di lantai itu.


bagaimana Calista bisa bangkit, dirinya terlalu lemah sekarang. wajahnya sangat pucat.


" Bersiaplah menerima kematianmu!"


doarr.. suara pistol menggema, Calista kini terkulai di lantai. dan tangan kanan sean berdarah terkena pistol.


" bedebah sialan." Sean menahan sakit di lengannya ketika pistol jatuh ke lantai.


...****************...


jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa readersđź’›


support my story