
WARNING :
CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA
****
NOBIS
Chap 7
•
•
•
•
Kai menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap mengepul dari hidung dan mulutnya. Kedua kakinya terangkat ke atas meja yang berada di taman belakang sekolah. Hari ini Chandra, Sean, Bara dan dirinya habis membolos dari pelajaran matematika. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk melakukan itu.
Sudah menjadi kebiasaan saat guru yang mengajar hanya membuat mereka mengantuk di kelas, maka ketiganya akan keluar dari kelas itu dan berakhir duduk di bangku taman belakang sekolah.
"Lo kemaren ke mana?" Chandra bersuara setelah menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Apartemen." Jawab Kai singkat.
"Tumben nggak ikut, biasanya paling demen lo kalo ada pesta-pesta gitu?" Sean menimpali.
Kai membuang putung rokoknya ke tanah. Lalu menurunkan kedua kakinya. Dia mendesah kecil sebelum menjawab ucapan Sean.
"Nggak apa-apa, lagi gak pengen aja."
Sean dan Chandra saling bertukar pandang.
"Kenapa lo? Tumben?" Tanya Bara penasaran, karena tidak biasanya Kai bersikap seperti ini. "Apa gara-gara cewek yang ngajakin lo belajar?"
Memilih tidak menjawab, Kai malah menerawang pandangannya ke depan, membuat Sean tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Harusnya lo beruntung masih ada yang mau ngajak lo belajar. Lihatkan ... guru-guru di sini hampir semuanya udah angkat tangan sama kelakuan lo."
"Bener kata Sean." Sambar Chandra.
Kai mendengkus. "Gue gak butuh belajar, lagian tanpa belajar juga gue udah pantas kok dapet warisan Oma."
"Pantes dari mana?" Tanya Bara nyeleneh. "Bukannya niat lo setelah dapet warisan mau mendirikan usaha haram?"
Chandra membelalak dengan tubuh tegap. "Ah si kamprettt! Dikutuk jadi tiang bendera baru tahu rasa lo!"
Kai menghisap kembali batang rokoknya. "Gue mau buka usaha yang banyak untungnya."
"Pantes Oma Yolanda nyuruh lo belajar, otak lo udah dingin, kudu banyak-banyak di panasin! Mending lo jemuran sana di bawah tiang bendera! Kebanyak mabok sih lo!" Chandra menimpali.
Mendengar itu membuat Kai melempar satu bungkus rokok ke wajah Chandra. "Lo aja sana yang jemuran, sekalian lo belajar sama dia!"
"Dih," Chandra melipat bibirnya menahan tawa. "Lo lah, kan yang dapet cium elo. Mau enaknya doang, giliran belajar gak mau."
"Nah, bener tuh. Udah jadi pacar juga kan? Masa gak mau." Sean menimpali dengan tawa kecil. Ketiga cowok itu saling berpandang, melempar tatapan meledek untuk teman mereka itu.
"****** lo berdua." Kai mendengkus dengan wajah jengkel yang dibalas gelak tawa oleh ketiga temannya.
Ingatan Kai kembali pada saat dimana dia dan Krystal berciuman di tengah lapangan. Sebenarnya, ada sedikit hal yang mengganggu pikirannya setelah itu. Kenapa dia harus membalas ciuman Krystal pada saat itu? Kenapa dia menikmati ciuman mereka? Kai mendesah, lalu menggeleng samar.
Jika dipikir-pikir, dia memang tidak bisa menganggap remeh Krystal. Buktinya, Oma bisa sangat mempercayai gadis itu dengan gampang.
"Ngomong-ngomong, lo serius mau belajar sama Krystal?" Tanya Sean.
Kedua bahu Kai mengedik. "Terpaksa, demi warisan."
"Emang kenapa warisan lo?" Bara membuang putung rokok miliknya ke tanah.
"Gue yakin kalo lo berdua denger pasti bakalan ngeledek gue."
Sean mengetuk-ngetukan bungkus rokok ke atas meja, bibirnya tertarik ke atas. "Wah, kayaknya bakalan seru nih, brew."
"Lebih dari itu." Balas Kai sambil menghembuskan asap rokoknya ke atas.
"Gue udah bisa nebak nih," Chandra mencondongkan tubuhnya ke arah Kai. "Warisan lo bakalan dikasih ke Krystal kalo lo gak mau belajar, yakan?"
Satu batang rokok terakhir Kai lempar dengan kekesalan yang tak tertampung lagi di kepalanya saat mengingat ancaman sang oma. Dia berdecak sebelum akhirnya bersuara. "Berengsek emang Oma gue tuh!"
Umpatan Kai mungkin sudah menjadi jawaban mutlak atas pertanyaan Chandra barusan. Keduanya tak sungkan lagi tergelak. Bahkan wajah Sean sampai memerah saking kencangnya tertawa.
"Mampus lo! Karma tuh gara-gara sering mukulin pala gue!" Tepat setelah kalimat Chandra berakhir, satu pukulan mendatar di kepalanya. "Sakit, anjing!" Ringisnya.
Bara dan Sean tertawa geli. Keduanya lalu kembali menatap Kai. "Jadi resmi pacaran nih?" tanya Sean.
"Resmi lah, kan udah dicipokkk" timal Bara.
Kai berdecak, memutar bola matanya kesal. "Gue cuma mau nantangin dia tadinya, eh ... ternyata tuh cewek cukup berani juga nembak gue di tengah lapangan."
"Lo berarti gak bisa anggep remeh dia Kai." Sahut Chandra.
"Nah itu." Kai menegakan tubuhnya, "mukanya doang polos, mana gue tau isi kepalanya."
"Tapi kalo gue lihat-lihat, si Krystal cantik juga." Celetuk Sean yang membuat kedua cowok itu menoleh.
Kai mengernyit. Terlihat sedikit kaget, namun masih menanggapinya dengan biasa. "Jadi selama ini lo nggak pacaran, selera lo kayak dia?"
Sean diam sambil memutar-mutar bungkus rokok di atas meja dengan acuh dan tidak peduli.
"Dia nggak pacaran gara-gara belom move on kali dari si Bella." Sean mendelik ke arah Chandra, sementara cowok itu sudah menutup mulutnya dengan tangan yang ditimpali oleh Bara dengan gelak tawa meledek.
"Sorry, sorry," ujar Chandra takut-takut.
"Masih aja lo cupu, cewek tinggal lo tunjuk aja pake segala gagal move on." Ejek Kai.
"Emangnya gue, elo!" Balas Sean sewot.
Kai mengambil satu batang rokok, menyelipkan itu di antara kedua bibirnya lalu mengeluarkan sebuah korek api untuk membakar ujung rokok itu. Belum sempat tersulut, mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Krystal yang tiba-tiba di sana.
"Hai." Sapanya riang dan selalu dengan senyuman. Gadis itu meletakan beberapa buku di atas meja. "Kalian tadi nggak masuk kelas?" Tanyanya.
"Yahh, ketahuan." Chandra menjawab dengan mimik yang dibuat-buat. Entah mengapa, sejak melihat wajah Krystal di lapangan, membuat Chandra ingin selalu meledek Kai. "Kok bisa tau sih? Lo ngikutin kita ya?" Tanyanya menggoda.
"Tadi saya ke kelas kalian, terus katanya kalian gak masuk kelas dari pagi."
"Cari pacar?" celetuk Bara.
Pipi Krystal mendadak memanas, mendengar kata pacar disebut ia jadi mengingat ciumannya dengan Kai di tengah lapangan. "Em ... enggak kok."
Chandra yang baru saja akan melemparkan ledekan lagi segera mengantupkan rahangnya saat dua bola mata Kai menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam yang menakutkan.
"Berhenti, nyet! Lo berdua udah bosen hidup!?"
Bukannya merasa takut, ketiga temannya malah semakin bersemangat menggoda pasangan baru itu. Senyum jenaka masih terlihat jelas di wajah mereka.
"Cowoknya marah, Chan." Ledek Sean.
"Bae-bae di krauk lo, Chan." Bara mempringati dengan tawa geli.
"Serem njir, sumpah." Chandra pura-pura bergidik. Menatap Kai sambil memutar bola matanya kearah Krystal. Cowok itu seperti memberi isyarat pada Kai agar segera berbicara dengan gadis itu.
Kai yang mengerti lalu menggeram sebelum akhirnya kembali menatap Krystal yang menunduk malu. "Lo mau ngapain?"
Gadis itu menoleh, tersenyum kecil sebelum kemudian menjawab pertanyaan Kai. "Menurut jadwal yang saya kasih, hari ini kita ada belajar bareng."
"Dimana? Gue gak tau."
"Di jadwal."
Kedua bahu Kai mengedik santai. "Gak ada. Kalo gue gak tau berarti gak belajar kan?"
Mulai lagi. Krystal lantas menghela napasnya pelan. Menghadapi Kai memang butuh kesabaran ekstra. Gadis itu bahkan merasa memiliki nyawa sebelas setiap berdekatan dengan Kai. Entah datang dari mana, yang jelas dia tidak ingin kalah.
"Kertas yang saya kasih kemarin dimana? Di situ ada kok jadwal kita. Pokoknya kamu nggak bisa kemana-mana sebelum belajar sama saya."
Sean melipat bibirnya, menahan tawa yang akan meledak sebentar lagi. Sementara Chandra dan Bara sudah terbahak-bahak di tempatnya, membuat Kai yang mendengar itu merasa kesal dan menoyor kepala keduanya dengan keras.
"Sialan!" gerutu Chandra dan Bara berbarengan.
Kai kembali pada Sean yang sedang menahan tawa. "Ketawa, mampus lo, Yan!" Ancamnya.
"Gue? Enggak."
Kai mendelik ke arahnya, membuat Chandra meringis tiba-tiba.
"Yaudah, gue nggak mau ganggu belajarnya." Ujar Sean memotong pertikaian dua sahabatnya itu. Dia lalu berdiri memasukan bungkus rokoknya ke dalam kantong celana. "Cabut ya bro!"
"Gue juga." Sahut Bara ikut berdiri di belakang Sean. "Minggu jangan lupa lo!" Ujarnya mengingatkan Kai tentang rencana mereka.
Kai mengacungkan jempolnya tanpa berkata lagi.
"Inget, anak orang masih polos, jangan lo apa-apain, Nyet!"
Kai melempar korek di tangannya ke arah Chandra. "Pergi lo, setan!"
Cowok itu langsung berlari sambil tertawa kencang.
"Duluan, Krys." Sean menepuk pundak Krystal.
"Iya, hati-hati." Krystal tersenyum menanggapi.
Kai beralih menatap Krystal. Gadis itu memberikan senyuman tipis yang terlihat begitu teduh pada Sean, tapi tidak begitu saat bersamanya.
"Belajar di sini?"
Suara Krystal membuat Kai tersentak. Cowok itu mengedikan bahunya santai lalu mulai menaikan satu kakinya ke atas bangku. "Di kuburan kalo lo mau juga gak masalah."
Krystal mencebik. "Saya kan cuma nanya."
"Pertanyaan lo bikin kesel."
Mata Krystal memicik. Kalau bukan karena beasiswa, Krystal rasanya tidak ingin belajar bersama Kai. "Itu rokoknya, nggak mau di buang dulu?"
Kai lalu melirik batang rokok yang sejak tadi berada di tangannya. "Kenapa? lo nggak suka?"
Krystal menggeleng lalu duduk di kursi depan Kai yang tadi sempat di duduki Sean dan Chandra. "Terserah kamu, asal jangan di nyalahin aja."
Kai mendengkus, memasukan kembali satu batang rokok itu ke dalam bungkusannya. Dapat dia lihat jika kini Krystal sedang tersenyum meledek ke arahnya. "Puas lo?"
"Puas." Balasnya terkekeh, tidak jadi kesal karena ia telah berhasil membalas Kai.
Krystal mulai mengeluarkan beberapa buku catatan di atas meja, lalu mulai memberi penjelasan kepada Kai. Cowok itu hanya menganggukan kepalanya pelan, memutar-mutar pulpen di tanganya, lalu sesekali menguap tidak betah.
Kai terlihat bosan mendengarkan suara Krystal. Sesekali ia melipat-lipat kertas menjadikan pesawat terbang dan terkadang mencoret-coret tidak jelas, lebih tepatnya menggambar sesuatu di atas buku tulis Krystal.
"Kamu jago gambar ya?" Tanya Krystal setelah berhenti memberi penjelasan pada Kai. Dia terus memandangi goresan-goresan yang Kai buat di atas kertas.
"Enggak juga, cuma suka aja nyoret-nyoret." Tangan Kai masih sibuk menggambar sesuatu.
"Yang kemarin bagus loh." Kai menoleh sebentar. "Saya nggak jadi marah karena suka lihat gambar kamu."
Kai mengedikkan bahunya cuek.
"Kai, tapi belajar dulu yuk, udah mau hujan nih."
"Sstt ... lo nggak capek apa? Minum dulu sana. Gue aja capek yang cuma ngedengerin lo ngomong."
Krystal memberengut. "Kapan bisanya kalo ngeluh mulu. Kamu itu harus sering-sering baca, terus hafalin. Jangan pas sama saya aja kamu baru baca, itu juga saya yang ngejelasin."
"Cewek kayak lo ternyata cerwet juga ya!" Kai meletakan pulpennya dengan keras. "Gue pusing lihatin tuh rumus."
"Makanya kamu belajar, biar ngerti."
"Dasarnya gue udah paham kok, satu ditambah satu ya dua. Dua dikali dua ya empat. Nggak usah pake rumus juga beres!"
Krystal menghela nafas. "Kamu kok ngeles mulu sih. Ada aja jawabannya. Kok bisa ya cewek-cewek naksir kamu."
"Jelas, karena gue ganteng!" Ujarnya sombong.
"Kasian cewek-cewek itu, suka sama kamu cuma lihat dari luarnya aja." Krystal mencibir.
"Emang harus lihat apanya?" Kai menyandarkan tubuhnya sambil meletakan kedua tangan di belakang leher.
"Hati." Krystal tersenyum. "Kamu tahu, hati itu adalah tempat dari dalam diri manusia yang paling jujur. Kalau kamu tulus, orang-orang disekitar kamu juga akan ikut tulus sama kamu."
"Perlu gue ulang berapa kali kalo gue nggak butuh orang lain."
"Mana ada sih Kai, orang yang nggak butuh orang lain." Krystal mencebikkan bibirnya. Ekspresi di wajah gadis itu yang paling Kai benci saat bersama dirinya.
Krystal sering memberikan ekspresi cemberut, kesal, jengkel saat bersama Kai. Tapi begitu bersama Sean, Krystal tidak pernah mengeluarkan ekspresi seperti itu.
"Bentuk muka lo nggak ada yang lain apa? Kalo sama gue begitu mulu, giliran ada Sean senyum-senyum kecentilan."
"Masa sih?"
Kai memajukan tubuhnya, meneliti wajah Krystal. "Emang muka lo yang judes, apa kalo sama gue doang begitu?"
"Kalo sama kamu doang kayanya." Krystal terkikik.
"Lo suka ya sama Sean?"
"Siapa sih cewek yang nggak suka sama dia." Krystal menutup bukunya. "Sean itu cowok pertama di sekolah ini yang inget nama saya, dia juga selalu panggil nama saya kalo ketemu."
Kai melebarkan matanya bingung. "Maksud lo?"
"Semua murid di sekolah ini selalu manggil saya cupu."
"Dan lo mau aja dipanggil kayak gitu?"
"Hm ... ya."
"Tolol!"
Krystal merengut. "Kok kasar sih ngomongnya."
"Ya emang lo tolol, mau aja dipanggil kayak gitu."
"Abisnya kalo nggak gitu, mereka nggak mau ngobrol sama saya."
"Penting banget mikirin orang lain. Lo hidup buat diri lo sendiri."
"Saya hidup nggak sendiri, Kai." Sela Krystal. "Saya terkadang juga butuh mereka."
"Tapi nggak ngerendahin diri lo juga kan."
"Saya nggak ngerasa rendah kok." Krystal terdiam sebentar. "Malah saya merasa jauh lebih tinggi dari mereka karena saya masih bisa menjaga tingkah laku dan sikap saya. Setidaknya saya masih menjaga perasaan orang lain."
Kai menghela napas jengah. "Tolol sama baik emang beda tipis."
"Ya berarti saya yang baiknya."
"Lo yang tololnya!" Kai berdiri menarik tas lalu melangkah pergi.
"Mau kemana? Kan belum selesai belajarnya?" Krystal buru-buru memasukan buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas, lalu berlari mengejar Kai.
"Tunggu dulu, jalannya cepet banget sih." Krystal sedikit kesulitan menyamai langkah kaki cowok itu. "Hari minggu jangan lupa ya kita belajar lagi."
"Tempatnya gue yang tentuin kan?" Krystal mengangguk.
"Oh iya, bagi nomor hape kamu dong, biar saya bisa nanya ketemuan dimana." Krystal mengeluarkan handphone miliknya.
"Gue nggak bagi-bagi nomor hape."
"Terus?"
Kai berhenti di depan mobilnya, membuka pintu lalu menatap Krystal sebentar.
"Masuk lo, gue anter pulang." Ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Krystal terkikik pelan saat mendengar ucapan Kai barusan.
"Bisa baik juga sama saya."
• • •
**hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .
jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .
love you all**
❤ ❤ ❤