Nobis

Nobis
Hujan, Halte, dan Hati



NOBIS


Chap 53






"Hah.. apa??" Sean dan Chandra seketika membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Kai katakan.


"Lo serius, nyet?" Chandra kemudian berdiri di depan Kai, membuat cowok itu menghentikan langkah kakinya.


Dengan bibir berdecak malas, Kai menggeser tubuh Chandra dari hadapannya dan kembali melangkah di sepajang lorong sekolah.


"Woi.. elah." Ringis Chandra.


"Kai, lo yakin?" Kali ini Sean yang bertanya, cowok itu berjalan di sebelah Kai dengan langkah yang sedikit sulit. "Gak mau lo pikirin dulu?"


"Itu keputusan gue, Yan."


"Tapi.. Krystal?"


Kai merasakan jantungnya kembali diremas kuat setiap nama Krystal disebut. Namun di sisi buruknya, ia mencoba tidak peduli. Kai mendesah pelan. "Justru ini karena dia."


"Gak bisa gitu dong." Chandra sedikit berlari untuk menyamai langkah kakinya. "Dia bakalan sedih banget, Kai, yang ada lo semakin ngebuat dia menderita."


"Bener. Setuju gue kali ini sama si kambing." Sean menimpali


Chandra mendesis. "Sialan!"


"Gue udah yakin, mending lo pada diem aja." Langkah kaki Kai semakin cepat berjalan menuju parkiran sekolah, hingga membuat kedua temannya tertinggal di belakang.


"Tuh anak udah gila kali yak!" Dengus Chandra kesal. "Lagian sejak kapan dia jadi rajin belajar."


Sean yang berada di sebelah Chandra menghela nafas jengah. Ia menggeleng kecil sebelum berkata, "Elo lebih gila!" Dan kembali berjalan meninggalkan Chandra yang merasa bingung.


"Kenapa jadi gue?" Cowok itu mendengus sambil kembali mengejar kedua temannya.


Saat di pertengahan jalan, langkah kaki Chandra dan Sean mendadak berhenti begitu mereka menyadari jika Kai tiba-tiba membeku dengan tubuh kaku sambil menatap lurus ke arah gerbang sekolah.


Begitupun dengan kedua cowok itu, mereka mengikuti arah pandang Kai hingga menyadari apa yang sedang Kai pandangi saat ini.


"Itu cowok barunya Krystal?" Celetuk Chandra.


Refleks Sean langsung memukul kepala cowok itu kesal. "Bacot, Chan!"


"Gue cuma nanya, elah!" Chandra meringis sambil mengusap kepalanya.


Sementara itu, Sean mulai mendekati Kai, berdiri di samping cowok itu sebelum kembali bertanya. "Lo mau gue samperin mereka?"


"Gak usah." Balas Kai yang masih terus memperhatikan Krystal, hingga dia kembali bersuara. "Gue aja yang ke sana."


Sontak kedua bola mata Chandra dan Sean membulat sempurna, mereka saling melempar pandangan satu sama lain, apalagi begitu Kai melangkah menuju gerbang sekolah hanya untuk menghampiri Krystal dan cowok asing itu.


"Lima ratus ribu, bakalan berantem mereka berdua." Seru Chandra sambil menatap Sean penuh jahil.


Sean mendengkus sambil menggeleng kecil. "Tenggelem aja lo, Chan! Otak lo cuma ada taruhan doang!"


"Yehh.. ini seru, Yan.. woi, Sean!!" Chandra berteriak begitu Sean mulai berjalan meninggalkannya. "Bodoah, gue lihatin aja dulu ini drama." Gumamnya cekikikan sendiri.


• • •


Kai menarik kasar tangan Krystal saat cewek itu hendak mengambil helm yang disodorkan Rekha padanya.


"Dia pulang bareng gue."


Krystal membulatkan matanya, terkejut melihat kehadiran Kai yang secara tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah mengeras.


"Kai.."


Tatapan mata itu sangat famillier untuk Krystal, walaupun Kai penyimpan emosi yang baik, Krystal tahu jika ekspresi yang Kai tunjukan saat ini adalah ketidaksukaan.


"Lo, pulang bareng gue."


"A-aku.." desis Krystal tertahan saat Kai meraih pergelangan tangannya dan hendak menuntun tubuhnya untuk mengikuti langkah cowok itu.


Namun, baru pada langkah pertama, Krystal merasakan tangannya dicekal oleh Rekha, hingga membuat tubuhnya tertahan di tempat.


"Lo apa-apaan sih!?" Rekha turun dari motornya, dia berdiri dengan tubuh berhadapan langsung dengan Kai. "Gue duluan yang ngajak Krystal pulang."


Kai menatap cekalan Rekha pada tangan Krystal dengan geram. Dia mendesis kasar sambil menarik ujung bibirnya membentuk sebuah seringai. "Jauhin tangan lo!"


"Seharusnya lo yang lepasin tangan Krystal!" Balas Rekha.


Kai berdecak, maju selangkah lebih dekat. Matanya menatap Rekha dengan tajam hingga membuat Krystal bergerak gelisah dan seketika tubuhnya memanas.


"Lo siapa? Pacarnya?" Tanya Kai nyeleneh.


Rekha melirik Krystal yang terdiam kaku di sebelah Kai. Dia tersenyum lembut ke arahnya hingga kemudian membalas ucapan Kai dengan yakin. "Belom. Tapi setelah ini gue pastiin itu terjadi."


Krystal tersentak. Gadis itu menegang sambil mengedipkan bulu matanya berulang kali. Dia menatap Rekha tidak mengerti. Namun, ketegangan yang terjadi di antara Kai dan Rekha malah membuat Krystal merasa sedikit takut pada pemilik tangan yang kini masih mencengkram pergelangan tangannya.


"Dan gue juga bakalan mastiin kalo itu cuma harapan lo doang." Balas Kai.


Rekha berdecih. "Coba aja!"


Kai yang tersulut emosi mulai mengepalkan jari-jari tangannya dengan kencang. Dia tidak pernah takut untuk memulai perkelahian lebih dulu, bahkan jika sekarang mereka masih berada di dalam lingkungan sekolah.


"Lo nantang?" Ujar Kai dengan seringai.


"Kai.." desis Krystal lirih. "Berhenti, ini sekolah."


Kai menarik tangan Krystal cepat, hingga membuat pegangan tangan Rekha pada Krystal terlepas. Tubuh Krystal seketika tertarik ke arahnya dan hampir menubruk.


Kai menunduk, membuat mata mereka kembali bertemu.


"Kalo gitu pulang sama gue sekarang."


Krystal gelagapan, bibirnya tertutup rapat. Dia tidak tahu harus berkata apa saat ini. Sorot mata Kai begitu tajam. Krystal berasumsi jika Kai saat ini sedang marah. Namun, Krystal tidak mengerti apa yang membuat cowok itu marah.


"Lo gak bisa maksa dia!" Rekha kembali meraih tangan Krystal yang terbebas dari genggaman Kai. Emosi keduanya sama-sama besar saat ini. Mereka saling bersitatap seolah ingin membunuh satu sama lain


"Hubungan lo apa sama Krystal harus ngatur-ngatur dia kayak gini?" Ujar Rekha lagi.


Kai berdecak, menyentak tangan Rekha yang berada di pergelangan tangan Krystal dengan kasar hingga cekalan itu terlepas. Kai menarik Krystal dan menyimpan tubuh itu di balik bahunya.


Kai melangkah maju seakan sedang menantang Rekha.


"Lo tanya hubungan gue apa?" Kai berujar sinis, dia tersenyum meremehkan, entah menertawakan pertanyaan Rekha barusan, atau menertawakan dirinya sendiri. Kai merasa sudah muak memikirkan status hubungannya dengan Krystal. Dia benci mengatakan ini, tapi memang harus. "Gue sama Krystal-"


Rekha merengut. "Krys.."


"Maaf, Rekha." Krystal menatap Rekha takut-takut sambil sesekali melirik ke arah Kai. "H-hari ini aku pulang sama Kai."


"Tapi, Krys-"


"Mungkin lain kali kita bisa pulang bareng." Sela Krystal buru-buru.


Kai meraih pergelangan tangan Krystal, menariknya mendekat. Seakan masih tidak terima, Kai kemudian berkata. "Gak ada lain kali, mending lo jauh-jauh dari sekolah gue!" Lalu dia menuntun Krystal menuju parkiran sekolah., menjauhi Rekha yang berdiri kaku di tempatnya.


• • •


Krystal sedikit kewalahan saat mengikuti langkah kaki Kai yang terasa sangat terburu-buru. Postur tubuh mereka yang berbeda membuat Krystal kesulitan untuk mengimbangi kecepatan Kai berjalan.


"Kai, tunggu sebentar." Desis Krystal pelan.


Cowok itu masih diam. Mengabaikan rintihan Krystal sambil terus menarik pergelangan tangannya. Parkiran hari itu sudah mulai menyepi, bahkan Krystal sudah tidak melihat motor yang tersisa di sana selain motor Kai.


Mereka berhenti tepat di sebelah motor Kai. Cowok itu melepaskan genggaman tangan Krystal dan mulai menaiki motornya. Sementara, Krystal hanya terdiam dengan jari tangan yang saling tertaut.


"Naik." Perintah Kai.


Mendengar itu Krystal melirik ke arah Kai yang juga menurunkan pandangannya untuk menatap Krystal.


"Hmm.. udah gak ada Rekha, aku pulang sendiri aja." Ucap Krystal takut-takut.


"Gue bilang naik, kenapa sih susah banget nurutnya."


"Tapi, Kai-"


"Lo mau gue paksa?!"


Krystal menggeleng. Buru-buru gadis itu menaiki motor Kai dan duduk di belakangnya. Setelah beberapa detik melewati perdebatan, akhirnya Kai membawa motornya melaju melewati gerbang sekolah.


Selama perjalanan hanya diisi oleh hening, satu-satunya yang terdengar adalah suara kendaraan lain yang berlalu lalang di sebelah mereka, atau mungkin juga suara detak jantung keduanya yang hanya dapat di dengar oleh diri mereka masing-masing.


Krystal hanya menggenggam pinggiran jaket Kai untuk pegangannya. Rasanya sudah sangat lama Krystal tidak merasakan ini, duduk di atas motor Kai dan memandangi punggung cowok itu dari belakang. Jika biasanya Kai memaksa Krystal untuk memeluknya, tapi kini semua terasa dingin, Kai hanya terdiam dan fokus pada jalanan di depan. Sementara Krystal berjelajah dengan pemikirannya. Apa boleh dia memeluk Kai lagi seperti sebelumnya. Dia rindu itu.


Suasana sepanjang perjalanan terasa semakin canggung, apalagi ketika suara gemuruh di langit yang mendung mulai terdengar, ditambah dengan tetesan air dari atas membasahi seluruh permukaan bumi, tidak terkecuali mereka.


Hujan semakin deras, membuat Kai langsung menepikan motornya di depan halte bus. Mereka segera turun dan berteduh di sana. Hujan yang begitu tiba-tiba membuat seragam Krystal hampir basah semua. Kai melirik sekilas ke arahnya, cowok itu lalu menurunkan resleting jaketnya dan membuka itu untuk dia berikan kepada Krystal.


"Pake." Ujarnya dingin sambil menyerahkan jaketnya pada Krystal.


Krystal terkesiap, ia mengerjap kecil sebelum berkata. "Kamu?"


"Lo pake aja."


Tanpa mau memulai perdebatan, Krystal mengambil jaket itu dan mulai mengenakannya. Sesaat hanya suara hujan yang terdengar, mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing sampai Krystal yang pertama kali bersuara.


"Boleh aku tanya kamu."


Kai hanya terdiam, namun seperti sebuah jawaban, Krystal kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Kamu ... gak datang ke rumah aku waktu itu, apa karena masalah ini?"


Kai masih diam, sampai hembusan nafas kasar terdengar darinya. "Lo udah tau jawabannya."


"Lalu, alasan apa yang ngebuat kamu begitu marah?" Krystal menjeda pertanyaannya sebentar. "Apa karena kamu tahu aku anak selingkuhan papa kamu, atau ... karena kamu sadar kalo ternyata kita adik kakak?"


Kai membeku, bukan karena rasa dingin dari hujan di depan sana, bukan juga karena angin yang berhembus. Tapi itu karena pertanyaan dari Krystal yang terdengar sama dengan pertanyaan Sean tempo hari. Pertanyaan yang tidak pernah dia tahu jawabannya.


Namun sekarang, Kai sudah mengetahui jawabannya. Dia sadar perasaan apa yang sedang terkungkung di benaknya. Rasa kecewa yang teramat besar, kecewa pada takdir yang membuat dia dan Krystal tidak bisa bersatu.


"Lo mau gue jawab jujur?" Kai menurunkan matanya, menatap Krystal yang juga menatapnya dengan linangan air di pelupuk mata.


"Jujur."


Ada hening sebentar sebelum Kai menjawab. "Gue marah karena gue sadar kita berada di takdir yang salah."


Mata mereka bertemu dalam satu garis lurus. Kai menyadari jika tidak mudah untuk melupakan gadis itu dalam sekejap. Karena mengakhiri sesuatu yang sudah mendalam lebih sulit di banding memulainya.


"Gue nyakitin lo semata-mata untuk pertahanan diri agar gak ngebuka hati gue untuk jatuh lebih dalam lagi."


"Harusnya lo juga ngelakuin hal yang sama. Berhenti bertahan diperasaan ini. Kita ... gak akan bisa bersatu."


Krystal menatap Kai dengan setetes air mata membasahi pipi. Cowok itu terlihat sangat dekat dengannya, tapi Krystal merasa dia sangat jauh dan sulit untuk digapai.


"Apa nyakitin aku bisa ngebuat kamu menghilangkan perasaan itu?"


"Harusnya." Kai mengalihkan perhatiannya. "Sudah seharusnya rasa benci gue lebih besar sama lo."


"Benar.." Krystal menunduk, membiarkan air matanya menetes lagi. "Seharusnya memang kamu membenci aku, aku pantes dapat itu dari kamu."


Hening sesaat.


"Tapi, Kai." Air mata itu terus menetes, Krystal menangis tanpa suara dengan bahu bergetar hebat. Dia menggigit bibirnya pelan, mencoba menahan isakan yang keluar. "Gimana sama hati aku?"


Mendengar itu membuat hati Kai berdenyut nyeri. Matanya terpejam erat dengan tarikan nafas panjang. Seharusnya dari awal mereka tidak perlu membahas masalah ini. Kai tahu, apapun jawaban yang dia katakan, Krystal pasti akan tersakiti.


"Hujannya udah berhenti." Ujar Kai mengalihkan. "Ayo pulang." Buru-buru Kai melangkah mendekati motornya yang terpakir di depan halte.


Mungkin mengalihkan pembicaraan adalah jalan terbaik yang bisa dia lakukan saat ini. Meskipun sebenarnya Krystal sudah terlalu sakit untuk berpikir.


"Ayo.."


Krystal segera menghapus air matanya, dan melangkah mengikuti Kai. Saat akan duduk di kursi belakang punggung Kai, cowok itu seketika menarik tangan Krystal, membuat gadis itu berdiri di sampingnya.


Tangan Kai turun menuju ujung jaket miliknya yang Krystal gunakan, lalu menyatukan resleting itu dan menariknya hingga menyentuh dagu Krystal.


Perlakuan Kai yang secara tiba-tiba dan begitu manis membuat jantung Krystal kembali berdebar. Jika seperti ini, bagaimana dia bisa memperbaiki hatinya.


"Naik." Kai sudah siap berada di atas motornya. Sedangkan Krystal sedang menahan laju air matanya untuk tidak menetes.


Setelah Krystal sudah duduk di belakangnya, Kai mulai menjalankan motornya dengan kecepatan rendah. Motor itu melaju dengan sangat pelan, seolah mengatakan pada hujan bahwa mereka berdua tidak ingin mengakhiri ini semua dengan cepat.


Tangan Krystal yang semula berpegangan pada pinggiran seragam Kai, perlahan melingkar di sepanjang perut Kai, hingga dia berhasil memeluk tubuh Kai dari belakang. Krystal menyandarkan kepalanya pada bahu Kai, dan mulai menangis di sana.


Kai tahu, Krystal butuh waktu, begitupun dengannya. Semua terasa tiba-tiba dan mengejutkan, apalagi untuk hati mereka. Karena ternyata mengakhirinya lebih sulit daripada memulai apa yang sudah terjadi.


Kai mulai menurunkan tangannya, lalu dia meletakan itu di atas tangan Krystal yang berada di perutnya. Kai mengusap punggung tangan Krystal dengan lembut.


"Jangan nangis, Krys." ujar Kai sembari mengelus tangan Krystal. Cowok itu menarik nafasnya dalam, mencoba menenangkan perasaannya. Dia masih terus mengelus punggung tangan Krystal dengan lembut, sebelum akhirnya berkata,


"Aku sayang kamu.."


• • • •


like dan komen ❤❤❤❤