Nobis

Nobis
Ketenangan



NOBIS


Chap 41






"Maaf.. udah ngebuat kamu harus lihat mama aku seperti itu."


Krystal mengalihkan pandangannya dari layar tv, lalu menatap Kai dalam. Melihat cowok itu menyendu, lantas Krystal mengulurkan tangannya untuk menggengam tangan Kai.


"Mama kamu keren, aku suka." Krystal tersenyum. "Pasti dia sayang banget sama kamu. Aku bakalan betah lama-lama kalo ngobrol sama mama kamu lagi."


"Jangan, aku gak mau kamu ketemu mama aku."


Krystal mendelik, lalu kembali tersenyum. "Kenapa? Aku malah seneng banget bisa ngobrol sama mama kamu hari ini, udah lama aku pengen ketemu sama bidadari yang udah ngelahirin kamu. Tante Morena cantik. Aku mau ngobrol banyak. Pasti bakalan seru banget."


"Krys..."


"Kamu tau apa kemiripan kamu sama dia?"


Kai terdiam, membiarkan Krystal yang hanya berbicara, sementara dia menatap cewek itu dengan penuh decak kagum. Krystal selalu punya caranya tersendiri untuk menenangkan perasaannya.


"Sama-sama apa adanya." Lalu dia menyengir. "Kalian berdua sangat mudah mengeluarkan apa yang ada di kepala kalian, berbicara dengan bebas dan tenang. Aku sebenarnya iri. Aku juga mau dengan bebas menyuarakan isi hati aku."


Kai tau, Krystal adalah penyimpan emosi paling baik. Dia selalu menyimpan apapun dalam hatinya, bahkan untuk kejahatan Airin saja Krystal tidak pernah mengatakannya pada Kai.


"Kamu bisa. Aku akan jadi tempat buat kamu untuk menyuarakan semua isi hati kamu." Kai membalik punggung tangannya, menautkan jari-jarinya pada jari tangan Krystal. "Aku mau kamu berbagi semuanya sama aku. Ceritakan apapun yang mengganggu kamu, rasa sedih, senang, cemas, takut. Aku mau jadi orang pertama yang tahu itu, Krys. Kamu bilang manusia diciptakan bukan untuk dirinya sendiri"


Kai menatap lekat wajah Krystal. Merasa marah dan tidak berguna dalam satu waktu saat mengingat ketakutan Krystal tempo hari di lorong kelas. Kai yakin kalau Krysta menangis saat itu karena Airin, dan kemarahannya semakin menjadi besar saat tau Krystal tidak menceritakan itu padanya.


"Apalagi masalah besar seperti yang Airin lakuin sama kamu."


Krystal menemukan sorot kemarahan di mata Kai. Berbeda dengan warna mata Krystal yang terlihat kaget.


"Jangan kasar sama Airin."


Bahkan rasanya itu tidak cukup untuk membalas apa yang Airin lakukan pada gadis itu.


"Setiap orang punya alasan masing-masing untuk melakukan sesuatu. Baik atau buruk itu. Aku rasa Airin memiliki alasannya. Dan mungkin bisa jadi dengan melakukan itu mampu membuat perasaannya lega. Terkadang yang buruk buat kita bisa jadi baik untuk orang lain. Aku sebagai manusia hanya bisa sabar dan memaafkan."


"Kamu maafin dia?" Tanya Kai.


Krystal mengulumm senyum simpul. Menatap mata Kai dengan yakin. "Ya, lagipula, apa yang membuat seseorang terlihat hebat hanya karena dia tidak mau memaafkan?"


"Dia ngebahayain kamu."


"Tapi aku baik-baik aja kan?" Gadis itu tersenyum, seolah sedang menyakinkan Kai jika dirinya sudah melupakan semua kejadian itu. "Aku udah gak apa-apa sekarang, Kai."


Tapi, sepertinya Krystal lupa jika Kai bisa membaca semua hal yang kini sedang Krystal rasakan. Cowok itu menatapnya dalam diam, lalu mulai mengikis jarak di antara mereka.


"Kamu yakin?" Krystal mengangguk kecil, "aku mau bukti."


Lantas Kai mengangkat tangannya untuk mengelus lembut leher Krystal, lalu mulai mencium pipi gadisnya pelan.


Kecupan itu hanya sekali karena selanjutnya Kai mengecupi telinganya, menguulum lembut. Hingga turun menuju leher terbuka Krystal. Hembusan napas panas menerpa kulit, membuat tubuhnya menggigil.


Krystal tersentak. Rasa takut tiba-tiba menyusup masuk di benaknya. Ingatan kejadian tempo hari di villa Rendi terus berputar di kepalanya. Menjadikan bayangan paling kelam yang harus dia ingat.


"Kai-" Krystal mencengkram bahu Kai kuat, berharap cowok itu segera berhenti. Karena demi apapun Krystal bisa mendengar dengan jelas suara kecupan Kai di lehernya.


Bukan berhenti, Kai malah membuat Krystal semakin terpojok pada sandaran sofa. Satu tangannya terangkat untuk membuka satu kancing teratas seragam sekolah Krystal. Kecupannya kini mulai turun menuju tulang selangka, menghisapnya kuat-kuat.


Getaran di tubuh Krystal semakin menjadi saat Kai menggigit kecil disana, membuatnya terpekik.


"Kai mau apa?" Mata Krystal terpejam erat. air bening di sudut matanya mulai menetes.


Kai yang menyadari Krystal mulai menangis, lalu berhenti. Dengan napas yang memburu Kai menarik diri, menatap gadis itu dengan sorot mata kemarahan. Bukan pada Krystal tapi pada dirinya yang tidak bisa menjaga gadis itu.


"Itu yang kamu bilang baik-baik aja?" Kai menangkup kedua sisi wajah Krystal lalu menyatukan dahi mereka. "Kamu takut sama aku, Krys. Kamu masih ngebayangin kejadian itu."


Isakan kecil mulai terdengar keluar dari bibir Krystal. Gadis itu masih menutup matanya dengan erat. Kai tau Krystal tidak baik-baik saja semenjak dia menciumnya di ruang lukis kemarin. Gadis itu seperti terkejut dan ketakutan.


"Ini aku, Kaisar." Kai menyapu tetesan air mata itu. "Buka mata kamu, lihat aku."


Krystal menggeleng ketakutan, air matanya masih terus menetes bersama isakan yang menyakitkan. Kai benar-benar merasakan lonjakan amarah mulai bersarang di kepalanya, namun rasa bersalah justru jauh lebih besar dan menyesakan.


"Lihat aku, sayang." Pinta Kai lembut.


Dengan perlahan Krystal membuka matanya, hal pertama yang Kai lihat adalah sorot ketakutan dari gadis itu.


"Tenangin pikiran kamu. Hapus semua bayangan itu pelan-pelan. Kamu hanya perlu ingat kalo aku selalu ada buat kamu, dan ingat kalo aku nggak akan ninggalin kamu."


"Aku takut, Kai." Lirih Krystal.


"Kamu bisa hilangin itu. Setiap ketakutan itu datang, kamu hanya perlu ingat wajah ini. Ingat aku, sebut nama aku, dan bayangin semua kenangan indah yang pernah kamu lewati."


Kai mencium dahi Krystal lembut, menyalurkan rasa aman di seluruh tubuh Krystal. "Sekarang tutup mata kamu, dan bayangin semua keindahan itu."


Krystal mengangguk pelan, mengikuti semua yang Kai ucapkan. Secara perlahan dia menutup matanya, walau masih dengan ketakutan dan napas yang tersengal. Bayangan wajah Rendi yang sebelumnya sangat mendominasi pikiran Krystal, pelan-pelan tergantikan.


Di dalam pikirannya, Krystal melihat wajah bunda yang sedang tersenyum, bunda yang selalu memeluknya erat. Seketika hatinya kembali menghangat, kerut di dahi juga perlahan menghilang. Lalu, bayangan anak-anak panti asuhan juga mengisi pikirannya saat ini.


Ketakutan itu perlahan menghilang, dan digantikan dengan bayangan indah yang Krystal miliki. Kemudian, tanpa pernah Krystal sadari, air matanya kembali menetes dengan deras saat bayangan yang dia lihat di dalam pikirannya kini adalah sosok Kaisar.


Cowok yang membuat hatinya berdesir tidak karuan. Kai yang menjadikan dirinya tempat untuk Krystal menggantungkan harapan setinggi mungkin. Yang mampu menggantikan rasa takut di hati Krystal menjadi ketenangan yang luar biasa.


"Kai.." masih dengan mata yang terpejam dan napas yang sedikit tersengal, Krystal memanggilnya.


"Iya ini aku."


Kedua bola mata bulat itu terbuka. Kali ini berbeda, ada binar di dalamnya. Krystal tersenyum dalam tangis, lalu segera menghambur ke dalam pelukan Kai.


"Aku sayang Kai." Dia pun semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Kai, tidak berniat melepaskannya sama sekali.


"Aku juga sayang kamu." Cowok itu mengusap belakang kepalanya sebelum berkata, "Makasih kamu udah kuat demi aku."


• • •


Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.


Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..


terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...


salam sayang,


anna