
NOBIS
Chap 43
•
•
•
•
Sore itu, Morena tidak sengaja mendengar percakapan Kevin dengan Doni, asisten pribadi suaminya dari luar ruang kerja. Sebenarnya sudah biasa bagi Morena mendapati Doni datang ke rumah ini dan keluar masuk ruang kerja Kevin, namun ada satu yang mengejutkan bagi Morena saat pendengarannya tidak sengaja menangkap percakapan Kevin dan Doni tentang Alisa, perempuan yang dia ketahui sebagai selingkuhan Kevin.
"Aku gak pernah nyangka kalo kamu segitu cintanya sama Alisa. Ini aku yang bodoh atau kamu yang hebat nyembunyiin semuanya?" Ujar Morena dengan senyum meremehkan.
"Ren, aku gak mau bahas ini."
Morena menyeringai, maju selangkah lebih dekat ke arah Kevin yang sedang berdiri di depan jendela kamar.
"Wow.. apa menghindar memang keahlian seorang Kevin Wira Atmadja? Jadi selain berselingkuh kamu juga pintar mengalihkan pembicaraan?"
Kevin mendengkus, mengusap wajahnya dengan kesal. Lalu berbalik menghadap Morena yang kini menatapnya dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca.
"Apa yang sudah kamu dengar?"
"Kamu punya anak dari Alisa." Suara Morena bergetar saat mengucapakan itu. Sudut hatinya yang paling dalam merasakan kesakitan luar biasa yang akan dirasakan setiap perempuan saat mengetahui suaminya memiliki wanita lain di dalam hidupnya, terlebih dari hubungan tersebut menghasilkan seorang anak.
"Benar itu, Kevin?" Tanyanya yang masih tidak percaya. Sementara Kevin hanya mampu menunduk sambil menghembuskan napasnya berat. "Jawab, Brengsek!"
Sudah habis kesabaran Morena, dengan napas yang memburu, wanita itu memukul dada Kevin berulang-ulang, mengeluarkan sumpah serapah untuk mengutuk perlakuan Kevin padanya.
Dan keterdiaman Kevin membenarkan itu semua.
"Aku kurang apa?" Lirihnya bersama isakan yang menyakitkan.
Kevin menangkup kedua tangan Morena yang terus memukuli dadanya. Tidak ada kata-kata sanggahan atas itu semua, lidahnya terasa keluh dan kepalanya berdenyut hebat. Sudah terlalu banyak kebohongan yang dia sebunyikan. Bahkan untuk sekedar meminta maaf saja Kevin rasanya sulit.
"Rena.."
"Tujuh belas tahun kamu bohongin aku sama Kai! Bodohnya aku percaya kalo kamu sama Alisa sudah berakhir tujuh belas tahun yang lalu!" Teriak Morena murka. "Kamu nikah sama dia? Iya?"
Kevin masih terdiam dengan rasa bersalah yang luar biasa. Namun wajahnya terlihat datar dan biasa saja. Hal itu malah menyulut emosi Morena lebih besar.
"Kamu siapin rumah di Bandung juga buat dia?"
"Ren, cukup!" Bentak Kevin. "Sekarang kamu sudah tau semuanya. Aku salah, iya. Tapi aku juga gak bisa ngelepas tanggung jawab aku buat mereka."
Air mata itu tidak berhenti mengalir di pipinya, Morena bahkan tidak tahu lagi bagaimana perasaanya saat ini. Semuanya hancur, rasa yang coba dia jaga selama belasan tahun itu rusak hanya dalam sehari.
Dulu, tujuh belas tahun yang lalu. Saat usia kandungannya memasuki bulan kesembilan. Sikap Kevin berubah drastis. Suaminya jadi sering pulang larut, sibuk ke luar kota, bahkan sesekali tidak pulang ke rumah. Morena merasa ada yang aneh dengan perubahan Kevin padanya.
Lalu, hingga sampai kelahiran Kai ke dunia, Morena mengetahui jika ada nama Alisa di tengah-tengah pernikahan mereka. Morena berpikir jika Alisa yang membuat Kevin berubah. Tidak lagi mendamba dirinya, dan hal itu membuat Morena memilih mengabaikan keluarganya dengan menyibukan diri.
Seiring berjalannya waktu, Morena kira Kevin sudah melupakan Alisa. Tapi hari ini, seperti badai besar di hidupnya, Morena baru saja dihadapkan pada kenyataan baru jika Kevin memiliki anak dari wanita lain, dan itu adalah Alisa.
"Dimana mereka?"
"Ren-"
"Dimana kamu sembunyiin selingkuhan kamu sama anak haram itu!" Jerit Morena penuh kekesalan.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu ruangan itu, ada sosok lain yang sangat terkejut mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Kai tidak sengaja mendengar pertengkaran itu dari balik pintu. Dia Terkejut, tentu saja. Jadi selama ini dia bukan satu-satunya yang diharapakn Kevin, ada darah daging lain yang Kevin harapkan, dan sialnya itu dari wanita lain.
Rahang Kai mengeras bersama emosi yang memuncak. Dengan hentakan keras Kai mendorong pintu kayu di depannya dan melangkah lebar-lebar memasuki ruang kerja sang ayah.
Morena dan Kevin terkejut saat mendengar suara pintu yang terbuka dengan keras, mereka menoleh dan terbelalak sempurna mendapati Kai masuk ke dalam menghampiri mereka.
"Benar, pah? Benar apa yang mama bilang?"
"Kai.." Morena menahan lengan Kai untuk menjauh dari Kevin, "tunggu, Kai." Ujarnya mencoba untuk menenangkan.
Kai menatap sang ibu dengan mata menyalak tajam. "Mama gak usah nutupin ini dari aku. Aku berhak tau!!" Matanya kembali menatap Kevin. "Pah, apa benar saya bukan satu-satunya anak papa?"
"Lebih baik kamu masuk ke kamar!" Perintah Kevin yang sama sekali tidak di dengar oleh Kai.
"Saya bukan lagi anak kecil yang gak ngerti apa-apa! Saya udah tujuh belas tahun!"
"Papa bilang masuk kamar!" Bentak Kevin, tapi itu tidak juga membuat Kai terlihat takut sama sekali.
"Jawab, pah! Kalo memang papa punya selingkuhan dan anak haram!"
"Kai!"
Kai menyeringai. "Jadi papa selama ini sibuk sama wanita murahan itu."
"Jaga ucapan kamu!"
"Memang benarkan kalo dia wanita murahan."
Satu tamparan keras mendarat tepat di wajah Kai. Sudut bibirnya berdarah, namun Kai tidak merasakan sakit sama sekali.
Morena terbelalak, lalu menjerit sambil menutup mulutnya dengan tangan saat melihat anaknya ditampar di depan matanya.
"Kevin, cukup!"
Kai berdecih, menyeringai sambil menyentuh ujung bibirnya yang robek. Tatapan tajam berapi-api itu menantang Kevin tanpa takut.
"Puas, pah? Saya bukan Kaisar si anak cengeng yang selalu papa pukulin setiap kali ngelakuin kesalahan! Papa gak bisa perlakukan saya seperti itu lagi!"
"Kamu sebaiknya diam! Sekolah yang rajin bukan malah ikut campur urusan orang tua!"
"Oh.. bagus, kenapa gak sekalian papa usir saya. Biar saya gak perlu lagi pulang ke rumah ini. Papa udah punya pengganti saya, kan?" Ujar Kai
"Kaisar!" Kevin mengangkat tangannya, bersiap menampar Kai lagi, namun laju tangannya terhenti di atas kepala.
Morena menjerit masih dengan air mata yang berlinang.
Lelaki itu menahan segala amarahnya untuk tidak memperlakukan Kai dengan kasar. Dia membuang napas, mengusap wajah, mencoba setenang mungkin.
"Kenapa? Tampar aja, pah. Bukannya udah biasa?" Kai mendesis dengan tatapan menantang.
"Kamu masih punya perjanjian sama papa! Ingat panti asuhan tua itu. Selangkah kamu keluar dari rumah ini, papa benar-benar akan menarik semua biaya untuk panti tersebut!"
"Papa gak perlu khawatir, semuanya bakalan berjalan seperti apa yang papa mau!" Ujarnya dengan segala kekesalan yang menumpuk, lalu pergi, keluar ruangan dengan membanting pintu.
• • •
Kaisar
Aku tunggu di apartemen, 160401 passcode apartemen aku.
Krystal tersenyum sesaat setelah membaca pesan tersebut. Dia lalu memasukan kembali hapenya, dan kemudian segera memasuki area pemakaman. Sudah lama rasanya Krystal tidak ke sini. Langkahnya terhenti pada sebuah gundukan tanah yang sudah berkeramik.
"Assalamualaikum, ibu." Ujarnya seraya duduk di pinggir makam itu dan mengusap nisannya lembut. "Maaf ya, Krystal baru datang lagi."
Hembusan angin kencang membuat rambutnya sedikit berantakan. "Seminggu lagi Krystal ulang tahun, bu." Gadis itu tersenyum sendu. "Dan sekaligus peringatan hari dimana ibu pergi ninggalin Krystal."
Matanya mulai berkaca-kaca, dengan napas sedikit tercekat. Krystal tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya karena hari itu adalah hari yang sama dimana dia harus kehilangan sang ibu.
"Pasti ibu bosen kalo Krystal bilang masih nungguin ayah dateng ke panti." Air matanya menetes. Dia tersenyum lalu menghapusnya. "Sekarang Krystal cuma mau bilang sama ibu, kalo Krystal udah gak lagi nungguin ayah. Bukan karena Krystal gak percaya, tapi karena Krystal gak mau terus-terusan sedih. Kata bunda, ibu bakalan sedih kalo liat Krystal sedih, maka itu Krystal gak mau sedih lagi, bu."
Krystal menghela. "Tapi Krystal tetap akan selalu berdoa untuk ayah, selalu minta sama Tuhan agar ayah selalu bahagia dimanapun ayah berada."
Gadis itu menarik napasnya, mencoba menahan isakan yang akan keluar. "Krystal gak nangis kok, bu. Sekarang Krystal gak mau nangis karena ada seseorang yang akan sedih juga kalo Krystal nangis, dan Krystal gak mau orang tersebut ikut sedih."
Krystal tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan ada binar di matanya. "Namanya Kaisar. Kata temen-temen di sekolah, Kai itu nakal, tapi kalo sama Krystal dia baik banget, bu. Kai bilang, dia sayang sama Krystal. Dia akan lindungin Krystal, jadi ibu jangan khawatir ya."
Seperti merasakan kehadiran sang ibu yang memeluknya, hembusan angin siang itu begitu menyejukan hati Krystal, hingga tanpa sadar bulir air mata yang coba dia tahan akhirnya menetes juga.
"Ibu.. Krystal bahagia sama Kai.."
• • •
Langkah kaki Krystal terhenti tepat di depan pintu besi berwarna hitam. Lalu tangannya terangkat untuk menekan beberapa digit angka yang sudah diberitahukan oleh Kai sebelumnya.
Krystal mendorong pintu itu ketika bunyi bip-bip terdengar. Yang pertama kali dia lihat adalah keadaan ruangan yang gelap, namun masih terlihat cahaya dari sinar matahari yang masuk lewat jendela.
Langkahnya semakin dalam hingga dia dapat melihat siluet tubuh Kai yang duduk di atas sofa dengan wajah tertunduk.
"Kai.." panggilnya pelan. "Hei.." sapa Krystal lebih keras, namun tidak juga membuat Kai mengangkat kepalanya.
Krystal mendekat, ikut duduk pada sisi kosong di sebelahnya. "Kai, aku panggil kok gak jawab." Dia menyentuh pundak cowok itu sampai akhirnya Kai menoleh.
Krystal terkejut ketika melihat luka sobek pada ujung bibir Kai. Dengan cepat dia menangkup sisi wajah cowok itu. "Kamu kenapa? Kok berdarah gitu?" Ujarnya panik.
Kai diam, lalu menjauhkan tangan Krystal dari wajahnya. Tarikan napas cowok itu dapat didengar dengan jelas oleh Krystal. Dia tau, Kai tidak baik-baik saja saat ini.
"Aku ambil obat dulu buat bersihin luka kamu." Krystal baru akan berdiri sebelum tangan Kai menahannya.
Cowok itu menatap dalam matanya. "Jangan kemana-mana. Aku butuh kamu."
Kembali lagi, memang hanya Krystal yang mampu merubah semua kebiasaan buruk seorang Kaisar.
Tidak lupa jika setiap pertengkarannya dengan sang ayah selalu membawa Kai pada kebiasaan buruk, seperti mengunjungi klub malam, lalu minum-minuman beralkohol dan melakukan ONS dengan gadis bayaran.
Yang selalu berakhir dengan mimpi buruk setiap dia tertidur. Tapi, Kai sadar jika hanya Krystal yang berhasil menarik mimpi buruk itu dari dalam tidurnya. Selalu Krystal, dan hanya dia.
"Kamu bilang kita harus saling terbuka untuk masalah apapun. Aku di sini, Kai, kamu bisa ceritain semuanya sama aku."
Tidak tahu harus memulai dari mana, Kai merasa ragu untuk bercerita. Namun, bukankah dia sudah pernah menceritakan sisi terburuknya sekalipun pada Krystal? Jadi seharusnya dia tidak perlu ragu.
"Krys..." Kai menghela sebelum melanjutkan ucapannya. "Papa aku punya anak dari perempuan lain."
Krystal sontak menutup mulutnya, dia terkejut, amat sangat terkejut. Memang Kai pernah bercerita tentang keluarganya pada Krystal, tapi itu hanya tentang bagaimana mereka memperlakukan Kai. Tentu cerita kali ini baru pertama kali dia dengar.
"Aku gak sengaja dengar pembicaraan mama sama papa tadi." Lanjut Kai dengan nada lirih.
Krystal menggenggam tangan Kai erat, mencoba memberikan perhatian lebih kepada cowok itu.
"Kamu tau, ternyata selama ini papa mengabaikan aku dan mama hanya untuk keluarganya yang lain."
"Kai.." Krystal memberi usapan lembut pada punggung tangan Kai.
"Dia selalu ngelarang aku ngelukis karena ngelukis itu gak akan menghasilkan apapun. Papa minta aku belajar yang rajin, dan dapat peringkat, tapi dia gak pernah peduli sama aku. Aku berusaha untuk jadi anak yang baik di depannya, aku selalu nurutin keinginannya, semua aku lakukan untuk menarik perhatian papa. Tapi dia gak pernah melihat itu."
"Sekarang... aku tau, papa gak pernah benar-benar menyiapkan aku untuk jadi penerusnya, karena ada anak lain yang papa inginkan. Mungkin baginya aku adalah kesalahan."
"Kai.." potong Krystal. "Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Hadirnya kamu bukan sebuah kesalahan. Tuhan, tidak pernah menciptakan manusia dalam keadaan salah. Kamu bisa berada di dunia ini atas izin Tuhan, gak ada yang salah. Baik papa, atau mama kamu."
"Tapi aku benci mereka semua, Krys!" Kai berteriak sambil menjenggut rambutnya. "Aku benci anak haram itu!"
Krystal sedikit berjengit, terkejut melihat keadaan Kai yang sangat berantakan. Mengetahui kekasihnya semakin bertambah buruk, lantas Krystal menarik pundak Kai, memeluknya erat. Mencoba menenangkan cowok itu dengan cara lain.
"Aku jadi berpikir kalo ternyata kehadiran aku memang gak pernah diinginkan sama mereka berdua." Kai berucap lirih.
"Jangan berpikir seperti itu. Sekalipun kamu gak pernah diingkan oleh kedua orang tua kamu, aku adalah satu-satunya orang yang sangat menginginkan kehadiran Kai di dunia ini. Sekalipun tidak ada orang yang menginginkan kamu, aku akan jadi yang pertama dan terakhir yang menginginkan kamu."
Kalimat Krystal yang menenangkan dan menyentuh tepat ke hatinya, membuat Kai melepaskan pelukan itu. Tangannya terangkat untuk memegangi sisi wajah Krystal.
Mata mereka bertemu dalam satu garis lurus.
"Beruntung banget aku punya kamu." Ujar Kai mengelus pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku ... gak tau bagaimana jadinya kalo kamu pergi ninggalin aku. Gak bisa bayangin, seandainya gak ada kamu di samping aku seperti saat ini, aku ... benar-benar takut, Krys.."
Sepertinya Kai sudah terlalu banyak berbicara, maka kali ini biarkan Krystal menghentikannya.
Dengan cepat Krystal menarik pundak cowok itu, lalu mengecup bibirnya dengan pelan dan sedikit menahannya di sana.
Tentu Kai terperangah, mengerjap tidak percaya mengetahui Krystal menciumnya lebih dulu. Dia masih terkejut bahkan sampai saat Krystal menarik diri dan melepas ciuman itu.
"K-krys.."
"Kamu banyak bicara, aku pusing dengerinnya." Gadis itu terkekeh dengan pipi merona.
Tolong siapapun, sadarkan Kai saat ini juga.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna