
NOBIS
Chap 5
•
•
•
•
Kai berlari menaiki satu persatu anak tangga di dalam rumah mewah itu, tujuannya hanya satu ingin menemui Oma Yolanda yang kini sedang berada di ruang santai. Langkah Kai tergesah-gesah hingga dia bisa melewati dua undakan dalam sekali langkah.
Hingga kemudian cowok itu sampai di depan pintu berwarna coklat dengan ukiran di bagian tengahnya. Kai dengan cepat membuka pintu dan membentangkan lebar. Dia tidak pernah memikirkan apa itu sopan santun di dalam keluarga ini. Kai terlihat penuh emosi dengan wajah merah dan rahang mengeras.
"Apa maksud Oma!" Teriaknya saat berhenti tepat di depan meja kerja sang nenek.
Wanita tua yang sedang membaca berita online pada tabletnya itu pun melepas kaca mata bacanya lalu meletakan itu ke atas meja. Beliau menatap Kai dengan santai.
"Ketuk pintu dulu kan bisa, Oma nggak kemana-mana kok kalo kamu ketuk pintu dulu."
Kai menahan napas kesal melihat ekspresi santai Oma Yolanda ketika menanggapinya.
"Oma nggak perlu nyuruh cewek itu untuk belajar sama aku. Toh tanpa belajar aku juga bakalan jadi penerus perusahaan kan."
"Kamu ingin menjadi penerus dengan nilai sekolah di bawah rata-rata? apa yang bisa Oma percaya dari kamu?"
"Tapi itu semua nggak penting, Oma, yang penting aku bisa menjalankan perusahaan dengan baik."
Oma Yolanda mendesah. Di usianya yang sudah sangat tua, dia hanya berharap pada satu orang, yaitu Kai. Oma Yolanda tidak bisa berharap pada anaknya, Kevin Wira Atmadja, Ayah Kai yang hanya mementingkan perusahaan tanpa melihat keluarga, di pikirannya hanya uang dan uang. Sebagai seorang suami dan ayah, Kevin tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Melihat Kai tumbuh menjadi anak yang pemberontak dan hidup tanpa kasih sayang membuat Oma Yolanda merasa bersalah, maka itu dia ingin Kai merubah hidupnya sebelum terlambat.
Daripada itu, Oma merasa Kevin salah memilih pasangan hidup, yaitu Morena, ibu Kai. Morena artis dan model terkenal, boro-boro untuk mengingat statusnya sebagai ibu rumah tangga, Morena lebih asik dengan dunianya sendiri hingga melupakan kalau dirinya memiliki keluarga yang harus diurus.
"Menjalankan perusahaan bukan hanya karena kamu bisa. Kamu juga harus memiliki kesadaran diri, attitude, dan belas kasih." Oma Yolanda berdiri, tangannya bertumpu pada meja dengan gemetar.
"Oma kasih dua pilihan." Dia terdiam sebentar, memandangi sang cucu yang menatapnya marah. "Belajar bersama Krystal, atau Oma hapus kamu dari daftar alih waris kekayaan Oma."
Kai tercekat, tubuhnya membeku. Ucapan Oma membuat saraf-saraf di tubuhnya berhenti bekerja. Dia berharap salah dengar, atau Oma sedang membuat lelucon agar dia tertawa. Tapi tidak, ini nyata. Oma mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Oma ...."
"Pilihan di tangan Kamu. Oma sendiri yang meminta Krystal untuk membimbing kamu, jadi jangan buat dia susah."
"Nggak bisa, Oma!" Sahut Kai tidak terima. "Terus kalo bukan aku, siapa yang bakalan ngurus perusahaan!"
"Oma bisa sumbangin kekayaan Oma ke panti asuhan, atau Oma bisa jadiin Krystal pewaris Oma selanjutnya, toh anak itu jauh lebih berbakat dari pada kamu. Jadi kamu nggak usah khawatir."
Kai memucat. Ia merasa benar-benar telah lahir dari keluarga sinting. Tidak ayah dan ibunya, kini Omanya pun menjadi sangat menyebalkan.
"Oma tau 'kan itu nggak mungkin."
"Apa yang nggak mungkin? Semua bisa Oma lakukan. Krystal anak baik, pintar, dia tidak membangkang seperti kamu, yang sukanya menghabiskan uang."
Cowok itu menggeram dalam hati. Enak saja memberikan warisan pada orang asing. Kai tidak akan membiarkan itu. Tidak selama dia masih ada di bumi.
"Aku nggak akan ngebiarin itu, Oma lihat aja."
Kai marah dan berbalik meninggalkan Oma Yolanda dari ruangannya. Dia membanting pintu dengan sangat keras membuat Oma memegang dadanya dan terpejam.
"Semoga Krystal bisa merubahmu."
• • •
Krystal merasa ada kejanggalan saat dia berada di sekolah. Seperti saat jam pelajaran olah raga, tidak sengaja ada orang yang melemparnya dengan bola, sangat kencang hingga dia merasakan sakit di bagian punggung, namun ketika dia mencari siapa orang yang melempar bola itu, tidak ada satu pun yang mengaku.
Kemudian saat ingin berganti pakaian, Krystal tidak menemukan di mana seragam sekolahnya berada, Krystal mengingat dengan jelas jika dia menyimpan itu di dalam loker kelas miliknya, namun lokernya kosong dan dia tidak menemukan jejak di mana seragamnya berada. Padahal beberapa jam lagi pelajaran selanjutnya dimulai, Krystal terpaksa memakai seragam olah raga dan berakhir dengan hukuman membersihkan toilet sekolah.
"Saya sial banget hari ini, Lun." Gerutunya saat berjalan beriringan dengan Luna pada lorong sekolah. Mereka berdua kini sedang menuju loker setelah beberapa menit yang lalu bel pulang berbunyi.
"Sial gimana?"
Cewek itu menghela napas. "Dilempar bola, seragam hilang, buku catetan basah, huh.."
"Udah nggak usah lo pikirin. Palingan juga ini ulahnya cewek barbar itu. Tenang aja, kalo dia macem-macem lagi, gue bakalan berdiri paling depan buat ngehajar mereka."
Krystal menoleh cepat ke arah Luna dengan alis terpaut. "Cewek barbar siapa?"
"Kok lo pake nanya sih! Ya siapa lagi kalo bukan klub pecinta iblis nomor satu itu!"
Krystal terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Saya gak mau nuduh siapapun, Lun. Nggak ada bukti juga."
"Yaelah, Krysssss." teriak Luna gemas. "Lo nggak perlu bukti, emang siapa lagi yang bakalan ngerjain pacarnya Kai, kalo bukan cewek-cewek penggemar tuh cowok."
Masih dengan senyuman, Krystal mengangkat bahunya santai. "Lagian siapa juga yang pacaran sama Kai."
"Elo! Nggak inget di tengah lapangan, lo nembak Kai setelah lo cium—mppft"
Dengan cepat Krystal menutup bibir Luna sebelum dia semakin merasa malu. Wajah Krystal selalu memerah setiap kali Luna mengingatkannya tentang adegan ciuman yang terjadi di tengah lapangan itu.
"Kamu bisa nggak, jangan ungkit kejadian itu, saya malu banget." Krystal memberengut sementara Luna tergelak melihat ekspresi malu dari Krystal.
"Tapi itu keren loh. Cara nembak cowok jaman sekarang, lo cium dulu, baru deh lo tembak."
"Iihh ... Luna, saya serius."
"Gue juga serius." Mereka sampai di depan loker masing-masing. "Lagian gue juga masih bingung, kok si Kai bisa tiba-tiba jadiin lo pacarnya ya?"
Krystal mencebik. Tangannya perlahan membuka kunci loker. "Dia cuma nantang saya."
"Masa?"
"Kemarin pas kamu ninggalin saya di kamar mandi, Kai dateng nyamperin."
"Whaaaaaattttt?"
Krystal berjengit dengan ringisan kecil saat teriakan Luna menusuk gendang telinganya. "Kebiasaan ihh, jangan teriak-teriak, Luna."
"Lo ngapain berduaan di kamar mandi?" Luna menarik bahu Krystal, memutar tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya. "Jangan bilang dia ngajakin lo ngelakuin itu di sana?"
"Apa?" Tanya Krystal dengan kernyitan dalam.
"Itu ... cewek sama cowok kalo di kamar mandi."
Krystal terdiam sebentar, memikirkan arti dari kalimat Luna barusan. "Ciuman maksud kamu?"
Mata Luna melotot kaget. "Jadi kalian ciuman? Astaga Krystal, udah yang keberapa kali ini? Lo ciuman lagi? Gilaaaa—mmppp."
"Kenapa sih kamu tuh sukanya teriak-teriak?"
"Mlo mciump mkai?" Krystal melepas bekapan itu, dan membuat Luna bernafas lega. "Ah gila, kalian ciuman lagi?" Kali ini suaranya memelan.
"Kai yang cium saya." jujurnya anak gadis ini.
Luna menganga lebar dengan kedua mata terbelalak. "Fix, elo-beneran-pacaran-sama-Kai?"
Krystal menjatuhkan bahunya, menggeleng malas lalu berbalik manghadap loker. "Saya udah bilang enggak."
"Tapi sikap kalian itu kayak pasangan beneran."
"Kita gak pacaran, pokoknya saya sama Kai—" kalimatnya terhenti seketika. Bersamaan dengan pintu loker yang terbuka lebar, Krystal terpaku menatap beberapa sampah berjatuhan dari dalam lokernya. Bau busuk langsung menguar begitu saja.
"Oh my god!" Teriak Luna. Cewek itu juga ikut terkejut. Dia memegang pundak Krystal pelan. "Ini nggak bisa dibiarin!"
"Lun ..." lirih Krystal sambil menatap lurus ke dalam lokernya.
"Iya. Kenapa?"
"Saya harus buat perhitungan sama Kai."
"Loh kenapa?" Tatapan mata Krystal masih tertuju pada isi di dalam lokernya.
Luna yang merasa penasaran pun ikut menoleh. Matanya langsung membulat ketika melihat isi di dalam loker Krystal. Ada selembar kertas bertinta merah dengan tulisan di dalamnya.
Hai pacar! Selamat datang di kehidupan iblis nomor satu!
"GILAAAAA!" Luna berteriak histeris.
Sejak tadi pagi, dimulai dari kedatangannya ke sekolah, kesialan yang setengah hari ini Krystal rasakan, dan sampai di mana dia menemukan sampah di dalam lokernya. Semua itu tidak lain adalah ulah dari seorang cowok yang kemarin dia cium di tengah lapangan.
Siapa lagi kalau bukan,
"KAI!" itu adalah teriakan pertama dari Krystal yang di dengar oleh Luna.
• • •
Krystal meletakan selembar kertas di depan Kai. Cowok itu mendongak menatap Krystal yang berdiri di depannya dengan alis bertaut. Mereka sekarang sedang berada di gudang belakang sekolah, tempat Kai dan ketiga temannya untuk kabur dari jam kelas.
"Apaan nih?"
"Jadwal belajar sama saya." Krystal menunjuk kertas itu. "Hari senin, jumat, minggu. Seminggu tiga kali. Setiap senin kita belajar di sekolah. Untuk hari jumat kita belajar di taman belakang sekolah, soalnya setiap hari jumat sore saya harus kerja. Dan untuk hari minggu, kamu boleh yang tentuin tempatnya." Krystal mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
"Ada pertanyaan?"
Ketiga temannya yang juga ada di sana saling melempar pandang satu sama lain. Bibir ketiganya terlipat konyol karena sudah tidak tahan lagi ingin mengeluarkan ledekan untuk cowok yang sedang menatap takjub selembar kertas di depannya itu.
"Wagelaaaa ..." sahut Chandra antusias. "Iblis nomor satu mau belajar. Gue ketinggalan berita apa nih?"
Sean menanggapi, "jangan diledek, Chan. Entar dia ngamuk terus berubah pikiran."
"Bener, berabe nanti kalo nilainya masih di bawah rata-rata." Bara ikut meledek yang di tanggapi Chandra dan Sean dengan gelak tawa yang keras.
"Lagian lo serius mau ngajak belajar nih monyet, Krys?" Sean bertanya dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
"Iya ... lagian kok bisa nilai di bawah rata-rata."
Sontak kalimat itu membuat ketiga cowok di sebelah Kai tergelak keras. Cewek normal mana yang berani meledek Kai seperti Krystal saat ini.
"Diem lo pada!" Sembur Kai pada ketiga temannya.
"Sabar-sabar deh ngajarin dia." Ujar Bara masih dengan tawa geli.
Sementara Kai melihat kertas jadwal yang di buat oleh Krystal dengan alis bertaut. Seminggu tiga kali sama saja seperti menghancurkan hidupnya pelan-pelan. Apalagi jumat sampai minggu adalah hari kebebasan untuknya.
"Gue nggak setuju!"
Krystal melebarkan matanya, beralih menatap Kai. "Kenapa lagi sih Kai?"
"Gue maunya seminggu sekali aja!" Kata Kai santai.
"Nggak bisa dong! Kalo cuma sekali kapan kamu mau pinter?"
Chandra, Bara, dan Sean sudah tidak lagi bisa menahan gelak tawanya. Bahkan sampai-sampai memukul meja yang berada di depan mereka.
"Gue nggak bego ya!"
"Saya nggak bilang kamu bego kok."
Kai mendesis. "Bodo! Gue cuma mau belajar setiap hari kamis, soalnya gue free!"
"Nggak bisa! Hari kamis saya harus kerja."
"Yaudah nggak usah belajar."
Krystal menarik napas, mencoba meredam kekesalannya. "Terserah kamu, saya tinggal bilang sama Oma Yolanda kalo kamu nggak mau belajar sama saya!"
"Lo ngancem gue?"
Cewek itu menggeleng. "Saya cuma pengen buat kamu nyerah! Ya kan... pacar?"
Suara tawa ketiga cowok itu sudah tidak bisa dikondisikan lagi, mereka tergelak dengan nyaring hingga membuat Kai harus memukul ketiga kepala temannya. Mereka tidak bisa untuk menahan tawanya saat itu.
"Mampus lo, ******!" Sambar Chandra geli.
Kai kalah telak saat Krystal berhasil membalikan ucapannya, dan Kai tidak bisa melakukan apapun saat Krystal terus menerus menyebutkan nama Oma Yolanda.
"Uhh pacar. Jadi pengen cium deh." Chandra memajukan bibirnya untuk meledek Kai.
"Berhenti, setan!!" Kai ingin mengamuk rasanya. "Udah sana lo!" usirnya pada Kryatal. "Males gue lihatnya!"
Krystal terkekeh geli. "Iya-iya ... hari ini kita belajar ya, ada di jadwal. Kamu tunggu di kelas, nanti saya ke sana."
Begitu Krystal berbalik dan pergi dari hadapannya, Kai segera meremas kertas tersebut dan membuangnya kesal.
• • •
**hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .
jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .
love you all**
❤ ❤ ❤