
NOBIS
Chap 26
•
•
•
•
Keadaan panti saat itu benar-benar sangat kacau. Beberapa pot tanaman yang setiap pagi selalu mereka siram, kini sudah dalam keadaan hancur tak berbentuk di tengah halaman. Serpihan kaca jendela yang pecah terlihat berserakan dimana-mana, dan juga beberapa barang-barang panti lainnya yang sudah tidak berada pada tempatnya.
Sebagian besar kerusakan yang terjadi terpusat di bagian ruang tamu dan teras depan. Tidak begitu jauh berbeda dengan kondisi halaman panti yang sebagian kursi kayunya sudah patah terbelah dua dan hancur. Sungguh ironis keadaan panti saat itu.
Krystal yang baru saja tiba di panti asuhan, terkejut saat melihat semua itu, terlebih ketika pandangannya menangkap ke depan, dimana Bunda sedang berlutut di depan seorang Laki-laki berjas hitam yang bernama Martin, dan tak jauh dari sana, Krystal juga melihat Anak panti lainnya sedang terduduk menangis sambil berpelukan.
"Bunda." Teriaknya, kemudian berlari menghampiri Bunda.
Wajah Bunda terlihat sangat pucat dan ketakutan. Tentu saja, ini kali pertama mereka diusir dengan cara seperti ini, sangat tidak manusiawi. Krystal segera membantu Perempuan paruh baya itu untuk berdiri, dia lantas menatap Martin yang bediri di depannya
"Kalian tidak seharusnya seperti ini, beri kami waktu setidaknya sampai kami mendapatkan Donatur baru." Ucap Krystal seraya memeluk bahu Bunda yang mulai bergetar.
Martin berdecih, tertawa dengan tatapan mengejek. "Tolol! Mending lo semua buruan cabut! Mana ada sih Donatur yang mau ngasih donasi buat panti asuhan reot yang bentar lagi mau rubuh ini!"
"Sebulan, aku bakalan dapetin Donatur baru. Jadi jangan hancurin panti ini." Mohon Krystal.
Lagi-lagi tawa mengejek terdengar keluar dari mulut Martin dan kesepuluh anak buahnya yang berdiri di belakang. Krystal tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mempertahankan panti dengan keadaan seperti ini, yang bisa Krystal lakukan hanya mencari Donatur, karena hanya dengan mendapatkan Donasi, pemilik tanah tidak akan menjual tanah mereka.
Krystal melihat Martin tersenyum remeh, laki-laki itu terlihat tidak mempercayai ucapan Krystal. Memang terdengar mustahil jika panti asuhan tua yang hampir rubuh seperti panti asuhan mereka mendapatkan Donatur. Namun, bagi Krystal dan anak panti lainnya, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Krystal yakin jika masih ada orang-orang di luar sana yang mau menjadi Donatur di panti asuhan mereka.
"Hancurin semuanya." Perintah Martin pada semua anak buahnya.
Krystal tersentak panik dan melangkah maju untuk menghalangi orang-orang tersebut. Mereka semua sudah bersiap menghancurkan panti dengan tongkat besar di tangan mereka masing-masing.
Krystal tidak merasa takut sama sekali, demi mempertahankan panti asuhan yang sudah berjasa membesarkannya, Krystal berdiri dengan tangan merentang lebar di depan pintu, menahan orang-orang tersebut untuk tidak masuk ke dalam panti mereka.
"Berhenti, aku mohon jangan dihancurin."
"Minggir!" Teriak salah satu dari mereka seraya mendorong tubuh Krystal.
Krystal jatuh terjerembab akibat dorongan kuat dari salah satu orang-orang tersebut. Melihat Krystal tersungkur di lantai membuat tangisan anak-anak panti menjadi semakin histeris, mereka ketakutan, terlebih saat suara pecahan kaca di dalam rumah terdengar oleh mereka.
"Krystal..." teriak Bunda.
Krystal berdiri lagi, mencoba menghentikan beberapa orang yang mulai memukuli jendela serta pintu rumah. "Aku minta tolong berhenti,"
"Lo mau gue matiin juga!?" Bentak salah satu di antara mereka. "Minggir!"
Lutut Krystal rasanya sudah sangat lemas, matanya mulai berkaca-kaca, dan napasnya mulai terengah-engah. Dia tidak bisa menyerah begitu saja, tidak untuk sekarang. Walaupun Krystal merasa dirinya sangat kuat, tapi tetap saja dia masih sangat membutuhkan bantuan saat ini.
Dan kini, entah apa yang ada di pikirannya, dengan sangat tiba-tiba Krystal menghampiri Martin dan berlutut di depan laki-laki itu, kedua tangannya menyatu seolah sedang meminta permohonan.
"Aku mohon."
"Percuma lo mohon-mohon sama gue! Malem ini lo semua harus keluar dari sini! Jadi mendingan angkutin barang-barang lo dan keluar dari panti reot ini sebelum gue hancurin!" Teriak Martin kesal.
Krystal menarik kaki laki-laki itu, membuatnya kesulitan berjalan. Akibat terlalu geram dengan tingkah Krystal yang tidak juga melepaskannya, Martin kemudian berdecak dan hendak mengayunkan tangannya, bersiap untuk memukul Krystal, namun saat tangannya mulai berayun, ada sebuah tangan lain yang menahannya.
Bukan hanya Krystal, Martin pun yang sejak tadi berdiri di depannya dan ingin memukul dirinya ikut terkejut saat mengetahui ada orang lain di antara mereka yang mulai ikut campur.
"Siapa lo? Anak kecil nggak usah ikut campur!" Bentak laki-laki tersebut seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Kai.
Bukannya melepaskan, Kai malah semakin mencengkram pergelangan tangan laki-laki itu sehingga terdengar ringisan kecil keluar dari mulutnya.
"Bangun lo!" Kata Kai sambil menatap ke arah Krystal. Cewek itu masih bergeming dan mengerjap kecil, seolah tidak percaya jika Kai kini berdiri di depannya.
Karena setelah mengantarkannya sampai di depan gerbang tadi, Krystal meminta Kai untuk segera pulang, namun siapa sangka jika Kai kini malah berdiri di depannya dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah menahan emosi.
"Bangun gue bilang!" Kata Kai lagi.
Krystal perlahan berdiri. Matanya masih menatap tidak percaya ke arah Kai. "Kenapa ke sini?"
Cowok itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan Krystal, pandangannya benar-benar menyiratkan kemarahan pada laki-laki di depannya saat ini.
"Gue kasih dua pilihan," Kai memelintir lengan laki-laki itu. "Pergi dari sini sekarang juga, atau gue buat lo nyesel hidup kayak gini!"
"Brengsek! lepasin gue anak ingusan!" Rintih Martin kesakitan. Semakin dia memberontak, semakin Kai mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. "Lepasin gue! Lo mau mati!"
Kai mencengkram tangan Martin lagi, memutar ke belakang punggungnya hingga laki-laki itu tidak bisa bergerak sama sekali.
"Mau apa lo! Aw ... sakit tolol!" Teriak Martin semakin kesakitan.
Melihat Bos mereka yang sudah tidak bisa berkutik sama sekali, kesepuluh anak buah Martin mulai menghampiri Kai dan besiap-siap memukulnya dengan tongkat.
"Eh anak ingusan, lepasin bos gue!" Ujar salah satu di antara mereka.
Kai berdecih sambil meremehkan, dan dengan sentakan kuat dia melepas tangan Martin lalu mendorong laki-laki itu hingga tersungkur ke tanah.
Beberapa anak buah Martin berjengit ketakutan saat melihat kilat amarah dari mata Kai. Cowok itu sama sekali tidak merasakan ketakutan, walaupun saat ini dia terlihat sendirian untuk melawan sepuluh orang laki-laki di depan sana.
Kai sudah ingin bersiap melawan kesepuluh orang laki-laki tersebut saat sebuah suara dari balik punggungnya menghentikan itu.
"Wohooo..."
Di sana, ada Sean dan Chandra yang baru saja datang sambil tersenyum senang. Beberapa menit yang lalu, Kai meminta kedua temannya untuk datang ke panti asuhan dengan alasan mengajak mereka olah raga malam, namun yang dimaksud Kai dengan olah raga malam adalah menghajar orang-orang di depan sana.
"Kita belom ketinggalan kan?" Tanya Sean sambil tersenyum mengejek.
"Asik ... olah raga malem-malem kita." Chandra langsung meregangkan otot-otot leher dan tangannya, lalu tersenyum dengan cengiran penuh kekonyolan.
Detik itu juga, anak buah Martin segera menyerang mereka, tentu hal itu disambut baik oleh Kai dan kedua temannya. Mereka saling memukul, menghajar, dan menendang tanpa ampun.
Sementara itu Krystal sudah melangkah mundur bersama Bunda dan anak panti yang lain. Krystal panik, namun sedikit takut saat melihat kebrutalan yang terjadi di depannya. Tak pelak hal-hal semacam itu membuat jantungnya berdegub kencang. Ingatkah Krystal sangat anti dengan kekerasan.
Masih dengan keributan di depan sana, Kai yang masih terus memukul orang-orang itu, Sean yang memelintir tangan lawannya, dan Chandra yang menyengir dengan wajah jenakanya setelah membuat salah satu dari mereka tergeletak di tanah.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka semua berlari terbirit-birit hingga menghilang dari pagar panti asuhan. Martin menggeram kesal, lalu beranjak dari sana dengan tatapan garang pada Krystal, seolah mengatakan jika kali ini dia boleh selamat, tapi tidak dengan hari-hari berikutnya.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤