
NOBIS
Chap 32
•
•
•
•
Bagi semua guru di SMA Tunas Bangsa, tentu akan menjadi hal yang sangat tidak biasa, melihat seorang Kaisar berada di dalam kelas dan sedang duduk di salah satu kursi pada ulangan Matematika pagi ini.
Dan yang lebih menakjubkannya lagi adalah, ketika cowok itu menerima selembar kertas ulangan yang disodorkan kepadanya tanpa adanya protes sama sekali. Dia menerima itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah ingin menyelesaikan ulangan ini secepatnya.
Bu Indah selaku guru Matematika menatap mustahil ke arah Kai, wanita itu sampai harus mengerjapkan matanya dan berulang kali melepaskan kaca mata untuk meyakinkan keberadaan Kai saat ini di dalam kelasnya.
"Itu beneran Kai?" Bisiknya pada Amar, si ketua kelas. Amar menatap heran pada Bu Indah sambil mengikuti arah pandang sang guru.
Di sana terlihat Kai sedang duduk sambil mengisi lembar jawabannya tanpa kesulitan sama sekali. "Iya, Bu."
"Kai cucuknya Pak Wira 'kan?" Tanyanya lagi dengan nada memastikan.
Amar hanya mengangguk sambil kembali fokus mengerjakan soal ulangan di mejanya.
"Mimpi apa saya, sampe anak itu mau ikut ulangan." Gumam Bu Indah pada dirinya sendiri.
Jika bukan karena Krystal, mungkin Kai lebih memilih tidur di kamarnya pagi ini ketimbang harus berkutat dengan rumus-rumus sialan yang masih bisa dia atasi itu dengan mudah.
Ingatan kemarin malam saat Kai akan pulang. Krystal memintanya berjanji untuk masuk kelas pagi ini dan mengikuti semua jadwal pelajaran hingga bel pulang berbunyi.
Kai menepati itu hingga kini dia duduk dengan manis menerima selembar kertas yang disodorkan dan tidak butuh waktu lama untuknya mengerjakan soal itu. Karena tiga puluh menit pertama ulangan dimulai, dialah murid yang mengumpulkan lembar jawaban itu paling pertama.
• • •
Bel istirahat berbunyi, membuat sebagian murid berhamburan keluar menuju kantin untuk menuntaskan rasa lapar sepanjang pelajaran berlangsung. Sementara, Krystal harus dikejutkan dengan teriakan melengking milik Luna yang duduk di sebelahnya karena baru saja mendapatkan notifikasi chat dari grup sekolah.
"Krys ... Krys ... Krys ... gue punya berita mengejutkan!" Teriak Luna heboh sambil membaca ulang chat pada grup sekolahnya.
"Apa?" Tanya Krystal datar sambil merapihkan buku-buku di atas mejanya.
"Cowok lo!!!"
Krystal menoleh sambil mengernyit bingung, "Kai?"
"Iya, si Kai masa dia— WAITTTTTTTT!" Luna menatap Krystal terkejut dengan mulut terbuka lebar, lalu perlahan merapatkannya kembali sambil menelan ludahnya. "Tunggu-tunggu! Lo— lo udah mulai mengakui kalo Kai itu cowok lo?"
Krystal tertawa lalu menggeleng heran. "Kamu kenapa sih, Lun?"
"Gue nggak lagi mimpikan?" Luna menangkup wajah Krystal, mengarahkan pandangan mereka hingga menjadi satu garis lurus. "Jangan bilang..." dia melebarkan matanya dengan senyum berbinar. "Jangan bilang ke gue kalo kalian udah official?? Lo udah resmi pacaran sama Kai?????"
Tidak ada jawaban pasti yang keluar dari mulut Krystal, namun senyum dan pipi merona cewek itu tentu menjadi jawaban mutlak atas pertanyaan Luna barusan.
"ASTAGAAA!!" Luna memeluk Krystal, menguncang bahu gadis itu dengan kencang. "Lo beruntung banget sih! Dari sekian banyak cewek di sini yang ngejar-ngejar Kai, kenapa lo yang bisa jadi pacarnya? Lo pake rumus matematika yang mana deh??"
"Kok rumus matematika?" Krystal mengerutkan dahinya setelah pelukan mereka terlepas.
"Yakali lo pake rumus frekuensi harapan suatu kejadian." Luna memperbaiki duduknya, jadi membelakangi pintu masuk. "Gini 'Bila sebuah dadu dan satu keping koin dilempar bersamaan, berapakah frekuensi harapan lo sama Kai bisa saling jatuh cinta?' Hahahaha." gelak tawa Luna membuat perhatian beberapa murid di kelas menatap aneh ke arahnya.
Krystal yang salah tingkah dengan itu langsung membekap mulut Luna, hingga membuat tawa cewek itu terhenti.
"Suara kamu, Lun. Nanti banyak yang denger."
"Emang kenapa? Kan udah resmi."
Helaan napas lelah terdengar keluar dari bibir Krystal. "Aku nggak mau cari masalah. Apalagi menyangkut cewek-cewek di sekolah ini."
"Fan clubnya si Kai?" Krystal mengangguk. "Kalo gitu mereka yang cari masalah sama lo!"
"Sstt.. udah aku nggak mau bahas ini." Krystal kembali merapihkan buku di meja dan memasukannya ke dalam tas.
"Eh tapi, ngomong-ngomong soal Matematika, tadi gue mau ngasih tau lo sesuatu." Ujar Luna.
"Apa?"
"Si Kai hari ini ikut ulangan matematika, gilaaaa men." Ujar Luna takjub.
Lagi-lagi Krystal hanya tersenyum tipis, sebelum akhirnya menanggapi ucapan Luna. "Bagus dong."
"Beuhhh... Itu bisa buat heboh satu sekolahan loh. Kok tumben ya dia mau ikut ulangan, matematika lagi."
"Lo ngomongin gue?"
Suara berat dari balik punggungnya membuat Luna membuka matanya lebar-lebar. Kemudian dia berbalik dengan cepat, dan mendapati Kai berdiri di sana dengan wajah datar yang menyeramkan.
"YA TUHAN..." Luna berjengit kaget hingga membuat punggungnya membentur kursi. "Kapan lo datengnya?"
"Pas lo sibuk ngomongin gue tadi!" Balas Kai sambil menghampiri Krystal.
Seketika itu juga kelas mendadak hening. Ini pertama kalinya Kai datang mengunjungi kelas mereka, dan lebih terkejutnya lagi ketika cowok itu datang untuk menghampiri meja Krystal.
"Udah makan?" Tanya Kai pada Krystal.
"Belum... ayo ke kantin." Ajak Kai.
"Hm," Krystal melipat buku paket terakhirnya. "Tadi gimana ulangan Matematikanya?"
"Biasa aja."
"Biasa gimana?"
"Nggak susah, cuma tiga puluh menit kelar." Ujar Kai sambil membantu Krystal memasukan bukunya ke dalam tas.
"Keren dong, siapa sih pembimbingnya?" Ledek Krystal.
"Siapa?" Balas Kai.
"Aku-lah.."
Kai terkekeh, mengusak rambut Krystal dengan lembut, tentu hal itu membuat Luna dan sebagian murid yang masih di dalam kelas menatap iri ke arah mereka berdua.
Nasib jomblo gini amat..
Krystal beringsut, lalu berdiri di sebelah Kai setelah menutup resleting tasnya. Dia melirik Luna saat cewek itu masih duduk terdiam di atas bangkunya.
"Ayo, Lun.." ajak Krystal.
"Hell, elo mau gue jadi toples kerupuk apa sedotan teh botol di kantin nanti??"
Krystal menautkan alisnya bingung. "Maksud kamu?"
"Udeh nggak usah dibahas." Helaan napas maklum atas ketidakpekaan Krystal menjadi senjata terakhir Luna. "Gue ke kantinnya nanti aja, sama yang lain. Lo sana duluan, udah di tunggu sama Kai, tuh."
"Yaudah aku duluan yaa." Krystal melangkah keluar bersama Kai di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan, Kai terlihat fokus mendengarkan Krystal bercerita, dan sesekali Krystal memukul lengan Kai saat cowok itu menjawab pertanyaannya dengan sebarangan.
• • •
"Lo udah resmi pacaran sama Kai?" Adalah pertanyaan pertama Chandra saat melihat Krystal duduk di meja mereka bersama dengan Kai di sebelahnya.
Krystal yang hendak menggigit roti membeliak terkejut. Dia tidak mengangguk, tapi senyum malu-malu di wajahnya seolah menjawab pertanyaan itu.
"Gilaaa ... akhirnya iblis nomor satu kalah juga." Lanjut Chandra sambil bertepuk tangan.
"Kalah kenapa?" Tanya Krystal.
"Nggak usah di dengerin." Sela Kai sambil membuka tutup botol air mineral dan memberikannya pada Krystal.
Merasa tidak takut dengan Kai, Chandra melanjutkan ucapannya. "Iyalah kalah, dia udah tobat dari jalan maksiat! Lo kan tau kalo Kai sering—"
"Chan, mulut lo!" Sergah Kai.
Chandra sontak merapatkan bibirnya dengan gerakan pura-pura, sementara Sean mulai tergelak di sebelahnya. "Haha dia takut," ledek cowok itu dengan gelak tawa yang tidak bisa berhenti. Lalu dia beralih menepuk pundak Chandra. "Lo gak boleh gitu, Chan ... sesama penyuka WOT harus saling menjaga rahasia."
"Enak aja, gue sukanya Doggie style." Balas Chandra dengan jemawa.
Percakapan mereka bertiga langsung menyulut kebingungan pada diri Krystal.
"Lo tahu WOT gak, Krys?" Chandra bertanya demikian saat melihat Krystal kebingungan. Namun itu malah membuat Kai beringsut cepat seraya menarik kerah seragamnya kuat.
"Ngomong sekali lagi gue buat mulut lo nggak bisa nyium cewek-cewek lagi ya, Chan!" sungutnya.
Sean tergelak kencang. "pukul Kai pukul, biar tau rasa tuh bocah."
"Ampun bro, nyerah gue." Chandra mengangkat tanganya, pura-pura takut dengan ancaman Kai. "Nggak lagi-lagi ganggu iblis yang lagi jatuh cinta."
Kai melepaskan cengkraman itu, sedikit menyentaknya hingga lagi-lagi menyulut gelak tawa dari kedua sahabatnya itu.
"Ngeri gue lihat Kai jatuh cinta." Sean menatap Krystal yang masih terlihat kebingungan. "Lo cewek pertama yang ngebuat dia kayak gini, Krys."
"Jangan ikut-ikutan lo, kampret!" sergah Kai pada Sean.
Sementara Krystal memandangi ketiganya dengan sorot kosong, tidak paham pada obrolan mereka. "Kalian ngebahas apa sih dari tadi? Aku gak ngerti?" Tanyanya polos.
Chandra sudah tergelak, sementara Sean terkekeh bersiap untuk menimpali. "Lo tanya sama Kai, dia paling cerdas dalam hal ini."
Krystal menoleh ke arah Kai, meminta jawaban dari cowok itu. "Apa?"
"Bukan apa-apa." Jawab Kai sembari mengelus kepala Krystal, lalu menyampirkan anak rambut yang berantakan ke balik telinga, dan bergerak mengusap pipi gadis itu. "Abisin rotinya, bentar lagi bel masuk."
Mungkin menjadi hal yang begitu langka, atau teramat sangat tidak biasa, melihat Kai begitu manis memperlakukan seorang gadis di depan umum seperti ini. Baru pertama kali untuk Sean dan Chandra selama lima tahun pertemanan mereka dengan Kai, melihat cowok itu menatap sayang ke arah Krystal. Seolah, gadis itu tidak boleh kekurangan cinta sedikitpun darinya.
Ini yang disebut jatuh cinta.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤