
WARNING :
CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA
****
NOBIS
Chap 9
•
•
•
•
Kai meneliti penampilannya di depan kaca. Sesuai dengan kesepakatan mereka kemarin, hari ini dia akan menjemput Krystal di depan gang rumah gadis itu.
Kai membuka lemari, mengambil jaket yang akan dia pakai hari ini. Tapi, sesaat sebelum menggunakannya tiba-tiba hape Kai berdering. Cowok itu berjalan menuju ruang tengah apartemen, lalu menyampirkan jaket kulit itu di atas sofa, dan kemudian meraih benda pipih itu.
"Kenapa?"
"Gue sama yang lain udah sampe. Buruan lo jalan."
Kai melihat sekilas jarum jam di tangannya. "Emang jam berapa mulainya?"
"Jam dua belas. Tapi lo harus ngecek keadaan motor dulu, pemanasan. terus lo juga belom liat treknya kan?"
Kai mendesah pelan, Chandra itu sangat cerewet kalau menyangkut urusan balapan. Padahal, jika dipikir-pikir yang nantinya akan balapan adalah Kai, tapi Chandra seolah sangat sibuk mengurusi semuanya.
"Gue mau jemput pembimbing gue dulu."
"Hah? Siapa? Krystal?" Kai hanya bergumam sedikit sebagai balasan. "Loh.. lo mau bawa dia ke sini? Gila lo, Oma lo tahu bisa mati kita juga."
"Engga, gue mau bawa dia ke rumah, abis itu gue balikin lagi ke tempat semula." Kai berjalan menuju sofa tempat di mana tadi dia meletakan jaketnya.
"Rumah siapa?"
"Rumah utama, biar Oma pikir kalo gue bakalan belajar hari ini."
"Wihh.. licik juga lo."
"Kalo nggak karena warisan, gue juga ogah." Kai menyambar jaket kulit miliknya, lalu melangkah keluar apartemen.
"Udah ah, gue mau jalan dulu."
"Iya-iya.. nggak sabaran banget mau ketemu Krystal!" Chandra terkikik geli di sebrang sana. Belum sempat Kai membalas, Chandra sudah lebih dulu memutuskan sambungan itu.
"Si kampret!" Gerutunya sendiri.
Kai memasukan hapenya ke dalam kantong celana dan membuka pintu, kemudian berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar tempat dia memarkirkan motor.
Cowok itu mengendarai motornya keluar dari gedung apartemen menuju rumah Krystal. Mereka sudah menyepakati untuk bertemu di depan gang kumuh tempat Kai menurunkan Krystal kemarin.
Kai melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk mengejar waktu, dia tidak ingin datang telat pada balapan hari ini.
Motor sport itu berhenti tepat di depan Krystal, membuat cewek itu mengangkat wajahnya yang sudah memerah karena menunggu Kai di bawah terik matahari.
Kai membuka kaca helmnya. Melihat wajah Krystal yang sedikit cemberut.
"Sekarang jam sepuluh lewat dua puluh menit." Kata Krystal sambil melihat jam di tangannya.
"Yaelah, cuma dua puluh menit."
"Dua puluh menit juga waktu." Krystal mengusap peluh yang menetes di dahi. "Kamu harus menghargai waktu, nggak semua orang punya banyak waktu kaya kamu. Saya juga punya kepentingan lain, dua puluh menit bisa saya pake buat cuci baju."
Kai mendesah pasrah sambil meyerahkan helm cadangan untuk Krystal.
"Bakalan tambah lama lagi kalo lo masih berdiri di sana sambil ngomel."
Krystal berdecak sebal, lalu merampas helm dari tangan Kai dengan kasar.
"Padahal kalo kamu bilang maaf saya juga nggak bakalan marah." Balas Krystal seraya memakai helm itu di kepalanya.
"Bawel, buruan naik."
"Gimana saya naiknya, motor kamu bentuknya aneh gini."
"Pegang pundak gue, nah kaki kiri lo taro di sini." Kai menunjuk foot step pada motornya.
Krystal melakukan apa yang Kai katakan padanya. Setelah duduk di atas motor, Krystal merasa ada yang aneh dengan bentuk motor itu. Tempat duduk penumpang yang sedikit lebih tinggi membuatnya harus membungkuk ke arah Kai.
"Ini kok aneh gini ya, motor kamu rusak ya Kai?"
"Udah di atas motor aja masih bawel. Pegangan! Entar lo jatoh ribet deh."
Krystal lantas memegang pinggiran jaket Kai. Membuat cowok itu lagi-lagi menggeleng tidak habis pikir dengan dirinya.
Tanpa basa basi Kai segera menjalankan motornya, membelah jalanan menuju rumah utama. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa mobil di depannya. Krystal merasa ketakutan untuk aksi Kai yang satu itu, dengan cepat dia melingkarkan tangannya di perut Kai, membuat cowok itu tersenyum kecil.
"Apa? Gue nggak denger." Kai tertawa dari balik helmnya. Cowok itu sengaja berpura-pura tidak mendengar karena ingin menjahili gadis itu.
"Pelan-pelan..."
"Gak kedengeran suara lo."
Di depan sana ada lampu merah, dan Kai mulai berpikiran jahil untuk mengerjai gadis itu. Dia melajukan motornya semakin cepat, sangat cepat hingga mendekati lampu merah.
"KAI ... PELAN- aduhhhh..." Krystal terkejut saat tiba-tiba Kai menghentikan motornya, membuat helm Krystal menabrak belakang helm Kai.
Gadis itu mengelus kepalanya dari balik helm, tidak terlalu sakit hanya saja Krystal merasa sedikit terkejut.
"Apa sih, Kai. Mendadak gitu."
"Lampu merah, lo nggak lihat!" Ucap Kai santai, padahal jauh di dalam hatinya, dia merasa senang sudah mengerjai Krystal.
"Pelan-pelan kan bisa."
"Katanya gue harus menghargai waktu. Ini gue buru-buru karena lagi menghargai waktu."
"Iya, tapi nggak gini yang saya maksud." Krystal memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang, akibat berhenti mendadak tadi tubuhnya jadi lebih menempel pada Kai.
"Stop! ngomelnya entar dulu, udah lampu ijo."
Kai melajukan lagi motornya, masih dengan kecepatan di atas rata-rata, dan kali ini Krystal memeluknya dengan sangat erat, membuat Kai merasa sulit bernafas.
"Ini yang ada gue mati bukan karena jatoh dari motor, tapi nggak bisa nafas."
"Saya nggak peduli, siapa suruh naik motornya ngebut gitu."
Cowok itu tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Hampir sepanjang hidupnya, Kai belum pernah tertawa selepas ini. Merasakan kegembiraan lain hanya karena melihat cewek cupu di sekolahnya, sedang berada di atas motornya sambil memeluk tubuhnya erat.
• • •
Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Kai memarkirkan motornya di halaman depan rumah utama. Krystal yang kini sudah turun terperangah menatap takjub bangunan yang menjulang tinggi di depan sana.
Sebenarnya dari awal memasuki gerbang berwarna emas tadi Krystal sudah di buat takjub, namun siapa sangka ternyata dalamnya lebih dari sekedar rumah untuk dihuni. Bangunan itu terlihat sangat megah sekali, kira-kira masih bisa menampung hingga seribu orang di dalamnya.
"Jangan bengong aja, buruan masuk."
Karena terlalu terperangah dengan bangunan di depannya, Krystal sampai tidak sadar jika kini Kai sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Iya-iya.." Krystal melangkahkan kakinya sambil terus menatap ke sekeliling bangunan yang Kai bilang adalah rumah, namun bagi Krystal itu adalah istana seperti di dongeng-dongeng.
"Eh.. den Kai pulang?" sambut si pembantu rumah tangga yang bernama Sumi.
"Iya dong.." Kai berjalan sambil merangkul Sumi sang pembantu rumah tangga di sana yang sudah mengurus Kai dari kecil. "Kan kangen sama bi Sumi."
"Bibi juga kangen sama den Kai." Bi Sumi menatap ke arah Krystal yang baru saja masuk. "Loh ... bawa cewek juga, den?"
Kai menoleh ke arah Krystal. "Iyaa," lalu beralih menatap bi Sumi lagi. "Oma dimana, bi?"
"Di atas, biasa lagi di ruangannya."
"Yaudah ke sana dulu." Kai berjalan meninggalkan Krystal yang berdiri canggung di depan pintu rumah megah itu.
"Sini, non, masuk."
Krystal tersenyum malu-malu memasuki rumah yang ternyata di dalamnya jauh lebih mewah.
"Pacarnya den Kai ya?"
"Eh?"
"Baru pertama kali loh, den Kai bawa cewek ke rumah ini." Bi Sumi menarik Krystal untuk duduk di salah satu sofa. "Maaf, non-nya namanya siapa?"
"Krystal, bu."
"Ihh ... panggil bi Sumi aja, biar sama kayak den Kai."
"Iya.." jawab Krystal ragu-ragu dan penuh kecanggungan.
"Bibi seneng, den Kai bawa cewek ke sini, apalagi pas lihat yang dibawa cantik banget." Bi Sumi terkikik geli. "Non Krystal cewek pertamanya den Kai."
Krystal melongo. Tidak mungkin cowok sepopuler, setampan, dan sekeren Kai tidak pernah membawa perempuan ke sini. Krystal yakin Kai pasti memiliki banyak pacar.
Menakjubkan, aku cewek pertama yang dibawa Kai ke sini.
• • •
hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .
jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .
love you all
❤ ❤ ❤