
wewwwwwww
aku mau cerita sedikit yaa, sebenernya Nobis adalah cerita yang paling aku suka dari banyaknya cerita yang aku buat. cerita yang setiap aku nulis itu bener-bener dari hati. paling bagus alurnya juga, konfliknya paling ngena. berharap banget cerita ini bisa di bukuin.
happy reading
****
Kai masih sulit untuk mempercayai semuanya. Ini seperti mimpi. Mendapati gadisnya berada di depan pintu apartemennya, serta mendengar semua fakta yang telah Papa Kevin tutupi selama ini.
Ia tidak mengerti mengapa takdir seolah membolak-balikan perasaan mereka. Rasa yang coba Kai hapus demi menjaga hubungan darah di antara mereka yang disebut sebagai adik dan kakak, ternyata tidak ada yang salah dengan perasaan itu.
Mereka berhak saling memiliki.
Begitu Krystal selasi menceritakan semuanya, Kai langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya, menciumnya tanpa ampun, bahkan Kai tidak ingin melepaskan Krystal barang sedikit pun.
Bergelung di atas ranjang, mengingat ini masih pagi untuk memulai aktifitas. Kai masih asik memeluk Krystal, hingga gadis itu merasa sesak. Membawa Krystal ke atas ranjangnya, tapi mereka tidak melakukan apa pun. Ingat kata Mama Morena, mereka masih belum halal meski Kai rasanya sudah tidak sabar menghalalkan gadisnya.
"Aku rasanya masih gak percaya." Krystal berujar pelan di dalam pelukan Kai. Ia membenamkan wajahnya di dada cowok itu. "Kayak mimpi bisa peluk kamu kayak gini."
"Aku juga ... aku pikir tadi aku masih mimpi bisa lihat kamu di depan pintu. Hampir setiap hari aku mimpiin kamu, rasanya aku gak bisa nerima kenyataan pas tahu ternyata kita bersaudara."
"Tapi kita bukan saudara."
"Hm ... aku gak bisa menggambarkan seperti apa perasaan aku hari ini." Pelukan itu semakin mengerat. "Aku sayang banget sama kamu, Krys ... aku cinta."
"Aku juga sayang Kai."
Lalu hening mengambil alih suasana romantis itu. Semuanya masih seperti mimpi, mereka berdua masih tidak mempercayai bagaimana takdir bekerja di dalam hidup mereka.
Hidup itu memang penuh kejutan.
"Krys, kamu gak apa-apa?" Kai bertanya sembari mengecupi puncak kepala Krystal. Gadis yang sangat ia rindukan itu mendongak untuk menjangkau pandangan mereka.
"Kenapa aku?"
"Soal Ayah kamu," Kai berujar penuh kehati-hatian. Ia tahu seperti apa Krystal sangat mendambakan bertemu dengan Ayahnya, tapi takdir lagi-lagi membuatnya menelan kekecewaan itu. "Maaf..."
Kai menarik dagu Krystal lalu mengecup bibirnya lembut. "Mereka pasti bahagia di sana."
"Pasti ..." balas Krystal.
"Kamu juga harus bahagia, ya." Kai berujar sembari merubah posisinya. Ia merangkak di atas tubuh Krystal dengan siku sebagai penyanggah. "Harus bahagia sama aku."
Sontak pipi Krystal bersemu merah. Berada di posisi seperti ini bersama Kai membuat jantungnya berdebar cepat. "K—kamu mau apa?" tanya Krystal malu-malu.
"Cuma mau lihat kamu dari atas."
"Kita masih harus ngelanjutin sekolah, Kai."
Kedua sudut bibir Kai tertarik lebar. Ia rindu sekali menggoda gadisnya seperti ini. Ia rindu semua yang ada pada Krystal. Kai menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher gadis itu. "Memangnya kita mau ngapain?" gumamnya seduktif, deru napas Kai terasa sekali menerpa kulit leher Krystal.
Hal itu refleks membuat tangan Krystal mencengkram bahu Kai dengan erat, ia mengerjap pelan demi menghalau debaran jantung yang menggila.
"Kai ...." Krystal mengerang saat Kai memberi jejak lembut di sana. "Kamu ngapain?"
Lalu ciuman itu naik menuju rahangnya, mengecapnya di sana, memberi beberapa jejak kepemilikan. Hingga kemudian ciuman Kai berhenti tepat di depan bibir Krystal. Sedikit menggulatnya dengan sesapan lidah menyelip di antara bibir gadis itu.
Pegangan Krystal perlahan turun menuju pinggiran kaos Kai, mencengkram erat menahan sensasi yang menggila. Tidak sampai di sana, tangan Kai turun, menyusup masuk ke dalam baju Krystal, menyentuh perutnya, membelai lembut.
Beberapa saat mereka seperti kehilangan kendali diri, rasa rindu seolah menutupi segalanya, menutupi akalnya. Sampai kemudian Kai menarik wajahnya dan mempertemukan mata mereka. Sorot mata penuh gairah terpancar jelas di matanya.
Krystal kembali bersemu malu.
"Aku gak akan rusak kamu, Krys ... aku janji, aku bakalan nunggu sampe waktu itu tiba."
Dengan napas yang sedikit terengah, Krystal tersenyum. "Aku pegang janji kamu."
****
Boleh minta tolong gak?? Promoin Nobis dong ke teman-teman kalian, biar yang baca bisa banyak kayak scandal. hehe maachii yaaa