
NOBIS
Chap 35
•
•
•
•
Sudah berapa kali Krystal merasa tidak bisa fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung di kelasnya. Jika biasanya ia sangat menyukai semua pelajaran sampai rasanya ingin terus berfokus pada semua penerangan guru. Namun sekarang gadis itu hanya memandang kosong ke arah buku paket dan tersenyum melihat itu.
Bukan karena ia sedang menertawai isi bukunya, hanya saja kepala Krystal tidak bisa berhenti memikirkan seseorang. Semua perilaku dan ucapan Kai di perpus tadi terekam jelas di memorinya dan seperti roll film, semua itu berputar secara terus menerus hingga Krystal membiarkan seluruh waktunya tersita hanya untuk mengingat semuanya.
Suara bel pulang dan kata-kata penutup bu Indah membuyarkan lamunan Krystal, dia menatap ke depan dan mendapati pelajaran matematika hari ini telah berakhir. Begitu lamanya dia memikirkan Kai sampai melupakan satu pelajaran yang paling dia gemari.
"Senyam-senyum-senyam-senyum," gerutu Luna di sebelahnya. "Beda ya orang yang lagi jatuh cinta? Gue ngeliatin rumus di buku aja mual, elo malah senyam senyum kayak gitu. Untung-untung bu Indah nggak nge-gepin lo lagi mikirin si Kai."
Krystal semakin melebarkan senyumamnya, entah mengapa hari ini perasaannya sangat membuncang, sampai mungkin dia lupa bagaimana caranya bersedih.
"Aku nggak mikirin Kai."
Luna memutar bola matanya, "Yakali lo mikirin mang Komar yang lagi jaga gerbang di depan, sambil berspekulasi kapan mang Komar ngajakin lo ngedate makan es krim."
Krystal terkekeh, "kok aku nggak kepikiran ya kalo mang Komar bakalan ajak aku makan es krim?"
"Dasar gila!" Balas Luna.
Krystal tertawa saat melihat ekspresi Luna yang berubah kesal. Sesaat dia hanya tersenyum sambil memasukan buku terakhirnya ke dalam tas.
"Krystal."
Panggil sebuah suara dari ambang pintu kelas yang membuat Krystal dan Luna menoleh, lalu mendapati murid laki-laki dengan kaca mata tebal sedang berdiri disana.
"L-lo Krystal?" Tanyanya kemudian yang berhasil membuat Krystal menganggukan kepalanya. "D-di tunggu sama.. K-kaisar."
"Kai?" Tanya Krystal memastikan.
"Iya ... di-di parkiran sekolah," balas murid laki-laki itu gugup. "Katanya lo harus buruan." Ucapnya lagi dengan cepat dan berlari menghilang dari ambang pintu.
Luna memandang Krystal dengan dahi mengkerut bingung sekaligus curiga dengan sikap murid laki-laki tadi. "Loh, kok tumben Kai nggak nyamperin lo ke kelas?"
"Aku juga nggak tau, mungkin Kai males jalan ke sini." Krystal berdiri, menyampirkan tasnya di pundak. "Yaudah, aku duluan ya, Lun. Kamu pulang hati-hati."
"Iya, lo juga."
• • •
Luna menggerutu kesal berdiri di depan gerbang sekolah saat mengetahui jemputannya belum juga datang. Sesekali gadis itu menghentakan kakinya gemas.
"Belom dijemput, neng?" Luna membulatkan matanya ketika mendapati mang Komar berdiri di sebelahnya.
"Ihh.. si mamang ngagetin aja." Jawab Luna sambil bersidekap. "Nggak lihat nih saya masih berdiri di sini, itu artinya belom dijemput, mang."
Mang Komar tersenyum. "Emang kemana jemputannya kok belom dateng?"
Luna menghela napas, "mana saya tau, kalo tau juga nggak ngomel-ngomel kayak gi--"
Ucapan Luna terhenti saat melihat Kai berjalan ke parkiran sekolah sambil meletakan hapenya di telinga, seperti sedang menghubungi seseorang.
"Lah.. itu si Kai."
"Iya, itu den Kaisar. Kenapa? Neng-nya naksir ya?" Serobot mang Komar.
Luna berjengit, menatap mang Komar dengan pandangan jengah. "Mang Komar rempong ih, udah sana jaga gerbang aja. Dibawa kabur orang bahaya tuh, bisa di kilo-in, lumayan."
"Yee, si neng, kelamaan jomblo ya? Emosian mulu."
Luna menggeram kesal dan hampir memukul mang Komar kalau saja laki-laki tua itu tidak langsung pergi dari sana.
"Stress!!"
Dengan rasa penasaran dan khawatir yang membuncang, Luna akhirnya memutuskan untuk berjalan menghampiri Kai yang sedang berdiri di samping motor hitamnya.
"Kai, lo nggak sama Krystal?" Tanya Luna tanpa basa-basi sesaat setelah sampai di hadapan Kai.
Mendengar nama Krystal disebut membuat Kai langsung mengalihkan pandangannya menatap ke arah Luna.
"Lo temennya kan? Mana anaknya?"
"Lah ... nanya gue nih orang." Luna menarik napas, berusaha menahan kesal sejak tadi. Dimulai dari jemputannya yang terlambat, kemudian diganggu oleh mang Komar, dan berakhir mendapati Kai yang tidak bersama Krystal.
"Tadi kan elo yang nyuruh Krystal nunggu di parkiran sekolah."
"Gue?" Tanya Kai kebingungan.
"Iyaa, lo nyuruh anak yang pake kaca mata kan dateng ke kelas gue tadi, terus dia bilang kalo Krystal disuruh buru-buru ke parkiran sekolah." Jelas Luna.
"Lo yakin?"
Luna menggeram dalam hati, kalo bukan iblis nomor satu di sekolah udah gue tampol nih cowok.
"Iyalah! Anaknya ngomong di depan gue tadi."
"*******!!" Teriak Kai kesal. "Lo tau yang mana orangnya?"
"Yang tadi ke kelas gue?"
"Iya! Buruan!" Bentak kai kesal yang langsung membuat Luna berjengit kaget.
"Buset ... sabar boss."
Kai mengusap wajahnya gusar, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Karena sejak tadi handphone Krystal mendadak tidak bisa dihubungi, dan.. apa tadi kata Luna? Dia sama sekali tidak pernah menyuruh siapapun untuk menyampaikan itu pada Krystal.
"Kayaknya tuh anak sekelas sama lo, pake kacamata tebel gitu. Terus rambutnya klimis kayak pake minyak rambut, sama ada kumis dikit, tipis-tipis. Nah, tapi lumayan ganteng sih, terus juga-- eh.. eh.. gue belom kelar ngomong."
Kai sudah berlari masuk ke dalam gedung sekolah sambil tergesah-gesah. Berusaha menolak pikiran buruk yang mulai bersarang di kepalanya. Krystal-nya mungkin sekarang dalam bahaya.
Sementara itu, Luna menarik napas jengkel menghadapi kesialannya setengah hari ini.
"Kebiasaan, belom kelar ngomong udah ditinggal kabur. Krystal betah banget sama itu Iblis." Gerutunya lalu berlari menyusul Kai masuk ke dalam gedung sekolah.
Tujuan Kai hanya satu, berlari menuju kelasnya mencari anak laki-laki yang dimaksud oleh Luna tadi. Rasanya dia ingin sekali memukul orang tersebut, amarahnya mulai berkobar. Dengan rahang yang mengerasa dan emosi yang mebeludak, Kai membuka lebar pintu kelas yang sudah kosong itu dan tidak menemukan siapapun disana.
"Gue kira lo udah pulang sama Krystal? Ngapain ke sini?" Ujar Sean.
Kai menghela.
"Lah.. Krystalnya mana?" Kali ini Chandra yang bertanya.
Bukannya menjawab, Kai malah berjalan melewati Sean dan Chandra hingga membuat kedua sahabatnya itu bertambah bingung.
"Lo kenapa?" Tanya Sean lagi yang ikut berjalan tergesah-gesah di belakang Kai.
"Lo lihat si Amar nggak?" Kai balik bertanya.
"Mau ngapain lo sama itu anak?" Chandra berusaha menyamai langkah kaki Kai yang tergesah.
"Panjang ceritanya, sekarang gue harus ketemu itu anak dulu."
"Tadi gue lihat dia jalan ke gudang." Sambung Sean yang membuat Kai menghentikan langkahnya dan berbalik menuju gudang sambil berlari.
Tentu hal itu menjadi pengamatan kedua sahabatnya. Mereka jelas terlihat bingung, karena Kai sebelumnya berpamitan pada mereka untuk pulang bersama Krystal, namun tiba-tiba saja cowok itu kembali ke gedung sekolah dengan tampang sangar dan menyeramkan seakan ingin menguliti musuhnya.
"Buruan kejar, jangan sampe ada pertumpahan darah." Ujar Sean yang sudah hafal dengan sikap Kai.
• • •
"Bagus.. ini bayaran lo."
Amar menatap uang yang disodorkan ke arahnya dengan tampang ragu-ragu dan takut. Bagaimana tidak, jika Kai mengetahui ini bisa saja dia akan habis di tangan cowok itu.
Namun, Amar tidak punya pilihan lain untuk tidak memenuhi permintaan cewek di depannya ini. Dia membutuhkan uang itu untuk membayar biaya sekolah adiknya.
"Ini bayaran lo, ambil!"
Dengan perlahan, tangan Amar terangkat mengambil beberapa lembar uang tersebut. Tidak begitu banyak, setidaknya mampu untuk membayar sekolah adiknya selama tiga bulan.
"M-makasih, Rin." Ucap Amar pelan.
Airin tersenyum miring, membayangkan Krystal akan pergi sejauh mungkin dari Kai. Cewek cupu itu mungkin tidak akan mengganggunya lagi, karena sekarang Airin telah mengirimnya pada orang yang paling tepat untuk menghancurkan Krystal.
"Gue bakalan kasih lebih kalo lo bisa jaga mulut buat nggak ceritain masalah ini sama siapapun." Airin bersidekap. "Apalagi sampe Kai tau kalo gue yang nyuruh lo buat ngomong itu ke Krystal."
Amar masih menunduk, jelas raut ketakutan terpancar dari wajahnya. Ada satu nama yang membuatnya tidak tenang, nama yang bisa saja membunuhnya saat ini karena, ketika dirinya berbalik untuk melangkah keluar, pintu di depannya sudah ditendang dari luar hingga menimbulkan bunyi debuman yang keras.
"*******!!!!"
Satu pukulan telak mendarat di wajah Amar. Darah segar keluar dari hidung dan bibinya yang robek.
Seharusnya dari awal Amar sadar jika berurusan dengan Kaisar sama saja seperti mengubur dirinya hidup-hidup, karena setelah matanya terbuka akibat pukulan itu, Amar merasakan tubuhnya terpelanting jauh ke lantai dengan satu pukulan keras mendarat lagi di wajahnya.
Airin berjalan mundur ketakutan begitu merasakan Kai melangkah kearahnya semakin dekat. Tanpa pernah dia duga, Kai langsung menangkup rahang Airin dengan satu tangan dan menyudutkan tubuhnya pada dinding di belakang.
"DIMANA KRYSTAL?" Teriaknya murka.
"G-gue nggak tau.." jawab Airin pura-pura.
"*******!" Kai mencengkram leher Airin hingga membuat cewek itu memekik kesakitan, nyaris kehilangan oksigen. "Jangan pura-pura nggak tau *******, lo mau nyari mati!"
Emosi Kai sudah tidak terbendung lagi, tidak peduli jika orang yang sedang berhadapan dengannya ini adalah seorang perempuan sekalipun, Kai bisa membunuhnya saat ini juga.
"Kai..." Sean yang baru datang berteriak terkejut begitu melihat Kai mencengkram leher Airin, apalagi saat melihat wajah pucat Airin yang hampir kehilangan napas.
"Lepasin ****, lo bisa ngebunuh dia." Sean menarik cengkraman tangan Kai hingga membuat itu sedikit mengendur.
"Gue nggak peduli, nih cewek emang pantes mati!"
"Bener gue setuju!" Sambar Chandra yang baru datang di ambang pintu. "Biar si medusa satu ini lenyap dari muka bumi."
Sean menggeram kesal pada Chandra yang ikut memanas-manasi Kai. "Anjing! jangan banyak bacot lo. Buruan bantu gue sini."
"Ogah.." jawab Chandra santai.
Luna yang baru saja datang terkejut bukan main saat melihat semua adegan itu. Di tengah ruangan ada murid laki-laki yang tadi datang ke kelasnya dengan wajah penuh darah yang keluar dari hidung dan juga ujung bibirnya.
Dan, di sudut ruangan, Luna bisa melihat dengan jelas tangan Kai yang sedang mencengkram leher Airin bersamaan wajah cewek itu yang memucat.
"Jadi si Airin?" Gumamnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Chandra.
"Lo temennya Krystal kan?" Luna mengangguk, lalu terdiam. Dia masih mencoba mencerna semua yang terjadi di depannya ini.
"Bentar deh, jadi ini gara-gara apaan? Gue masih nggak paham nih." Tanya Chandra ingin tahu.
"Krystal hilang." Jawab Luna pelan.
Sementara itu, Airin terlihat semakin pucat akibat cengkraman pada lehernya. Napas cewek itu juga semakin melambat, dia sudah semakin lemas dan tidak berkutik.
"Jawab *******! Dimana Krystal??"
"Gue ... n-nggak tau, Kai."
"Jangan pikir gue nggak bisa mukul muka lo hanya karena lo cewek! Gue bisa ngelakuin hal yang lebih parah dari sekedar mukul lo dan orang-orang yang udah gangguin Krystal!!"
Sean berhasil menarik cengkraman tangan Kai, dan ketika itu juga Airin merosot jatuh lemas keatas lantai.
"Lo nggak bisa sekasar ini, Kai!" Cegah Sean yang tidak ditanggapi oleh Kai.
"Jangan sampe gue bertindak lebih kasar sama lo ya, Rin. Gue tanya sekali lagi, dimana Krystal, *******!" Teriakan Kai membuat Airin berjengit ketakutan.
"Gue nggak tau, d-dia ... t-tadi dibawa sama Rendi."
Detik itu juga Kai merasa seperti kertas kosong yang tersulut api, kemarahannya berkobar hingga tanpa sadar mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku tangannya memutih. Dia bersumpah akan membunuh Rendi jika cowok itu berani menyentuh gadisnya sedikit saja. Kai Benar-benar akan menghabisi Rendi dengan tangannya sendiri.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna