Nobis

Nobis
Bonchap 6



dudududududu


balek lagi loh akyuui


happy reading gaes!!


****


Seminggu setelahnya, Krystal benar-benar pergi ke Jerman untuk menyusul Kai. Tentu keberangkatannya ke sana harus di rahasiakan dari Kai. Ia ingin memberi kejutan, begitulah kira-kira yang Krystal ucapkan pada Ayah Kevin.


Sebelum berangkat ke Jerman, Krystal sempat mengunjungi makam Ayah Ryan. Ia berdoa di sana, menyapa sang Ayah yang sudah lebih dulu di panggil oleh yang maha kuasa sebelum sempat melihatnya lahir ke dunia.


Suasana saat itu tentu saja sangat mengharukan. Krystal di temani oleh Ayah Kevin dan Mama Morena. Ayah Kevin menjelaskan semuanya kepada Mama dan Kakek.


Awalnya mereka sangat kaget, sama seperti Krystal saat pertama kali mendengarnya. Bahkan Kakek sampai memukul Ayah Kevin karena marah dengan kelakuan anaknya yang sudah menyembunyikan kebenaran dari fakta yang terjadi.


Kini Mama Morena menjadi baik sekali dengan Krystal, bahkan sebelumnya memang Mama Morena sangat baik dengannya. Hanya saja keadaan saat itu yang membuat Mama membenci Krystal.


"Titip salam buat Kai ya, Krys." Mama Morena berujar setelah selesai memeluk Krystal. Bandara hari itu sangat cerah, secerah perasaan Krystal.


"Iya, Mah, nanti Krystal sampein."


Krystal juga mengganti panggilannya pada Mama Morena. Wanita itu yang memaksanya memanggil Mama. Mama mertua, katanya.


"Kalo udah sampe kabarin ya, Krys." Kali ini Ayah Kevin yang berpesan, membuat Krystal menganggukan kepalanya.


Kepergian Krystal ke Jerman disetujui oleh semuanya. Kabar baik ini harus mereka sampaikan untuk Kai. Bahkan Krystal tidak sabar untuk menemui cowok itu, ia ingin memeluknya.


Demi apapun, Krystal ingin sekali memeluk Kai.


Sesampainya ia di Jerman, dengan perjalanan lima belas jam, dan perbedaan waktu lima jam, saat ini sudah menunjukan pukul lima pagi. Krystal dijemput oleh orang suruhan Ayah Kevin. Ia di antar sampai ke gedung apartemen yang Kai tempati.


Tidak banyak barang yang Krystal bawa, mengingat ia hanya diberi waktu tiga hari di sini. Mama Morena juga membooking kan hotel untuk Krystal tidur. Mereka benar-benar melarang Kai dan Krystal berada di dalam satu ruangan bersama.


Mungkin mereka percaya dengan Krystal, tapi tidak dengan Kai.


Pintu apartemen bernomor 232 yang menjadi tempat Kai tinggal di sini. Krystal merasa jantungnya berdebar kuat, dan bibirnya tidak lepas untuk tertarik lebar. Bahkan ia tidak sanggup untuk mengetuk pintu itu. Berulang kali Krystal menarik napasnya, lalu menghembuskannya denhan perlahan. Sungguh, seluruh tubuh Krystal rasanya bergetar hebat.


Setelah merasa cukup tenang, akhirnya Krystal memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu itu. Dua kali ketukan, tapi belum ada yang berubah. Mungkin Kai masih tidur. Lalu, ia mulai mengetuk pintu itu lagi, kali ini lebih keras, dan tak lama terdengar suara gaduh dari dalam.


Saat itu juga jantung Krystal terpacu kencang. Darahnya berdesir panas, rasanya debaran itu membuatnya sesak. Sesak karena bahagia.


Lalu, Begitu pintu terbuka, yang pertama kali Krystal lihat adalah wajah laki-laki yang sangat ia rindukan. Kai, masih dengan mengenakan kaos putih dan celana pendek, serta wajahnya yang masih kusut, cowok itu membelalak saat melihat Krystal ada di depan pintu apartemennya.


Beberapa kali ia memgerjap hingga mengucek matanya untuk menyadarkan diri kalau gadis yang ada di hadapannya benar adalah Krystal.


"Krystal??"


"Hai, Kai ... apa kabar??"


****


ramein nyokkkkkk!!