
N O B I S
Bonchap 3
•
•
•
•
Lima tahun kemudian
Krystal menarik koper besar itu keluar dari dalam lift untuk menyusuri lorong apartemen tunangannya.
Setelah cukup bersusah payah membawa koper itu hingga sampai di depan pintu, Krystal lalu memasukan beberapa digit angka sebagai passcode apartemen itu dan membukanya lebar.
Pemandangan pertama yang Krystal temui begitu pintu terbuka adalah ruangan yang sudah dua minggu ini dia tinggalkan mendadak terlihat sangat berantakan. Ada berlembar-lembar kertas di atas sofa, dua pasang sepatu tidak berada pada tempatnya, dan beberapa bungkus camilan yang berserakan di meja.
Krystal tersenyum. Kebiasaan kekasihnya belum juga berubah sejak dulu.
Setelah berhasil membawa masuk koper itu, Krystal lalu meletakan satu paper bag yang di dalamnya terdapat sekotak kue ulang tahun, berserta bunga yang baru saja dia beli di jalan tadi.
Hari ini, pria yang tiga tahun lalu sudah resmi menjadi tunangannya itu sedang berulang tahun. Krystal berencana ingin memberikan sebuah kejutan dengan datang secara diam-diam ke dalam apartemennya.
Masih pukul tiga sore, masih ada waktu untuk dia menyiapkan semuanya. Krystal membawa kotak kue ke atas meja pantry dan meletakan bunga yang baru ia beli tadi ke dalam vas. Saat tangannya sedang sibuk menata bunga-bunga tersebut, ponselnya berdering. Krystal segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hemm.." jawabnya sambil mengapit ponsel itu di antara bahu dan telinganya.
"Kok baru diangkat telepon aku?"
"Maaf ya, aku tadi sibuk banget." Satu tangkai bunga masuk ke dalam vas. "Kamu masih di kantor?"
"Iya, bentar lagi pulang." Krystal kembali mengambil satu tangkai bunga untuk ia masukan lagi ke dalam vas. "Kamu lagi dimana?"
Tangannya terhenti, dan bibirnya tertarik lebar. "Rahasia."
"Ih.. apaan sih kamu, main rahasia-rahasiaan sama aku."
"Rekha, aku gak akan kasih tau kamu aku lagi dimana."
"Pasti lagi merencanakan sesuatu nih."
Krystal tergelak. "Hahaha.. pokoknya ini rahasia, kamu juga gak boleh tau."
"Ihh Rekha, pura-pura gak tau aja ya."
Rekha di seberang sana terkekeh lucu. "Iya-iya, siap bu bos."
"Nah gitu dong. Yaudah kamu buruan pulang, aku masih ada yang mau dikerjain."
"Hemm.."
Bersamaan dengan berakhirnya sambungan itu, Krystal juga sudah menyelesaikan hiasan bunga terakhirnya. Ia mendesah lega, lalu mengeluarkan kue ulang tahun yang dia bawa tadi dan meletakan dua lilin di atasnya.
Diliriknya jarum jam di tangan. Sebentar lagi, dan Krystal segera membawa koper dan seluruh barangnya masuk ke dalam kamar. Dia lalu buru-buru membersihkan tubuhnya dan mempercantik penampilannya.
Krystal mematut dirinya di depan kaca, sebuah kalung berbandol crystal yang melingkar di lehernya membuat sudut bibir gadis itu tertarik tersenyum. Kalung peninggalan sang Ibu. Sudah berapa lama dia menyimpan itu.
Lalu bayangan-bayangan lampau tentang kalung itu berputar di benaknya. Dia rindu semuanya, semua orang yang dulu pernah menyentuh hidupnya sedalam ini. Sudut bibir Krystal tertarik lebar. Kedua tangannya kemudian melepas kalung itu, lalu membuka satu kotak lainnya dan mulai memasangkan itu ke lehernya.
Ini waktu yang tepat, Sudah saatnya dia membuka lembaran baru bersama lelaki yang telah memberikannya kalung ini. Jantungnya berdebar, selalu seperti itu, dan tidak ada yang bisa membuatnya berdebar selain lelaki ini.
Krystal segera mematikan semua lampu, kemudian menyalahkan dua lilin di atas kue ulang tahun tersebut. Ia menunggu dengan hati yang berdebar, Krystal sangat berharap jika kejutannya kali ini berhasil. Mengingat sudah tiga tahun dia tidak pernah berhasil membuat sang kekasih terkejut.
Lima menit sudah berlalu, dan dia bisa mendengar dengan jelas suara passcode pintu yang ditekan dari luar hingga bunyi bip-bip terdengar. Krystal menahan nafas, berdiri di depan pintu sampai kemudian pintu itu terbuka dan sosok yang sangat dia rindukan itu muncul dengan wajah kaget.
"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun, buat kamu ... semoga panjang umur." Nyanyian itu memang tidak terdengar merdu, namun lelaki di depannya tersenyum penuh bahagia.
"Aku kira kamu gak jadi dateng."
"Ini kejutan dong." Krystal menyodorkan kue ulang tahun itu ke depannya. "Doa dulu sebelum tiup lilin."
Lelaki itu menutup mata sembari melafalkan doa yang terucap di dalam hati, ada hening selama beberapa detik sebelum kemudian dia membuka matanya dan meniup lilin itu dengan cepat.
"Horeeee..." sahut Krystal riang. "Selamat ulang tahun."
"Makasih ya, sayang." Satu kecupan mendarat di kening Krystal lalu berlanjut pada dua pipinya, dan berhenti tepat di depan bibir gadis itu. Hanya sebuah kecupan, tapi selalu membuat Krystal merona dan berdebar.
"Rekha tau soal ini ya?"
Krystal terkekeh. "Iya tadi dia telepon aku, tapi aku suruh rahasiain dari kamu." Lalu dia beranjak meletakan kue itu ke atas meja di ruang tengah.
"Aku kangen kamu tau."
"Aku juga kangen kamu, Kai." Krystal memeluk tubuh Kai dengan erat dan dibalas sama eratnya dari cowok itu.