Nobis

Nobis
Si Polos



WARNING :


CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA


...****...


NOBIS


Chap 13






Dengan sedikit rasa sakit di lututnya, Krystal berjalan pada koridor kelas untuk sampai di dalam ruang UKS. Setelah tadi dengan susah payah menaiki tangga menuju lantai tiga dimana ruang guru berada, sekarang Krystal memilih memasuki ruang UKS sekedar untuk membersihkan luka pada lututnya.


Krystal melangkah masuk, mencoba mencari antiseptik untuk mengobati lukanya. Namun, pemandangan lain membuatnya berhenti sebentar.


Di sudut ruang, dimana ranjang UKS berada, Krystal melihat ujung sepatu kets yang sangat dia kenali. Perlahan dia menghampiri si pemilik sepatu, lalu mulai menggeser tirai penghalang tersebut.


Benar saja, di atas ranjang sudah ada Kai yang berbaring dengan mata terpejam dan tangan sebagai bantalan. Cowok itu terlihat begitu damai dan santai. Berbeda dengan raut wajah Krystal yang meringis menahan sakit.


Krystal kembali menutup tirai tersebut dan duduk pada salah satu kursi di dalam ruangan itu, perlahan tangannya mulai mengolesi antiseptik pada luka di lututnya.


"Lo kenapa?" Cewek itu terlonjak kaget saat mendengar suara Kai dari balik tirai.


Bunyi tirai yang digeser membuat Krystal menoleh ke arahnya. Kai sudah duduk di pinggir ranjang dengan rambut sedikit berantakan.


"Kamu ngagetin." Krystal menghentikan usapan pada lututnya. "Saya kira kamu tidur."


"Kaki lo kenapa?" Kai menekan kembali pertanyaannya tanpa memperdulikan ucapan Krystal.


"Oh ... i-ini ..." Krystal gugup. Dia berusaha melarikan pandangannya ke segala arah.


"I-ini luka."


"Gue juga tau itu luka! Tapi luka karena apa?"


Krystal merubah mimik wajahnya. "Jatoh."


"Jatoh kenapa?"


Desau malas keluar dari bibir cantik Krystal. Kenapa Kai jadi banyak berbicara seperti dirinya. Seharusnya cowok itu tidur saja dan tidak perlu menghiraukannya.


"Ya ... jatoh."


"Jatoh itu ada banyak penyebabnya, bisa karena kepleset, kesandung, didorong, bisa juga karena kaki lo dicekal sama orang lain!"


Krystal menolehkan wajahnya ke arah Kai. Cowok itu sudah turun dari ranjang dan berdiri menghampirinya.


"Jadi kaki lo dicekal?"


"En-nggak ..." katanya ragu-ragu.


Dengan cepat Kai mengangkat tubuh Krystal hingga cewek itu duduk di pinggir ranjang. Tangannya mengambil alih antiseptik dan kapas yang tadi Krystal gunakan untuk mengobati lututnya.


"Saya nggak apa-apa, Kai." Ucap Krystal saat Kai mulai mencelupkan kapas ke dalam antiseptik. Lalu cowok itu mengoleskan sambil menekannya di atas lutut Krystal.


Seketika itu juga Krystal meringis, merasakan sengatan perih atas cairan antiseptik yang menyentuh lukanya.


"Gue nggak pernah tau arti kata nggak apa-apa yang sebenarnya itu apa?" Tangan Kai masih terus mengusap lutut Krystal. "Nggak apa-apa karena lo jatoh dicekal orang, nggak apa-apa karena lutut lo berdarah, atau nggak apa-apa karena gue nggak tau siapa yang ngelakuin ini sama lo?"


Kai kemudian menatap Krystal yang tidak membalas tatapannya. Kedua tangannya ia letakan di kedua sisi tubuh Krystal sehingga kini tubuh cewek itu terkunci di antara dua lengan Kai.


"Lo nggak mau cerita?"


Krystal semakin menundukan wajahnya, membuat Kai mau tidak mau memajukan tubuhnya mendekati wajah Krystal. Sontak cewek itu mengangkat kepalanya.


"K-kamu mau apa deket-deket?"


"Cari tau lo bohong apa enggak!"


Kai semakin mempersempit jarak mereka, sampai Krystal bisa merasakan hembusan nafas mereka yang mulai beradu.


"Masih nggak mau cerita?"


Krystal menggeleng. "Saya jatoh sendiri kok."


Merasa kesal karena Krystal tidak mau berkata jujur padanya, Kai lalu memejamkan kedua matanya, kembali memajukan wajah hingga dahi mereka berdua saling menempel.


"Gue bisa cari tahu sendiri, tapi ..." Kai menarik wajahnya. "Lo bakalan lihat betapa kasarnya gue memperlakukan orang itu nanti!"


Sontak kedua mata Krystal terbuka. Di sana dia bisa melihat wajah Kai yang berubah memerah dengan urat dan rahang yang mengeras.


"Jangan." Cegah Krystal.


"Jadi mau cerita?" Tanya Kai lagi untuk mempertegas.


Krystal diam. Dia tidak ingin memperpanjang masalah ini, apalagi jika itu menyangkut Kai. Cukup cowok yang tempo hari di tengah lapangan Kai tendang, Krystal tidak mau menambah daftar masalah yang dia buat.


"Tadi ... saya disuruh bawa tumpukan tugas sama Bu Lisa." Krystal melirik Kai sebentar, berupaya mengurangi kegugupan. "Karena nggak lihat jalan, akhirnya saya kesandung. Terus lutut saya kebentur keramik jadinya-"


"Stop!" Kai menarik nafasnya kasar. Terlalu kesal karena Krystal masih tetap menyembunyikan fakta yang sesungguhnya. "Gue percaya! Lo nggak perlu ngebohong lagi."


Cewek itu merasa bersalah, tapi bagaimana pun ini adalah masalahnya. Dia tidak ingin Kai ikut masuk ke dalam masalah yang dia buat.


Masih dengan jarak yang begitu dekat, mata Kai menatap lekat wajah Krystal yang juga menatapnya dengan raut ketakutan.


"Gue lebih seneng ngelihat muka lo yang cemberut dengan tampang judes yang biasa lo tunjukin ke gue, dari pada muka ketakutan kayak gini!"


Cewek itu menundukan wajahnya. Kai tidak bisa memahami dirinya sendiri yang merasakan ledakan amarah saat melihat Krystal ketakutan seperti itu. Rasa yang sama ketika melihat Krystal menangis akibat taruhan bodoh kemarin.


Kai menghembuskan nafasnya, merasa payah dalam memahami isi hatinya sendiri. Hanya karena cewek kutu buku di sekolahnya, dia merasa seluruh hidupnya berubah.


Siapapun tolong jelaskan padanya, kenapa gadis itu mampu menyetuh hatinya sedalam ini?


Dengan perlahan, wajah Kai terjatuh tepat di pundak Krystal, menelusupkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, dan membuat Krystal seketika menegang. Dia bergerak gelisah saat merasakan hembusan nafas Kai menerpa kulit lehernya.


"Gue ngantuk."


"Memang semalam nggak tidur?" Kai menggeleng di atas leher Krystal. "Kenapa?"


"Nggak bisa tidur aja. Kepikiran."


"Tentang?"


"Semuanya ... gue pusing mikirin semuanya sampe nggak bisa tidur."


Krystal melihat jam di tangannya. "Masih ada waktu sampe jam istirahat abis. Kamu mau tidur di sini?"


Tangan Kai berpindah melingkar pada pinggang Krystal. Membuat posisi mereka seperti berpelukan.


"Kayak gini aja."


"Emang nggak pegel tidur sambil berdiri?"


"Kalo tidurnya di atas lo boleh nggak?" Ucap Kai sembarang. Terdengar nada jahil dan menggoda.


Krystal terkekeh membuat Kai merasa bingung. Benar, dia melupakan kenyataan jika cewek yang sekarang dia peluk adalah Krystal, cewek terpolos dan sulit untuk dia goda.


"Memangnya saya bantal? Kamu ada-ada aja."


"Lo ngerti maksud ucapan gue nggak sih?"


"Ngerti kok. Kamu mau jadiin saya bantal kan?"


Kai benar-benar tidak habis pikir dengan gadis di depannya ini. Sifat polos dan baik hati yang melekat di dalam diri Krystal bisa saja dimanfaatkan oleh orang lain, tapi berbeda dengan Kai. Dia malah merasa lucu dan gemas melihat tingkah Krystal.


"Kalo gue push-up di atas lo boleh?" Goda Kai lagi sambil menjangkau pandangannya dengan Krystal.


Seketika gadis itu membalasnya dengan tawa kencang. Sungguh Kai tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran Krystal. Perempuan seperti apa gadis ini hingga bisa bersikap biasa saja saat digoda oleh seorang laki-laki, dan parahnya orang itu adalah Kaisar.


"Terus sekarang kamu mau jadiin saya matras?" Krystal masih saja tertawa, seperti rasanya Kai baru saja melemparkan lelucon yang sangat lucu padanya.


Dengan sekali dorongan dari tubuh Kai, Krystal merasa jika kini dirinya terjungkal kebelakang hingga terlentang di atas kasur ruang UKS.


Dia terkejut bukan main, di posisi seperti ini membuatnya sangat gugup, terlebih tubuh Kai sudah berada di atasnya sambil memandanginya dengan sorot mata intens.


"M-mau apa?"


"Tidur." Ucap Kai di tengah kebingungan Krystal.


• • •


hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .


jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .


love you all


❤ ❤ ❤