Nobis

Nobis
Taruhan



WARNING :


CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA


...****...


NOBIS


Chap 10






"Hai cucu Oma ..." sapa Oma Yolanda saat Kai memasuki ruangannya. "Kamu sama Krystal ke sini?"


"Iya ..." Kai melangkah mendekat. "Mau belajar."


"Wah ... Oma seneng dengernya." Oma Yolanda terperangah, berdiri dan meletakan kaca mata baca miliknya ke atas meja lalu berjalan menghampiri Kai. "Mau belajar dimana?"


Kai gelagapan, wajahnya seketika bingung karena dia belum menyiapkan jawaban dari pertanyaan ini.


"Errr ... di ... apartemen."


"Apartemen kamu?"


Cengiran penuh jenaka dan sangat konyol kini tercetak jelas di wajah Kai.


"Jangan diapa-apain ya Krystal-nya."


"Emang mau diapain sih, Oma?"


"Ya kamu kan suka yang aneh-aneh."


Kai memutar kedua bola matanya jengah. Ia berdecak, lalu menyeleneh pada sang nenek.


"Krystal anak baik loh, kemarin Oma telpon dia terus Krystal bilang kalo sekarang kamu sama dia mau belajar, ternyata bener."


"Oma nelpon Krystal??" Kai tekejut. Sejak kapan Omanya jadi berlebihan seperti itu sampai-sampai harus menghubungi Krystal.


Gue dalam bahaya


"Iya, nanyain perkembangan belajar kamu."


"Terus ... dia jawab apa?" Tanya Kai takut-takut.


"Dia bilang kamu nggak susah belajarnya. Oma seneng, akhirnya kamu bisa juga disuruh belajar yang bener."


Pffttt ... Kai rasanya ingin tertawa. Belajar? Tidak akan. Kai hanya ingin menyulitkan Krystal saja, tapi ternyata gadis itu tidak mengadukan kejadian itu pada Oma.


"Yaudah ... Oma mau ke bawah dulu, mau ketemu Krystal." Oma melewati Kai lalu melajutkan ucapannya. "Anak itu bukan cuma pinter, tapi cantik loh."


Kai berdecak dalam hati sembari mengikuti langkah Oma Yolanda yang berjalan keluar menuju ruang tamu untuk bertemu Krystal.


"Hatinya juga baik, dia sama kamu kaya langit sama bumi."


"Berlebihan banget." Gerutu Kai pelan di belakang Oma.


"Cuma lihat Krystal aja rasanya adem banget, trus lihat kamu, duh ... Oma bisa jantungan."


Kai mencebikan bibirnya, meledek wanita tua yang berjalan di depannya sambil terus mengoceh.


"Jangan cuma belajar tentang pelajaran sekolah, tapi belajar juga gimana caranya hidup yang baik dari Krystal."


"Iya-iya ... Oma makin tua makin cerewet aja."


Oma Yolanda berhenti, memutar tubuhnya di depan Kai. Satu tangannya terangkat lalu memukul kepala cowok itu dengan keras.


"Aduhh..." Kai meringis memegangi kepalanya yang terkena pukulan dari Oma Yolanda.


"Heran Oma, punya cucu satu nakalnya minta ampun."


Setelah memukul kepala Kai, Oma Yolanda melangkah lagi, menuruni anak tangga hingga sampai di bawah dan bertemu dengan Krystal.


Sementara itu, Kai masih menggerutu dan mengumpat dengan kata-kata kasar di tempatnya sambil mengusap-usapkan kepala.


Tak lama, ponselnya berdering, membuat gerakan tangannya berhenti.


"Apaan lagi?" Kesalnya.


"Wagelaaaa.. santai bro, lagi nanggung apa sama Krystal."


"Bangsat!"


Chandra, Bara, dan Sean sontak tergelak di sebrang sana. Suara tawa kedua temannya itu membuat Kai menjauhkan sedikit hapenya.


"Sewot amat lo kayak cewe pms."


"Buru ******, ada apaan?"


"Randu bilang balapan dimulai lebih awal. Lima belas menit lagi lo nggak di sini, mati kita semua!"


Kai mendengus kesal, melihat jam di tangannya. Dia tidak punya banyak waktu untuk basa basi dengan kakek, apapun yang terjadi dia harus membawa Krystal ikut ke sana.


"Tai lo! Lima belas menit lagi, lo kira gue punya Jinny!"


"Siapa tuh Jinny?" Tanya Chandra tiba-tiba dan mendapat pukulan kepala dari Sean di ujung panggilan sana. "Bego, Jinny itu jin nya aladin" Bara ikut menimpali.


"Kalo nggak ada lagi yang pengen lo sampein, gue tutup sekarang. Siapin motornya, gue sampe sana lima belas menit lagi."


Setelah menutup panggilan, Kai lantas memasukan kembali hapenya ke dalam saku celana.


Dia menuruni anak tangga satu persatu menuju tempat dimana Krystal dan Oma sedang berbicara.


"... saya nggak masalah kok, Oma." Samar-samar suara Krystal terdengar olehnya.


"Oma, aku bawa Krystal sekarang ya." Kai langsung menyambar tangan Krystal, menarik cewek itu untuk berdiri.


"Sebentar Kai, saya lagi bicara sama Oma, nggak sopan pergi gitu aja."


"Udah nggak ada waktu."


"Memang kamu mau kemana?" Tanya Oma Yolanda yang kini ikut berdiri.


"Duh Oma, ya mau belajar lah." Kai mengalihkan perhatiannya pada cewek yang kini tangannya sedang dia genggam. "Yukk, buruan."


"Oma, saya pergi dulu yaa ... sehat-sehat ya, Oma. Jangan lupa minu- Eh..eh.."


Belum sempat Krystal menyelesaikan kalimatnya, Kai sudah menarik cewek itu untuk berjalan, lebih tepatnya menyeret Krystal hingga berhenti tepat di depan motor.


"Aduh Kai, nggak sopan ihh, saya belum selesai ngomong juga."


"Bodo ah, lo kebanyakan basa basi tau nggak!" Kai mengenakan helmnya dan menyerahkan helm cadangan untuk Krystal.


"Mulut lo bisa diem nggak? Kalo nggak gue tinggal di sini! Mau lo?" Bentak Kai yang membuat Krystal langsung merapatkan bibirnya, lalu mengangguk.


"Buruan naek."


"Iya-iya."


Setelah Krystal sudah duduk di atas motor itu, Kai menyalahkan mesin motornya lalu menarik tangan Krystal untuk melingkar di atas perutnya.


Tanpa basa basi, Kai menjalankan motor itu dengan kecepatan tinggi, melewati gerbang besar itu dan meninggalkan komplek rumah secepat mungkin.


Krystal terlalu takut untuk sekedar membuka mata saat dirasa Kai membawa motornya dengan kecepatan sangat tinggi. Jantung Krystal berdetak sangat cepat hingga sepertinya akan terlepas dari tempatnya.


Selama perjalanan Krystal terus melantunkan doa di dalam hatinya untuk keselamatan mereka berdua. Bahkan pegangan pada perut Kai tidak terlepas sedikitpun dari cowok itu. Krystal benar-benar takut hingga nyaris pingsan di atas motor.


Setelah cukup lama mereka melewati perjalanan yang membuat jantungnya berdetak tak karuan, sekarang Krystal bisa bernafas lega saat motor yang Kai kendarai berhenti tepat di sebuah bangunan kumuh dengan trek balapan terbentang di depannya.


"Kok ke sini?" Pertanyaan pertama Krystal saat mereka sudah sampai di tempat balapan. Kai tidak menjawab, dia hanya berjalan mendahului Krystal.


"Tempatnya serem gini, Kai."


Kai masih diam. Mengabaikan Krystal yang ikut berjalan di belakangnya. Semakin jauh jalan ke dalam tempat itu, ternyata semakin ramai terdengar suara orang-orang.


"Kita mau nonton balapan?"


Dan lagi, kalimat Krystal hanya menguap di udara Kai hanya fokus berjalan sampai memasuki kerumunan orang-orang yang Krystal lihat kini lebih mendominasi kaum cowok dibanding cewek.


"Bro..." sapa Chandra saat melihat Kai.


"Belom mulai kan?"


"Lo telat lima menit, nyet!" Sahut Sean menegaskan.


"Yaudah buru-"


"Kita mau belajar di sini?"


Sebuah suara dari bali punggung Kai membuat semuanya menjatuhkan perhatian mereka pada sosok mungil yang sedang berdiri dengan raut bingung di belakang Kai.


"Krystal???" Tanya Sean spontan. Ia terkejut sambil mengerjap-ngerjap kecil.


"Gak ikutan gue." Bara langsung mengangkat tangannya. "Parah sih ini."


Kai mendesah. "Gue ajak, nggak ada waktu lagi buat bawa dia balik." Sahutnya mencoba menjelaskan.


"Lo ... gila?" Chandra menggeram tertahan.


"Mau gimana lagi, lo dadakan bilangnya, monyet! Mana sempet gue nganter dia balik dulu."


"Nah, Oma lo? Gue nggak mau mati muda ya."


"Itu urusan gue!" Jawab Kai enteng.


"Tapi kan-"


"Udah-udah, yang penting balapannya nih." Kata Sean menengahi perdebatan Kai dan Chandra.


Sementara Krystal hanya menatap takut ke arah jalanan di depan sana tanpa mendengarkan ketiga cowok itu berdebat. Dia sedikit bergidik. Suasana tempat itu juga membuatnya tidak nyaman.


"Wow ... dateng juga lo. Gue kira lo kabur karena takut."


Krystal menoleh saat mendengar suara cowok lain di tengah-tengah mereka. Cowok itu menghampiri Kai bersama ketiga temannya di belakang.


Kai menaikan sebelah alisnya. "Gue? Lo ngomong sama gue?" Bibirnya menyeringai, menatap cowok di depannya tidak suka.


"Lo pikir siapa lagi yang pengecut di sini."


"Siapa yang selalu kalah dari gue?" Kai terkekeh. "Pengecut nolak jadi pengecut, kampungan lo!" Balas Kai nyeleneh.


Cowok di depannya mengepalkan tangan erat, wajahnya memerah menahan emosi.


"Lo telat lima menit! Nggak asik kalo nggak ada taruhan lagi."


"Udah deh, Ran. Lo nggak usah macem-macem." Kata Sean yang berusaha untuk membuat Kai tidak terpancing.


"Kenapa? Lo semua pada takut?" Ujar cowok yang bernama Randu itu seraya meremehkan.


"Nggak ada kata takut dalam kamus gue!" Kai memasang wajah angkuhnya. "Gue ikutin mau lo!"


"Kai ... lo gila? Nggak usah kepancing sama kata-kata si kampret ini!" Ujar Chandra mengingatkan. "Lo tau kan kalo Oma lo sampe tau taruhan ini kita bakalan jadi apa?"


Kai berdecak. "Lo diem aja!" Seakan tidak memperdulikan ucapan Chandra, Kai malah memasang wajah menantang. "Jadi, apa mau lo?"


"Well!" Randu tersenyum menyeringai. "Gue mau cewek lo!" Tunjuknya ke arah Krystal.


Gadis polos dengan rambut tergerai itu mengerjap bingung. Ia terkejut bukan main saat dirinya ditunjuk oleh seorang cowok yang sama sekali tidak ia kenal itu, dan lebih parahnya lagi cowok yang menatapnya bengis itu bilang jika ia akan menjadi barang taruhan.


Taruhan?


"Nggak usah bawa-bawa dia, anjing!" Geram Kai. "Urusan lo cuma sama gue!"


"Wuhuuu ... ternyata lo lemah juga ya sama cewek? Gue kira cowok kayak lo nggak akan terpengaruh sama cewek manapun, ternyata hati lo melow gitu. Ck ... cemen!" Randu tertawa meledek, diikuti oleh ketiga teman di belakangnya.


"Lo terlalu takut sama Kai sampe pake cara kayak gini? Pengecut!" Sahut Bara yang ikutan geram.


Lantas Randu semakin tertawa kencang. "Oh.. jadi kalian berempat itu cowok hello kitty? Uwuuu unyuuu banget..."


Suara gelak tawa orang-orang yang ada di sana membangkitkan emosi Kai berkobar lebih besar.


"Seorang Kaisar Wira Atmadja, lemah hanya karena cewek cupu kayak gini! Lo ngejatuhin diri lo banget, bukan cuma diri lo, tapi kedua temen lo ini juga!" Tunjuknya pada Sean, Bara, dan Chandra.


Tangan Kai mengepal kuat. Emosinya mulai memuncak. Cowok itu merasakan aliran darahnya memanas hingga naik sampai ke kepala. Kai menarik kerah baju Randu, membuat cowok itu berjengit takut.


"Gue bukan pengecut kaya lo, bangsat!"


"Wow.. wow.. sabar boss.." Kai melepaskan cengkraman itu seraya mendorong tubuh Randu kencang. "Jadi gimana? Lo mau terima tantangan gue?"


"Kai ..." Krystal yang sejak tadi terdiam karena takut, sekarang memberanikan diri memegang tangan Kai. Ia berucap sambil menarik lengan jaket cowok itu. Tangan Krystal yang mulai berkeringat karena takut membuat tarikan itu terlepas.


Kai tidak menoleh sama sekali. Pikirannya berkecamuk. Dia menarik nafasnya panjang, kemudian memejamkan matanya erat-erat. Hingga akhirnya terdengar helaan nafas kasar dari bibirnya.


"Oke ... gue terima!" Ucap Kai lantang lalu melengos pergi begitu saja meninggalkan Krystal yang tercengan di belakangnya tadi.


Dan detik itu juga Krystal benar-benar tidak bisa menahan lajur air matanya yang sempat mengenang di pelupuk mata.


Kai mengatakan itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Krystal saat ini. Bagaimana takutnya cewek itu saat kalimat 'setuju' terlontar dari bibir Kai.


• • •


hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .


jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .


love you all


❤ ❤ ❤