
WARNING :
CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA
NOBIS
Chap 16
•
•
•
•
Bunyi deru ban motor yang bergesekan dengan aspal terdengar sangat memekakan telinga. Kai sudah berada di posisinya, sementara itu Rendi juga sudah berada di sebelah posisi motor Kai. Mata mereka saling beradu sebelum gadis di depan sana melemparkan bendera dari tangannya.
Setelah itu, secepat kilat mereka melesat. Awalnya Rendi memimpin, lalu Kai menyusul membuat posisi mereka sejajar. Di pinggir jalan Chandra, Bara, dan Sean memperhatikan Kai dengan senyum semringah. Mereka seakan sudah yakin jika Kai akan memenangkan pertandingan ini.
Motor Kai dan Rendi mulai menghilang dari pandangan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Karena trek kali ini menggunakan jalanan kosong yang belum dipakai untuk umum, jadi siapa yang berhasil kembali dengan cepat akan menjadi pemenang.
Sejauh ini baik Rendi dan Kai masih saling berusaha berebut posisi depan. Sesekali Rendi merapatkan motornya ke arah Kai untuk membayangi cowok itu. Namun ketika hampir setengah jalan, tiba-tiba motor Rendi melambat dan membuat posisinya berada jauh di belakang Kai.
Kai merasa curiga saat melihat Rendi memperlambat laju motornya. Tidak biasanya cowok itu tertinggal jauh olehnya. Lalu Kai mencoba menarik handle gas motornya lagi, saat tiba di tikungan yang cukup curam, Kai dikejutkan dengan cairan hitam yang berceceran di depan sana.
Namun, karena laju motor yang terlalu cepat, Kai terlambat untuk menekan rem. Dan itu berhasil membuat ban motornya tergelincir, kemudian berputa beberapa kali sebelum akhirnya terbalik bersamaan dengan tubuh Kai yang terbanting keras berguling di aspal.
Tak jauh dari posisi Kai yang terjatuh saat ini, Rendi menatap itu dengan senyum miring dan penuh kemenangan. Siapa lagi yang dengan sengaja menumpahkan oli di tengah jalan kalau bukan cowok licik itu.
***
Krystal baru saja duduk di atas bangku setelah memasuki kelas. Baru akan mengeluarkan buku catatannya, lagi-lagi dia dihebohkan oleh suara Luna yang datang terburu-buru sambil berlari dan berhenti di depannya dengan nafas memburu.
"Apa sih, Lun, dateng-dateng kayak orang dikejar-kejar setan gitu." Krystal menatap Luna heran.
"Aduh ... ini ... lebih ... dari itu.."
"Oke, nafas dulu. Saya bingung dengernya kalo kamu ngomong kayak gitu."
Luna menarik nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan. "Kok lo di sini?" Katanya setelah berhasil mengatur nafas.
Krystal mendelik dengan kerutan pada dahi. "Kamu nanyanya aneh. Ya saya sekolah dong, Lun. Mau belajar biar pinter." Sahut Krystal sambil mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.
"Lo nggak tau?" Kali ini Luna berteriak di depannya.
"Kebiasaan deh teriak-teriak gitu." Krystal menutup telinga dengan kedua tangan. "Saya masih bisa denger kok kalo kamu ngomongnya pelan-pelan."
Luna berdecak lalu memegang kedua bahu Krystal dan membalik tubuh cewek itu hingga berhadapan dengannya.
"Lo gila? Kai kecelakaan, lo kok masih bisa santai kayak gini?"
Krystal terperanjat. Matanya membulat terkejut. Sementara pikirannya sedang berusaha mencerna dengan baik maksud ucapan Luna barusan.
"Kai?"
"Iya ... cowok lo!"
"Kok bisa?"
Luna menghela nafas. Menatap takjub dengan kepolosan Krystal. "Mana gue tau, kan lo ceweknya."
Krystal memberengut. Jelas dia masih merasa risih dengan status yang tersemat pada dirinya sebagai pacar Kai, bahkan status itu pula yang membawanya berurusan dengan siswi perempuan di sekolah ini.
"Saya udah bilang berapa kali sama kamu Lun, kalo saya buk-"
"Sst.." Luna menyela ucapan Krystal. "Lo mendingan jenguk dia deh, lihat keadaannya. Lo sebagai cewek yang baik harus ada di sampingnya! Siapa tau sekarang dia lagi butuhin lo!"
"Saya nggak mau."
Luna tercengang. "Kenapa?"
"Ya kenapa harus saya?"
Habis sudah kesabaran Luna menghadapi cewek di depannya ini. Krystal memang terbilang anak terpintar di sekolah, namun kepolosannya mampu membuat siapapun menjadi jengkel bahkan hanya dari hal-hal kecil seperti ini.
"Lo kan pacarnya!"
"Saya bukan-"
"Ya tapikan anak-anak taunya lo pacarnya Kai. Lagian emang lo nggak khawatir sama dia?"
Krystal tidak langsung menjawab, dia terdiam sambil berpikir. Sebenarnya, diam-diam cewek itu mengkhawatirkan keadaan Kai. Tapi Krystal malu mengucapkan itu di depan Luna. Dia tidak ingin semua murid menjadi salah paham pada kedekatan dirinya dengan Kai.
"Jujur sama gue!"
Luna menatap Krystal dengan senyum mengejek, tentu saja, Krystal adalah cewek dengan kelembutan hati yang luar biasa. Mana mungkin dia tidak mengkhawatirkan cowok pembuat onar itu. Sangat jelas terpancar dari wajahnya.
"Memangnya kamu tau, Lun, dimana Kai dirawat?" Kata Krystal pelan yang langsung membuat Luna tergelak di sebelahnya. Sementara itu Krystal memberengut kesal. "Tuh kan diketawain."
"Lagian lo susah banget sih bilang gitu aja." Luna masih terkekeh pelan. "Gue sih nggak tau, coba aja lo tanya Sean."
Krystal mengangguk, lalu terdiam sebentar. "Lukanya parah nggak Lun?"
"Tuhkan ... khawatir kan lo!?" Kata Luna dengan wajah sedikit kesal. Lagi pula apa salahnya berkata jujur, toh dengan Krystal mengungkapkan perasaannya dunia tidak akan runtuh.
"Ih kamu tuh." Balas Krystal mencebik.
"Ya lagian elo, susah banget jujur."
"Jadi kamu mau kasih tau saya gak?" Dari nadanya, Krystal sudah mulai tidak sabar untuk mendengar kondisi Kai saat ini.
Luna mendengkus, sedikit jengkel dengan sahabatnya itu. "Kalo dari yang gue denger sih ... dia cuma lecet-lecet doang."
"Lecet? Kamu yakin?"
Kedua bahu Luna mengedik, "gak tau juga, gue cuma dapet kabar dari anak-anak tadi. Menurut kabar yang gue denger, Kai ikut balapan liar gitu."
"Balapan liar?" Krystal terperangah.
Krystal kehilangan kalimatnya seketika. Balapan? Jelas dia sangat tau tentang itu, karena ini bukan yang pertama kali Krystal mendengar Kai ikut balapan. Sebelumnya bahkan lebih parah, dia harus menjadi bahan taruhan dalam balapan tersebut.
"Gue sih nggak aneh kalo denger Kai keluar masuk klub malem, tapi ini baru pertama kali gue denger dia ikut balapan liar. Aneh aja anak kayak dia, yang dari lahir udah makan pake sendok emas, terus ikut balapan liar yang kedengerannya terlalu brandal gitu. Terus ya-"
Tiba-tiba Luna menghentikan kalimatnya ketika melihat Krystal melamun dan tidak mendengarkan ucapanya. Cewek itu terdiam dengan pandangan kosong.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepala Krystal saat ini. Kenapa Kai melakukan balapan itu lagi? Dengan siapa dia bertaruh kali ini. Apakah dengan orang yang sama, yang memintanya sebagai taruhan.
Mengingat itu membuat hati Krystal kembali sakit. Dia sangat membenci itu. Masih jelas di ingatannya saat Kai menyetujui permintaan Rendi dan menjadikannya sebagai barang taruhan.
"Lo dengerin gue nggak sih?" Teriak Luna.
Krystal berjengit, menutup matanya sambil beringsut menjauh. Telinganya benar-benar akan tuli jika berdekatan dengan Luna setiap hari seperti ini.
"Dengerin kok ... duh Lun, jangan teriak-teriak. Bahaya kuping saya tau."
"Lagian lo bengong gitu." Krystal mengusap telinganya. "Kalo lo mikirin Kai, yaudah samperin sana."
Cewek itu memutar kedua bola matanya jengah. Sudah bosan dengan ucapan Luna yang menyuruhnya untuk menemui Kai.
"Iya besok!"
"Keburu orangnya masuk!"
Krystal tidak memperdulikan ucapan Luna selanjutnya, dia lebih memilih untuk mengeluarkan buku catatan sebelum akhirnya percakapan mereka ditutup dengan bunyi bel masuk.
• • •
Sejak semalam Krystal tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Dia masih memikirkan keadaan Kai hingga pagi ini. Krystal sedikit menyesal, seharusnya memang dia mendengarkan perkataan Luna kemarin untuk menjenguk Kai setelah pulang sekolah. Jika dia mengikuti saran Luna, mungkin tadi malam dia bisa tertidur nyenyak karena sudah mengetahui keadaan Kai saat ini.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Krystal bergegas untuk berangkat ke sekolah. Dia menyampirkan tasnya di atas pundak dan bergerak melangkah menuju pintu lalu membukanya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Krystal untuk berangkat pagi, karena dia harus mengejar bus agar sampai di sekolah tepat waktu.
Namun saat pertama kali Krystal membuka pintu, matanya mendapati sebuah motor berwarna hitam yang sudah terpakir di depan pagar rumah dengan satu sosok cowok yang bersandar pada badan motor. Cowok itu terlihat sedang menatapnya dari kejauhan sambil memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
Krystal tertegun. Berusaha untuk tersadar jika cowok di depan sana adalah cowok yang sejak semalam hingga pagi ini berhasil menguasai pikirannya. Dia tidak salah lihat kan.
"Kai...?"
Krystal berjalan cepat, membuka pintu pagar dan keluar menujunya.
"Lo lama amat keluarnya. Gue udah lebih dari satu jam di sini!" Sungut Kai saat Krystal sudah berada di depannya.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Ketemu lo."
Krystal melihat jam pada tangannya. "Kok nggak pake seragam? Kamu udah sembuh? Kata anak-anak di sekolah kemarin kamu kecelakaan?"
Krystal menatap Kai. Dahi cowok itu diperban, ujung bibirnya robek dan masih ada darah mengering di sana. Pipi kanan Kai lebam biru, ada plaster kecil di pangkal hidungnya, dan ada bekas lecet seperti tergores di pipi sebelah kiri.
"Lo udah bisa lihat sendiri sekarang." Ujar Kai cuek.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Krystal menyentuh lengan kiri Kai yang dibalas dengan ringisan kecil oleh cowok itu.
"Loh ... tangannya juga luka? Katanya cuma lecet-lecet doang."
"Siapa yang bilang?"
"Anak-anak di sekolah kemarin." Krystal mengambil tangan Kai dengan pelan. "Coba saya lihat tangannya?"
Kai mengeluarkan kedua tangannya dari kantong celana dan menunjukan itu pada Krystal. Cewek itu meringis kecil melihat semua luka pada tubuh Kai. Ada sebuah perban melilit dari telapak tangan menuju siku di bagian kanan tangannya. Sementara tangan sebelah kiri terdapat luka kecil yang sudah diobati.
"Sakit ya?" Tanya cewek itu dengan polos.
Kai berdecak, lalu menatap Krystal jengkel. "Menurut lo?"
"Sakit." sahutnya masih dengan wajah polos. Hal itu justru membuat Kai menggeram gemas sambil menggelengkan kepala.
Terpancar raut cemas penuh kekhawatiran dari wajah Krystal saat ini. Cewek itu sesekali meringis saat menemukan luka lain di tangan dan wajah Kai.
"Gue nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa gimana? Tangan kamu luka semua gitu. Saya yakin itu sakit banget. Kenapa bisa begini sih Kai? Kenapa bisa jatoh dari motor? Kamu balap--"
Kalimat Krystal terhenti saat Kai melingkupi tubuhnya dengan lengan berotot cowok itu. Kai memeluk Krystal dengan kedua tangan merayap di punggungnya.
Tentu hal itu membuat nafas Krystal serasa berhenti. Tubuhnya membeku tak bisa bergerak. Rasanya Krystal sulit sekali mengatur debarannya hingga kesulitan untuk bernafas.
"Gue nggak tau gimana caranya ngebuat lo berhenti ngomong. Lo cerewet banget tau nggak!" Ujar Kai lalu melesakan wajahnya pada leher Krystal.
"Kai.." suara Krystal tertelan di bahu Kai
"Gue sakit ..."
"Kenapa malah ke rumah saya? Harusnya kamu di rumah sakit sekarang. Mau saya anter ke sana?"
Kai menggeleng. Hembusan napas Kai yang menerpa kulitnya membuat Krystal merasa geli. "Gue nggak butuh itu."
Krystal menghela nafas. "Kalo orang sakit itu butuhnya dokter."
"Gue cuma butuh lo!" Krystal melebarkan matanya. "Gue butuh lo di sini tanpa banyak bicara. Bisa nggak lo diem."
Kai bisa merasakan jika Krystal mengangguk di tengah-tengah pelukan itu. Dan Kai tertawa di dalam hatinya. Menertawakan dirinya sendiri. Benar, untuk apa dia menemui Krystal, seharusnya Kai bisa mencari pelampiasan dengan mengunjungi tempat lain. Lalu mengapa dia bisa mengendarai motornya hingga berhenti tepat di depan rumah cewek itu.
Bahkan pertanyaan itu masih belum bisa dijawab olehnya. Atau mungkin ucapan Chandra tempo hari mulai menjadi kenyataan.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating lima bintang nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤