
N O B I S
Chap 46
•
•
•
•
Kai tersenyum, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sesuai dengan rencana yang sudah dia dan Krystal sepakati hari ini, mereka akan menghabiskan sisa-sisa hari ulang tahun Krystal dengan menonton televisi sambil memakan pizza di apartemennya.
Dan berbicara tentang permintaan yang dijanjikan oleh Krystal untuknya, Kai sendiri sebenarnya tidak tahu akan meminta apa pada gadis itu. Dia hanya ingin Krystal selalu bersamanya, hanya itu. Jadi, hari ini Kai akan mengatakan pada Krystal bahwa gadis itu adalah miliknya, dan akan meminta Krystal untuk berjanji tidak akan meninggalkannya.
Dengan senyum yang mengembang sempurna, Kai melangkah keluar dari kamarnya untuk menjemput Krystal dan membawa gadis itu ke apartemen. Namun, baru beberapa langkah keluar, Kai mendengar Doni berbicara lewat telepon dengan seseorang tepat di depan ruang kerja ayahnya.
"Kenapa, om?"
Doni tersentak, mengangkat wajahnya dengan raut panik dan khawatir. "Oh, Kai." Balasnya sedikit terkejut. "Ini, anak om masuk rumah sakit, om disuruh cepat-cepat ke sana. Tapi, om juga disuruh pak Kevin buat ambil berkas di laci meja kerjanya." Doni menghela, "om jadi bingung."
Kai melirik jam di tangan. Dia berpikir sebentar sebelum akhirnya menatap Doni lagi. "Om ke rumah sakit aja, biar saya yang anter berkasnya ke kantor papa."
"Kamu beneran mau anter itu?" Tanya Doni tidak percaya. Kai hanya mengangguk pelan. "Makasih ya, Kai. Om lega dengernya."
"Gapapa om, sekalian saya mau pergi."
Doni tersenyum lega, menatap jam di tangannya lalu memegang pundak Kai. "Om minta tolong ya, berkasnya ada di map kuning yang berlogo perusahaan, kamu cari di dalam laci meja ya. Om udah gak ada waktu. Tolong ya, Kai."
"Iya, om."
"Makasih, Kai, om jalan sekarang ya." Doni menepuk pundak Kai pelan lalu berlalu dari sana.
Bersamaan dengan itu, Kai mulai membuka pintu kayu ruang kerja ayahnya. Menyalahkan lampu dan masuk ke dalam. Hal pertama yang dia lihat adalah keadaan ruangan yang rapi dan elegan khas seorang pemilik perusahaan besar.
Bukan sekali dua kali Kai masuk ke ruangan ini, bahkan sering, tapi itu dulu saat dia masih kecil dan selalu mencoba mencari perhatian Kevin. Kai selalu datang ke ruangan ayahnya hanya untuk menunjukan kertas hasil ujian. Tapi, Kevin selalu mengabaikan itu sehingga rasanya Kai benci berada di ruangan ini lagi.
Seperti penjelasan Doni tadi, map itu berada di dalam laci meja kerja Kevin. Kai menarik sedikit laci meja itu, dan membukanya. Map kuning dengan logo perusahaan langsung terlihat, dia yakin jika itu map yang di maksud Doni. Dan dengan cepat Kai menarik lagi laci tersebut hingga terbuka lebih lebar. Dia lalu mengambil map itu. Namun, begitu map itu terangkat, mata Kai tidak sengaja melihat satu kotak persegi panjang yang terdapat ukiran di atasnya, yang dia yakini sebagai kotak perhiasan.
Kai mengernyit, sejak kapan ayahnya menyimpan benda seperti itu. Bukan, memang sejak kapan dia ingin tahu tentang barang-barang yang dimiliki ayahnya. Lantas Kai menutup laci tersebut dan segera menjauh dari meja kerja itu.
Dia melangkah menuju pintu untuk keluar. Saat tangannya ingin membuka knop pintu, Kai lalu berbalik. Mengingat sesuatu yang pernah dia lihat. Kai menegang dengan napas sedikit tercekat. Dia kembali menuju meja kerja Kevin, lalu kembali membuka laci tersebut dan mengeluarkan kota perhiasan itu dari dalamnya.
Tubuh Kai terasa memanas, jantungnya berdetak tidak karuan. Dia baru saja membuka kota tersebut dan mengetahui apa isinya. Tidak mungkin, kata itu yang tiba-tiba saja langsung menghampiri hatinya. Kai mencelos, kakinya serasa melemah. Dia limbung hingga terduduk di atas lantai.
Kotak itu terjatuh, bersamaan dengan perasaannya yang hancur.
• • •
"Nanti aku jemput jam lima."
Adalah kalimat terkahir yang Kai ucapkan pada Krystal semenjak cowok itu mengantarnya pulang tadi siang. Tapi, sudah jam lima lewat dua puluh menit, Kai tidak juga datang menjemputnya.
Krystal takut. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kai di jalan. Terlebih, hujan turun dengan derasnya bersama gemuruh dan petir di luar sana yang membuat Krystal semakin lebih khawatir.
Sudah lebih dari sepuluh kali Krystal mencoba menghubungi Kai dengan menelepon cowok itu, namun tidak ada jawaban darinya. Bahkan tiba-tiba saja nomor Kai tidak bisa dihubungi lagi.
"Kamu dimana, Kai?" Lirih Krystal pelan sambil sesekali melirik jam yang tergantung di dinding ruangan.
Tiga puluh menit berlalu dari waktu yang Kai janjikan. Petir dan gemuruh masih bersaut-sautan dengan nyaring di luar sana.
"Mungkin Kai lagi neduh." Gumamnya lagi.
Krystal mencoba berpikir se-positif mungkin untuk mengurangi ketakutannya. Dia berusaha mengirim pesan pada Kai, dan kembali berakhir tanpa balasan. Dulu saat Kai bilang akan menjemputnya, bukankah cowok itu juga datang terlambat. Mungkin sekarang juga begitu, jadi Krystal memutuskan untuk tetap menunggu.
Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga langit mulai menggelap, Krystal masih bertahan menunggu Kai datang ke rumahnya, masih berharap jika cowok itu akan berdiri di depan pintu untuk menjemputnya seperti janji yang dia ucapkan tadi. Bahkan Kai sama sekali tidak mengabarinya.
Kenapa rasanya menyakitkan? Ini hari ulang tahunnya, dan Krystal kembali dihadapkan oleh sebuah penantian. Bukankah Kai bilang sendiri jika dia tidak akan membiarkan Krystal menunggu lagi, Kai tidak akan membiarkan Krystal terus mengharapkan sesuatu yang tidak pasti di hari ulang tahunnya. Lalu, mengapa sekarang dia membuat Krystal kembali menunggu? Membuat gadis itu berharap bahkan ketika waktu mulai menunjukan jika ulang tahunnya segera berakhir.
Apa memang Krystal ditakdirkan untuk selalu menunggu? Untuk selalu berharap hingga rasanya untuk bernapas saja sangat sulit. Menyesakkan dan menyakitkan, seperti tertusuk pisau di tempat yang sama.
Krystal menekan dadanya kuat-kuat, bersandar pada pintu rumah lalu jatuh terduduk begitu saja. Kedua bola mata bulat itu mengenang, dan menetes tiba-tiba tanpa pernah dia tahu alasannya. Krystal hanya merasa sakit, lalu menangis.
"Kai ... aku nunggu kamu."
• • •
Setelah melewati ujian tengah semester, seluruh kelas mendadak bebas dari jam pelajaran. Beberapa murid berhamburan di luar kelas dan sebagian lagi berkumpul di kantin untuk menikmati satu hari tanpa belajar.
Krystal pun datang ke sekolah tanpa langsung menuju kelasnya. Jika biasanya dia selalu duduk di dalam kelas dengan beberapa buku pelajaran, tapi hari ini berbeda, gadis itu terlihat buru-buru berjalan melewati arah kelasnya.
Luna yang melihat Krystal pun menghampiri gadis itu dan menepuk pundaknya pelan.
"Oyy!"
Krystal berhenti, lalu menoleh dengan wajah pucat karena tidak tidur semalaman. "Eh, kamu, Lun."
"Kok gak ke kelas?" Luna mengernyit.
"Aku mau ketemu Kai sebentar."
"Yaelah, kemaren gak puas apa sama dia seharian." Luna meledek, namun Krystal hanya tersenyum tanpa arti. "Jangan berduan mulu, lama-lama Kai bosen sama lo."
"Cuma sebentar." Balas Krystal sambil kembali melangkah menuju kelas Kai.
Luna mengekori, cewek itu sedikit bingung melihat tingkah Krystal. Seperti ada yang ditutupi dan membuat Luna semakin penasaran.
"Emang mau ngapain?"
Krystal menggeleng, tanpa bersuara.
Gadis itu masih menutup bibirnya dengan rapat, tapi Luna sudah mengenal Krystal sejak lama. Gadis itu tidak akan bercerita tentang masalah apapun yang terjadi di dalam hidupnya. Krystal terlalu tertutup.
"Cerita napa sama gue." Luna masih mencoba menyamai langkah kaki Krystal. "Penasaran ih.. sumpah, gue gak akan ngomong sama siapa-siapa. Suer deh ditaksir cowok ganteng."
Krystal menarik garis bibirnya tipis, lalu menggeleng lagi.
"Ihh.. lo mah gitu--" Luna terkejut lalu berhenti mendadak saat hampir menabrak tubuh Krystal yang berhenti di depannya.
"Sean.. kamu lihat Kai gak?" Tanya Krystal cepat saat melihat Sean baru saja keluar dari kelasnya.
"Tumben pagi-pagi nanyain Kai?" Balas Sean sambil meledek.
Chandra yang muncul bersama dengan Sean ikut meledek Krystal. "Emang kemaren gak cukup di apartemen berduaan?"
Wajah Krystal berubah kaku, gadis itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali bersuara. "Kai ada di kelas?"
"Ada kok.. Kai lagi-- nah tuh orangnya." Belum sepenuhnya Sean menjawab, Kai sudah lebih dulu keluar kelas dengan wajah dingin yang selalu dia tunjukan.
Cowok itu terdiam, namun tidak terkejut begitu melihat Krystal berada di depan kelasnya.
"Duh.. males nih gue kalo lihat yang alay-alay gini." Celetuk Chandra yang langsung mendapat jitakan dari Sean.
Sementara, Krystal tersenyum lega. Dia menghembuskan napasnya pelan lalu menghampiri Kai, dan berhenti tepat di depan cowok itu.
"Aku kira kamu kenapa-napa, kemarin kenapa gak ngabarin aku? Kamu kehujanan ya? Terus pulang lagi?"
Kai menatap Krystal dengan wajah dingin, membuat gadis itu mengernyit bingung. Sorot mata itu, Krystal seperti kembali melihat Kai yang dulu, Kai yang tidak peduli padanya.
"Nggak apa-apa kok, yang penting kamu baik-baik aja, aku udah seneng." Lanjutnya saat merasa tak ada respon apapun dari Kai. "Kenapa gak ngabarin?"
"Gue sengaja gak dateng." Kai bersuara dengan nada dingin.
Semua yang mendengar itu mendadak terkejut. Terdiam dengan perasaan bingung.
"Kai-"
"Gue punya urusan yang lebih penting dibanding dateng ketemu sama lo!" Lanjutnya.
Luna yang melihat Krystal mulai bergetar tidak tinggal diam, cewek itu maju selangkah untuk berdiri di depan Kai.
"Lo apa-apan sih, dia cewek lo, Kai!" Sela Luna.
"Lun.." sela Krystal sambil menarik Luna mundur.
"Cewek gue?" Kai berdecih, "Lo pikir gue beneran suka sama dia?"
Krystal terkejut lalu menggeleng dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu ngomong apa sih, Kai?"
"Perlu gue tegasin sama lo! Gue gak pernah suka sama lo! Selama ini gue cuma main-main, dan ya.. ternyata lo terlalu bego untuk mengerti itu semua."
"Lo gila?" Sambar Sean sambil menarik pundak Kai. Cowok itu menepis, lalu menatap Sean dengan remeh.
"Lo gak usah ikut campur!" Suara Kai yang keras membuat beberapa murid yang lewat menatap ke arah mereka, dan menjadi tontonan bagi sebagiannya.
"Dan buat lo!" Kai menunjuk Krystal, pipi gadis itu sudah basah karena air mata. "Lo terlalu mudah untuk dimainin, dan sekarang gue mulai bosen. Jadi, seharusnya lo tau diri untuk gak ngeganggu hidup gue lagi!"
Krystal berharap ini mimpi. Dia merasa dunianya runtuh seketika. Hatinya menjerit sakit. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Krystal yakin jika ada yang salah.
"Kamu kenapa, Kai? Aku ada salah sama kamu?" Lirih Krystal bersama isakan yang keluar dari bibirnya.
Kai berdecih, menyeringai dengan tatapan yang menyayat tepat di hati Krystal. "Gue bukan cowok baik seperti yang lo bilang."
"Kamu gak gitu, aku tahu--"
"Lo bego, Krystal! Lo terlalu naif! Gak ada cowok baik di dunia ini."
Ingatkan jika Krystal sudah pernah diajak terbang setinggi-tingginya oleh cowok itu, hingga kemudian dia jatuhkan kembali ke tanah, lengkap bersama hatinya yang hancur berkeping-keping.
"Kita udah ngebahas itu bukan?" Krystal menyentuh tangan Kai yang seketika langsung ditepis oelehnya.
"Kita?" Kai tersenyum miring. "Gak pernah ada kata 'kita' lo jangan ngayal kejauhan!"
"Kai!" sela Chandra yang mulai tidak menyukai situasi tersebut. "Kenapa sih lo?"
Kai menggeram, membuang muka dan melirik sekeliling. Mulai banyak siswa yang menatap ke arah mereka. Tanpa menjawab pertanyaan Chandra, Kai melangkah menjauhi Krystal hingga tiba-tiba kembali bersuara.
"Oh ya, satu lagi." Dia berhenti, "Tentang permintaan gue..."
Krystal menegang, menggeleng pelan lalu meremas roknya dengan gemetar. Air matanya menetes tidak mau berhenti. Nggak Kai, aku gak mau denger.
"Jangan pernah muncul di depan gue lagi! Lo ganggu!"
Bersamaan dengan ucapan Kai barusan, Krystal menyadari satu hal, jika kini, dirinya terbuang untuk yang kedua kalinya.
• • •
Follow my WP : @annananana_
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna