Nobis

Nobis
Mimpi Buruk



WARNING :


CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA


NOBIS


Chap 17






"Gue yakin ini ulahnya si Rendi." Ujar Chandra setelah beberapa perawat baru saja keluar.


Keadaan Kai saat ini sudah tidak terlalu buruk, hanya saja kini wajah tampan cowok itu dipenuhi oleh lebam biru keungu-unguan, sudut bibirnya robek, serta lengan kanan yang terkilir penuh dengan perban.


"Udah pastilah, siapa lagi coba yang berani ngelakuin perbuatan licik kayak gitu!" Timpal Bara.


Kai sedang berbaring di atas ranjang sambil mengunyah buah apel yang dibeli Chandra tadi. Setelah berada selama tiga jam di dalam ruang IGD, akhirnya Kai dipindahkan ke kamar rawat di rumah sakit itu.


"Ngomong-ngomong, tumben amat lo beliin gue buah?" Celetuk Kai masih sambil mengunyah apelnya.


"Biar kayak orang-orang." Sahut Chandra seraya mengambil anggur dan membersihkan itu di bajunya. "Kan kalo mau ngejenguk orang sakit harus bawa buah." Lalu melahapnya dan duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.


"Lo emang lagi ngejenguk gue? Perasaan yang bawa gue ke sini juga lo berdua"


Chandra masih mengunyah anggurnya sambil berpikir sebentar. Dahinya mengkerut kecil. "Lah ... iya juga. Kok gue nggak kepikiran ya." Ujarnya setelah semua anggur di mulut berhasil tertelan.


"Otak lo kapan pernah mikir sih, Chan!" Sean menoyor kepala Chandra dan dibalas delikan kesal oleh cowok itu. Lalu pandangannya beralih lagi pada Kai. "Si Rendi nggak bisa kita biarin gitu aja, seenggaknya harus diberi pelajaran sedikit."


"Bener gue setuju." Sambar Bara yang terduduk di sofa. "Human semacam Rendi emang gak boleh didiemin."


"nah, iay tuh." Chandra juga ikut menimpali dengan mulut penuh anggur.


"Gue udah mikirin apa yang bakalan gue lakuin buat ngebales ini semua!" Kai membetulkan letak bantal di kepalanya. "Kali ini bakalan lebih parah, kalo bisa sampe dia nggak berani lagi ngusik gue!"


"Si tai itu udah kelewatan banget, nyawa taruhannya, dasar gila tuh orang!" Ujar Sean yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, satu kakinya terlipat naik dan bersandar pada ujung tempat tidur.


"Untung aja jatoh lo nggak parah-parah amat Kai." Chandra melahap lagi anggurnya. "Harusnya abis ini lo tobat, kayak di sinetron hidayah."


Kai mendengus seraya mengambil jeruk di sebelahnya, lalu melemparkan itu ke arah Chandra dan langsung mengenai kepala cowok itu.


"Monyet ijo, sakit!" Chandra meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya, sontak ruangan itu dipenuhi oleh gelak tawa dari ketiga temannya.


Bertepatan dengan itu, pintu kamar di depan sana terbuka, membuat keempat cowok itu menoleh pada satu titik, seorang pria dengan jas hitam mahal yang melekat di tubuhnya serta wajah tegas penuh amarah sedang berdiri di ambang pintu.


Tiga di antara mereka langsung beringsut berdiri, Sean yang segera turun dari tempat tidur, Bara yang melipir dari sofa, dan Chandra yang langsung menelan anggurnya lantas berdiri tegap. Sementara itu, Kai hanya memasang wajah cuek dan tidak peduli.


"Siang Om ..." ujar ketiganya bersamaan.


Kevin Wira Atmadja berdiri dengan angkuh sambil memasukan kedua tangannya pada saku celana, tanpa membalas sapaan kedua cowok itu. Wajahnya memancarkan aura ketegasan dan perfectionis bagi siapapun yang melihat.


"Err ... kita bertiga ke depan dulu aja kali ya." Sean yang mengetahui situasi akan memanas segera menarik tangan Chandra dan Bara seraya meninggalkan kedua orang yang terlihat sangat mirip itu di dalam ruangan berdua.


Suasana canggung yang memanas melingkupi keduanya. Kai tahu ayahnya tidak mungkin ke sini jika bukan karena masalah yang dia buat. Mana mungkin pria itu memperdulikannya.


"Abis ini apa lagi?" Kevin berjalan mendekati anaknya yang sedang terbaring dengan wajah tidak suka. "Heran.. dibebasin bukannya makin dewasa malah semakin menjadi-jadi!"


Kai berdecih dalam hati, sedikit menyeringai mendengar bentakan yang tidak membuatnya takut sama sekali.


"Ngapain ke sini?"


"Jalan-jalan kali.." sahut Kai santai, lalu menggigit lagi buah apelnya.


"Yang sopan kamu kalau bicara! Saya ini papa kamu!"


Kali ini Kai menoleh ke arah papa Kevin dengan senyum meremehkan. "Oh.. masih inget kalo punya anak? Kirain udah lupa."


"Kaisar!" Kevin mendelik, mengepalkan kedua tangannya erat-erat setelah mendengar ucapan Kai.


"Saya ngantuk, lagi juga waktu berkunjung udah abis. Nggak bagus buat pasien yang abis kecelakaan diganggu tidurnya, kalo papa mau marah-marah, dateng lagi aja besok."


Kai meletakan apelnya, memperbaiki sedikit letak bantal dan selimut, lalu berbalik memunggungi Kevin. Sang ayah yang mendengar jawaban anaknya merasa geram.


"Seharusnya papa tidak perlu susah-susah membesarkan kamu." Ujar Kevin. Seketika hati Kai mencelos, rasa sesak itu tiba-tiba datang lagi. Sama sakitnya seperti saat Kevin mengusirnya dari rumah. "Toh percuma juga papa membesarkan kamu, tanpa diurus pun kamu merasa lebih baik seperti ini! Menjadi anak brandalan dengan ikut balapan liar! Ck.. mencoreng nama besar Atmadja!"


Kai membuka matanya seraya membalikan tubuh menghadap Kevin. Cowok itu bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidur. "Saya nggak pernah minta papa besarin, kalo bisa juga nggak minta buat lahir di keluarga ini! Saya yang malu terlahir dari keluarga seperti ini, papa pikir apa yang sudah papa beri buat saya, selain paksaan dan juga hinaan!"


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Kai. Sontak hal itu membuat bekas robek di bibirnya kembali terbuka. Luka pada bibirnya tidak sebesar luka di hatinya. Bahkan sangat perih dan menyesakan.


"Papa nggak ngerti lagi harus bertindak seperti apa sama kamu! Mungkin Oma kamu terlalu memanjakan sampai tak ada satupun sisi baik yang keluar dari sikap kamu!" Kevin menarik nafasnya. "Setelah ini Papah benar-benar akan bertindak tegas sama kamu! Kunci apartemen papa ambil! Terserah kalau kamu tidak ingin pulang ke rumah, lihat sampai mana kamu bisa hidup tanpa uang!"


Setelah melampiaskan amarahnya, Kevin pergi dari ruangan itu meninggalkan Kai yang mengepalkan kedua tangannya kesal. Rahang Kai mengeras menahan emosi yang membludak.


Ini bukan yang pertama kali Kevin memperlakukan Kai seperti itu, bahkan rasanya sudah ratusan kali Kevin mengatakan jika dia telah salah membesarkan Kai. Sudah puluhan kali Kai merasa terusir dari rumah besar itu, dan sudah puluhan kali juga hatinya terasa sakit.


Bahkan sejak kecil, tidak ada satu orang pun yang membantu dirinya saat Kevin memukulinya hingga membabi buta. Saat itu dia tidak punya keberanian seperti sekarang, setiap kesalahan yang dia perbuat, sang ayah selalu menghukumnya tanpa ampun.


Dan dia berjanji tidak akan tinggal di tempat itu lagi, rumah besar yang bagai neraka. Maka itulah, di sini dia sekarang. Di dalam rumah kecil dan sempit tempat Krystal melabuhkan lelahnya.


Cowok itu terbaring tidak bergerak di atas tempat tidur. Baru beberapa menit Krystal meninggalkannya untuk mengambil baskom berisikan air hangat dan handuk, Kai sudah terlelap dengan tarikan nafas yang teratur.


Krystal memilih untuk mengambil tempat duduk di sisi kasur, mengamati wajah Kai yang dipenuhi oleh luka. Perlahan tangan Krystal memeras handuk yang sudah dicelupkan ke dalam baskom berisi air hangat dan mulai mengompres itu ke atas wajah Kai.


Belum sempat handuk itu menyentuh luka Kai, Krystal dikejutkan dengan suara rintihan yang keluar dari bibir cowok itu. Dalam tidurnya, Kai terlihat gelisah, lipatan pada dahi juga menunjukan jika dirinya merasa kesakitan.


"Kai.." Krystal menggeser tubuhnya lebih dekat, tidak sengaja tangannya menyentuh kulit Kai yang ternyata panas.


Kali ini Kai mengerang dalam tidurnya. Krystal semakin merasa khawatir melihat itu. "Kai, bangun ..." ia menggoyang bahu Kai, tapi rintihan tidak tenang itu semakin terdengar. "Kai ... Kai." Krystal terus memanggil namanya seraya membangunkan, dan tiba-tiba kedua mata Kai terbuka lebar, menatap Krystal dengan deru napas yang tersengal. "Kamu nggak apa-apa?"


Tidak ada jawaban dari cowok itu. Namun secara refleks Kai bangkit, membuat Krystal terkejut. Cowok itu menunduk dengan tangan memijat pelipisnya yang basah.


"Kai?" panggil Krystal lagi.


Tanpa di duga, dengan tiba-tiba cowok itu memajukan tubuhnya lalu meletakan keningnya pada bahu Krystal. "Gue—" suaranya tercekat. Ia seperti merasa ada beban di atas kepalanya.


"Tenang, ya..."


Merasakan kenyamanan, akhirnya Kai melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Krystal dan mengangkat wajahnya untuk ia sembunyikan di dalam perpotongan leher gadis itu.


Krystal merasakan deru tarikan napas Kai terasa cepat menerpa kulit lehernya. Cowok itu tersengal seraya semakin menenggelamkan wajahnya di sana. Dengan ragu, Krystal mulai menaikan tangannya, menyentuh punggung Kai dan perlahan mengusap dengan lembut, seolah menyalurkan kehangatan untuk membuat cowok itu merasa tenang.


• • •


Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.


Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..


terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...


salam sayang,


anna ❤❤❤