
NOBIS
Chap 23
•
•
•
•
Tidak pernah sekali pun Krystal tidak fokus pada pelajaran yang di terangkan. Pagi itu ada yang berbeda darinya. Jika biasanya Krystal akan memperhatikan setiap guru yang mengajar dengan fokus dan penuh semangat. Namun kali ini dia hanya menatap kosong ke arah papan di depannya.
Sesekali Krystal menghela napas gelisah sambil menyentuh dadanya yang berdenyut sejak kemarin. Tentu hal itu sangat tidak biasa karena ada satu nama yang terus berputar di kepala gadis itu.
"Lo napa dah?" Bisik Luna di sebelahnya, sambil menjadikan buku paket sebagai tameng dari perhatian Pak Umar.
"Hah?" Krystal terkesiap dan langsung menoleh ke arah Luna. "Aku?" Balasnya dengan melakukan hal yang sama, menutup wajahnya menggunakan buku.
"Iya elo!"
"Kenapa?" Tanya Krystal tidak mengerti.
"Tau ah gelap! Gue nanya juga, elo malah balik nanya." Kesal Luna sambil memutar bola matanya.
"Aku nggak apa-apa kok."
Sepanjang sejarah dia bersekolah, baru kali ini Krystal merasa tidak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Krystal masih tidak mengerti dengan cara kerja jantungnya saat ini. Sejak kemarin sampai tadi pagi, jantungnya selalu berdebar lebih cepat, hingga membuatnya merasa sedikit sesak.
"Krystal, Aluna! Ngapain bisik-bisik di sana?" Sebuah suara mengagetkan mereka, hingga membuat keduanya melepaskan buku paket yang tadi mereka gunakan sebagai tameng.
Pak Umar berdiri di depan mereka dengan tangan terlipat di dada. "Saya menjelaskan kalian malah enak curhat-curhatan."
Krystal menunduk dalam-dalam pada buku cetak di depannya. Kini seluruh murid di kelas ikut memperhatikan mereka. Jika Luna yang hanya ditegur, mungkin satu kelas bisa memahami, tapi berbeda jika yang di tegur Pak Umar adalah anak terpintar di sekolah mereka.
"Lari sepuluh putaran di lapangan. Baru kalian boleh kembali masuk pelajaran saya."
Mendadak kelas menjadi hening. Untuk pertama kalinya, siswa terpintar di sekolah harus mendapat hukuman karena ketahuan mengobrol.
***
"Cerita nggak lo kenapa?" Tanya Luna yang berlari di sebelah Krystal.
Untung saja ini masih jam sembilan pagi, belum ada matahari yang menyoroti mereka dengan terik.
"Aku juga nggak tau, Lun."
Luna mengernyit. "Lah ... kocak nih bocah. Tadi di kelas lo mikirin apaan dah sampe nggak nyimak Pak Umar ngomong apaan?"
Krystal berhenti sambil menatap kosong pada aspal di lapangan. Bahkan saat sudah berlari di pinggir lapangan pun, cewek itu masih sempat-sempatnya melamun.
Luna yang merasa jika Krystal sudah tidak berada di sebelahnya lagi mendadak ikut berhenti dan menoleh ke belakang, dimana cewek itu masih terdiam menunduk.
"Dehh ... ni anak. Ngelamunin apaan sih lo? Cerita napa!" Luna kembali melangkah mundur menghampiri Krystal.
"Dada aku sakit, Lun." Krystal menyentuh dadanya lagi.
"Lo sakit? Sakit apaan? Udah ke dokter?" Luna menatapnya dengan cemas.
Krystal menggeleng. "Aku nggak sakit kok, tapi tiba-tiba ajah dada aku detaknya cepet banget. Padahal aku nggak minum obat apa-apa loh."
Luna menatap Krystal bingung. "Lo jatuh cinta?"
"Hah??"
"Ciri-ciri lo kayak orang lagi jatuh cinta tau nggak!" Celetuk Luna. "Sama siapa? Kai?"
"Hah?" Lagi-lagi Krystal menjawab Luna dengan keterkejutan.
"Hah hoh hah hoh ... lama-lama mulut lo kemasukan laler tuh!"
Krystal mencebik kecil. "Maksud aku bukan itu, Lun."
"Yang mana? Yang soal jatuh cinta?"
"Udah ah.. ngomong sama kamu malah jadi bingung." Krystal lalu kembali berlari masih memegangi dadanya, meninggalkan Luna di belakang sana yang terlihat sangat bingung.
"Padahal dia yang bikin gue bingung." Gumam Luna tidak habis pikir.
• • •
"GILA MENNNNN!!" Chandra berteriak di dalam kelas, menghampiri kedua temannya yang sedang sibuk masing-masing.
Kai dan Sean tidak menghiraukan kalimat Chandra, keduanya malah asik memainkan game di ponsel mereka masing-masing.
"Asli lo berdua bakalan kena sindrom Nomophobia! Gila gara-gara nggak megang hape! Gue ngoceh dari tadi nggak di sahutin!" Chandra menendang meja Kai dan Sean bergantian. "Woy! *******!"
"Gue udah tau." Balas Sean santai tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lo Kai?" Chandra beralih pada Kai.
"Menurut lo itu semua ulah siapa?" Sahut Sean lagi.
"Si monyet?" Chandra menunjuk Kai yang sedang bersandar pada kursi dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja.
"Gila.. gila.. udah main sembunyi-sembunyian sama gue? Lo nggak asik, bro! Masa gue nggak tau apa-apa?"
Kai mengumpat pada hapenya saat tulisan game over tertera di layar. Dia menoleh. "Lo yang sibuk maen sama cewek-cewek, tayi!"
"Itu kebutuhan, bos."
"Butuh apa doyan?" Celetuk Sean. "Semua cewek bohay lo ajak tidur."
"Nyamber aja lo bungkus kuaci!" Chandra berdecak kesal, lalu kembali mengalihkan pembicaraannya. "Tapi lo tau kan, kalo si Rendi kabur?"
Kai masih sibuk mengotak-atik hapenya, namun ekspresi tenang dari cowok itu seolah menjawab semuan pertanyaan Chandra.
"Lo tetep harus hati-hati, Kai. Si Rendi ini bahaya banget, tuh bocah kayaknya turunan iblis kedua." Chandra duduk terbalik di depan Kai.
Iblis kedua. Sementara iblis pertama jatuh kepada Kaisar Wira Atmadja.
"Harusnya dia yang hati-hati karena berurusan sama gue!" Ujar Kai tenang. "Gue nggak akan ngebiarin dia hidup tenang! Lo cukup ngeliatin aja!"
"Wohooooooo ... ini baru namanya Kaisar, penguasa kegelapan." Seru Chandra sambil merentangkan kedua tangannya. "Bangga gue punya temen kayak lo."
Sean dan Kai hanya mampu menghela napas pelan sambil menggeleng tidak habis pikir dengan kelakuan teman mereka itu.
"Oh iya, bro. Tas lo mana? Kemaren gue naro majalah di dalemnya." Tanya Chandra lagi.
"Tuh di meja." Tunjuk Kai pada salah satu meja yang tidak jauh dari posisi mereka.
Ngomong-ngomong soal tas. Kai jadi mengingat bekal roti isi telur yang Krystal buat untuknya. Bekal itu ada di dalam tas yang sekarang sedang dipegang oleh Chandra. Cowok itu hendak membukanya, namun dengan gerakan cepat Kai merampas tas tersebut hingga terlepas dari gengaman Chandra. Dia tersentak.
"Anjing!! Kaget gue begoo!"
"Gue ajah yang ambil." Seru Kai.
"Ada apaan sih, nyet, takut amat gue buka." Chandra dan Sean menatap Kai penuh curiga, sementara Kai hanya membuat gerakan santai.
"Lo nyimpen gambar cewek telanjang, ya? Tuh 'kan udah ketebak sama gue!" Lanjut Chandra sok tahu.
Sean menoyor kepala Chandra gemas. "Lama-lama gue nyesel temenan sama lo, Chan!"
Chandra meringis. "Gue juga!"
"Nih!" Kai melempar majalah itu ke arah Chandra, dan telak mengenai mukanya. Di antara mereka bertiga, memang hanya Chandra yang selalu menjadi tempat pelampiasan keisengan teman-temannya.
"*******! Sakit!" Kali ini cowok itu mengusap-usap hidungnya sambil meringis. "Lo berdua napa dah? Sensi banget ama gue!" Keluhnya.
Kai kembali melirik ke dalam tasnya, di sana masih ada paper bag kecil yang di dalamnya berisi kotak makan dari Krystal. Entah mengapa saat melihat itu hati Kai rasanya bergemuruh hebat, lalu tiba-tiba menghangat dan tanpa sadar, hal itu membuat kedua ujung bibirnya tertarik.
Di dalam hidupnya, baru kali ini Kai bisa merasakan memiliki bekal makanan. Bahkan saat TK dulu, Kai tidak pernah dibuatkan bekal. Pantas saja teman-temannya begitu senang setiap membuka kotak makan. Ternyata bukan isinya yang membuat mereka senang, tapi niat di balik itu semua.
Kai menutup itu, lalu berdiri, menyampirkan tasnya pada tangan sebelah kiri.
"Mau kemana?" Tanya Sean.
"Tempat biasa." Balas Kai yang sudah melangkah menuju pintu.
Sean ikut merapihkan tasnya, berdiri, lalu melangkah mengikuti Kai yang sudah lebih dulu menghilang dari balik pintu.
"Terus lo pada ninggalin gue? Temen ******* emang!" Teriak Chandra. Tak lama cowok itupun ikut merapihkan tasnya, lalu berjalan keluar kelas.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤