
NOBIS
Chap 36
•
•
•
•
Hal yang pertama kali Krystal rasakan saat membuka mata adalah kepalanya yang berdenyut sakit. Pandangannya berkunang-kunang dan buram, namun Krystal masih bisa menebak dimana dia saat ini karena merasakan tubuhnya terbaring di atas sebuah kasur empuk berseprai putih.
Dengan kesadaran yang hampir penuh, Krystal beringsut dari kasur tersebut dan menatap ke seluruh ruangan. Dia yakin jika ruangan ini adalah sebuah kamar, karena begitu dia menajamkan penglihatannya, di sudut dinding ruangan itu ada satu lemari besar dan satu meja kecil dengan lampu baca di atasnya.
Jika dilihat lebih teliti, kamar tersebut juga tidak memiliki jendela, semua tertutup rapih. Hanya pintu kayu berwarna coklat di depan sanalah satu-satunya akses untuk keluar.
Krystal samar-samar mulai mengingat bagaimana dia bisa berakhir di tempat ini dengan kepala yang terasa berat dan menyakitkan.
Awal mulanya terjadi saat dia sedang berada di parkiran untuk menemui Kai, namun tiba-tiba Krystal merasakan ada seseorang yang membekap mulutnya dan memaksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu Krystal merasa pandangannya mulai mengabur dan semua menjadi gelap hingga dia tidak sadarkan diri di dalam kamar ini.
"Lo semua jaga depan, pastiin nggak ada yang tau kita di sini."
"Itu gampang, tapi lo yakin dia ceweknya Kaisar?"
"Udah dipastiin sama Airin, lo tenang aja."
Krysta berjengit takut saat mendengar sebuah suara dari balik pintu kayu itu. Apalagi ketika nama Airin disebut, Krystal sangat yakin jika ini ada hubungannya dengan percakapan yang tidak sengaja dia dengar saat di gudang beberapa waktu yang lalu.
Dan Krystal semakin merasa ketakutan ketika mendengar suara kunci yang diputar dari luar hingga tiba-tiba pintu kayu itu terbuka lebar. Krystal tercengang begitu melihat cowok yang dia tau pernah menjadi lawan Kai saat balapan motor dan juga pernah menjadikannya barang taruhan.
Cowok itu berdiri di ambang pintu dengan senyum miring menatap Krystal.
"Hai cantik, nggak nyangka bakal ketemu lagi."
Krystal beringsut mundur, menatap cowok di depannya dengan waspada dan takut. "Kenapa kamu bawa aku ke sini? Kamu mau apa?"
Rendi tertawa sambil melangkah mendekati Krystal, yang justru semakin membuat Krystal ketakutan.
"Gue? Mau apa?" Kali ini Rendi tergelak lebih kencang, hingga Krystal merasakan tubuhnya menegang. "Gue mau Kai ancur, dan ngegunain lo adalah cara terbaik buat ngancurin dia! Perlu lo tau, dia pantas mendapatkan itu semua!!"
"Kamu jahat!" Jerit Krystal.
"Lo nggak salah ngomong?" Rendi berdecak. "Harusnya kata-kata itu lebih pantes lo berikan buat cowok lo? Dia itu cowok brengsek, ******** yang kesepian kayak nyokapnya!"
Krystal beringsut mundur hingga punggunya menyentuh kepala ranjang saat Rendi mengelus rambutnya lembut. "Cowok lo itu udah mainin banyak cewek hanya untuk bersenang-senang, dan ngebuang mereka begitu aja setelah puas."
"Kai nggak seperti itu." Sergah Krystal.
Rendi menyeringai, menarik dagu Krystal dengan kasar dan mendesis tepat di depan wajahnya. "Kai udah nidurin adek gue, Raisa. dan ******** itu ngebuang dia begitu aja. Jadi, bakalan lebih asik kalo gue ngebales dengan cara yang sama..."
"N-nggak.." Krystal menggeleng ketakutan, lalu menepis tangan Rendi yang masih memegangi dagunya. "Aku mohon lepasin aku."
"Sebelum gue dapet apa yang gue mau, lo nggak akan gue lepasin!" Rendi tersenyun lebar memperlihatkan ekspresi menyeramkan seperti seorang psikopat.
Tubuh Krystal gemetaran dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Dalam hati dia selalu menyebut nama Kai dan berharap cowok itu segera menemukannya, lalu membawa dia keluar secepatnya dari tempat ini, karena sungguh Krystal sangat ketakutan.
Dan ketakutan Krystal semakin bertambah lagi ketika melihat Rendi mulai menanggalkan bajunya. Membuat cowok itu bertelanjang dada dan perlahan memajukan tubuhnya.
"Jangan..." Krystal mulai terisak ketakutan, memundurkan tubuhnya ketengah ranjang.
"Gimana kalo kita abadikan kegiatan kita ini, biar Kai tau gimana gue sangat menikmati tubuh ceweknya." Rendi meletakan kamera di ujung tempat tidur lalu menekan tombolnya hingga terlihat lampu menyala.
"Lo cantik, pantes Kai tergila-gila." Rendi menyusap pipi Krystal dengan senyum licik dari bibirnya.
Krystal semakin terisak dengan air mata yang sudah turun membasahi wajahnya. Rasa takut, sedih, dan tak berdaya seolah memaksa tubuhnya bergetar lebih kencang. Jantungnya berdegub tak beraturan.
"Kai ... tolong aku." Lirih Krystal.
Nama itu keluar dari bibirnya disela-sela isakan kecil. Seolah seperti mantra, menyebut nama Kai membuat Krystal memiliki cadangan keberanian lebih, karena begitu Rendi mengunci tubuhnya di atas tempat tidur, Krystal menendang perut cowok itu hingga terdengar rintihan keras.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Krystal. Dia turun dari kasur dan berlari menuju pintu kayu di depannya. Namun Krystal lagi-lagi harus dihadapkan oleh kepasrahan saat menyadari jika pintu itu terkunci.
Rendi menangkap tubuhnya lagi, kemudian menghempaskan dirinya ke atas kasur. Jantung Krystal bertalu-talu dengan napas memburu. Wajah Rendi terlihat begitu menakutkan, rahangnya mengeras dan tatapan matanya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Jangan ... aku mohon jangan," Krystal menangis sambil terus menggelengkan kepala. Matanya memerah dan tenggorokannya tercekat. Dia panik dengan pikiran kacau. "Jangan lakuin itu sama aku."
"Lo cukup nikmatin apa yang bakalan gue lakuin sama lo! Dan berhenti nangis, Kai nggak akan dateng ke sini! Dia terlalu pengecut, cowok lo itu pecundang!"
"Kai nggak seperti itu, mungkin kamu salah paham. Jadi aku mohon lepasin aku." Jerit Krystal.
"Lo nggak akan gue lepasin!"
Cowok itu berdiri di atas tubuh Krystal dengan bertumpu pada lututnya. Matanya berkabut oleh gairah tanpa mendengar rintihan Krystal di bawah tubuhnya.
Krystal menahan tubuh Rendi sekuat tenaga saat cowok itu mencoba untuk mencium bibirnya. Mendorong, memukul, menjerit, apapun dia lakukan asalkan harga dirinya tidak ternodai.
Tangis Krystal semakin pecah. Sedih, takut bercampur menjadi satu. 'Krystal anak kuat, Krystal anak hebat, Bunda bangga sama Krystal' suara Bunda di telinga menjadi kekuatan lain yang dia miliki.
Di sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuras dan batin yang selalu menjerit ketakutan, suara dobrakan pintu menjadi bukti jika dia tidak salah menggantungkan harapannya pada satu sosok yang kini berdiri di ambang pintu, setelah berhasil merusak akses satu-satunya untuk keluar dari sana.
Kai, tempat dia menggantungkan harapan.
Rendi yang tersentak kaget reflek menjauh dari tubuh Krystal. Matanya terbelalak saat melihat Kai dengan wajah yang paling menyeramkan mendekat ke arahnya.
"BRENGSEK!" Kai menarik tubuh Rendi, menghajar wajah cowok itu, menendangnya hingga tubuh Rendi terpelanting membentur lemari besar.
"Lo ganggu!" Ujar Rendi.
Kai bisa melihat jika Rendi menyeringai ke arahnya, tentu itu menyulut amarahnya semakin besar. Sumpah demi apapun, dia membenci wajah cowok itu, dan satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah membunuh cowok di depannya ini.
"ANJING!!! LO BAKALAN MATI DI TANGAN GUE!"
Lagi, Kai memukul wajah Rendi dengan membabi buta, sesekali menendang perut cowok itu hingga darah segar keluar dari hidung dan juga mulutnya.
"*******!" Pukulan bertubi-tubi Kai berikan pada Rendi, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Rendi pantas mendapatkan ini darinya.
"Kai, lo gila!" Sean menahan laju tangan Kai yang terangkat siap untuk memukul Rendi lagi. "Lo bisa bikin dia mati!"
"Itu niat awal gue emang! Lo mending minggir!" Kai menarik cengkraman tangan Sean dan kembali memukuli Rendi yang sudah tidak berdaya di bawah kuasanya.
"Berhenti, *****! Udah cukup!" Dengan susah payah, Sean menarik tubuh Kai hingga mereka berdua terpelanting jatuh.
"*******! Lepasin gue!" Teriak Kai meronta.
"Nggak akan! Lo harus sadar Kai! Lo bikin Krystal semakin takut!"
Detik itu juga Kai berhenti, lalu menoleh ke arah Krystal yang sedang dipeluk oleh Luna di atas tempat tidur. Penampilannya sangat berantakan, seragam sekolahnya sudah robek.
Dan demi apapun, dia membenci melihat itu. Wajah Krystal yang berlinang air mata sambil terisak, dan kedua mata bulat itu tak lagi berbinar. Senyum gadi itu memudar. Tidak terlihat senyum sumringah yang selalu dia tunjukan di depan Kai. Semua itu menghilang hanya karena satu kesalahan.
"Polisi sebentar lagi bakalan dat-- ANJING! Si Rendi lo apain?" Teriak Chandra terkejut di ambang pintu begitu melihat kondisi Rendi saat ini. Karena jujur, cowok itu sangat mengenaskan dengan darah yang memenuhi seluruh wajahnya.
"Gue butuh bantuan kalian untuk ngurus ini semua, gue mau bawa Krystal ke rumah sakit."
"Lo tenang aja, gue yang bakalan urus semuanya." Sean menepuk pundak Kai pelan. "Krystal cuma butuh lo saat ini."
Kai menghela napas, melangkah maju untuk menyambut Krystalnya. Dan ketika pandangan mereka bertemu, Kai benar-benar bersumpah akan membuat mata indah itu untuk selalu berbinar. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Krystal lagi, tidak! jika orang tersebut ingin mati di tangannya.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna