Nobis

Nobis
Untuk Hari Ini



NOBIS


Chap 44






Langkah kaki Kai terhenti di depan pintu kayu berwarna cokelat. Samar-samar dia dapat mendengar percakapan Kevin dengan Doni, asisten pribadi ayahnya.


Kai memang sudah sering mendengar isu perselingkuhan sang ayah dari banyak media, dan tidak ada satupun yang diakui oleh Kevin. Namun, baru kali ini, Kai mendengar ayahnya membenarkan isu perselingkuhan yang dia lakukan, bahkan lebih parahnya itu menghasilkan seorang anak.


"Alisa tidak ada di Bandung." Ujar Doni saat itu.


Kevin memijat keningnya, berusaha mengurangi pening yang menyerang. "Kalian sudah mencarinya?"


"Bahkan sudah ke seluruh Bandung." Doni menarik kursi yang berada di depan meja Kevin, lalu duduk berhadapan dengan lelaki itu. "Boleh saya kasih saran sebagai seorang sahabat?"


Kevin lantas mengangkat wajahnya, menatap Doni yang kini menatapnya dengan serius. Tidak ada jawaban pasti, namun helaan napas Kevin menjadi jawaban jika saat ini dia sangat membutuhkan sahabatnya itu.


"Lupain Alisa, Kev. Lo gak kasian sama Morena? Atau seenggaknya lo pikirin anak lo. Kai udah gede, dia udah ngerti hal macem kayak gini."


"Gue gak bisa." Kevin mengusap wajahnya. "Alisa hamil, dan gue yakin anaknya sekarang udah seumuran sama Kai. Mereka berdua tanggung jawab gue, Don. Tujuh belas tahun gue lepas tanggung jawab."


Doni meringis, menatap sahabatnya dengan prihatin. "Gue ngerti maksud lo, tapi kalo caranya kayak gini terus, yang ada Rena sama Kai bakalan ninggalin lo, dan apa yang lo dapet, hanya rasa bersalah yang jauh lebih besar. Lupain kejadian tujuh belas tahun lalu, lihat yang ada di depan mata lo sekarang."


"Bahkan rasa bersalah gue akan bertambah besar jika setiap hari yang ada di kepala gue cuma Alisa." Kevin menarik napas dalam sambil memejamkan matanya erat. Semua berawal dari kesalahan, dan detik ini dia benar-benar menyesalinya.


"Setiap malem rasa bersalah itu selalu muncul, dan isi kepala gue cuma ada Alisa sama anak yang dia kandung." Tarikan napas putus-putus seolah membuktikan jika Kevin benar-benar merasa sakit memendam semua itu selama tujuh belas tahun.


"Dimana mereka sekarang? Gimana keadaan mereka? Bahkan gue gak tau Alisa ngelahirin anak cewek atau cowok. Tujuh belas tahun, Don, gue hidup dalam rasa bersalah. Gue mengabaikan Rena dan Kai, sampai mereka menjauh dari gue, dan rasa bersalah membuat gue hidup dalam kesendirian."


Doni terdiam, memandangi sahabatnya yang terlihat begitu frustasi. Dibalik sikap perfectionist yang Kevin miliki, lelaki itu ternyata menyimpan kesakitan yang begitu besar. Terlihat sangat kacau dan hancur.


Doni menepuk pundak Kevin seraya berucap, "Gue akan bantuin lo, tapi sebatas mencari Alisa. Untuk urusan Morena sama Kai, itu harus lo sendiri yang menyelesaikannya."


• • •


Sebelum ini, Kai tidak pernah peduli dengan masalah apapun yang terjadi pada keluarganya, sungguh. Tapi hari ini, saat telinganya tidak sengaja mendengar semua percakapan itu, ada rasa penasaran yang ingin sekali dia ketahui. Siapa Alisa? Dimana dia sekarang?


"Om.." panggil Kai saat melihat Doni baru saja melintasi ruang tamu menuju pintu untuk keluar.


"Oh, Kai.. ya ampun om jarang lihat kamu di rumah."


Kai hanya tersenyum kaku menanggapi itu. Tidak ingin terlalu banyak basa-basi, karena ada tujuan lain yang ingin dia ketahui saat ini.


"Om abis ketemu papa?" Kai menghampiri Doni yang sudah berada di ambang pintu.


Doni tersenyum simpul, menunjukan beberapa map di tangannya. "Iya, ada dokumen yang harus ditanda tangani sama papa kamu."


"Dokumen apa?"


"Haha.. ya dokumen perusahaan, lagian kamu tumben nanya gitu? Gak sabar ya mau gantiin papa kamu?" Balas Doni sambil bercanda.


"Saya gak minat, om." Sela Kai. "Lagian papa udah punya anak lain buat jadi penerusnya."


Doni tersentak. Lelaki itu terkejut, tapi sebisa mungkin dia menutupinya dengan tertawa. "Wah.. kamu ngomong apa sih, Kai. Anak pak Kevin kan cuma kamu."


"Om yakin gak tau?" Kai menyeringai, maju selangkah lebih dekat. "Kalo Alisa tau? Atau anaknya Alisa, om tau?"


"Kai-"


"Gak apa-apa, om. Saya udah denger dari papa langsung." Potong Kai. "Jadi, sebenarnya mereka ada dimana? Om pasti tau kan?"


Doni membuang pandangannya. "Om gak ngerti maksud kamu."


Kai mendesis, lalu tertawa hambar seolah sedang meledek lelaki tua di depannya saat ini. "Papa juga minta om buat nyembunyiin mereka?"


Doni menunduk sembari membenarkan letak kaca mata yang merosot dari hidung. Apapun itu yang Kai ketahui tentang masalah kedua orang tuanya, Doni tidak sedikitpun ingin ikut campur, karena yang berhak bercerita hanyalah Kevin, walaupun sebenarnya Doni juga mengetahui bagaimana persisnya cerita itu.


"Bukan kewajiban saya untuk memberitahukan masalah ini sama kamu. Lebih baik kamu tanya langsung sama papa kamu, om gak bisa cerita apapun."


"Saya cuma mau tanya." Kai mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Anak itu, apa dia seumuran dengan saya?"


Dengan ragu dan helaan napas pelan, Doni mengangguk membenarkan ucapan Kai.


"Jadi sudah tujuh belas tahun," Kai berdecih. "Udah selama itu papa sembunyiin masalah ini? Papa bohongin saya dan mama, lalu memutuskan untuk membawa mereka ke rumah ini."


Menyesakan, bahkan rasanya Kai sudah tidak bisa lagi memanggil Kevin dengan sebutan papa.


Selama tujuh belas tahun dia hidup dengan kebohongan sang ayah, berusaha untuk menjadi yang terbaik, tapi ternyata semua itu sia-sia saja karena ternyata sikap dingin Kevin padanya selama ini disebabkan oleh kesibukan lelaki itu pada istri dan anaknya yang lain.


"Jadi selama ini papa sibuk senang-senang sama wanita lain dan anaknya?"


"Kamu salah." Kai menatap Doni. "Bahkan papa kamu tidak pernah tau dimana Alisa berada selama ini."


• • •


Hari ini adalah hari terakhir Ujian Tengah Semester yang harus diikuti oleh seluruh murid SMA Tunas Harapan. Begitupun dengan seorang Kaisar Wira Atmadja, cucu dari pemilik Yayasan.


Sementara, Krystal pun sudah mengumpulkan lembar jawaban miliknya setelah selesai mengerjakan soal tersebut, walau tidak secepat yang dilakukan Kai.


"Tadi lancar?" Tanya Krystal yang berdiri bersisihan dengan Kai. Cowok itu membalasnya dengan deheman. "Ada beberapa soal yang bikin aku pusing. Apalagi soal nomor lima. Kamu juga ngerasa gak sih?"


Kai mengeluarkan hapenya dari dalam kantong jaket, membaca pesan yang baru saja dia terima. Wajahnya sedikit terkejut, namun Kai dengan cepat mengetik pesan balasan itu. "Semuanya sama buat aku, biasa aja."


Krystal terperangah, mendongak menatap Kai. "Serius?"


Cowok itu hanya mengangguk sambil tetap fokus menatap layar hape di tangannya. Krystal sendiri sebenarnya terlalu terkejut, bukan karena dia tidak mempercayai kemampuan Kai. Tapi, soal ujian matematika tadi memang membuat otaknya sedikit berpikir keras.


"Kamu kapan belajar?"


"Seminggu yang lalu sama kamu."


"Cuma hari itu?" Tanya Krystal memastikan.


Kai tampak berpikir sambil mengingat-ngingat. Sementara Krystal di sebelahnya hanya menatap tidak percaya. "Seingat aku ya itu."


"Aku jadi penasaran, kenapa dulu nilai kamu selalu di bawah rata-rata padahal tanpa belajar aja kamu udah segini hebatnya."


Kai terkekeh, mengalihkan pandangannya ke arah Krystal. Satu tangannya terangkat untuk menjumput rambut Krystal dan menyelipkannya pada balik telinga.


"Mungkin karena sekarang ada kamu."


"Karena aku pembimbing kamu?" Kai mengangguk. "Tapi ada ataupun gak ada aku, kayaknya sama aja. Tergantung kamunya, mau belajar atau nggak."


"Tanpa belajar aku juga bisa jadi saingan kamu."


Krystal mendengkus, menatap Kai dengan mata menyipit. "Sombong." Sontak itu membuat Kai terkekeh dan Krystal ikut tertawa. "Aku jadi penasaran sama hasil ujian Kai semester ini."


"Aku juga, gak sabar lihat kamu nurutin permintaan aku."


Kedua bola mata Krystal membulat sempurna, dia jadi mengingat perjanjian mereka saat berada di kelas Kai waktu itu, dan seketika itu juga wajah Krystal memberengut. "Aku kira kamu udah lupa."


"Maunya kamu itu." Kai terkekeh sambil memasukan hapenya kembali. "Pengumuman hasil ujiannya barengan sama ulang tahun kamu. Mau bikin pesta?"


Tiba-tiba Krystal terdiam, mata yang tadi sempat menatap Kai kini berpaling dan menyendu. Hal itu diamati juga olehnya. "Kayaknya gak perlu, aku lebih suka kalo kita nonton tv aja di apartemen kamu. Tv kamu kan besar, jadi puas nontonnya."


Seperti menyadari keanehan dari gadis itu, Kai merasakan ada sesuatu yang ditutupi oleh Krystal, dan dia sadar itu ada sangkut pautnya dengan kedua orang tua Krystal.


Tidak ingin membuat gadis itu bersedih lagi, Kai lalu menyetujui permintaan Krystal begitu saja tanpa bertanya. "Oh.. oke, nanti kita beli pizza aja sekalian nonton tv."


Mengetahui jika cowok itu mengerti dengan perasaannya saat ini, lantas Krystal meraih tangan Kai untuk digenggam olehnya. Sementara, Kai yang menyadari sikap Krystal tiba-tiba berubah seperti itu tentu membuatnya terkejut bingung.


"Tumben mau gandengan?"


"Iya.. takut besok gak bisa pegang tangan Kai kayak gini."


Kai kembali terperangah mendengar jawaban Krystal. "Ngomong apa sih? Kamu kayak mau pisah aja."


"Bukan gitu." Krystal semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Katanya kamu besok udah mulai sibuk untuk bikin poster baru? Aku cuma mau pegang tangan Kai sebentar doang."


Cowok itu terkekeh, membalas genggaman tangan Krystal sama erat. Seakan-akan besok mereka tidak bisa melakukan ini lagi. "Yaudah, kalo gitu kita pulangnya jalan kaki aja biar bisa pegangan tangan kayak gini."


Wajah Krystal berbinar-binar dengan senyum sumringah. "Memang Kai mau?"


"Untuk hari ini." Balasnya dengan senyuman yang sama.


"Motor kamu?" Tanya Krystal bingung


"Gampang, nanti aku suruh Chandra buat anterin ke apartemen."


Krystal merengut. "Emangnya gak apa-apa? Kok jadi nyusahin Chandra?"


"Chandra suka kok disusahin." Jawab Kai terkekeh yang juga menyulut gelak tawa dari bibir Krystal.


"Kai, ihh.."


Dengan senyum yang mengembang dari bibir keduanya, Kai dan Krystal berjalan menuju pintu gerbang sekolah, melewati parkiran, lalu menyapa mang Komar yang saat itu sedang berdiri di sebelah gerbang. Tangan mereka masih saling bertautan seolah tidak ada yang ingin melepaskannya.


Sepanjang perjalanan menuju halte diisi oleh obrolan ringan yang terkadang menyulut gelak tawa dari Krystal dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua terlihat begitu bahagia dengan tangan yang saling menggengam.


Bahkan genggaman itu tidak lepas sedikitpun saat mereka sudah di depan halte dan ingin menaiki bis. Kedua tangan itu enggan berjauhan walaupun sesekali harus terlepas karena penuhnya penumpang yang berdesakan ingin masuk.


Dan jika terlepas pun, mereka akan segera dengan cepat kembali menautkan jari tangan mereka. Seperti halnya saat ada seseorang yang mendesak ingin masuk hingga membuat genggaman mereka terlepas, Kai dengan buru-buru mengambil tangan Krystal dan menarik gadisnya mendekat.


Sesederhana itu dan mereka sangat menikmatinya.


• • •


Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.


Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..


terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...


salam sayang,


anna