
NOBIS
Chap 54
•
•
•
•
BGM : Yang Yoseop - Cries Without Sound
"Aku sayang kamu.."
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, membuat Krystal mendesah pelan sembari memejamkan matanya. Sudah hampir tengah malam, dan Krystal masih tetap terjaga di dalam kamar itu.
Mungkin seluruh isi kepala Krystal sedang bersekongkol untuk membuat hatinya berdenyut nyeri dengan membiarkan kejadian tadi siang terputar jelas di dalam ingatannya. Seolah hari ini Krystal ingin menghentikan waktu, membiarkannya memeluk Kai sebentar saja.
Dia rindu itu.
Bagaimana Kai mengelus punggung tangannya, menenangkannya, lalu mengucapkan kata sayang yang rasanya sudah lama sekali tidak dia dengar. Saat itu yang bisa Krystal lakukan hanya menangis sambil mengeratkan pelukannya.
Sambil meringis kecil, Krystal berusaha beranjak dari posisi berbaring. Kepalanya terasa berdenyut nyeri, mungkin efek dari kehujanan tadi, atau mungkin karena sejak sampai di rumah, dia tidak berhenti memikirkan Kai.
Perlahan Krystal beringsut turun, melangkahkan kakinya untuk keluar. Lalu, begitu Krystal membuka pintu kamar, dia langsung bertemu dengan mata Kai yang juga sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Sesaat mata mereka bertemu dalam satu garis lurus.
Krystal merasakan degub jantungnya berdebar kembali, selalu seperti itu saat mereka bertemu, dan Krystal sama sekali tidak bisa menghentikannya. Kai sudah merebut seluruh hatinya, seluruh pusat hidupnya. Ingatkah Krystal sudah menggantungkan harapannya pada cowok itu, bahkan untuk berhenti saja rasanya Krystal tidak sanggup.
"Belum tidur?" Kai yang pertama kali bersuara, membuat Krystal menatapnya bingung dan gugup.
"Gak bisa tidur." Balasnya, "kamu? Kenapa belom tidur?"
"Belom ngantuk."
Krystal tersenyum kecil, lalu hening yang canggung meregang di antara mereka.
"Mau aku buatin susu?" Ujar Krystal sembari mendekat, begitu juga dengan Kai. "Katanya minum susu sebelum tidur bisa ngebuat badan kamu relaks."
Kai terdiam, memandangi wajah Krystal yang tersenyum. Walaupun tidak sepenuhnya kembali, namun wajah Krystal saat mengatakan kalimat itu terlihat beberapa kali diselingi oleh binar, dan entah rangsangan dari mana, Kai menganggukan kepalanya.
"Boleh."
Tentu mendengar itu membuat ujung bibir Krystal semakin lebar tersenyum. "Kamu mau tunggu di kamar?"
Kai menggeleng, lalu melangkah lebih dulu menuruni tangga. "Aku tunggu di meja."
Mungkin dia terlalu berharap banyak sikap Kai akan berubah padanya, tapi untuk saat ini Krystal merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Dia sampai mengerjap berulang-ulang untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.
Sejak Krystal menangis sambil memeluk tubuh Kai siang tadi, cowok itu banyak berubah, mulai dari sikap dan juga cara berbicaranya. Kai terlihat lebih tenang, dia tidak lagi memandang Krystal penuh benci.
Harusnya Krystal senang bukan? Namun, sudut hatinya yang lain justru merasa takut.
"Kamu tunggu sebentar ya." Krystal berjalan ke dapur sementara Kai duduk di kursi meja makan.
Beberapa menit hanya keheningan yang Kai rasa, ada banyak hal yang dia pikirkan. Kai merasa apa yang dia pilih kali ini adalah cara yang terbaik untuk menyelamatkan dirinya dan juga Krystal. Kai tidak ingin menyakiti siapapun, dalam posisinya saat ini, hanya mengikuti permintaan kakek Wira yang menjadi jalan satu-satunya.
Kai masih bergelut dengan pemikirannya, sampai Krystal datang membawa dua gelas susu di tangan. Gadis itu menyerahkan satu gelas susu cokelat untuk Kai, dan satu gelas lagi untuk dirinya.
Suara decitan kursi yang tertarik menjadi pembuka kesunyian itu. Krystal duduk di sebelah Kai, mereka meminum susu masing-masing dalam diam. Sesekali Krystal menyesap susunya sambil melirik ke arah Kai, memperhatikan cowok itu diam-diam.
Krystal rindu Kai, itu yang dia rasa. Walau mereka duduk bersebelahan, walau sedekat ini, rasanya Krystal tidak pernah bisa menggapai tubuh itu.
Lalu, saat mata Kai menangkap dirinya yang sedang menatap cowok itu, Krystal tersedak susunya. Membuat cairan itu hampir keluar semua dari bibir Krystal.
Gadis itu terbatuk-batuk sembari memukul dadanya pelan. Lalu dia membuang wajahnya untuk menutupi rasa malu. Krystal tidak pernah seceroboh ini, hanya Kai yang mampu membuatnya seperti itu.
Saat Krystal sedang merasakan perih pada tenggorokannya, dan berusaha menahan degub jantungnya yang menggila, Kai dengan sangat cepat meraih tissue di atas meja, dan membantu Krystal mengelap bibirnya yang basah.
"Pelan-pelan."
Krystal tentu tercekat, tubuhnya memanas seketika. Rasa gugup itu kembali menyerang. Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu hatinya kembali berdesir hangat.
"Tenggorokannya sakit?"
Krystal menggeleng gugup, "n-nggak."
Sapuan lembut itu masih bisa Krystal rasakan, dan tanpa keduanya sadari, posisi mereka saat ini begitu dekat. Kai masih fokus pada bibir Krystal, mengusapnya lembut sebelum akhirnya Kai mengangkat pandangannya dan membuat mata mereka kembali bertemu.
Dalam beberapa saat mereka hanya saling berpandang, Kai bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tidak karuan saat menatap mata bening di depannya. Hingga kemudian Kai memberanikan diri mendekatkan wajah mereka, membuat Krystal menutup matanya erat.
Kai yang melihat itu tersenyum, gadis itu tidak pernah berubah, masih polos seperti sebelumnya. Dengan gerakan pelan Kai mencium kening Krystal, menahannya sedikit lama sebelum memilih untuk menarik diri.
Krystal membuka mata, mengerjap sebentar hingga akhirnya melihat Kai yang perlahan beranjak dari kursinya. Cowok itu menjulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Krystal.
"Abisin susunya." Katanya dan berlalu dari ruang makan itu.
Krystal masih terdiam di kursinya. Mungkin jika Kai bersikap seperti itu tanpa ada batasan yang disebut adik-kakak, Krystal akan merasa sangat bahagia, melebihi semua mimpinya. Tapi, Krystal tidak bisa sebahagia itu saat ini. Ada benteng tak kasat mata yang membuat mereka harus menjauh.
• • •
Tok.. Tok..
"Masuk."
Krystal memutar handle pintu itu sebelum mendorongnya untuk terbuka. "Kakek.." sapanya sumringah sembari memasuki ruangan itu.
"Oh ... Krystal." Kakek Wira melepaskan kaca matanya, dan tersenyum saat tubuh Krystal sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Kakek istirahat dulu yuk. Udah waktunya minum obat." Krystal meletakan nampan berisi obat dan air putih di atas meja kerja kakek Wira.
"Kok kamu yang anter? Sumi kemana?"
"Ada di dapur." Balas Krystal yang sekarang sedang sibuk membuka bungkusan obat. "Krystal yang minta Bi Sumi di dapur aja. Krystal sendiri yang mau antar obat buat kakek."
Kakek Wira tersenyum, sambil menerima obat yang disodorkan Krystal. "Makasih."
Lalu Krystal menyerahkan segelas air putih pada kakek Wira.
Setelah seluruh obat yang harus kakek Wira minum sudah tertelan semua, Krystal segera merapihkan bungkusan obat itu dan meletakan gelas tersebut ke atas nampan.
"Kakek jangan terlalu banyak kerja, istirahat juga penting, kek."
Kakek Wira kemudian beranjak menuju sofa panjang yang ada di dalam ruang kerjanya, sebelum duduk di sana, kakek Wira juga meminta Krystal untuk duduk di sebelahnya.
"Kakek senang sekarang jadi ada yang perhatiin kakek. Dulu, sebelum kamu tinggal di sini, yang inget sama kakek ya cuma si Sumi." Kakek Wira terkekeh saat mengatakan itu, dan dibalas senyuman sendu dari bibir Krystal.
"Kevin sama Morena sibuk sama bisnisnya masing-masing, mana pernah mereka mikirin kesehatan kakek. Apalagi Kai, anak itu ... aduh, kakek sampai harus memijat kepala setiap mendengar masalah yang selalu dia buat."
Seketika ruangan itu menjadi sedikit canggung ketika nama Kai disebut. Krystal menunduk, menatap jari tangannya yang tertaut di atas paha.
"Tapi kakek bersyukur anak itu sudah sedikit menurut, walaupun masih keras kepala." Ada tawa di sela-sela kakek Wira mengatakan itu.
Krystal mengangkat wajahnya, tersenyum tipis memandang kakek.
"Beberapa bulan yang lalu, mungkin sudah lama ... kakek pernah meminta Kai untuk sekolah di Jerman."
Senyum tipis di wajah Krystal perlahan menghilang, dan mendadak perasaannya menjadi tidak enak.
"Tapi anak itu menolaknya. Kai bilang dia mau sekolah di sini saja." Kakek menjeda kalimatnya sebentar. "Kamu tau alasannya karena apa?"
Krystal menggeleng.
"Dia bilang karena gak mau jauh-jauh dari kakek..." terdengar tawa renyah yang keluar dari bibir kakek Wira. "Anak itu haha ... sebenarnya kakek tahu itu hanya alasannya saja, tapi tetap saja kakek merasa senang."
Krystal menyimak sambil tersenyum penuh haru. Satu tangannya menggenggam tangan kakek lembut.
"Kai harapan kakek satu-satunya, setidaknya kalau Kai tidak pergi ke Jerman, kakek bisa melihat dia di sisi kakek sebelum kakek meninggal."
"Kekkk..." potong Krystal cepat. "Ngomong apa sih, kakek."
Kakek Wira terkekeh pelan. "Tapi kemarin kakek benar-benar terkejut ... Kai datang ke ruangan kakek, dan dengan sangat tiba-tiba dia bilang mau melanjutkan sekolah di sana."
Hati Krystal seketika mencelos. "Kai yang minta sendiri jika kepindahannya ke Jerman dipercepat."
Krystal merasakan matanya mulai memanas, cairan bening itu sudah mengenang di pelupuk matanya. Mendengar berita ini menyadarkan Krystal pada satu hal. Kai yang amat sangat membenci dirinya.
"Kek ... ini pasti karena-"
"Kakek tau apa yang ada di pikiran kamu." Sela kakek Wira. "Kakek juga berpikir seperti itu, tapi maaf Krystal, kakek rasa apa yang Kai pilih memang jalan terbaik buat kalian."
"Krystal gak bisa tinggal di sini, kek, karena Krystal, Kai jadi harus pergi ke Jerman." Air matanya tumpah bersama isakan yang memilukan.
"Ini pilihan dia, Krystal."
"Enggak ... Gak seharusnya Kai pergi dari rumah ini." Telapak tangannya mencengram erat ujung roknya. "Kakek, Krystal bisa tinggal di panti, Krystal bisa tinggal dimana pun asal Kai gak keluar dari rumah ini. Krystal gak bisa terima kalau Kai mengambil keputusan ini karena adanya Krystal, kek."
"Nak.. percaya sama kakek, Kai pasti sudah memikirkan ini dengan matang."
Krystal menghapus air matanya. "Ini salah Krystal, kek."
"Gak ada yang salah, sayang."
Lalu pelukan kakek Wira membuat tangisan Krystal semakin pecah.
• • •
Krystal berlari menuruni tangga dengan terburu-buru, tujuannya hanya satu saat ini, dia ingin menemui Kai. Mereka harus berbicara.
"Bi Sumi.." panggil Krystal, membuat wanita paruh baya itu menoleh.
"Iya, non?"
"Bi Sumi liat Kai gak?"
"Den Kai?" Krystal mengangguk dengan nafas yang berantakan. "Tadi sih, bi Sumi liat pagi-pagi banget udah pergi naik motor."
"Bi Sumi tau Kai pergi kemana?"
"Aduh, non, bi Sumi gak berani tanya."
Krystal mendesah pelan. Mengatur nafasnya yang tersendat akibat berlarian dari lantai atas.
"Emang kenapa, non?"
"Ya?" Gadis itu mengerjap, lalu tersenyum kaku ke arah bi Sumi. "Enggak, bi, bukan apa-apa. Yaudah kalo gitu Krystal tunggu Kai di ruang tengah aja, bi."
"Mau bi Sumi buatin minum gak?"
Krystal tersenyum sambil mengangguk. "Hmm.. boleh."
"Oke.. non Krystal tunggu ya." Balas bi Sumi sumringah.
"Makasih ya, bi."
Setelah memutuskan untuk menunggu Kai di ruang tengah, Krystal mendesah berulang kali sambil menatap jam di dinding dengan gelisah. Sudah berjam-jam dia menunggu Kai hingga langit mulai menggelap dan jam menunjukan pukul 10 malam.
Akhirnya, mata Krystal menangkap sosok tubuh tegap yang dia tunggu sejak tadi masuk ke dalam rumah. Kai tampak tenang berjalan melewati ruang tengah tanpa menyadari kehadiran Krystal yang sudah menunggunya di sana.
"Kai.."
Cowok itu menoleh, mendapati Krystal yang berlari mendekatinya. "Aku mau ngomong."
"Silahkan." Kai berkata sambil terus melangkah menaiki anak tangga dan membuat Krystal mengikutinya di belakang.
"Kai mau lanjut sekolah di Jerman?"
Langkah kaki itu terhenti tiba-tiba. Masih dengan pandangan mentapa lurus, Kai tidak berniat sama sekali menoleh ke arah Krystal.
"Bener?"
Kai masih bungkam, dia tidak ingin membahas masalah itu saat ini.
"Kenapa diam?" Krystal menyentuh lengan Kai, membuat cowok itu menoleh ke arah genggaman tangan Krystal.
"Iya." Balasnya melepas tangan Krystal dan kembali menaiki anak tangga.
"Kenapa? Kenapa Kai mau sekolah di sana?" Krystal berlari, lalu berdiri di depan pintu kamar cowok itu saat dia hendak membuka pintu kamarnya. "Jawab aku, Kai."
"Minggir."
Krystal menggeleng, "jawab aku dulu."
"Ini udah jam sepuluh malam."
"Maka itu, Kai jawab dulu pertanyaan aku, nanti baru aku minggir."
Kai menghela nafas pelan sembari menutup matanya guna mencari pertahanan diri. Krystal masih menghalangi pintu kamarnya, hingga mau tak mau Kai terpaksa membuka pintu itu dan mendorong Krystal masuk.
Krystal tersentak, tangan Kai melingkar di sepanjang pinggangnya, membuat tubuh mereka menempel dekat. Cowok itu memaksa tubuhnya masuk ke dalam kamar.
"K-kai."
"Kamu yang minta ini."
"Mak-sud aku, kita bahas ini di luar, bukan di kamar kamu." Krystal perlahan melangkah mundur, hingga membuat lingkaran tangan Kai yang berada di pinggangnya terlepas.
Gadis itu masih berusaha menahan raut terkejutnya sampai Kai tiba-tiba melepas jaketnya, dan membuka kaos yang dia kenakan melewati kepala. Dia melakukan itu di depan Krystal, dan membuat gadis itu menjadi lebih panik.
"K-kai ngapain buka baju?" Teriak Krystal menutup matanya, gadis itu semakin melangkah mundur hingga kemudian dia tersandung pinggiran kasur dan terduduk di sana.
"Gerah." Balas Kai sembari terkekeh kecil.
"Gak lucu ih, buruan pake bajunya."
"Nggak, sebelum kamu keluar."
"Kamu sengaja?" Perlahan Krystal menurunkan tangannya dari wajah. Kini terlihat jelas tubuh Kai yang berdiri di depannya tanpa mengenakan baju. "Iyakan sengaja buat menghindar dari pertanyaan aku?"
"Aku gak mau bahas itu."
"Kenapa?" Tanya Krystal menantang. "Kai mau pergi karena kehadiran aku di rumah ini, iya?"
Kai melengos, beranjak menuju jendela kamar. Tangannya baru saja ingin mengeluarkan bungkus rokok saat suara Krystal kembali terdengar.
"Kai gak perlu pergi, aku bisa kok tinggal di panti."
Tarikan nafasnya terasa memburu, ini yang sebenarnya Kai hindari, saat Krystal kembali menyalahkan dirinya dan memilih untuk mengorbankan perasaannya.
"Bukan karena itu." Sahut Kai.
"Kai bohong. Aku tau Kai menyetujui permintaan kakek untuk lanjut sekolah di sana karena gak mau lihat aku? Kamu benci aku, kan?"
Mungkin Krystal lupa jika Kai bukanlah pengendali emosi yang baik, maka di sela-sela kalimat Krystal barusan, Kai menggeram, menatap ke arah gadis yang sedang duduk di tepi kasurnya.
"Aku gak mau kamu jauh dari keluarga kamu karena aku. Besok aku akan bilang sama ayah- mm.. maksudku papa kamu, kalo aku bakalan pindah ke panti."
Krystal lalu beranjak dari kasur, dia menatap Kai sekilas. "Sejujurnya, aku gak mau kamu membenci aku seperti ini."
Sudah cukup rasanya bagi Kai mendengar gadis itu terus berbicara. Lantas, yang dia lakukan selanjutnya adalah melangkah cepat ke arah gadis itu, menarik tangannya untuk dia hempaskan ke atas kasur lalu merangkak naik dan membungkuk di atas tubuh Krystal dengan kedua tangan mengunci pergerakan gadis itu.
"K-kai.." bola mata Krystal membulat, dan tenggorokannya tercekat. Di tatap Kai sedekat dan setajam ini membuat dia menciut, apalagi dengan posisi mereka yang seperti ini.
"Aku udah bilang kalo bukan itu alasannya." Kai menatap Krystal dengan sendu, walau bagaimanapun, mereka pernah sampai pada satu titik dimana mereka saling mencintai.
Dan Kai menyadarinya, dia mencintai Krystal dan perasaan itu belum berubah.
"Kamu mau tau alasannya?"
Krystal tidak menjawab, lidahnya terlalu keluh untuk bersuara. Maka, Krystal memilih untuk menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Karena ini."
Lalu Kai menempelkan bibirnya di atas bibir Krystal. Menahannya sedikit lebih lama, hingga kemudian Kai kembali memperdalam ciuman itu saat Krystal menutup matanya.
Dan malam ini, mereka menghancurkan benteng tak kasat mata itu.