Nobis

Nobis
Sebuah Alasan



NOBIS


Chap 47






"Emang pantes si Kai di panggil iblis." Luna bertolak pinggang dengan raut wajah kesal, berjalan mondar-mandir di dalam kelas.


Sementara, Krystal hanya terdiam dengan pandangan kosong duduk di kursinya, tanpa memperdulikan ucapan Luna.


"Cowok brengsek, gak punya hati. Gue sumpahin dia kepeleset sampe kepalanya benjol!" Luna melirik Krystal sebentar. Gadis itu masih setia memilin rok sekolahnya sambil menunduk. "Lo gak boleh nangis karena cowok kayak dia, Krys! Kai gak pantes dapet air mata lo!"


"Kai gak seperti itu, Lun."


"Duh ... Krystal!" Luna yang semakin terlihat kesal kemudian menghampiri Krystal dan duduk di sebelahnya. "Lo masih aja ngebelain dia. Udah jelas kan kayak apa kelakuannya! Sialan emang! Harusnya dari awal gue ngelarang lo buat deket-deket itu iblis!"


"Lun.." lirih Krystal pelan, dan hal itu justru semakin membuatnya terlihat menyedihkan. "Aku yakin apa yang Kai bilang itu semua bohong. Dia gak benar-benar bosan sama aku."


"Krys!"


"Kemarin dia bilang sendiri sama aku, Lun, kalo dia gak akan bosen sama aku."


"Krystal!" Luna memutar pundak Krystal hingga gadis itu menatap ke arahnya. Sumpah demi apapun, Luna bisa melihat air mata Krystal yang mulai mengenang di pelupuk matanya, dan dari mata itu sangat terlihat sorot mata yang menyakitkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Lo harus buka mata lo! Iblis gak akan bisa berubah jadi malaikat! Sekali iblis ya iblis! Kenyataan hari ini dia nyakitin lo juga gak bisa lo tutupin! Lupain cowok brengsek itu."


Lelehan cairan bening itu akhirnya tumpah bersamaan dengan isakan kecil yang keluar dari bibir Krystal.


Luna menghela napas, ikut merasakan bagaimana sakitnya perasaan Krystal saat ini. "Jangan nangis dong, Krys. Gue juga ikutan sedih kalo lo kayak gini."


"Kemarin kita masih baik-baik aja, Lun. Kai bilang dia mau jemput aku jam lima. Aku nunggu dia sendirian di rumah, tapi Kai gak dateng juga. Aku gak tidur semaleman, takut Kai dateng ke rumah aku."


Luna menghapus air mata Krystal, menyentuh punggung gadis itu untuk sekedar menenangkannya.


"Lun, aku gak tau salah aku apa sampai Kai bilang seperti itu sama aku."


"Lo gak salah apa-apa. Yang salah itu dia, kenapa jadi cowok harus brengsek banget!" Luna mencebik dengan napas berat.


Krystal menggeleng. "Nggak, Lun. Aku harus ngomong sama Kai. Mungkin aja aku ada salah sama dia. Aku harus minta maaf."


"Krystal!" Bentak Luna yang mulai geram. "Dengerin gue ngapa sih! Kai gak pantes dapet permintaan maaf dari lo!"


Krystal tidak peduli, dia berdiri dari kursinya dan melangkah menuju pintu kelas. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba saat Jesslyn dan teman-temannya menghadang jalan Krystal.


"Wow ... ini nih yang abis dibuang sama Kai." Ujar Jesslyn meledek dan disambut gelak tawa oleh teman-temannya di belakang. "Gimana rasanya dibuang?"


Krystal mundur selangkah, lalu meremat pinggiran roknya saat Jesslyn mendekat. "Maaf, tapi aku buru-buru mau keluar."


"Mau apa lo? Mau ketemu Kai? Gak tau malu lo ya!"


"Heh!" Luna berdiri menghampiri Krystal yang sudah tersudut oleh Jesslyn dan teman-temannya. "Pergi deh lo pada! Bikin rusuh aja bisanya!"


"Duh ... ini nih, satu lagi cewek aneh! Lo tuh berdua sama-sama gak tau diri!" Jesslyn berdiri di depan Luna, dan dibalas dengan tatapan menantang dari cewek itu. "Nih, temen lo udah dibuang sama Kai! Tolong bilangin dia untuk gak jadi murahan!"


Luna yang memang memiliki kesabaran sangat sedikit, mulai emosi mendengar perkataan Jesslyn. Lantas dengan wajah mengeras, dia bersiap memukul wajah cewek itu, tapi tiba-tiba saja ada sebuah suara yang menghentikan perdebatan mereka.


"Stop!!"


Jesslyn berbalik, dan Luna menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, di ambang pintu sudah ada Airin yang berdiri sambil bersidekap.


"Ngapain lo pada di sini?" Bentaknya pada Jesslyn dan anggota grup pencinta Kai yang lain.


"Rin, lo udah tau kan berita Kai ngebuang si cupu?" Ujar Jesslyn antusias.


Sementara itu, Airin berjalan melewati kerumulan itu dan berdri di tengah-tengah, memisahkan Krystal dan Luna dengan Jesslyn bersama teman-temannya.


"Mending lo pada pergi!" Usir Airin pada Jesslyn.


"Loh, Rin?" Cewek itu terlihat bingung. "Kita lagi ngasih pelajaran sama ini anak." Tunjuknya ke arah Krystal.


Airin berdecak, "gue bilang lo pada pergi, jangan ganggu dia lagi! Apa mau lo semua yang gue kasih pelajaran!"


"Gak bisa gitu dong, Rin." Sahut Mia, cewek yang di kuncir kuda. "Kita harus kasih dia pelajaran karena udah ganggu Kai."


"Ohh.. jadi lo semua yang mau gue siram." Bentak Airin begitu melihat botol-botol air mineral yang sudah mereka bawa untuk menyiram Krystal tadi.


Jesslyn berdecak. Kesal kenapa Airin harus membela gadis cupu seperti Krystal.


"Pergi atau gue siram?" Bentak Airin lagi.


"Iya-iya!" balas Jesslyn malas. "Udah yuk genks, kita balik aja." Ajaknya pada semua anggota.


Mereka akhirnya pergi dari kelas Krystal dengan wajah kesal dan decakan malas. Padahal mereka sudah menyiapkan air untuk menyiram Krystal, seperti yang mereka lakukan dulu saat tahu Kai berpacaran dengan gadis itu.


"Gak apa-apa 'kan lo?" Tanya Airin begitu berbalik menatap Krystal. Wajahnya masih terlihat angkuh dengan nada dingin.


Krystal menggeleng, lalu tersenyum. "Makasih, kak."


"Ngapain sih lo?" Sentak Luna yang memang merasa jika Airin dan Jesslyn itu masih sama. Sama-sama ngeselin.


Airin berdecih, meneliti kukunya dengan sombong. "Duh ... gue gak ada urusannya sama lo. Urusan gue cuma sama si cup- eh ... sama temen lo."


"Gue tau ya, lo sama mereka itu sama! Satu komplotan, masih sejenis kan!?"


"Ampun deh nih org, gue dateng ke sini cuma mau ngusir mereka. Jadi, gue males dengerin khotbah lo yang panjang lebar ngalor ngidul gak jelas itu! Gue balik! Bhay!" Airin langsung melangkah menuju pintu, tapi saat di ambang pintu, cewek itu berbalik dan menatap Krystal.


"Gue minta maaf." Katanya pelan, sedikit angkuh. "Dan yang harus lo tau, Kai cinta banget sama lo." Lalu tubuhnya menghilang dari balik pintu setelah selesai mengatakan itu.


Krystal dan Luna hanya saling pandang tidak mengerti. Kemana Airin yang selalu menggebu-gebu saat berhadapan dengannya. Lalu untuk apa cewek itu membantu Krystal lepas dari Jesslyn.


"Ini perasaan gue aja, apa lo juga berpikiran sama kayak gue?" Tanya Luna curiga.


• • •


Sean melangkah terburu-buru mengejar Kai yang saat ini sedang menuju taman belakang sekolah setelah berhasil mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan pada Krystal.


Sean merasa jika Kai sudah keterlaluan terhadap Krystal, maka dengan emosi dan amarah yang mewakili isi hati gadis itu, Sean menarik pundak Kai kasar, lalu melemparkan pukulan ke wajah cowok itu.


"***!" Kai jatuh tersungkur di tanah. "Maksud lo apa ngebuat Krystal sampe nangis kayak gitu!?"


"Woi... woi.. ini kenapa jadi berantem kayak gini sih!" Chandra berlari, lalu berdiri di tengah-tengah mereka untuk mencoba memisahkan keduanya.


"Lo diem aja, Chan! Gue mau ngasih pelajaran sama cowok brengsek ini!" Sean menarik kerah baju Kai, menariknya berdiri. Kemudian tangannya berayun bersiap memukul.


Chandra yang reflek langsung menahan lengan Sean cepat. "Yan, lo nggak bisa gini!"


Kai yang mulai merasa tertantang, lalu tertawa sarkas kemudian tersenyum miring. "Mending lo minggir, tai!" Ujarnya pada Chandra, dia kembali menatap Sean sambil berdecih. "Gue pengen tau sekeras apa pukulan dia."


Kalimat itu tentu menyulut emosi Sean lebih besar. Dia kemudian menarik tangannya dengan keras dari cengkraman Chandra, hingga satu pukulan berhasil Sean lepaskan, dan membuat Kai kembali tersungkur di atas tanah.


Kai meludah, luka pada bibirnya semakin bertambah lebar. Dia kembali menyeringai, mengusap bibirnya yang berdarah dan menatap Sean dengan senyum meremehkan.


"Segitu doang?" Kai berdiri, mengepalkan tangannya erat-erat. "Gue ajarin, cara mukul yang bener!"


Tanpa aba-aba, cowok itu melesat maju menuju Sean. Mengangkat tangannya yang terkepal dan memukul wajah Sean cepat.


Bugh


Satu pukulan tepat mendarat di pipi Sean, cowok itu tersungkur dengan darah segar yang keluar dari hidungnya. Hanya butuh beberapa detik bagi Sean menarik napas hingga Kai kembali memukulinya.


Sean tidak tinggal diam, dia menendang perut Kai dengan keras membuat cowok yang tadi berada di atasnya itu terpelanting jatuh ke atas tanah. Dengan napas terengah, Sean kembali memukul wajah Kai, dan begitupun sebaliknya.


Mereka saling memukul, saling menendang, sampai tubuh keduanya bergulingan di atas tanah. Bahkan seragam sekolah mereka sudah tidak berbentuk lagi.


"Eh.. stop! Lo pada gila apa? Woi!" Chandra terlihat gemas namun sulit untuk memisahkan mereka. "Duh.. lo mau pada mati ya!?"


Kai kembali jatuh ke tanah dengan Sean di atas tubuhnya. Pukulan bertubi-tubi itu Sean lepaskan pada wajah Kai. Namun, tiba-tiba saja Sean menghentikan kepalan tangannya di atas kepala.


Matanya menyalang dengan napas yang tidak beraturan. Sean terdiam, begitupun dengan Kai. Mereka masih mencoba mengatur napas, hingga Sean kembali bersuara.


"Gue nyesel ngebiarin Krystal jatuh ke tangan lo!"


Kai terkesiap. Bergeming dengan napas naik turun mencerna kalimat yang baru saja Sean katakan.


"Seharusnya gue nggak ngelepasin dia buat lo! Krystal terlalu baik untuk orang kayak lo!" Napas Sean memburu bersamaan kalimat yang dia lontarkan.


"Yan," Chandra melongo bingung. "Lo.."


Tangan Sean turun dan kepalan pada tangannya terlepas. "Gue suka sama Krystal dari awal dia nyamperin kita! Cewek yang berani ganggu kita saat itu. Dia ... dia bener-bener nggak pantes buat lo!"


Napas Kai mendadak tercekat, bahkan dia tidak sadar jika tubunya mendadak lemas tanpa kekuatan untuk membalas ucapan Sean.


"Krystal terlalu berharga buat lo sakitin!" Sean jatuh terduduk lemas di atas tanah, mengusap wajahnya kasar. "Gue gak bisa lihat dia nangis kayak gitu.. gue-"


Bugh


Dengan tiba-tiba Kai beringsut lalu memukul pipi Sean keras, membuat Sean yang sekarang tersungkur ke tanah. Kini menjadi terbalik, Kai berada di atasnya dan memukul Sean dengan membabi buta.


"Harusnya nggak lo lepasin!" Teriak Kai menarik kerah seragam Sean. "Lo pengecut, payah! Lo bego karena udah ngebiarin dia deket sama gue! Seharusnya lo rebut dia dari gue!"


"Kenapa? Lo nyesel udah nyakitin dia? Apa lo kurang puas nyakitin dia?" Sean mendorong Kai yang berada di atasnya. "Lo brengsek, Kai!! Kenapa lo harus ngelakuin ini ke Krystal!?"


"Lo nggak akan ngerti!" Teriak Kai. "Lo berdua gak akan ngerti!"


"Tapi cara lo juga gak bisa bikin kita ngerti, Kai!" Sahut Chandra.


Kai terdiam, menjenggut rambutnya kasar. Sesekali dia menggeram kesal dengan napas naik turun.


"Kenapa lo diem?" Sean beringsut. "Lo diem karena lo tau lo breng-"


"Krystal anak bokap gue."


Hening.


Sean mengerjap bingung, sementara Chandra tertawa kecil seolah ucapan Kai barusan adalah sebuah lelucon.


"Haha.. lo becanda?"


"Krystal anak bokap gue dari selingkuhannya." Lanjut Kai dengan nada rendah. "Gue benci mereka!"


Chandra hanya melirik Kai dan Sean bergantian tanpa tau apa yang harus dia katakan. Dan Kai, cowok itu hanya menundukkan kepalanya dalam bersamaan dengan hatinya yang menjerit perih.


"Lo benci sama orang yang salah." Sambar Sean.


Kai menyeringai. "Lo tau apa? Dia sama ibunya udah ngancurin keluarga gue!" Bentaknya dengan keras.


"Dan lo pikir cara lo bener?" Sean berdecak hingga rahangnya mengeras. "Lo emang bener-bener brengsek!"


Seketika Kai terpelanting kembali setelah Sean berhasil memukul rahangnya keras. Karena masih terbawa emosi, Kai pun membalas perlakuan Sean barusan. Mereka kembali berkelahi, memukul satu sama lain.


Chandra yang melihat ini semua sudah kelewat jauh, langsung segera menarik lengan Kai. Menahan cowok itu untuk tidak memukul Sean lagi. "Udah woy!"


Namun siapa sangka, Kai berontak dengan brutal dan menjadikan Chandra korban pukul selanjutnya.


"***! Kenapa gue dipukul!" Teriak Chandra geram.


"Lo banyak ngomong, tai!" Desis Kai menyeringai.


Merasa tidak terima oleh aksi Kai padanya, lantas Chandra mengepalkan tangannya, menarik napas panjang sebelum akhirnya balas memukul Kai.


Satu pukulan telak mengenai pipi kiri Kai, sontak itu membuat api di dalam dirinya semakin berkobar. Kai berdecih, menatap Chandra dengan bringas.


"Anjing! Lo berani sama gue!" Bentak Kai.


Chandra beringsut mundur, takut. "Yaa... nggak berani sih," lalu terdiam sebentar sambil berpikir. "Tapi bodo amatan! sini lo maju!" Lanjutnya lagi dengan kuda-kuda.


Kai kembali memukul Chandra sehingga cowok itu tersungkur. Chandra bangkit, berdiri dan bersiap membalas Kai. Untuk beberapa saat mereka berkelahi, saling memukul dan menendang.


Sementara itu, Sean yang kehilangan lawannya mulai berdiri, memisahkan mereka berdua lalu menarik punggung Kai untuk kembali dia pukul.


Setelah memukul Kai hingga cowok itu tersungkur, Sean berdecih sambil mendorong badan Chandra. "Gue bilang lo nggak usah ikut campur, setan!"


"Kok lo nyolot tai!" Chandra yang merasa tidak terima, mulai tersulut emosinya dan berbalik memukul Sean.


Hingga akhirnya, mereka bertiga saling pukul. Terkadang Kai memukul Sean, Sean memukul Chandra, Chandra memukul Kai, dan begitupun sebaliknya. Mereka memukul siapapun yang ada di depan mereka. Melepas amarah yang tidak tahu harus diberikan kepada siapa.


Persahabatan kadang sekonyol itu.


• • •


beri komentar ❤