Nobis

Nobis
Epilog



N O B I S


Epilog






Krystal mematut dirinya beberapa saat di depan cermin wastafel, membasuh wajahnya dengan air agar mata sembabnya bisa tersamarkan. Dia juga menata rambutnya yang digerai dan menghela nafas pelan setelah merasa penapilannya sudah sedikit membaik.


Apapun yang terjadi, dia tidak bisa terus menerus mengurung dirinya di dalam kamar, bagaimana jika ayah mencarinya, dan mendapati anak perempuannya sedang menangis karena ditinggal pergi oleh anak lelakinya. Ayah Kevin pasti akan curiga. Untuk itu Krystal tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.


Dengan hembusan nafas kasar, Krystal membuka pintu kamar dan keluar untuk menyapa penghuni rumah lainnya. Tapi, begitu langkah kakinya menuju tangga, ayah Kevin memanggil namanya.


"Ayah?" Krystal menghapiri lelaki tua itu. "Ada apa?"


"Bisa ayah bicara sama kamu sebentar?"


Dari raut wajahnya, Krystal bisa melihat jika apa yang akan Kevin katakan adalah sesuatu yang serius. Gadis itu mengangguk tersenyum. "Hmm.. bisa."


Krystal mengikuti Kevin yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia meminta Krystal untuk duduk di sofa panjang di sebelahnya, pria itu memandangi putrinya dengan tatapan sendu sebelum akhirnya memulai pembicaraan.


"Kamu ke bandara tadi?" Seketika saat itu juga Krystal merasakan sekujur tubuhnya menegang, dan jantungnya terpompa cepat. Dari mana ayah tau?


"Krystal," Kevin meraih tangan putrinya yang terkepal gugup. "Maaf, tadi ayah gak sengaja masuk ke kamar kamu dan menemukan ini." Diraihnya selembar kertas yang ada di atas meja dan menunjukannya pada Krystal. "Ayah sudah membaca semuanya."


Krystal tidak bisa lagi menutupi keterkejutannya. Kedua mata gadis itu melebar sempurna dan nafasnya seketika tercekat saat melihat kertas yang berada di tangan Kevin.


Kertas itu adalah surat yang Kai tulis untuknya. Tidak hanya itu, Kevin juga sudah melihat sketsa wajah Krystal yang bertuliskan "You are my greatest Imagination"


"A-ayah.. Krystal bisa jelasin ini semua."


Kevin menghela, berusaha berpikir positif jika semua ini hanya kesalahpahaman saja. Tapi entah mengapa perasaannya malah merasakan sebaliknya. "Sebelum kamu jelasin, boleh ayah tanya sesuatu?"


Krystal mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu sama Kai ... ada hubungan?"


Dia terdiam. Ekspresi gugup di wajahnya seketika berubah tegang lalu kaget, kemudian menjadi pucat pasih. "Ayah.."


"Jawab saja." Kevin mengelus pundak Krystal yang bergetar, air mata gadis itu mulai mengenang. "Kamu dengan Kai ada hubungan lebih sebelum ayah membawa kamu ke sini?"


"Maafin Krystal, yah." Jawabnya terisak.


Kevin terdiam kaget dengan tubuh lemas. Tangannya yang sempat merangkul bahu Krystal perlahan terlepas. Beberapa saat dia hanya duduk memejamkan mata tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Rasa bersalahnya berputar-putar kembali seolah membuatnya tidak bisa keluar dari rasa itu. Kevin sampai kehilangan kalimatnya. Dia tidak tahu bagaimana cara mengakhiri semua kesalahan ini.


"Ayah ... maaf. Ini salah Krystal."


Isakan Krystal yang berdengung di telinganya menyadarkan Kevin pada banyak hal, dia sudah mengacaukan segalanya, menyakiti anak-anaknya. Dan yang lebih parah, dia merusak kebahagian Krystal.


"Bukan kamu yang salah, ini semua salah ayah."


Krystal menggeleng cepat. "Jangan bilang seperti itu, semua ini memang kesalahan Krystal, seandainya aja Krystal gak lahir ke dunia-."


"Sstt..." Kevin membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Tidak ada yang salah di sini, baik kamu, maupun Kai, kalian tidak bersalah. Semua salah ayah ... ini salah ayah."


"Maaf, ayah..."


"Jangan meminta maaf ... bukan salah kamu. Perasaan yang kamu miliki pada Kai itu bukan sebuah kesalahan."


"Tapi Krystal sama Kai itu adik-kakak."


Ayah Kevin mendesah pendek, lalu melepas pelukan itu. Matanya menatap dalam pada wajah Krystal. Gadis itu benar-benar mirip dengan Alisa.


"Krystal ... apapun yang akan ayah katakan, kamu harus tau satu hal. Kamu tetap anak ayah. Tidak peduli pada apapun itu, kamu akan tetap menjadi anak ayah."


Laju air mata Krystal semakin deras. Kepalanya terus menunduk seolah merasa sangat bersalah pada sang ayah.


"Maaf karena ayah terlalu takut untuk menceritakan ini semua." Lalu telapak tangannya menangkup wajah Krystal, membuat dirinya dapat melihat kedua mata bulat sedang menatapnya tanpa binar. Kevin kemudian menghapus air mata yang menetes di kedua pipi putrinya.


"Maaf karena ayah menutupi ini dari kalian." Kevin lagi-lagi mendesah pendek, perlahan kedua tangannya turun menuju bahu Krystal, membuat gadis itu semakin tidak mengerti. "Kamu dan Kai ..."


"...."


"Bukan saudara."


• • • •


yang mau bonus chapter, jadiin likenya seribu doooonnggg hahahhaa


becanda...pokoknya kalo komen sama like nya heboh aku up bonus chapternya 😂😂😂