
NOBIS
Chap 55
•
•
•
•
Setetes air mata yang dia rasakan di sela-sela ciuman itu membuat Kai menarik diri. Dia menatap Krystal yang sedang memejamkan mata erat bersamaan dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Kita gak bisa seperti ini, Kai. Gak boleh." Krystal perlahan membuka matanya. "Kamu kakak aku." Lalu isakan kecil mulai terdengar.
Kai mendesah, beranjak dari posisinya dan duduk di tepi kasur. Dia menarik rambutnya kasar, merasa benci setiap kali menyadari jika ada benteng tak kasat mata yang disebut kakak-adik antara dirinya dan Krystal.
"Sekarang kamu tau 'kan alasan aku nerima permintaan kakek." Kai menghela, menoleh sedikit ke arah Krystal. "Krys, kita gak bisa berdekatan kayak gini, aku gak bisa menahan semuanya, terutama hati aku. Jalan satu-satunya yang harus kita lakukan adalah saling melupakan."
Masih terisak, Krystal ikut duduk dan menatap Kai dengan mata sendunya. Cowok itu berbalik, menyentuh wajah Krystal dengan kedua tangan, lalu mendekatkan wajah mereka. "Aku minta kamu mengerti."
"Maaf kalo aku buat kamu susah."
"Sstt.. kita butuh waktu." Kai menyatukan dahi mereka. "Setelah hari ini selesai, aku mohon, lupain aku, Krys."
Krystal membasuh wajahnya dengan air kran berulang-ulang, dingin yang dia rasakan membuatnya sedikit nyaman. Sambil menghela nafas berat Krystal mengangkat wajahnya dan memandangi pantulan dirinya dari balik kaca wastafel yang ada di dalam kamar mandi.
Krystal mendapati wajahnya sembab dengan mata memerah. Hatinya menjerit sakit, lalu Krystal memejamkan matanya erat, membiarkan air mengalir dari pelipisnya, menuju dagu hingga menetes ke bawah.
Kejadian beberapa jam yang lalu terus berputar di kepalanya, saat dia dan Kai hampir melewati batasan itu. Krystal tidak mengerti, sakit di hatinya seolah tersamarkan begitu Kai mencium bibirnya. Rasanya begitu menenangkan, namun Krystal buru-buru tersadar jika apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, dosa besar yang harus mereka hindari.
"Sakit, Bu.. Krystal gak kuat." Lirihnya sembari *** kain berlapis di depan dadanya.
• • •
Harusnya Morena tidak tenggelam terlalu dalam saat Kevin mengatakan ingin menikahinya dulu. Sast usia mereka masih remaja, saat belum ada sisi egois yang mereka kenal satu sama lain.
"Mau menikah denganku?"
Dulu kata-kata itu mampu membutakan hati Morena. Kevin mampu menyita waktunya begitu banyak hanya untuk memandangi laki-laki itu. Dia tenggelam pada wajah tenang milik Kevin. Tapi, Morena mungkin lupa jika air yang tenang menyimpan banyak rahasia.
Morena jatuh cinta, di usia muda dan di puncak karir yang baik, Morena memilih melepas status ke Artisannya, dia menetapkan hati untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk keluarganya. Namun, sembilan bulan pernikahan mereka, Morena harus di kejutkan dengan kenyataan pahit. Hingga dia terjebak pada satu nama yang disebut pengertian.
"Aku mau pisah."
Kevin tersentak, menolehkan kepalanya menatap sang istri yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Kamu gila?"
"Katakan saja seperti itu. Iya, aku gila, dan aku ingin kita berpisah."
Kevin berdiri, melangkah cepat menuju perempuan yang sudah dia nikahi hampir selama delapan belas tahun itu. "Aku gak mau dengar omong kosong itu lagi."
Morena berdecak. "Omong kosong? Harusnya itu kamu ucapkan pada janji kamu delapan belas tahun yang lalu."
"Ren, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa harus ada perpisahaan." Kevin mendesah.
"Apa yang harus dibicarakan?" Lirih Morena, kedua matanya berkaca-kaca. "Kamu lihat, aku gak sekuat dulu. Kamu nyakitin aku terus menerus Kevin!"
Kevin terdiam, berbalik tidak ingin menatap Morena yang menangis.
"Sudah berapa tahun kita bersama? Dan aku menahan itu sampai saat ini. Sampai akhirnya aku menyerah."
"Kai sudah dewasa, dia sudah mengerti dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Jadi, aku mau kita berpisah."
"Cukup!"
"Aku mau kita cerai!"
"Berhenti, Ren!" Kevin membalikan tubuhnya, menatap Morena dengan amarah yang bertambah.
Perempuan yang dulu begitu ceria dengan celotehannya, perempuan yang dia suka karena selalu tersenyum dalam keadaan apapun, kini terlihat sangat kacau. Air matanya menetes tidak berhenti, dan itu semua akibat kecerobohannya.
"Jangan seperti ini aku mohon." Kevin memegang kedua pundak Morena. "Aku sayang kamu sama Kai."
"Berhenti berbicara bohong!" Sambar Morena pelan, air matanya masih menetes, membasahi pipi hingga bibirnya yang pucat tanpa polesan pewarna.
"Ren, bantu aku perbaiki ini semua."
"Gak ada yang bisa diperbaiki, Vin. Kita sudah hancur."
"Nggak!" Kevin menggeleng, semakin memepersempit jarak mereka. "Maafin kesalahan aku."
"Aku selalu maafin kamu. Sudah berapa banyak aku menerima permintaan maaf kamu! Aku sakit, Vin. Melihat Krystal membuat aku mengingat semuanya, rasa sakit yang kamu beri terlalu banyak."
Morena terdiam, tenggelam bersama kenangan yang menyiksanya tanpa sayatan. Kevin memang tidak menyakiti fisiknya, tidak menusukan belati di hatinya. Tapi semua cinta yang laki-laki itu ucapkan dulu seolah membunuh Morena secara perlahan.
"Ren, Apa yang bisa aku lakukan buat kamu? Beri aku cara untuk menebus semuanya. Apapun itu asal bukan perpisahan, aku gak akan memberikannya." Kevin melirih, tidak ada satu orangpun yang tau seperti apa perasaanya saat ini. Dia sama tersiksanya, perbuatan yang dia lakukan juga menyakiti hatinya sendiri.
Kevin sangat mencintai Morena, itu adalah kenyataan. Dia mencintai keluarganya, itu juga adalah kejujuran. Tapi, ada satu nyawa lain yang harus dia pertanggung jawabkan. Yaitu Krystal.
"Baik. Kalo gitu, bisa kamu sekolahkan Krystal ke Luar Negri?"
• • •
Krystal memundurkan tubuhnya perlahan, tangan yang sempat berada pada handle pintu terlepas lemas begitu saja.
Sekujur tubuhnya kaku dan air mata tidak bisa lagi dia cegah.
Krystal mendengar semuanya, semua pembicaraan Morena dan Kevin di dalam sana. Cangkir kopi yang ada di genggamanya bergetar seiring kalimat yang Morena keluarkan.
Dia telah merusak semuanya.
Itu yang Krystal pikirkan. Jika memang terjadi perceraian, dialah orang pertama yang harus disalahkan. Mengapa kenyataan yang menyakitkan bertubi-tubi menimpanya. Salahkah dia terlahir ke dunia ini?
"Ngapain?"
Krystal terhenyak, buru-buru menghapus air matanya sebelum menoleh ke arah sumber suara.
"Oh.. Kai." Balasnya, dengan senyum yang dipaksakan. "Udah pulang." Lanjutnya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ngapain di depan pintu?" Kai mendekat, pertanyaan itu hanya pancingan karena sejak tadi dia sudah melihat semuanya.
"O-oh.. ini, mau kasih kopi buat ayah." Krystal melipat bibirnya. Menyebut kata ayah di depan Kai selalu membuatnya gelisah. "Hm.. tapi nanti aja deh, kayaknya kopi ini udah dingin."
Lalu mata Kai beralih menatap secangkir kopi di tangan Krystal. Sedikit asap dari panas kopi dapat terlihat olehnya.
"Oh.." balas Kai datar sambil berlalu dari hadapan Krystal.
Gadis itu menghela, kembali menatap pintu di depannya dengan nanar.
Ibu, Krystal harus apa?
• • •
Hari ini, jam pelajaran ketiga di kelas Krystal diisi dengan mata belajar Olah Raga. Seperti biasa, jika pelajaran telah selesai murid laki-laki bebas bermain bola basket dan murid perempuan akan berdiri di pinggir lapangan sambil memperhatikan murid laki-laki bermain.
Luna menarik paksa tangan Krystal agar ikut berdiri di pinggir lapangan. Sejak tadi pagi, Luna merasa Krystal begitu pendiam. Bahkan saat pelajaran Bu Indah tadi, Krystal ketahuan melamun. Luna sedang berusaha membuat gadis itu semangat walau hanya bersorak-sorak di pinggir lapangan.
"Ayo, Krys tepuk tangan. Lemes amat sih lo, kayak ayam tetangga gue." Luna menyenggol bahu Krystal pelan. "Ayam tetangga gue lemes gara-gara salah makan, besoknya mati."
Krystal menghela. "Aku lagi males ikut teriak-teriakan, Lun."
"Teriak itu bisa melepas stress tau!" Luna mengangkat tangan Krystal ke atas. "Wooooo... ayoooo..."
"Apasih, Lun." Krystal menarik turun tangannya. "Aku balik kelas aja ya?"
"Yah.. kok balik, gak seru ah."
"Banyak temen-temen yang lain, kamu sama mereka aja ya. Aku mau istirahat di kelas."
"Gak asik lo mah."
"Kapan-kapan aku asik deh."
Luna mendengkus. "Yaudah sana." Sedikit cemberut. "Bisa balik sendiri kan ke kelas?"
Krystal **** senyum tipis. "Bisa, Lun."
Bersamaan dengan tubuh Krystal yang berbalik, saat itu juga ada sebuah bola yang tidak sengaja terlempar ke arahnya, lalu mengenai pundak Krystal sangat kencang hingga tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke tanah lapangan.
"Krystal!!" Jerit Luna panik. "Lo gak apa-apa?"
Luna ikut bersimpuh di depan Krystal, mengusap punggung gadis itu lembut. "Sakit gak, Krys?"
Krystal hanya bergeming dengan wajah menunduk. Itu membuat Luna semakin panik.
"Wooii, lo goblok banget lempar bolanya!" Kesal Luna kepada Bayu, cowok yang tadi melempar bola.
"Sory, sory.." Bayu berlari dari tengah lapangan menghampiri mereka. "Gue gak sengaja."
"Gak sengaja gimana! Lihat nih Krystal kesakitan. Bisa main gak sih lo, Bay! Besok-besok lo main bola bekel aja lah, main basket lempar bola aja melenceng!"
"Minta maaf lo!" Desis Luna.
"Iye!" Bayu membungkuk, mencari wajah Krystal. "Krys. Gue minta maaf ya. Sumpah yang tadi gak sengaja. Jangan marah, ya.."
Bayu terlihat takut, lalu ia bersimpuh di sebelah Krystal, namun sepertinya Krystal tidak ingin merespon apapun, wajahnya masih menunduk.
Mendadak semua orang menjadi panik. Dengan posisi terduduk di atas lapangan, bahu Krystal perlahan bergetar. Lalu isakan kecil mulai terdengar darinya.
"Krys.. lo nangis?" Luna semakin panik, wajahnya terlihat bingung dan gelisah. Pasalnya, ini kali pertama ia melihat Krystal menangis seperti ini. Luna kenal Krystal sebagai cewek yang kuat, walaupun gadis itu jatuh dan berdarah, dia tidak akan pernah menangis.
"Tuh.. gara-gara lo nih Krystal jadi nangis. Awas aja kalo punggungnya lecet! Gue panggilin Hotman Perancis lo!"
Bayu tidak peduli dengan celotehan Luna, cowok itu masih fokus pada tubuh Krystal yang bergetar, dengan suara isakan menyedihkan. "Krys, serius gue gak sengaja. Berani sumpah kesamber petir deh gue."
Krystal kembali tidak merespon, membuat Bayu menatap Luna takut. "Kai bakalan mukulin gue gak ya?"
"Ish.. jangan nyebut nama itu di sini deh Bay, mual gue dengernya. Peduli amat sama itu orang!" Luna berdecak, sembari beralih melihat Krystal yang masih menangis. "Sakit yang mananya, Krys?"
Krystal makin terisak, kali ini tangannya terjulur untuk menekan dadanya, menepuk-nepuk pelan seolah ada benda besar yang menghimpit jantungnya hingga terasa sesak.
"Sakit, Lun."
"Sakit banget? Mau ke UKS gak?" Wajah Luna meringis, Krystal hanya terdiam tidak bersuara dengan tangan yang terus memukuli dadanya. "Yang mana yang sakit, bilang ke gue, Krys."
"Sakit, Lun. Di sini sakit banget." Isakan itu semakin besar, hingga terdengar jelas ke seluruh murid yang mengerubunginya.
"Punggung lo yang sakit?"
Krystal menggeleng. "Sakit, Lun. Dada aku sesak. Rasanya sakit banget, aku gak kuat."
Luna mendesah miris. Sampai disini dia paham apa yang Krystal maksud. Sakit pada punggungya mungkin tidak seberapa di banding sakit yang tidak terlihat oleh mata, sakit yang Krystal rasa di dalam sudut hatinya.
"Sakit.. aku gak kuat."
"Lo kuat. Ada gue di sini." Luna merengkuh tubuh Krystal, memeluknya erat. "Jangan nangis, Krys."
"Rasanya sakit, Lun. Sesak. Sampai air mata aku gak bisa behenti. Aku gak bisa nahan ini semua."
"Sstt.. Krystal anak kuat. Yakan?"
"Lun.." suara itu semakin lirih, hingga Luna mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung belakang Krystal lembut.
• • •
Krystal berbaring di ranjang UKS, memiringkan badannya sambil menatap ke luar jendela. Hujan rintik-rintik yang membasahi kaca jendela membuatnya terpaku pada itu. Setelah Luna mengantarnya ke UKS, Krystal meminta cewek itu untuk meninggalkannya sendirian di sini. Krystal ingin sepi, dia butuh ketenangan.
Hujan diluar sana seperti penggambaran hati Krystal saat ini. Mendung, tak bercahaya. Krystal sudah puluhan kali menghela nafasnya hanya untuk membebaskan rasa sesak di dada. Dia merasa sulit bernafas.
Mata Krystal masih sibuk menatapi tetesan air hujan yang menempel di jendela saat ranjang sebelahnya berderit, seseorang berbaring di sana. Krystal berbalik, beranjak terduduk di tepi ranjang.
Krystal merasakan tubuhnya bergetar begitu wangi aroma yang dia hafal tercium olehnya. Matanya kembali memanas dan cairan bening itu siap tumpah kapanpun. Tangan Krystal terangkat untuk menyibak gorden pembatas antara ranjangnya dengan ranjang di sebelah.
Matanya langsung menangkap tubuh Kai yang terduduk di tepi ranjang dengan wajah menunduk menghadap ke arahnya. Cowok itu terlihat sama hancurnya dengan Krystal.
"Kenapa Kai di sini?"
Kai mengangkat wajahnya, lalu berkata, "Bosen di kelas."
"Jangan gitu, nanti ranking 78-nya diambil Chandra loh." Ujar Krystal mencoba mencairkan suasana.
Kai terkekeh, lantas ia berdiri, menghampiri Krystal. "Punggungnya masih sakit?"
Aroma tembakau sehabis di bakar langsung tercium oleh Krystal.
Gadis itu malah melemparkan pertanyaan. "Kamu abis ngerokok, ya?"
"Sedikit."
"Kai-"
"Udah diobatin belom punggungnya?" Sela Kai cepat.
Selalu seperti itu, Krystal merasa terombang ambing dengan sikap Kai. Terkadang ia manis sampai rasanya Krystal tidak bisa lagi berpaling dari cowok itu, dan kadang sikap Kai terlihat acuh dan tidak peduli padanya.
Krystal bingung harus menanggapinya seperti apa, jika seperti itu, bagaimana Krystal bisa baik-baik saja saat Kai pergi nanti.
"Kita udah janji 'kan untuk tidak saling peduli." Kai terdiam. "Kenapa Kai ke sini? Harusnya Kai gak usah peduliin aku."
"Gue cuma berusaha untuk jadi kakak yang baik."
Krystal terhenyak, dia tidak pernah mengira jika jawaban Kai akan membuat sudut hatinya semakin sakit.
"Kalo dari bulan lahir, gue lebih tua dari lo." Sudut bibir Kai tertarik ke atas. "Berarti, gue yang jadi kakaknya 'kan?"
Krystal bungkam.
"Sebentar lagi gue bakalan pergi ke Jerman, lo tenang aja, gue ngelakuin ini semata-mata hanya lagi berusaha untuk menjadi kakak yang baik buat lo sebelum akhirnya kita gak akan bertemu lagi."
Tanpa Krystal tau, Kai mengucapkan itu sambil menahan beribu-ribu bara api yang membakar hatinya. Sakit dan menyesakan.
"Mungkin selamanya ... kita gak akan ketemu lagi."
"Maksud kamu?"
"Setelah lulus, gue minta bokap buat ngurus perusahaan yang ada di sana. Tanggung jawab gue jadi makin besar, maka itu gue bakalan tinggal selamanya di sana."
"T-tapi.."
"Gue udah bilang sama kakek kalo gue gak bisa nerusin Yayasannya. Jadi gue pikir emang lo yang lebih pantes untuk itu." Kai terdiam sebentar, menatap mata bening yang tak berbinar itu. "Elo cucuk kakek juga."
Kepala Krystal menggeleng pelan dengan air mata yang mulai menggenang. Gadis itu masih berusaha menahan tangisnya. "Kai ... gak mungkin. Aku gak berhak untuk itu."
"Lo berhak." Kai menarik nafasnya sebentar, lalu kembali tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. "Ini yang udah gue rembukin sama kakek. Dengan cara seperti ini kita akan semakin menjauh, dan kemungkinan bertemu akan semakin tipis."
"Apa kamu akan bahagia?"
"Pastinya. Setau gue di Jerman ceweknya cantik-cantik. Ya lo tau kan, gue bisa dapet cewek manapun yang gue-"
"Jadi seperti itu cara kamu melepas aku?"
"Gue cuma berusaha un-"
"Gimana sama aku?" Sela Krystal dengan air mata menetes di pipinya.
Kai tertegun, menatap gadis itu dengan tarikan nafas frustasi. Kai memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Lo bisa jalan sama cowok manapun, di sekolah ini banyak. Nah sih Rekha, dia bilang mau jadiin lo pacar, kenapa lo gak pacaran aja sama dia."
"Kenapa kamu gampang banget bilang itu."
"Gak ada cara lain."
Krystal tidak berkata apapun lagi. Matanya hanya menyoroti Kai dengan air bening yang menggenang. Kai memang terdengar sangat egois, tapi percayalah ini juga yang terbaik untuk Krystal.
"Mari kita buat segalanya jadi lebih mudah, semakin gue gak ngeliat lo semakin cepat juga gue ngelupain semuanya. Mungkin lo akan merasa tersakiti, tapi waktu akan menyembuhkan. Bahkan lebih dari itu, mungkin waktu pula yang akan membantu lo lupa sama gue."
"Jika tidak?"
"Lo bisa."
"Kalau aku gak bisa ngelupain kamu?"
Kai menghirup napas dalam-dalam. Ia sudah bertekat membuat semuanya kembali seperti semula. Ia akan memastikan jika Krystal akan baik-baik saja dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik gadis itu.
Kemewahan, kasih sayang, keluarga, serta sang ayah yang sudah lama dia tunggu dalam gelap malam. Kai akan mengembalikan semuanya.
"Keputusan gue udah bulat, dan ini cara gue untuk memperbaiki semuanya."
Krystal terisak seraya menunduk menyembunyikan hatinya yang hancur berkeping-keping.
"Tapi, Kai akan jauh dari keluarga, jauh dari ayah, kakek, dan tante Morena. Kai akan kesepian." Lirihnya.
"Gue udah pernah berada dalam posisi itu. Dan kesendirian gak akan membunuh gue."
"Kai.."
Kai menghampiri gadis itu, menarik tubuhnya yang bergetar masuk ke dalam pelukannya. Ia akan baik-baik saja, Kai yakin ia bisa mengatasi semuanya. Ia pernah hidup sendirian, jauh dari keluarga, merasakan pahitnya hidup. Jadi sepi tidak akan membunuhnya untuk yang kedua kali.
Kalau bisa, Kai ingin selalu menikmati masa-masa manis dengannya, tanpa memikirkan apapun selain kesenangan. Tapi kenyataannya, ia harus menyiapkan gadis itu pada hal terburuk.
"Yang terpenting, lo harus selalu tersenyum."
Karena mulai besok ... aku udah gak bisa ngelihat senyum kamu lagi.
Biarkan Kai memeluk Krystalnya sedikit lebih lama, sekali ini saja hanya untuk melepas perasaan mereka masing-masing. Karena besok pagi, saat pesawat membawa tubuhnya pergi, Kai akan membiarkan sekeping hatinya hancur.
• • • •
Enjoy genks, jangan lupa like dan komentar
❤❤❤❤❤