
mumpung ada ide, nulis ajah deh ya, tapi jangan berharap lebih, dibaca aja yang penting, kalo bisa bacanya berulang ulang hahaha
happy reading!
****
Lima tahun yang lalu
Kadang Krystal bingung bagaimana hidup ini bekerja. Hampir setiap hari di hari ulang tahunnya, Krystal berharap sang Ayah datang untuk menjemputnya. Itu yang Ibu bilang pada Bunda di panti, Ayah akan datang untuk menjemput mereka.
Setahun, dua tahun, sampai tujuh belas tahun ia menunggu. Krystal tidak masalah bahkan jika ia harus menunggu seumur hidupnya, penantian tidak akan membuatnya mati, namun penantian membuatnya banyak berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, Tuhan mengabulkan setiap doa-doanya. Ayah datang menjemputnya, membawanya masuk ke dalam rumah megah itu, sangat berbeda dari rumah kontrakannya dan panti asuhan dimana ia dibesarkan.
Seharusnya Krystal senang, penantiannya bertahun-tahun akhirnya tercapai juga. Tapi, kenapa di saat ia bahagia, orang yang ia cintai malah mendapatkan sebuah malapetaka.
Kai, satu nama yang selalu ingin ia ingat.
Krystal pikir, setelah bertemu Ayah ia akan lebih bahagia, tapi .... semua berubah saat Kai mulai menyakitinya. Kata-kata cinta yang terangkai dulu seolah terlupakan, benteng besar di antara mereka sangat sulit untuk dirubuhkan.
Lalu, di saat mereka berdua pasrah dengan garis takdir itu. Semesta malah memberikan sesuatu yang tidak terduga. Ayah yang ia anggap sebagai ayah kandungnya, ternyata tidak lebih dari sahabat kedua orang tuanya dulu.
Entah ia harus senang atau sedih, entah harus bersyukur atau malah menghindarinya.
"Kamu dan Kai ... Bukan saudara."
Krystal tidak tahu harus merespon seperti apa? ia seperti merasakan hantaman ombak yang sangat keras. berusaha mencerna maksud ucapan Ayah Kevin.
"Ayah minta maaf," ujar Ayah Kevin lagi.
"Maksud Ayah apa?"
"Maaf Krystal," masih menggenggam tangan Krystal, Ayah Kevin tidak bisa menutupi air matanya. "Saya bukan Ayah kamu."
Jantung Krystal mencelos. Rasa sesak itu tiba-tiba menghimpit dadanya. Bahkan ia menepis pegangan tangan Kevin saat lelaki itu ingin menyentuhnya. "Ini ... apa maksudnya? Krystal gak ngerti Ayah."
"Kamu bukan anak saya ... kamu anak sahabat saya, namanya Ryan, dan dia sudah meninggal."
Krystal sontak bergeser menjauh, kepalanya terasa berat sekali. Air matanya masih terus menetes. Ini benar-benar tidak masuk akal.
"Jadi, Ayah saya udah meninggal?" Lirihnya.
Tuhan ... apa yang harus Krystal perbuat? Mengapa takdir seolah mempermainkannya? Siapa orang di depannya ini? Siapa ayahnya? Bagaimana ini semua bisa terjadi?
"Maaf .... saya sudah janji dengan ayah kamu, untuk menganggap kamu seperti anak saya sendiri, untuk menjaga kamu dan Alisa, maaf Krystal, saya tidak bisa menepati itu saat ibu kamu membutuhkan bantuan."
Krystal sontak berjengit kaget. "Jangan seperti ini, semua bukan salah Bapak. Bukan ..." Ia meraih kedua bahu Ayah Kevin dan membawanya naik ke atas sofa. "Semua sudah takdir."
"Kamu mau maafin saya?"
Kepala Krystal mengangguk seiring dengan lelehan air matanya. "Iya ... Krystal udah ikhlas, Krystal cuma ingin tahu kabar Ayah. Cukup itu saja." Bibirnya bergetar saat mengatakan itu.
Demi apa pun, ia sangat kaget. Krystal kecewa, tapi lebih dari itu. Ia merasa ikhlas, karena setidaknya, ia sudah tahu dimana Ayahnya berada. Penantiannya, mungkin sudah harus diselesaikan.
"Apa Bapak tahu dimana makam ayah saya?"
Ayah Kevin mengangguk. "Kamu mau ke sana? Saya bisa antar."
"Boleh," jawab Krystal dengan senyuman. Ia lalu menghapus air matanya. "Kai ... apa dia tahu?"
"Belum," Ayah Kevin menatap Krystal yang terlihat malu-malu. "Krystal ..."
"Iya."
"Boleh saya tetap menjadi ayah kamu?"
Bibir Krystal tertarik lebih lebar, tangannya menyentuh tangan Ayah Kevin. "Seharusnya aku yang bilang seperti itu ... boleh, aku panggil Bapak dengan sebutan Ayah?"
"Tentu saja, kamu memang anak saya. selamanya akan menjadi anak saya, jika bukan sebagai anak kandung, mungkin kamu mau menjadi anak mantu saya."
sontak Krystal mengerjap, dan tak lama wajahnya memanas. ia bergerak gugup lalu menjadi salah tingkah.
"Ya Tuhan, hampir aja Ayah menyakiti kalian, kalau saja Ayah gak baca surat ini, Ayah gak akan tahu kalau selama ini kalian berpacaran." Ayah Kevin menunjuk ke arah surat milik Krystal yang ditulis oleh Kai. "Pantas anak itu berubah banyak."
Krystal masih bungkam. Ia menundukan wajahnya dalam. Kai ... ya ampun, ternyata perasaan mereka selama ini tidak pernah salah. Mereka bukan saudara.
"Kamu mau ketemu Kai?" tanya Ayah Kevin yang membuat Krystal mengangkat kepalanya. Ia tersenyum dengan angkukan kepala. "Tapi ingat, harus tau batasan, ingat kalau kalian masih harus melanjutkan sekolah."
"Ihh Ayah ..." rengek Krystal malu. "Krystal gak akan gitu kok."
Ayah Kevin terkekeh sembari memeluk tubuh Krystal, membawa anak perempuannya itu ke dalam dekapan hangat. "Makasih Krys, makasih sudah mau menjadi anak Ayah."
Ryan, Alisa, saya akan berusaha menjaga permata berharga kalian. Saya akan bahagiakan dia, saya berjanji.
****
tiba-tiba banget yakkk hahaha jangan ditunggu, sama kayak scandal, aku nulis ini kalo ada waktu luang, jadi pokoknya jangan berharap banyak hahahaha