
NOBIS
Chap 38
•
•
•
•
Note : disarankan banget dengerin lagu Lee Si Eun - The Day, apalagi pas adegan terakhir...
"Kita mau kemana?" Tanya Krystal pada Kai saat pintu lift terbuka.
Mereka berdua memasuki lift gedung apartemen Kai setelah beberapa jam yang lalu Krystal sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
"Apartemen aku?"
Sudut mata Krystal berkerut, bingung. "Loh.. bukannya apartemen kamu disita?"
"Iya, udah balik lagi."
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang, nanti kapan-kapan aku ceritain." Balas Kai sambil menekan tombol lift. "Seminggu ini kamu tinggal di apartemen aku ya?"
Krystal menoleh cepat ke arah Kai. "Kenapa?"
"Biar aku bisa ngejaga kamu." Balas Kai yang juga menatap Krystal.
"Aku udah nggak apa-apa kok."
Kai menangkup sisi wajah Krystal. Beruntung di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. "Akunya yang apa-apa."
"Kai-"
"Takut kalo kamu jauh-jauh dari aku." Lalu dia menghela napas pelan. "Sebentar aja, seminggu doang. Mau ya??"
Hening, Krystal terdiam mencoba untuk menyelami arti tatapan mata Kai yang tertuju padanya. Setelah beberapa detik, dia mengangguk pelan lalu mengusap punggung tangan Kai yang berada di pipinya. "Iya.."
Kai tersenyum lega. "Makasih."
Pintu lift terbuka, dia segera menggandeng tangan Krystal untuk menuntun cewek itu keluar dari lift.
"Aku udah suruh Luna buat bawa semua perlengkapan kamu ke apartemen aku. Sean sama Chandra juga ada di sana sekarang, katanya mau nyambut kamu pulang."
Krystal terkekeh pelan, namun masih bisa didengar oleh Kai.
"Kamu kenapa?"
"Aku seneng sekarang Kai ngomongnya pake aku-kamu."
Kai berdehem sebelum membalas ucapan Krystal. "Kata Chandra ngomong sama pacar pake aku-kamu itu lebih romantis, ternyata bener."
"Emang kita pacaran?"
"Nggak inget siapa yang nembak aku di lapangan basket?"
Gadis itu tersipu. "Ihh.. Kai, itu kan kamu yang suruh."
"Nyesel nggak?"
Krystal berhenti, menautkan alisnya untuk pura-pura berpikir. Kai yang berada di sebelahnya ikut berhenti dan bibirnya membentuk senyum melihat itu.
"Aku tau kamu nggak akan nyesel." Potong Kai.
"Pede kamu."
"Iya dong. Kan abis itu kamu aku cium." Ledek cowok itu yang malah mendapat cubitan dari Krystal.
"Iihhh..."
Dengan ringisan kecil yang keluar dari bibirnya, Kai menarik Krystal untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Aku udah pernah bilang belom sih kalo aku sayang kamu." Bisik Kai. "Kamu alasan aku tersenyum, Krys. Untuk itu, jangan menghilang dari pandangan aku."
Krystal yang tau jika saat ini pipinya sudah merah padam, lalu membenamkan wajahnya lebih dalam pada pelukan Kai. Menyembunyikan rasa malu yang justru mampu membuat hatinya berdebar senang.
Sementara itu, Kai semakin mengeratkan pelukannya, mengusap belakang kepala Krystal dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jantung mereka berdebar dengan tempo yang sama. Seolah dari bunyi detak itu, mereka sama-sama memahami isi hati masing-masing.
"Kai ... aku malu," ujar Krystal saat menyadari jika kini mereka sedang berada di lorong apartemen. "Peluk-pelukannya nanti aja ya,"
Cowok itu terkekeh, mengecup sekilas puncak kepala Krystal. Lalu membuat sedikit jarak untuk melihat wajah gadis itu yang merona.
"Gemesin banget sih kalo merah gitu." Satu tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Krystal, "sayang aku gak?"
Krystal menggigit bibirnya. Menatap malu-malu pada Kai yang tersenyum ke arahnya. "Ngapain ditanya, sih?"
Dengan senyum yang belum hilang dari bibirnya, Kai memiringkan wajahnya untuk mengecup pipi Krystal. "Sayang kamu." Bisik Kai rendah. Lalu membuka pintu apartemennya yang berada di belakang Krystal.
Sementara, gadis itu tersipu dengan degub jantung yang menggila. Ini yang disebut kalimat sederhana, namun memiliki arti yang mendalam.
Aku bahagia Kai.
• • •
"Rendi udah di penjara." Ujar Sean yang sedang duduk di meja bar di dalam apartemen Kai.
"Udah seharusnya dia di sana." Jawab Kai acuh sambil sibuk membuat jus jeruk untuk Krystal.
Chandra berdiri dari kursinya dan menghampiri Kai. "Dia di penjara dengan alasan narkoba, kenapa lo nggak buat laporan penculikan aja."
"Dan ngebuat Krystal ikut terseret sama kasus itu." Kai menatap kedua sahabatnya, "nggak akan gue biarin. Gue nggak mau Krystal harus berurusan lagi sama si brengsek itu!!"
"Tapi hukuman dia terlalu ringan, Kai." Sean menimpali.
"Gue nggak peduli lagi, sekarang yang lebih gue pikirin adalah gimana bikin Krystal tersenyum dan ngelupain kejadian itu." Kai menghela, "gue harap kalian berdua juga nggak ngungkit masalah itu di depan Krystal."
Mereka terdiam, sampai suara Kai kembali terdengar.
"Dan makasih buat bantuan lo berdua kemaren."
Chandra melongo, terkejut menatap Kai dengan alis bertaut. "Tumben bilang makasih?? Salah minum obat?"
"Lah.. gue cuma berkata apa adanya. Lo nggak lihat nih sahabat lo, yang katanya penguasa kegelapan, tiba-tiba bilang makasih." Chandra geleng-geleng, "cinta emang bahaya banget. Takut gue."
"Makanya jangan kebanyakan ONS lo!" Celetuk Sean.
"Kayak lo enggak aja!" Balas Chandra.
Sean berdiri, mengambil dua box besar pizza yang tadi sempat mereka pesan untuk merayakan kepulangan Krystal dari rumah sakit. "Lo tenang aja, Kai. Gue sama Chandra bakalan bantuin lo." Lalu membawa pizza-pizza itu ke ruang tengah dimana Krystal dan Luna sedang duduk di sana.
"Gimana rasanya jadi budak cinta?" Ledek Chandra yang langsung mendapatkan lemparan lap dari Kai ke wajahnya. "Itu lap, ****!"
"Berhenti ONS, biar lo tau rasanya!" Balas Kai.
"Si kampret, mentang-mentang udah punya Krystal," cibir Chandra dari balik punggung Kai.
• • •
Krystal berdecak kagum menatap pemandangan luar dari kaca jendela di lantai lima belas itu. Dari sana, dia bisa melihat seluruh aktifitas Ibu Kota pada malam hari. Lampu-lampu kendaraan dan bangunan besar yang dilihat dari atas memang seperti bintang-bintang.
"Kalo dilihat dari atas sini ternyata bagus ya.."
Kai menoleh sebentar ke arah gadis itu, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Dari tadi dia hanya sibuk di depan laptop sambil mendesain karakter untuk sebuah poster.
Hanya sesederhana itu Kai sudah bisa melihat keceriaan Krystal kembali lagi. Cewek itu memang selalu memandang segala hal dengan cara sederhana. Begitu pula dengan lampu kendaraan yang terlihat dari atas sana.
"Pemandangannya bagus." Krystal menghampiri Kai dan duduk di sofa, sementara Kai berada di bawah dengan laptop di atas meja. "Kamu pasti jarang keluar apartemen ya?"
Kai mengalihkan perhatiannya dari laptop. Kini dia bisa melihat mata Krystal yang menatapnya penuh tanya.
"Aku malah jarang ada di apartemen." Balas Kai.
"Loh, kenapa?"
"Bosen aja."
"Memang biasanya kemana?" Wajah Krystal terlihat sekali seperti sedang memancing Kai untuk berbicara sesuatu.
"Keluar sama temen-temen."
"Sean sama Chandra?" Tanya Krystal lagi.
Sorot mata itu lurus, tapi seperti ada sesuatu yang ingin ditanyakan.
"Ada apa?" Kai dapat menangkap raut wajah Krystal saat ini. "Kamu mau tanya apa? Bilang sama aku."
Krystal menunduk, ragu untuk bertanya. Namun rasa penasarannya jauh lebih tinggi hingga dia berhasil menyebutkan satu nama. "Raisa.."
Mata Kai menyipit. "Apa yang kamu dengar?"
"Sesuatu tentang kalian."
Kai menghela dengan pandangan menunduk, tapi tak berapa lama kemudian wajahnya kembalo terangkat. Ia berdiri seraya tersenyum di depan Krystal, lalu meraih telapak tangan gadis itu. "Aku mau nunjukin kamu sesuatu."
Krystal tersentak, mengikuti langkah Kai menuju sebuah ruangan. Masuk ke dalamnya, Krystal dibuat takjub melihat isi ruangan tersebut. Dinding berwarna putih dengan jendela besar yang bersebelahan dengan rak berisi cat minyak dan kuas, lalu di sudut ruangan ada penyanggah kayu yang biasa digunakan pelukis untuk menyanggah kanvas.
Masuk lebih dalam, ada beberapa lukisan yang tersimpan di sela-sela meja, dan beberapa lagi menggantung di tembok. Namun bukan itu yang menjadi perhatiannya saat ini. Krystal terkejut begitu melihat semua lukisan dirinya yang tergantung hampir memenuhi tembok ruangan itu.
Kepala Krystal berputar menatapi satu persatu lukisan itu. Matanya melebar, mengerjap beberapa kali untuk berusaha mengenali pemilik wajah di dalam lukisan itu. "Ini aku?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya," Kai mengamati wajah terkejut gadis itu. "Kamu suka?"
Krystal mengangguk dengan mata berbinar. Dalam hidupnya, Krystal tidak pernah berharap sedikitpun akan ada seseorang yang memberinya kebahagiaan bahkan sampai bermimpi bisa dicintai oleh seseorang, apalagi itu sebesar apa yang Kai berikan padanya.
"Ini bisa dibilang ruangan pelarian aku."
Krystal menoleh, dan mendapati mata Kai yang sedang memandangnya.
"Setiap kali aku merasa sendiri atau kesepian, melukis adalah jalan satu-satunya yang ngebuat aku tenang."
Lalu Kai melangkah pada sudut meja, bersandar di sana dan membiarkan Krystal memuaskan diri untuk mengamati ruangan itu. "Dari kecil papa sama mama selalu berantem, aku merasa kesepian di rumah. Kakekku sibuk, papaku sibuk, mama juga." wajahnya lalu menunduk sendu.
Krystal yang sadar akan perubahan ekspresi Kai pun lantas mendekat ke arah cowok itu.
"Setiap kali aku ngelakuin kesalahan, papa selalu mukulin aku. Bahkan saat dia tau kalo aku suka ngelukis, papa ngancurin semua gambar aku. Dia bahkan bisa sangat sadis buat mukulin aku setiap aku ketauan ngelukis."
Membelalak, Krystal refleks menutup mulutnya, dia terkejut dengan mata berkaca-kaca.
"Padahal, melukis adalah satu-satunya pelarian aku untuk keluar dari rasa sepi." Kai mendesis di akhir kalimat saat mengatakan itu, yang justru membuat Krystal menyentuh tangannya. "Beberapa kali aku mencoba mencari perhatian dengan masuk tiga besar di kelas. Tapi semua percuma, papa nggak pernah bilang kalo dia bangga sama aku. Mama bahkan nggak tau kalo anaknya dapet peringkat. Ternyata, dapet peringkat atau enggak rasanya sama aja, dan dari situ aku mulai berontak. Bolos sekolah, berantem, balapan liar."
Lalu, tanpa sadar air mata Krystal jatuh menetes melewati pipinya, dan pecah di atas tangan Kai yang membuat cowok itu mengkat wajahnya untuk melihat wajah kekasihnya yang mulai menangis.
Kai tersenyum, mengusap pipi Krystal. "Kok nangis?" kelakarnya mencoba untuk menenangkan suasana meski sebenarnya ia pun tidak kuat menceritakan masa kecilnya.
"Kai..." lirih Krystal bersama isak tangisnya.
"Krys, kalo yang kamu dengar aku itu berengsek memang benar. Aku mainin semua cewek cuma untuk kesenangan aku sendiri, hanya sebagai pelampiasan, setelah itu aku akan ngebuang mereka." cowok itu menggenggam tangan Krystal untuk mencari kekuatan. "dan Raisa salah satu cewek itu."
Krystal tidak terkejut, ia malah balas menggengam tangan Kai.
"Tapi, Krys ... apa aku gak boleh berubah? Aku mau jadi lebih baik buat kamu." Kai kembali menatap matanya, bersamaan dengan tangannya yang masih digenggam erat. "Kamu, melebihi mimpi-mimpi terindah di hidup aku. Aku nggak bisa ngebayangin kalo kamu pergi dari hidup aku. Aku.. nggak pernah setakut ini untuk kehilangan.. Krys."
Krystal merasa sudah cukup, tidak ada lagi yang ingin ia ketahui tentang masa lalu Kai. Cukup cowok itu ingin berbagi dengannya itu sudah lebih baik. Maka itu, dengan cepat ia meraih bahu Kai, melingkarkan tangannya di sepanjang bahu cowok itu. "Aku nggak akan pergi kemana-mana." Pelukan itu semakin erat. "Kai udah nggak sendirian lagi, sekarang ada aku. Aku yang akan menghapus semua rasa sepi kamu."
Tangan Kai melingkari pinggang Krystal, melesakkan wajahnya pada perpotongan leher gadis itu lalu menghirup wanginya.
"Kita sama-sama berubah ya, aku bantu kamu, kamu bantu aku. Manusia terlahir bukan untuk dirinya sendiri, Kai. Ada aku, tempat kamu buat berbagi keluh kesah."
Pelukan itu terlepas, namun tidak juga menyisakan jarak di antara mereka.
"Aku nggak mau lihat Kai sedih," Krystal mengelus sisi wajah Kai dengan kedua ibu jarinya. "Sayang banget sama kamu."
Masih dengan jarak yang sangat dekat, Kai menyatukan kening mereka. Membuat hembusan napas keduanya menerpa wajah masing-masing. "Seperti lukisan, kamu adalah warna yang membuat hidupku lebih indah. Kamu imajinasi yang tidak bisa aku hentikan."
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna