Nobis

Nobis
Greatest Imagination



NOBIS


Chap 56






Barangkali tidak setiap mimpi bisa kita raih, tapi harus selalu percaya bahwa kita hidup untuk sebuah alasan.


Pagi ini, tepat setelah Krystal mendapati seluruh penghuni rumah sedang pergi ke bandara untuk mengantar keberangkatan Kai yang akan bertolak ke Jerman sesuai dengan permintaan Kakek untuk melanjutkan sekolah di sana, hatinya berdenyut ngilu.


"Tuan sama Nyonya nganter den Kaisar ke Bandara. Tuan Besar juga, mereka berangkat sudah dari subuh tadi, non."


"Ke Bandara? Untuk apa?"


"Loh.. non belum tau? Den Kaisar 'kan hari ini berangkat ke Jerman, buat lanjut sekolah di sana."


Kedua mata Krystal membulat sempurna saat kalimat bi Sumi berdengung di telinganya. Tubuh Krystal bergetar, dan kakinya mundur selangkah dengan lemas. Dia terkejut.


Bukankah keberangkatan Kai ke Jerman akan dilakukan setelah Ujian Sekolah selesai? Tapi kenapa ini semua terasa mendadak? Kenapa seolah-olah semua orang menutupi ini darinya, dan Krystal pun mendapati hal yang lebih menyakitkan lagi, ketika hanya dirinya, orang di dalam rumah ini yang tidak mengetahui itu.


Tanpa menggubris panggilan bi Sumi, Krystal berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang makan menuju gerbang rumah. Maksud hati ingin langsung menuju bandara dan menemui Kai, tapi Krystal kesulitan mendapat taksi di dalam komplek perumahan itu.


Krystal kalut, dia harus sesegera mungkin sampai di bandara untuk melihat Kai. Krystal belum cukup siap dengan kepergian cowok itu yang mendadak seperti ini. Setidaknya, biarkan dia melihat Kai dan mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kali.


Siapapun, tolong dirinya saat ini.


Tin.. tin..


Suara klakson mobil dari balik punggunya membuat Krystal menoleh. Pandangannya sedikit mengabur karena terhalang air mata yang mengenang di pelupuk mata.


Dahi Krystal seketika mengernyit bingung, apalagi begitu si pengendara mobil itu keluar dari mobilnya.


"Buruan masuk, gue anter lo ke bandara."


Dia mengerjap beberapa kali, mencoba menyadarkan diri jika tidak salah mengenali orang tersebut.


"Kak Airin?"


"Ayo buruan, udah gak ada waktu."


• • •


Seperti mendung yang menggantung kapan kepastian turunnya hujan. Krystal berharap burung baja yang membawa Kai menunda jadwal penerbangannya. Berharap pertemuannya dengan Kai kali ini benar-benar di izinkan oleh takdir.


Sumpah demi apapun, Krystal tidak bisa memungkiri perasaannya. Dia benar-benar ingin bertemu dengan Kai. Sekali saja. Tidak masalah meski harus melihat cowok itu dari jarak jauh.


"Lo masuk duluan, gue cari parkir dulu."


Krystal mengangguk cepat dan langsung keluar dari mobil itu begitu Airin menghentikan mobilnya di pintu keberangkatan Luar Negri.


"Krys.." Airin menahan lengan Krystal, dan membuat gadis itu menoleh, "gue harap lo ketemu sama Kai."


Krystal merasakan gejolak hatinya membuncang saat mendengar nama Kai disebut, bahkan air matanya sudah mengalir dengan deras membuat sebagian wajahnya terlihat basah dan sembab.


"Makasih, kak." Ujarnya.


Setelah menapaki kaki di lantai bandara, Krystal memacu cepat langkahnya menuju Boarding Lounge. Dia berlari seperti orang gila, menabrak beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Beberapa kali Krystal melirik jam tangannya bersamaan dengan debaran jantung yang bergemuruh sejak tadi.


Krystal mengabaikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tidak peduli pada banyak mata yang memandangnya penuh tanya. Krystal panik. Nafasnya tersengal dan keringat dingin mulai membanjiri wajahnya.


"Kai.." lirihnya berulang-ulang.


Krystal benar-benar merasa kalut. Pikirannya hanya dipenuhi dengan wajah Kai. Dia ingin melihatnya, ingin memeluk cowok itu sebentar saja. Ada beberapa hal yang harus Krystal katakan pada Kai, setidaknya biarkan dia mengatakan jika dirinya akan baik-baik saja, dan Kai harus bahagia di sana.


Pikiran Krystal seolah buntu. Dia berlari secepat yang dia bisa, melintasi kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang. Beberapa kali Krystal harus meminta maaf pada pengunjung lain saat kakinya tidak sengaja menyenggol koper mereka.


"Krystal!" Langkahnya terhenti begitu mendapati tubuh Sean dan Chandra di pintu masuk Boarding Lounge.


"Sean, Chandra.. Kai dimana?" Krystal bertanya sambil mengatur nafasnya yang tidak beratur, dia lalu menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru gedung.


Kepala Krystal berputar ke segala arah, mencari keberadaan Kai. Dia mencoba mengenali satu-satu wajah pengunjung yang ada di sana.


"Sean?" Krystal kembali bersuara, berusaha mencari jawaban dari kedua cowok di depannya. "Jawab aku." Suaranya bergetar, dia berharap masih bisa bertemu Kai sebelum pesawat membawa cowok itu pergi jauh darinya.


Sementara itu, Sean dan Chandra hanya mampu menghembuskan nafas berat mereka. Sudah lima belas menit yang lalu, pesawat yang Kai tumpangi lepas landas, dan dia sudah berhasil membiarkan sekeping hatinya hancur saat melepas gadis itu untuk selamanya.


"Sean, bilang kalo aku belum terlambat? Kai belum berangkat, ya kan?" Keterdiaman Sean membuat Krystal semakin kalut, detak jantungnya berdebar keras. "Chandra, kamu tau Kai dimana?"


"Pesawat Kai udah berangkat lima belas menit yang lalu."


Krystal jatuh terduduk di lantai dengan pandangan buram. Bahunya berguncang hebat dengan air mata yang mengalir tanpa pernah bisa dicegah.


"Krys.." Sean memegang bahu Krystal, memberikan usapan lembut untuk menenangkannya. "Jangan nangis, Kai pasti gak akan suka kalo lihat lo kayak gini."


Krystal menggeleng, menatap Sean dengan genangan air mata. "Kai jahat sama aku, Sean. Kenapa dia harus pergi tanpa bilang sama aku. Sebentar aja, aku cuma mau lihat dia. Bahkan Kai gak kasih aku kesempatan untuk ucapin salam perpisahan."


Sean meringis melihat tubuh Krystal yang bergetar akibat tangisnya. Sean tau, gadis di depannya ini pasti sangat hancur. Keputusan Kai memang tidak bisa di bilang salah, tapi melihat Krystal seperti itu rasanya dia tidak tega.


"Kai sengaja gak kasih tau lo soal keberangkatannya ini, Kai takut kalo dia ngeliat lo, dia bakal mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jerman." Chandra menjeda kalimatnya sebentar, sebelum kemudian menjulurkan tangannya untuk memberi satu buah gulungan kertas dan secarik surat yang terlipat rapih. "Kai titip ini buat lo."


Tangan Krystal bergetar menerima itu, dia menatapnya kosong. Percayalah, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang akan baik-baik saja dengan sebuah perpisahan, apalagi itu menyangkut bagian dari kebahagiannya.


"Aku belum bilang sama Kai untuk jaga dirinya baik-baik. Kai harus selalu tersenyum, dia pantas untuk bahagia." Tangisnya kembali pecah. Ditatapnya dengan nanar gulungan kertas itu. "Aku sayang kamu, Kai."


Kini.. apa yang menjadi kebahagiaannya telah pergi, dan Krystal tau ini yang terbaik untuk mereka.


• • •


Krystal tidak berniat melakukan apapun hari ini. Dia hanya mengurung diri di kamar, menangis, lalu tertidur, dan terbangun dengan kepala berdenyut pusing dan mata yang sembab.


Air matanya selalu menetes setiap kali ia memikirkan Kai. Krystal hanyut dalam kesedihan, dan selalu menyalahkan diri atas kepergian cowok itu. Di kepalanya selalu berputar kata-kata, seandainya aku tidak lahir, pasti Kai tidak akan pergi jauh dari keluarganya.


Sudah beberapa kali bi Sumi menggedor kamarnya untuk menanyakan Krystal tentang makan siangnya, tapi gadis itu enggan untuk menyantap apapun setelah hatinya dikuras habis oleh Kai setengah hari ini.


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, dan Krystal sama sekali belum menyentuh makanan apapun. Dia tidak lapar, Krystal hanya terus menerus memikirkan Kai. Sedang apa cowok itu? Sudah makan atau belum? Apa dia juga memikirkan hal yang sama sepertinya?


Pada beberapa detik ketika Krystal memikirkan Kai, matanya jatuh pada sepucuk surat yang terlipat rapih di atas nakas. Dia hampir melupakan itu. Surat yang sempat Kai titipkan pada Chandra untuknya.


Krystal beranjak, lalu mengambil surat itu dan membawanya duduk di atas lantai dekat tempat tidur. Dia perlahan membuka lipatan kertas itu dan membacanya.


Mata Krystal kembali berkaca-kaca saat membaca deretan kata yang Kai tulis di atasnya.


Untuk Permata Hatiku, Krystal.


Terkadang, disuatu malam aku merasa sepi. Tuhan seolah memutar ingatan tentang pertemuan-pertemuan pertama kita di masa lalu. Pertemuan yang tidak aku sangka dapat membawa dampak besar pada hidupku, yang membuatku percaya jika Tuhan menciptakan manusia tidak untuk dirinya sendiri. Kamu merubah segalanya. Kamu gadis pertama yang mampu menyentuh hidupku sedalam ini.


Jangan terus merasa bersalah atas semua ini. Tidak masalah jika kamu ingin meluapkan kemarahanmu. Tapi jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas apa yang tidak bisa kamu kendalikan. Berhenti untuk merasa bersalah. Aku mau kamu selalu bahagia, akupun begitu. Bukan berarti aku mudah merubah perasaanku, tapi karena aku tau, terlalu sulit untuk mengubur perasaan ini.


Seandainya aku bisa memperjuangkan semuanya, dan membuat segalanya seperti yang diinginkan. Namun kenyataanya takdir memaksa kita untuk menyerah, mendorong kita pada lubang kesengsaraan dan mengharuskan kita untuk saling melepaskan.


Mungkin ini menyakitkan, tapi aku yakin ini adalah yang terbaik untuk kamu. Meski suatu hari nanti kita bertemu dengan perasaan yang tidak lagi sama, tapi percayalah apa yang kita dapat di masa depan nanti, itu yang terbaik. Kali ini saja kamu jalani semua yang terbaik untuk diri kamu. Biarkan semua rasa ini mengendap indah, dan menjadi kenangan yang tidak mudah kamu lupakan.


Krystal,


Terima kasih karena kamu pernah singgah di hidup aku, membawa sejuta perasaan asing yang anehnya membuat hatiku tidak bisa berhenti berdebar. Aku menitipkan sekeping hatiku di sana, dan meminta malaikat untuk selalu menjagamu.


Maaf untuk semua luka yang pernah tergoreskan. Untuk setiap tetes air mata yang jatuh. Percayalah, waktu akan menyembuhkan. Jadi... tolong lakukan ini untukku. Jalani harimu dengan baik.


Aku sayang kamu.


Kaisar.


Tangisnya kembali pecah, Krystal mendekap kertas tersebut sambil menyandarkan tubuhnya pada tepian kasur. Dia terisak, hati Krystal begitu sakit. Sebelah tangannya mencengkram erat bagian depan baju, berusaha untuk meredam rasa itu.


Lama Krystal membiarkan air matanya jatuh dengan terus menerus menyebut nama Kai, hingga kemudian dia mengingat tentang gulungan kertas yang Kai berikan padanya bersama dengan surat itu. Buru-buru Krystal menghapus air matanya, lalu meraih gulungan kertas tersebut dan membukanya perlahan.


Jantung Krystal kembali berdetak cepat saat melihat sketsa wajahnya yang tergores di atas kertas itu. Krystal ingat, Kai pernah berjanji untuk membuatkan dirinya sketsa wajah lagi, dan cowok itu menepatinya hari ini.


Senyum Krystal mengembang, menikmati ekspresi wajahnya sendiri. Kai melukis wajahnya yang sedang tersenyum lebar, terlihat sekali di dalam sketsa itu jika Krystal sedang jatuh cinta dan bahagia. Berbeda dengan dirinya saat ini, kosong dan hampa.


Krystal menyoroti lukisan itu dengan tatapan kagum. Tidak bisa dipungkiri jika Kai memang sangat berbakat dalam hal ini, siapapun yang melihat sketsa itu pasti akan ikut tersenyum.


"Terima kasih." Tangannya terjulur untuk mengusap lembut setiap goresan pensil di atas kertas itu. "Aku janji akan menjalani hidupku dengan baik."


Senyum Krystal sedikit terkesiap saat melihat tulisan di ujung kanan kertas. Kai pernah bilang jika hanya Krystal satu-satunya orang yang bisa dia lukis, dan hanya Krystal yang menjadi imajinasinya.


Krystal sadar, dirinya dan Kai memang dipertemukan dalam keadaan yang salah. Bukan karena mereka adalah sebuah kesalahan, tapi hanya saja takdir memang sedang tidak berpihak pada keduanya.


Seperti kata-kata sebelumnya, kita hidup untuk sebuah alasan. Krystal mengerti, walaupun salah satu alasannya telah pergi, tapi dia tetap harus melanjutkan mimpinya, harus terus berjalan. Dia akan berusaha untuk menata hatinya agar utuh kembali, dan berhenti menyalahkan diri atas takdir yang tidak berpihak. Karena seperti itulah hidup yang sebenarnya.


You are my greatest Imagination


• • • •


T A M A T


Note : Suratnya gak terlalu puitis ya, karena aku gak bisa bikin yang romantis-romantisan. Betewe, epilog-nya mau kapan? Nanti malem (tengah malem maksudnya 😂) atau besok??


Aku tunggu ya komennya..