
NOBIS
Chap 21
•
•
•
•
"Lo apain dah anak orang, bisa jadi cakep kayak gitu?" Celetuk Chandra. "Kalo tau jadinya sebohay itu, udah gue duluan yang ambil, dari pada buat si *** ini yang kerjannya cuma ngegambarin cewek telanjang."
Kai mendelik kesal, tanpa memperdulikan ucapan Chandra. Kaki cowok itu melangkah menghampiri buku dan alat tulis yang dia letakan di atas meja.
"Lo kenapa nggak bilang mau bawa dia? bangsatt lo ya, Yan!!"
Sean hanya tertawa melihat itu sambil menggelengkan kepalanya. "Gue pengen ngetes lo doang. Sampe mana cewek polos yang lo bilang nggak masuk dalam list cewek-cewek lo itu ngebuat si muka goblokk ini kalang kabut kayak sekarang."
"Dan berhasil." Tambah Chandra, yang membuat Sean dan dirinya tergelak.
"Setan emang lo berdua." Kai memasukan perlengkapannya ke dalam tas. "Bawain tas gue nanti. Jangan lo buka-buka isinya." Perintah Kai.
"Mending lo buruan turun, dari tadi di godain tuh di bawah. Nggak takut ilang apa digondol kucing." Sean mengambil rokok dari kantong celananya, dan mulai memantikkan korek api.
"Dasar anjing! Besok-besok begini lagi, mobil lo ancur!"
"Iya besok mah enggak, palingan gue yang pacarin." Sahut Sean santai sambil menghembuskan asap rokok dari hidung.
"Nyari mati lo!" Ujar Chandra dengan tawa kecil dari bibirnya.
Kai langsung bergegas turun, menapaki anak tangga satu persatu untuk bisa sampai secepatnya di depan Krystal, karena sungguh, tempat seperti ini sangat berbahaya untuk cewek seperti dia. Kai yakin, sudah banyak cowok di bawah sana yang melihat Krystal dengan tampang lapar yang sebentar lagi ingin menerkamnya.
"Woi kambing, jangan lupa pake ****** yang gue kasih." Detik itu juga, keduanya tergelak dengan keras.
• • •
Krystal merasa begitu risih dengan pakaian yang dia kenakan saat ini, terlebih pandangan semua cowok di tempat itu menatapnya penuh nafsu. Bau asap rokok dan dentuman musik yang memekakkan telinga membuat Krystal merasa pusing dan lampu remang-remang di sana mengganggu penglihatannya.
Lalu, saat matanya menangkap tubuh tegap yang tiga hari ini selalu memenuhi otaknya, Krystal berdiri dari kursi bar dan tersenyum sumringah sambil menatap cowok itu yang perlahan mendekatinya.
"Kai.."
"Ngapain lo di sini?" Kai melepas jaket denim miliknya lalu memberikan itu kepada Krystal. Cewek itu terdiam tidak mengerti sambil menatap uluran jaket dari tangan Kai.
"Buruan pake, lo mau dilihatin cowok-cowok kayak gitu." Lalu mata Kai mendelik pada sosok di balik punggung Krystal.
"Ngeliatin apaan dah lo! Mau gue congkel itu mata!"
"Yaelah bos ... galak amat, cewek baru ya." Ucap salah satu bartender di sana.
"Bacot lo ***!" Desis Kai penuh kekesalan.
Sementara, Bartender yang sudah mengenal sifat Kai dari dulu itu, malah tergelak puas dan tidak menampakan wajah takut sama sekali.
"Buruan!"
"Iya, ini lagi aku pake." Krystal yang tidak mau mendapat amukan lebih dari cowok itu segera mengenakan jaket denim yang kebesaran pada tubuhnya. Dia bisa langsung mencium aroma tubuh Kai yang menyeruak dari jaket tersebut.
"Ikut gue!" Kai langsung menarik tangan Krystal untuk keluar dari tempat terkutuk itu.
Langkahnya terlihat terburu-buru sehingga membuat Krystal susah payah mengikutinya, dan juga cengkraman pada pergelangan tangan Krystal membuat cewek itu meringis kecil.
"Lo tau ini tempat apa?" Bentak Kai saat mereka sudah berada di depan motor.
Krystal menggeleng dengan sorot mata polos yang menggemaskan. "Aku cuma mau ketemu kamu. Sean bilang dia tau kamu ada dimana, makanya aku minta tolong dia buat anterin."
Kai mendesis frustasi, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. "******* tuh anak!" Kai menatap Krystal lagi, meneliti cewek itu dari atas sampai bawah. "Kenapa juga lo harus pake baju kayak gitu?"
"Sean bilang, aku nggak boleh masuk kalo nggak pake baju kayak gini." Krystal merengut. "Tapi aneh ya, masa mau masuk ke tempat berisik kayak gitu aja harus pake baju bentuk begini."
Kai mendesis. "Tollol! Besok kalo Sean nyuruh lo nggak usah pake baju terus lo mau?"
"Enggaklah, masa aku telanjang." Jawabnya polos.
"Nah itu tau. Terus kenapa lo mau-mau aja disuruh pake baju kayak gini?"
"Kan aku nggak telanjang Kai?"
Kai menggeram kesal. Tidak tahu harus kesal karena apa? Karena Sean memberikan pakaian itu atau kesal karena kepolosan cewek di depannya ini.
"Terserah elo!" Kai naik ke atas motornya, lalu mengenakan helm sebelum akhirnya menatap Krystal lagi. "Buru naek."
Dengan tersenyum senang, Krystal menerima uluran helm dari tangan Kai dan langsung naik keatas boncengan. Setelah merasa nyaman, Krystal lalu menggenggam pinggiran kaos Kai sebagai pegangannya.
"Kita mau kemana?" Tanya Krystal saat motor Kai mulai melaju.
"Ngebuang lo!"
"Udah bisa ngomel lagi?" Krystal terkikik di belakang Kai. "Tadi kamu ngapain di tempat itu? Aku kira kamu masih sakit. tiga hari ini aku nggak lihat kamu di sekolah."
Kai masih terdiam dengan emosinya. Tidak tahu apa yang membuatnya semarah itu saat melihat Krystal berada di sana dengan pakaian minim yang jauh sekali dengan sifat cewek itu.
"Kamu besok sekolah kan? Jangan bolos ya."
"Mending lo diem sebelum gue turunin di pinggir jalan."
Krystal kembali terkikik geli di belakangnya. Apapun yang Kai ucapkan sebagai ancaman, Krystal tidak pernah menganggap itu sungguh-sungguh, karena dia tau, Kai tidak mungkin melakukan itu padanya.
Beberapa menit kemudian, Kai menepikan motornya di tepi jalan. Di pinggir jalan ada banyak tenda penjual makanan dan beberapa minuman yang terlihat begitu ramai oleh pejalan kaki.
"Gue laper." Ujarnya saat merasa Krystal terlihat bingung.
Hal baru lagi yang dia ketahui dari diri Kai. Cowok itu ternyata sulit ditebak.
"Pacarnya?" Tanya bapak-bapak penjual nasi goreng yang melihat Krystal masuk bersamaan dengan Kai.
"Kayaknya sih gitu, beh." Balas Kai penuh candaan.
Krystal yang mendengar itu merasakan hawa panas di seluruh tubuhnya mulai menjalar, serta rona merah yang melebar sampai ke telinga.
Setelah memesan dua piring nasi goreng untuknya dan juga Krystal, Kai kemudian kembali duduk di sebelah cewek itu.
"Lo ngapain mau ketemu gue?" Katanya membuka pembicaraan. "Kangen?"
"Pede banget." Cibir Krystal dengan bibir terlipat senyum. "Ini udah hari ketiga kamu bolos bimbingan sama aku, ya. Terus kamu juga nggak masuk-masuk sekolah. Kenapa sih ngilang gitu aja? bikin orang khawatir tau."
Krystal mendesah pelan. "Mana aku nggak punya nomor hape kamu, mau hubungin kamu juga bingung."
Kai berdehem. Mengeluarkan hapenya dari kantong celana, dan menyodorkan itu ke arah Krystal. "Ketik nomor lo di hape gue."
Cewek itu terperangah, tak lama kemudian dia tersenyum puas lalu mulai mengetik nomor di atas layar. Setelah itu, Krystal mengembalikan lagi hape itu kepada Kai.
"Kai-" sebelum Krystal membuka suaranya lebih banyak, dua piring nasi goreng dengan telor dadar datang di tengah-tengah mereka.
"Thank you, Babeh." Ujar Kai.
"Oke ... selamat makan. Ini Babeh kasih kerupuk banyak biar lebih romantis makannya."
Kai terkekeh. Apa pengaruh kerupuk dengan suasana romantis.
"Makan dulu." Kata Kai dan disetujui oleh Krystal.
Mereka mulai melahap nasi goreng itu dengan sunyi dan diiringi lantunan sebuah lagu yang dimainkan oleh pengamen di tempat itu. Kai memakan nasi gorengnya dengan lahap, entah antara lapar atau doyan. Krystal yang melihat itu terperangah lalu sumringah.
"Pelan-pelan." Krystal mendekatkan segelas air teh pada Kai. "Kamu laper apa doyan?"
"Dua-duanya." Kai meminum air tehnya sebentar. "Lo sendiri, kenyang apa diet, kok nggak diabisin?"
"Aku udah kenyang lihat kamu makan." Lalu kembali tersenyum sumringah.
"Bae-bae entar lo suka sama gue, ribet lagi."
"Aku suka kamu kok." Cowok itu hampir saja tersedak nasi di mulutnya kalau dia tidak buru-buru menetralkan deguban pada jantungnya. "Aku juga suka Sean sama Chandra, mereka juga baik sama aku." Lanjut Krystal. Kai yang baru saja akan tersenyum lalu berdecak dan kembali melanjutkan makannya dengan kesal.
"Tadi ..." Krystal kembali bersuara dengan takut-takut. "aku ketemu kakek."
Kai menengok dengan dahi mengkerut. "Kakek gue? Ngapain dia?"
"Kakek nyariin kamu." Lanjutnya hati-hati. Karena dia tahu, pembicaraan ini sangat dihindari oleh Kai.
"Kata Kakek, dia nggak tahu kamu tidur dimana karena apartemen kamu disita." Krystal tersentak saat Kai meletakan sendoknya di atas piring dengan nyaring. "Kakek pasti khawatir sama kamu."
"Maksud dia apa cerita kayak gini sama lo?" Kai berdecih. "Kalo lo ketemu Kakek gue lagi, bilang sama dia kalo gue baik-baik aja tanpa uang mereka."
"Kamu nggak mau pulang ke rumah?" Krystal menatapnya dengan penuh harap. "Pulang ya, Keluarga kamu pasti khawatir."
Kai menyeringai. "Kakek gue juga yang nyuruh lo buat bilang gitu?"
Krystal terdiam lagi, kali ini cewek itu lebih memilih untuk menundukan wajahnya.
"Asal lo tau, nggak ada satu pun dari mereka yang bakalan peduli gue tidur dimana. Jadi lo nggak usah susah-susah buat bujuk gue untuk balik lagi ke rumah."
"Kai-"
"Udah kelarkan? Buruan gue anter balik." Ujar Kai seraya bangkit dari kursi dan berjalan keluar tenda, meninggalkan Krystal yang terdiam di tempatnya.
• • •
Krystal tentu tahu jika suasana hati Kai saat ini sedang tidak baik, apalagi semenjak pembicaraan mereka di warung tenda nasi goreng tadi. Makanya, cewek itu memilih untuk menutup mulutnya. Tidak lagi ingin berbicara sampai Kai menghentikan motor itu di depan pagar rumahnya.
"Makasih udah anter aku pulang." Krystal menyerahkan helm yang tadi dia pakai. Cewek itu tidak langsung masuk ke dalam, dia masih menatap wajah Kai lekat-lekat.
Kai yang merasa ditatap begitu oleh Krystal langsung menoleh ke arah cewek itu. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
"Kenapa lo?"
Krystal mendesah pelan. "Besok kamu sekolah 'kan?"
Kai hanya mengedikan bahunya acuh, seolah itu adalah pertanyaan yang tidak penting baginya. Cowok itu kemudian memutar kunci lalu mulai menyalahkan mesin motornya. Saat ingin memutar handle gas, tangan Krystal menahan lengannya erat. Pandangan mereka bertemu kembali.
"Ucapan aku yang tadi ... hmm ... itu bukan karena Kakek yang nyuruh. Tapi ... karena aku peduli sama kamu. Jangan sakit ya, Kai." Krystal menjauhkan tangannya dari lengan Kai sambil tersenyum tulus.
"Hati-hati." Lanjut Krystal sebelum akhirnya membalikkan badan, lalu membuka pintu pagar rumah.
"Besok ..." kata Kai yang membuat Krystal menoleh ke arahnya. "Gue jemput."
Kemudian yang terdengar selanjutnya adalah deru suara motor yang perlahan menghilang dari balik gang sempit dan kumuh itu.
Krystal menekan dadanya kuat. Sesak, rasanya seperti ada sesuatu yang siap melompat dari sana. Meletup-letup seperti kembang api di malam tahun baru.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤