
NOBIS
Chap 42
•
•
•
•
Kai yang akhir-akhir ini mendominasi kehidupannya, membuat Krystal kagum pada sosok cowok itu. Kai yang baru saja datang untuk menjemputnya di panti asuhan dengan membawa begitu banyak makanan yang dia berikan pada anak-anak panti, menghampirinya.
"Ini apa?" Krystal mengangkat kepalanya saat cowok itu menyodorkan satu kotak cokelat di depan wajah.
"Cokelat."
Krystal mengambil cokelat tersebut, dan kembali menatap Kai. "Untuk?"
Kai menghela napasnya, lalu menjawab asal. "Mang Komar."
"Kenapa kasih ke aku?"
Kai mengerti, jika Krystal memang paling ahli dalam hal menaikan tensi darahnya. Untuk itu, Kai mengusap wajahnya dan menarik napas panjang. "Ya masa aku ngasih mang Komar?"
"Tadi kamu bilang?"
"Gak usah ditanya bisa gak?"
"Hehe.." Krystal terkekeh, lalu menepuk sisi bangku yang kosong di sebelahnya. "Makasih ya, cokelatnya." Ujar Krystal bersamaan dengan Kai yang duduk di sana.
"Tadi ke panti naik apa?"
"Angkot." Krystal menoleh sambil tangannya sibuk memainkan kotak cokelat yang barusan Kai berikan. "Gimana hasilnya?"
Terjadi keheningan sebentar sebelum akhirnya Kai bersuara. "Poster aku diterima, dan bayarannya lumayan."
"Alhamdulillah." Krystal tersenyum senang, matanya berbinar menatap Kai. "Dari awal aku udah yakin kalo Kai pasti bisa, dan pas lihat poster yang kamu buat itu, aku percaya bakalan langsung keterima. Kai hebat."
Kai membalas senyuman Krystal, dan tak lupa memberi usakan lembut pada puncak kepala gadis itu. "Makasih."
"Uangnya jangan dihambur-hambur ya. Walaupun Kai masih dapet dari orang tua, tapi uang hasil sendiri itu rasanya lebih bangga. Itu yang aku rasain saat pertama kali bisa menghasilkan uang sendiri."
"Uangnya baru aku pake buat beli cokelat."
Lalu pandangan Krystal beralih pada kotak cokelat di tangannya. "Ini traktiran ya?"
"Hm.." balas Kai sambil mengedikan bahunya.
Wajah Krystal langsung berbinar, "kalo gitu aku gak mau makan cokelatnya."
"Kenapa?" Tanya Kai bingung.
"Ini hadiah pertama dari uang Kai sendiri, aku mau simpan."
Kai langsung terkekeh mendengarnya. "Mana bisa disimpan, sayang. Kamu makan aja, lagi juga semua uang hasil poster itu emang aku simpan buat kamu."
"Kenapa buat aku?"
"Kamu lupa alasan aku kerja?"
Krystal terdiam, dia mengerti maksud dari ucapan Kai padanya. Mungkin ini salah satu contoh yang membuat alam bawah sadar Krystal memilih Kai sebagai tempat dia untuk menjatuhkan hatinya.
"Aku mau berguna buat kamu, mau menjadikan kamu tanggung jawab aku." Krystal mengerjapkan bulu matanya pelan, tersanjung dengan perasaan membuncang. "Kamu pernah bilang sama aku kalo lagi ngumpulin uang buat biaya pemasangan iklan pencarian orang. Aku rasa uang aku cukup untuk itu."
Siapa lagi yang bisa membuat hatinya sehangat ini? Krystal tidak pernah merasa seberuntung saat dia bersama Kai. Cowok itu benar-benar menepati ucapannya, tapi bukan itu yang Krystal mau. Dia hanya ingin melakukan semua itu dengan usahanya sendiri.
"Kai ... Aku yakin, kamu pasti bisa bantuin aku. Tapi, kamu ada untuk semangatin aku aja itu udah cukup."
"Tapi aku mau berguna buat kamu."
"Kamu berguna buat aku, dengan cara yang berbeda."
Kai tertegun, tersenyum menatap Krystal. "Ini yang buat aku gak bisa jauh dari kamu." Ujarnya seraya menyentil ujung hidung gadis itu. "Gak bisa ditebak."
Krystal terkekeh dengan senyuman lebar. Senyuman yang membuat Kai selalu merasa kuat, dan membuatnya berjanji akan selalu berusaha menjaga itu.
"Kata bunda sebentar lagi kamu ulang tahun?"
Krystal mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. "Kok Bunda bilang-bilang sih, aku jadi malu."
Melihat gadis itu berubah menjadi begitu menggemaskan, membuat Kai tersenyum lebar dengan perasaan membuncang. "Mau kado apa?"
"Aku tau Kai pasti bakalan nanya itu." Krystal lalu membuang pandangannya ke bawah, menatap kedua sepatu kets miliknya dengan sendu. "Tahun-tahun sebelumnya, saat Bunda tanya aku mau kado apa, aku pasti akan jawab kalo aku mau ketemu ayah."
Mendadak Kai merasa tidak enak hati. Dia terdiam dan membiarkan Krystal bercerita.
"Tiap malam di setiap tanggal yang sama, aku akan duduk di depan pintu, berharap ayah datang untuk menjemput aku dari panti." Terdengar helaan napas berat dari Krystal. Ada jutaan perasaan sesak yang bersarang di hatinya saat ini.
"Aku selalu tunggu ayah di depan pintu sampai akhirnya aku ketiduran, dan itu aku lakukan selama bertahun-tahun."
"Setiap tahun dengan harapan yang sama, dan rasa yang sama."
Kai menggeser duduknya, mendekati gadis itu.
"Hampir belasan tahun itu terjadi, dan sampai saat ini..."
Kai menarik bahu Krystal, mendekap gadis itu sambil mengusap rambutnya. Sial, Kai merasa emosinya memuncak mendengar itu. Pun alasan dia semakin membenci orang dewasa, ayahnya dan ayah Krystal sama-sama orang tua yang tidak bertanggung jawab.
"Ayah masih belum datang untuk jemput aku. Padahal, ibu pernah bilang ke bunda kalo ayah bakalan jemput kita. Aku masih berharap sampai saat ini."
Kai semakin mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan gadis itu kembali.
"Mungkin ayah lagi sibuk sampai lupa jemput aku, atau ayah gak tau aku ada dimana. Aku selalu berpikir seperti itu setiap malam." Krystal menarik dirinya untuk menatap Kai. Pipi gadis itu basah. "Kai, ayah gak ngebuang aku kan?"
"Sstt.." Kai menghapus air matanya. "Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin sekarang ayah kamu lagi berusaha untuk nyari kamu, sama seperti kamu yang berusaha mencari dia."
"Aku akan selalu berdoa, semoga ayah bisa segera bertemu sama aku."
"Dan aku akan berdoa juga untuk kamu." Ujar Kai mengelus pipinya.
Krystal tersenyum, dan menarik tangan Kai yang berada di wajahnya untuk dia genggam. "Boleh ulang tahun kali ini aku minta sesuatu sama kamu."
"Aku mau Kai harus selalu bahagia, selalu tersenyum, dan gak pernah merasa sendiri lagi."
Mungkin orang lain yang mendengar ini akan mengatakan jika Krystal sangat naif, tapi bagi dirinya, hal itu adalah sesuatu yang sangat berkesan. Di hari ulang tahun gadis itu, alih-alih berdoa untuk kebahagiaannya sendiri, Krystal malah berharap dan meminta untuk kebahagiaan dirinya. Krystal peduli padanya.
"Apa yang kamu rasa aku jauh lebih rasa Krys, Jadi, cukup kamu selalu tersenyum dan aku akan sangat bahagia."
Krystal tersanjung dengan senyum melebar. "Tujuan aku bertambah satu."
"Apa?"
"Membuat Kai selalu bahagia."
Kai ikut tersenyum, tangannya terangakt untuk mengusap pipi gadis itu. "Ini gak lagi gombalin aku, kan?" ujarnya bercanda.
Krystal mencebik beberapa saat sebelum kemudian ikut tertawa. "Rese..." detik selanjutnya ia telihat bingung begitu tubuh Kai beranjak, dan berdiri di depannya.
"Ayo.." Kai mengulurkan tangannya.
"Kemana?"
Cowok itu tersenyum lebar. "Kencan."
• • •
Kencan adalah satu kata yang terasa asing untuk Kai. Baginya dulu, perempuan hanya bisa dinikmati di atas tempat tidur tanpa harus susah-susah memilih tempat kencan yang romantis dan berkesan.
Hanya bersama Krystal semua itu berubah, maka di sinilah mereka sekarang. Pasar malam yang baru buka beberapa hari lalu. Sederhana, karena tempat itu dipilih oleh Krystal.
"Kenapa ke sini?"
"Gak usah jauh-jauh, di sini juga enak kok. Murah lagi. Sekali naik permainan cuma bayar lima ribu." Ujar Krystal berbinar dan penuh antusias.
Ini pertama kalinya Kai datang ke tempat seperti ini. Jauh dari gayanya, jika biasanya setiap malam dia akan meneguk segelas minuman beralkohol, namun sekarang dia harus duduk di salah satu bangku kayu dan dihadapkan oleh setangkai permen gulali yang besar.
"Ini enak loh." Krystal memakan gulali itu sambil terus berceloteh. "Kai gak mau?"
"Bisa bikin sakit gigi."
"Kamu gosok giginya kurang rajin kali."
Kai mendengkus dengan tarikan napas kecil. Gadis itu memang paling hebat dalam hal adu berbicara. "Kamu sering ke sini?"
Krystal menoleh, lalu menggeleng. "Gak sering, cuma baru sekali."
"Sama siapa?"
"Bunda dan adek-adek panti. Dulu ada pasar malam yang buka dekat panti, karena saat itu keuangan panti lagi buruk, dan anak-anak panti jarang pergi keluar jadi Bunda ngajak kita semua ke sana. Karena tempatnya murah meriah." Ujar Krystal di akhiri dengan kekehan. "Kai udah pernah ke sini?"
Cowok itu membuang pandangannya dari Krystal. "Tau tempat ini ada aja aku gak pernah."
"Wah.. berarti aku gak salah pilih tempat."
Sontak ucapan Krystal membuat Kai tergelak. Gadis itu memang paling bisa membuat perasaannya berubah, dan selalu berhasil membuat suasana kembali menghangat.
"Hm.. Kai." Ujar Krystal ragu. Kai menoleh, menatap gadisnya yang juga sedang menatapnya. "Kayanya aku gak usah lama-lama di apartemen kamu."
"Karena mama aku?"
"Hm.. bukan." Krystal menunduk. "Maksud aku, gak baik aja kalo kita tinggal bareng dan dilihat mama kamu. Lagi juga sebentar lagi kita ujian, kan? Lebih enak kalo aku tinggal di rumah aku aja."
"Kamu takut sama aku?"
Krystal langsung mengangkat wajahnya. Menatap Kai dengan alis bertaut bingung.
"Karena kemarin aku cium kamu secara paksa?"
"Aku gak pernah takut sama Kai." Krystal menghela, "dan untuk itu, aku tau maksud kamu gak seperti itu. Kai mau bantu aku sembuh kan?"
"Terus kenapa tiba-tiba mau pindah?"
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke segala arah, kemanapun itu asal tidak menatap mata Kai. "Aku cuma takut kita kelewat batas."
Kai tersenyum, menangkup kedua sisi wajah Krystal dan menariknya untuk saling berpandang. "Hey, aku gak akan lakuin itu kalo kamu gak mau. Tujuan aku itu untuk ngelindungin kamu, bahkan jika itu dari diri aku sendiri. Aku gak akan ngerusak kamu, Krys."
"Aku percaya kamu gak akan lakuin itu, tapi gimana kalo ternyata aku gak nolak? Berdua di dalam ruangan yang sama itu berbahaya, Kai."
Kai terkekeh, "pinter banget sih kalo ngomong." Tidak lupa dia mengusap puncak kepala Krystal. "Iya, besok ya pindahnya. Aku juga kan tidurnya di sofa, jauh dari kamu. Dan kamu harus selalu ingat kalo kejadian itu gak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Gak tau kalo besok-besok, haha." Ujar Kai bercanda yang langsung mendapat pukulan dari Krystal.
"Ihh.. Kai!!"
Kai menghindar, cowok itu berlari sambil meringis. Sementara Krystal mengejarnya, dan kembali memukul Kai tapi kali ini dengan gelak tawa.
"Aku bercanda." Ujar Kai memeluk Krystal.
"Malu, Kai, dilihatin."
"Biarin, biar abang-abang tukang dagang di sini tau kamu punya aku." Kai semakin mengeratkan pelukannya, sementara Krystal sudah tergelak kencang mendengar jawaban Kai.
"Mana ada kayak gitu, emangnya abang-abang itu peduli, apa?"
Kai melepaskan pelukan itu, dan menggandeng tangan Krystal mendekati pedagang gulali. "Bang, dia ini pacar saya loh."
"Kai!"
Pedagang tersebut hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Sama seperti mereka yang tertawa melupakan semuanya, melupakan rasa kecewa, rasa sakit, dan rasa kesepian. Tergelak tidak memperdulikan orang-orang yang sedang memperhatikan mereka. Biarlah mereka tertawa, menikmati setiap momen bersama, karena mungkin setelah ini takdir akan mempermainkan mereka.
Takdir sedang menunggu kalian.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna