
NOBIS
Chap 40
•
•
•
•
"Makanan kesukaan kamu apa?" Tanya Krystal setelah melewati lorong kelas menuju parkiran.
Bel pulang sekolah yang sudah berbunyi sejak tadi membuat beberapa lorong kelas terlihat sepi, karena sebagian murid sudah berhamburan keluar untuk pulang.
"Nasi goreng."
Krystal sedikit menoleh untuk menjangkau pandangannya dengan Kai. "Kenapa nasi goreng?"
"Hm?" Mendengar itu, Kai lalu menghentikan langkahnya sambil berpikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Krystal. "Kamu mau tau?"
Cewek itu mengangguk dengan binar. "Iya, aku pengen tau semuanya tentang Kai."
Merasa gemas dengan tingkah Krystal, lantas Kai mengusak pucuk kepala gadisnya sambil terkekeh lucu.
Kai bercerita seraya melanjutkan langkah mereka untuk sampai ke parkiran sekolah dengan jari tangan yang saling bertautan.
"Waktu kecil.." Kai menjeda kalimatnya. "Pembantu di rumah jarang masak, mungkin bisa dibilang hampir nggak pernah masak, karena memang nggak akan ada yang makan di rumah..
"Bahkan bisa dihitung berapa kali kita sekeluarga makan satu meja. Gak ada satupun dari mereka yang tau aku udah makan atau belum, aku laper atau nggak. Mereka sibuk sama dunia mereka masing-masing."
Mendengar itu, Krystal menarik napas menahan matanya yang mulai memanas.
"Biasanya bi Sumi yang selalu nawarin aku makan. Setiap pagi, dia suka bikinin nasi goreng untuk sarapan semua pembantu di rumah. Waktu itu yang aku rasa, aku seperti hidup sama pembantu, makanpun sama mereka. Karena terbiasa makan nasi goreng sama mereka, aku jadi suka nasi goreng."
Krystal menghentikan langkahnya bersamaan dengan sorot mata yang berubah sayu. Kai yang menyadari jika genggaman tangan mereka terlepas ikut berhenti, lalu menoleh ke arah gadisnya.
"Kok berhenti?"
Krystal bergeming dengan wajah menunduk. Melihat itu, membuat Kai mengangkat dagu Krystal untuk menatap kedua mata bulat yang mulai mengenang di depannya.
"Hei.. kenapa sedih?" Kai mengelus wajah Krystal. "Kamu nangis?"
Bagaimana tidak. Dia terus berjalan dengan bayangan Kai yang masih kecil, harus merasakan hidup sendirian dan hanya didampingi oleh pembantu. Ditambah, kedua orang tuanya yang tidak pernah ada untuk dirinya.
"Maaf, harusnya aku gak usah tanya tadi."
"Aku nggak apa-apa kok." Melihat gadisnya berkaca-kaca membuat Kai gemas. "Kamu sedih denger cerita aku?"
Krystal mengangguk kecil. "Iya, aku gak bisa bayangin gimana kamu waktu kecil harus nanggung hidup seperti itu."
"Krys, aku udah nggak pernah mikirin masa lalu aku, yang penting sekarang ada kamu. Aku kuat kalo lihat kamu senyum." Kai menyapu tetesan air mata di pipi Krystal. "Aku nggak suka lihat ini."
"Maaf.."
"Gak ada yang salah." Kai kembali menautkan jari tangan mereka. "Pulang yuk, keburu ujan."
"Kai.." Krystal kembali menahan tangannya, lalu mendongak untuk menatap mata Kai lagi. "Aku mau bikinin kamu sarapan setiap pagi. Aku juga bakalan bikinin kamu nasi goreng yang gak kalah enak dari bi Sumi. Kai mau?"
Ada beberapa alasan mengapa dirinya merasa beruntung Krystal lebih dulu mengenalnya dibanding cowok lain. Kai bersumpah tidak akan melepaskan gadis se'istimewa Krystal untuk cowok lain. Tidak akan.
"Mau."
• • •
Setelah berbelanja bahan masakan di salah satu mini market, mereka berjalan bersisihan memasuki apartemen dan tiba di depan pintu.
Awalnya tidak ada yang mencurigakan, namun tiba-tiba Kai merasa jika pintu apartemennya sudah tidak terkunci. Seseorang telah masuk ke dalam, dan dia tau hanya ada satu orang yang bisa.
Pintu terbuka, mereka berdua masuk dengan kantong belanjaan. Tepat di sofa ruang tengah, Kai melihat sesosok wanita dengan umur hampir menginjak kepala empat sedang duduk di sana bersama segelas wine di tangannya.
"Eh.. anak mama yang gantengnya ngalahin boy band korea udah pulang." Teriak wanita itu.
"Mama ngapain di sini?"
"Mau lihat anak mama," Morena berdiri, lalu sedikit terkejut saat melihat ada seorang gadis yang baru saja masuk dan berdiri tepat di belakang anaknya. "Eh.. eh.. ini siapa? kok bawa cewek?"
Krystal tersenyum, lalu menjulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Morena. Sontak Wanita itu berjengit bingung.
"Selamat siang, Tante." Sapa Krystal.
Morena tersenyum lebar, gadis kuno dari mana yang Kai bawa ke apartemennya. "Siapa namanya?"
"Krystal, Tante." Balas Krystal.
"Cantik ya, sama kayak mama." Morena tersenyum dan mengelus sisi wajah Krystal lembut.
Kai yang berdiri di tengah-tengah mereka terlihat begitu was-was, takut jika ibunya melukai Krystal. Lalu tanpa pernah Kai duga, Morena merentangkan tangannya berniat untuk memeluk Krystal. Namun, laju tangan itu segera ditahan olehnya.
"Mama pulang aja deh." Pinta Kai.
"Ih.. kamu nggak kangen apa sama mama? Nggak boleh ngusir orang tua tau! Kualat loh."
Kai berdecih, dia tau betul jika Morena datang ke apartemen ini bukan dengan alasan merindukan dirinya. Tapi karena wanita itu sengaja datang untuk menghabiskan sebotol wine miliknya tanpa ingin digangguan siapapun, apalagi jika itu harus berurusan dengan ayahnya.
Pandangan Kai beralih ke Krystal. "Kamu ke kamar dulu ya, nanti aku nyusul." Perintah Kai pada Krystal karena dia tidak ingin jika cewek itu harus melihat Ibunya dengan keadaan seperti ini.
"Tapi ada Mama kamu, Kai."
"Nggak masalah."
"Siapa bilang nggak masalah." Sambar Morena, "Nggak boleh main di kamar." Morena menaikan jari telunjuknya dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri tepat di depan wajah Kai.
"Bahaya! Kan belom lulus sekolah, nanti aja kalo udah lulus, baru boleh." Ucapnya lagi sambil terkekeh lalu mencolek lengan Krystal.
"Mah!"
"Mending sekarang kita ngobrol yuk." Morena menggiring Krystal dengan paksa ke arah sofa, lalu mereka duduk di sana. Sementara Kai hanya membuntuti mereka berdua dari belakang sambil menghela napasnya berulang kali.
Krystal tersenyum kikuk, tidak tau harus berkata apa pada Morena. Dia melirik Kai sebentar, memberi isyarat untuk meminta bantuan cowok itu.
"Pacar? Iya?" Senyum Morena melebar namun terlihat seperti meledek.
"Wah.. tipe cewek kamu berubah ya?" Morena menatap Kai beberapa saat, lalu beralih ke Krystal. "Kamu tau gak, Kai itu sebenernya suka cewek yang seksi-seksi, yang kalo pake baju itu hampir melorot. Kayak kekurangan bahan gitu, tapi tante sih nggak suka, soalnya mereka matre." Celoteh Morena yang membuat Krystal tersenyum kaku.
"Jangan sok tau!" Kai berdecih di ujung sana. "Makanan kesukaan aku aja Mama nggak tau, pake ngomongin tipe cewek!"
"Siapa bilang? Mama tau kok makanan kesukaan kamu. Ayam goreng 'kan? uhh pasti mama bener." Ujar Morena bangga sambil bertepuk tangan.
"Kai suka nasi goreng, Tante." Celetuk Krystal.
Morena membulatkan matanya lalu menutup mulutnya dengan tangan. "Oh udah ganti? Dulu, Kai itu sukanya ayam goreng loh."
"Sinting!" Umpat Kai pelan sambil memainkan hapenya. "Kapan aku makan ayam goreng?"
"Kai.." tegur Krystal. "Nggak boleh ngomong kasar sama mama kamu."
Morena hanya menaikan alisnya santai, seolah tidak merasa terganggu dengan umpatan Kai padanya. "Perasaan mama pernah deh masakin kamu ayam goreng."
"Anaknya siapa yang mama masakin? Nyalahin kompor aja nggak bisa!" Sahut Kai lagi.
Morena terdiam, berpikir sebentar lalu tertawa kencang. "Oh iya, Mama lupa. Untung kamu ingetin."
Kai mengusap wajahnya gusar. Sekarang dia tau, dari mana sifat menyebalkannya berasal jika bukan dari wanita di depannya ini yang sekarang sedang menuangkan sebotol wine ke dalam gelas. "Krystal mau?" Tawar Morena.
"Mah!"
"Enggak, tante. Makasih." Jawab Krystal yang diiringi dengan senyuman.
Morena juga tersenyun santai. Lalu mulai meneguk wine di dalam gelas itu. Ibu jarinya dengan lihai mengelap ujung bibirnya yang basah.
"Enak loh, masa nggak mau."
"Mah!" Bentak Kai kesal. "Mendingan mama pulang! Aku udah bilang mang Udin buat jemput."
"Nggak mau! Mama nggak bisa minum kalo di rumah. Tau kan papa kamu cerewetnya minta ampun." Morena menuang wine-nya lagi ke dalam gelas. "Mendingan kamu temenin mama."
Wanita itu menggeser gelas kecil berisi wine ke depan Kai. Sementara, Kai hanya menatap gelas itu dengan malas tanpa menyentuhnya.
"Oh iya, kemarin itu ada temen kamu yang main ke butik mama." Morena melipat kakinya. "Anaknya centil, mama nggak suka."
"Siapa?" Tanya Kai yang sebenarnya tidak perduli.
"Itu loh yang kecil, putih, cantik tapi agak pendek. Namanya itu siapa ya," Morena terdiam sebentar sambil mengingat-ngingat. "Kalo nggak salah Ririn.. eh, tunggu-tunggu." Dia berpikir lagi. "Ari apa ya? Aduh.. mama lupa, kayaknya Arina. Iya.. Arina."
Kai menggelengkan kepalanya. Jika bukan Ibunya, mungkin Morena sudah dia tendang keluar dari apartemen, atau lebih parahnya lagi Kai akan menyumpal mulut wanita itu agar tidak banyak mengoceh.
"Mungkin Airin, Tante." Sahut Krystal.
"Ahh.. iya Airis."
"Airin, Tante." Krystal membetulkan lagi.
Morena menepuk paha Krystal pelan. "Dia bukan pacarnya Kai kok, soalnya tipe Kai juga bukan yang kayak gitu."
Kai menghela napas. Mulai lagi deh!
"Udah pulang aja, mah!" Kai berdiri, memasukan hapenya ke dalam kantong celana. "Mang Udin udah di parkiran bawah."
Cowok itu berjalan ke arah Morena, menarik tangan ibunya untuk berdiri lalu menyeret paksa sang ibu menuju pintu.
"Kai- eh.. eh.. mama bisa jalan sendiri." Morena terpekik, lalu menepuk tangan Kai yang berada di lengannya. "Astaga.."
Wanita itu menoleh ke arah Krystal yang berdiri di sana dengan wajah terkejut. "Krystal.. besok kita ngobrol lagi yaa, Tante pulang dulu. Byee.." ujarnya sambil melambaikan tangan.
"Iya tante, hati-hati di jalan." Balas Krystal tersenyum kaku, merasa tidak enak.
"Mang Udin udah nunggu di parkiran." Ujar Kai yang sudah berada di depan pintu. "Mama pulang hati-hati."
"Ciumnya mana?" Morena mengarahkan telunjuknya ke arah pipi. "Jangan Krystal aja yang kamu cium, mama enggak."
Kai mengerutkan dahinya. "Apa sih, mah?"
"Tuh di leher Krystal, emangnya mama nggak tau.. pfft.." Morena menutup bibirnya menahan tawa.
Sementara itu, Kai hanya mampu mengurut pangkal hidungnya guna mencari kesabaran dalam menghadapi sang Ibu.
"Eyy.. anak orang itu loh, Kai. Nggak boleh! Dosa! kalo kata nenek kamu nih ya, nanti bisa masuk neraka."
Kai menghela napas, "Nggak aku apa-apain sih, mah."
"Iya emang harus gitu." Morena memukul lengan anaknya. "Jangan macem-macem ya berduaan di apartemen."
"Iya-iya ... udah mama pulang buruan." Kai menggeser tubuh Morena hingga wanita itu menjauh dari pintu.
"Cium dulu, baru mama pulang."
Mungkin selain dengan Krystal, Kai memang harus menggunakan kesabarannya untuk Morena juga. Karena jelas, ibunya benar-benar wanita menyebalkan.
Dengan malas dan helaan napas jengah, Kai mengecup pipi Morena cepat, lalu mendengus sebelum akhirnya menutup pintu apartemen itu.
"Eyy... dasar anak nakal." Dengus Morena.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna