Nobis

Nobis
Satu Nama



NOBIS


Chap 49






Sudah biasa bagi Sean melihat apartemennya diisi oleh kedua sahabatnya itu. Apalagi adanya sepatu berwarna putih yang dia lihat di depan pintu tadi membuat Sean yakin jika ada seseorang di dalam sana.


Setelah melepas sepatunya asal-asalan, dan melemparkan jaket serta tasnya ke atas lantai. Sean mengambil sekaleng minuman bersoda dari kulkas dan menghampiri sahabat terbrengseknya yang sedang berbaring di atas sofa dengan satu tangan menutupi mata.


"Masih idup lo, nyet?" Sean merebahkan tubuhnya di sofa kecil, lalu membuka minuman kaleng yang tadi dia bawa dan menegaknya sedikit. "Lo dari tadi di sini?" Tanya Sean lagi. Namun, cowok dengan rambut acak-acakan itu seolah tidak mendengar dan tetap diam dalam posisinya.


Sean berdecak untuk itu. Jika saja dada Kai tidak naik turun untuk bernapas, mungkin Sean sudah mengiranya mati.


Masih berusaha membuat sahabatnya terganggu, Sean kemudian menyalahkan televisi dan menenggak kembali minuman kalengnya dengan santai sampai suara Kai tiba-tiba terdengar.


"Gimana dia?"


Sean menghela, meletakan minuman kalengnya ke atas meja. Tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud Kai, Sean sudah mengerti. "Luka kecil di lutut, tapi gak seberapa dibanding bentakan elo ke dia!"


"Masih nangis?" Tanya Kai lagi dengan posisi yang sama, seperti tidak ingin terlihat menyedihkan.


"Lebih parah." Sean mendengkus, menarik nafasnya dalam-dalam guna mencari kesabaran dalam menghadapi sahabatnya. "Lo bisa gak, jangan teriak-teriak kayak gitu sama dia! Liat sekarang, lo sendiri yang pusing pas dia nangis."


"Dengan cara kayak gini gue bisa ngelepas dia."


"Oke.. gue ambil kesimpulannya sekarang, lo marah kayak gini itu karena gak terima kalo Krystal jadi adek lo kan?"


Tidak ada jawaban. Kai sendiri tidak mengerti. Dia hanya berusaha untuk membuat Krystal jauh darinya, namun dia juga merasa begitu emosi mengingat bagaimana ibu Krystal menghancurkan keluarganya.


"Lo berhak ngebenci ibunya, tapi gak untuk Krystal."


"Lo gak ngerti, Yan."


Sean berdecak, lalu menegakan tubuhnya. "Bukan gue yang gak ngerti, tapi diri lo sendiri yang gak ngerti apa yang udah lo lakuin! Kenapa sih, lo gak coba jelasin sendiri aja ke dia?"


Kai tidak bersuara, dia masih memejamkan mata untuk melihat bayangan Krystal. Masih teringat jelas di benaknya tentang gadis itu, cara Krystal tersenyum, bercerita, tertawa, bahkan saat wajah gadis itu memerah karena malu. Kai benar-benar merindukannya.


Merindukan satu nama yang terus memenuhi pikirannya.


"***!" Sean melempar remot ke arah Kai, namun tidak juga membuat cowok itu merubah posisinya. "Mati aja lo, *** kambing!" Kesalnya merasa terabaikan.


Hening mengambil alih. Sean kembali menatap layar televisi, mencoba tidak memperdulikan Iblis yang sedang menghela nafas di atas sofanya. Beberapa menit terlewati sampai tiba-tiba Kai bangkit dan duduk di hadapannya.


"Lo udah ngelakuin apa yang gue suruh kan?"


Sean memutar kedua bola matanya kesal, lalu mendengkus. "Udah!"


"Sesuai perintah Kaisar kerajaan para iblis ... Hamba sudah memberi pelajaran pada semua perempuan yang telah mencelakai tuan putri Krystal hingga mereka tidak akan berani mengganggu putri lagi. Sekiranya itu laporan yang bisa hamba beritahu. Puaskah Kaisar agung *** kambing ini??" Ujar Sean penuh ejek.


Kai berdecih, lalu berdiri. Sebelum berjalan menuju pintu keluar dia menyempatkan diri untuk mengambil remot tv dan melemparnya kembali pada Sean. Membuat cowok itu meringis sambil mengumpat padanya.


"***!"


Kai terkekeh.


"Mau kemana lo?" Tanya Sean sembari mengusap kepalanya.


Cowok itu mengambil kunci motornya di atas meja, lalu menuju pintu. Saat langkahnya hampir sampai di depan pintu, Kai menoleh sekilas pada Sean, lalu berkata. "Makasih, Yan."


• • •


Krystal terbangun dengan nyeri yang luar biasa di kepala, ia mengerjap kecil untuk menyesuaikan pandangannya. Krystal ingat, semalam dia tidak berhenti menangisi Kai. Dia mencoba meringankan perih di hatinya.


Namun, sebanyak apa Krystal mengeluarkan air matanya, rasa sakit itu tak juga hilang dari dadanya. Malah, semakin membuat dia mengingat wajah cowok itu, mengingat bagaimana mereka menghabiskan satu hari hanya dengan tertawa dan bercerita.


Dia rindu Kai. Rindu semua perlakuan cowok itu. Dunianya serasa berhenti, entah apa yang Krystal rasakan, dia hanya merasa kosong dan hampa. Padahal, sebelum Kai menyentuh hidupnya, Krystal bisa sekuat itu. Namun mengapa sekarang dia bisa selemah ini? Mengapa rasanya begitu menyakitkan, hingga perih memenuhi seluruh dadanya.


"Kai.." lirihnya yang sudah duduk di pinggir kasur. "Aku kangen.."


Suara ketukan di depan pintu membuat Krystal tersentak dari lamunannya. Dia memijat pelan dahinya sebelum berdiri dan melangkah menuju pintu.


Wajahnya mendadak bingung begitu melihat dua orang laki-laki dengan jas hitam berdiri di depannya. Dari penampilan mereka Krystal bisa menebak jika kedua orang tersebut bukanlah berasal dari daerah rumahnya. Mereka terlihat sangat rapih.


"Cari siapa, pak?" Tanyanya dengan kerutan di dahi. Sudah hampir dua tahun Krystal tinggal di rumah ini, tapi tidak ada satupun orang  yang bertamu dengan pakaian rapih seperti ini.


"Nona Krystal?" Tanya salah satu di antaranya.


Krystal semakin terlihat bingung dan juga takut. "Eh.. iya, saya Krystal."


"Ada yang ingin bertemu dengan Nona."


Mendadak perasaan Krystal menjadi tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang buruk, yang mungkin sebentar lagi dia ketahui.


Apalagi begitu tubuh kedua pria berjas hitam tadi bergeser hingga memperlihatkan sesosok lelaki dengan jas hitam mahal yang wajahnya seperti tidak asing untuknya.


"Krystal?" Tanya lelaki itu dengan senyuman.


Krystal ingat, Luna pernah menceritakan sosok lelaki itu padanya. Krystal yakin dia tidak salah mengenali.


"Bapak...?"


"Kamu benar anaknya Alisa?"


Krystal mematung saat nama ibunya disebut. Degub jantungnya berdebar semakin kencang. Siapa sebenarnya lelaki di depannya ini?


"Bapak kenal ibu saya?" Tanya Krystal memastikan.


Lelaki itu tersenyum lagi, namun kali ini dengan mata yang berkaca-kaca dan sendu. "Jadi benar kamu anaknya Alisa?"


Krystal mengangguk sebagai jawaban.


"Ya Tuhan... terima kasih." Dengan rasa haru dan berucap syukur, lelaki tua itu memeluk tubuh Krystal cepat hingga membuat sekujur tubuh Krystal menegang dan hanya terdiam bingung.


Ada rasa takut di dirinya begitu mendapatkan pelukan tiba-tiba, namun Krystal tidak bisa menutupi rasa penasarannya tentang sosok lelaki tua ini.


"Bapak kenal ibu?" Ujarnya masih di dalam pelukan lelaki itu. "Bagaimana bapak bisa kenal ibu saya?"


Pelukan mereka terlepas. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Sebelum dia memberikannya pada Krystal, lelaki tua itu menarik tangan Krystal dan meletakan benda itu di tangannya.


Sontak Krystal langsung menutup mulunya dengan tangan. Dia terkejut, sangat terkejut begitu melihat sebuah kalung berbandol batu crystal tersemat di telapak tangannya. Kalung yang sama dengan yang dia punya, kalung peninggalan sang Ibu.


"Ayah..??"


Dan saat itulah Krystal menjadi mengerti dengan semuanya. Dia mengerti bahwa bukan dirinya lah yang dilukai, tetapi dia yang telah melukai hati seseorang. Bahwa bukan dirinya yang terbuang tapi dia lah yang membuat orang itu terbuang. Dan Krystal juga menyadari satu hal, jika bukan hanya dunianya yang hancur saat ini, tetapi ada seseorang yang lebih hancur darinya.


Satu nama yang selalu dia sebut.


Kai.


• • • •


like dan komen yaaaa