
NOBIS
Chap 52
•
•
•
•
Pagi-pagi sekali Krystal sudah bangun dari tidurnya. Bukan karena dia telah terbiasa bangun pagi, tapi semalam dirinya benar-benar tidak bisa tidur karena terlalu banyak memikirkan masalah yang baru saja terjadi di antara dirinya dan juga Kai.
Krystal mungkin belum terbiasa dengan ruangan kamarnya yang sangat luas itu. Bahkan Krystal hanya memakai setengah ruangan saja untuk meletakan seluruh barang-barang yang dia miliki. Kamar itu terlalu besar untuknya.
Setelah selesai membersihkan diri, dan memakai seragam sekolahnya. Krystal bergegas turun ke bawah untuk ikut sarapan. Namun, saat dirinya tiba di ruang makan, tidak ada satupun orang yang berada di sana. Di meja makan pun hanya ada roti dan selai.
"Non.."
Krystal menoleh, ada bi Sumi yang sedang membawakan dua gelas susu dari dalam dapur.
"Oh.. bi Sumi?" balasnya dengan sumringah. Krystal ingat bi Sumi, saat pertama kali menginjakan kaki di rumah ini, sambutan pertama yang dia terima adalah dari perempuan paruh baya itu.
"Kata bapak, non sekolahnya diantar sama mang Udin aja." Ujar bi Sumi seraya meletakan dua gelas susu yang dia bawa dari dapur ke atas meja makan. "Ini susunya, non."
"Makasih, bi.." Krystal menatap bi Sumi lamat, perempuan paruh baya itu sedang sibuk merapihkan peralatan makan di atas meja. Tidak ada yang berubah, bi Sumi masih memperlakukannya dengan baik dan hangat. Sama seperti pertama kali Krystal bertemu.
"Udah lama, gak ketemu bi Sumi." Ujarnya lagi.
Kalimat Krystal sontak membuat perempuan tua yang sudah dua puluh tahun mengabdi menjadi asisten rumah tangga di dalam rumah itu menoleh ke arahnya. Dia tersenyum sendu, sambil mengangkat tangan untuk menggenggam tangan Krystal.
"Bi Sumi seneng non Krystal ada di sini. Rumah jadi gak sepi lagi. Semoga betah ya, non." Balasnya sembari mengelus punggung tangan Krystal. "Tapi, bi Sumi juga sedih pas tau non Krystal sama den Kaisar ternyata--"
"Bi.." potong Krystal cepat.
Bi Sumi langsung merapatkan bibirnya. "Duh.. maaf-maaf, non. Bi Sumi gak maksud buat ingetin itu."
"Ga pa-pa, bi. Gak usah dibahas lagi." Krystal membalasnya dengan senyuman.
"Yaudah, bi Sumi balik ke belakang dulu ya, non."
Belum sempat bi Sumi melangkah, Krystal dengan cepat menahan lengan perempuan tua itu. Dia menatapnya penuh tanya. "Yang lain pada kemana, bi?"
Bi Sumi terdiam sebentar sebelum kemudian menjawab pertanyaan Krystal. "Memang seperti ini setiapa paginya, non. Pak Kevin selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, kalo ibu Morena ... nyonya udah biasa gak sarapan di rumah. Jadi .... meja makan selalu sepi seperti ini."
"Kakek?"
"Tuan besar lagi sakit, non. Biasanya cuma tuan besar yang sarapan di meja makan."
Krystal terkejut dengan alis mengkerut. "Kakek sakit?"
"Iya.. udah hampir dua minggu."
"Tapi kemarin?"
"Tuan besar memang seperti itu, non. Gak mau dianggap sakit. Masih suka kerja di ruangannya."
Krystal terdiam. Semalam dia dan kakek Wira mengobrol banyak hal, dan kakek Wira memang terlihat pucat. Krystal menjadi merasa bersalah, dia takut kesehatan kakek Wira menjadi semakin bertambah buruk dengan kejadian ini.
"Non, mau makan sekarang? Bi Sumi udah buat nasi goreng."
Krystal terkesiap, dia masih merasa canggung dengan situasi seperti ini. Diperlakukan dengam baik, diantar ke sekolah dan semua kebutuhannya pun dilayani. Krystal tidak terbiasa dengan ini semua. Dia merasa sungkan dan merasa masih mampu mengurus keperluannya sendiri.
"Bi, nasi gorengnya--"
Apa yang paling Krystal rindukan? Ialah pemilik suara itu. Orang yang sudah memporak-porandakan seluruh hatinya, orang yang membuatnya bangkit dan jatuh di saat yang bersamaan.
Krystal merasakan tubuhnya memanas, dan detak jantungnya berdebar cepat. Lantas dengan gerakan perlahan Krystal membalikan tubuhnya, menatap pemilik suara itu dengan sorot mata rindu.
"Sudah, den. Mau makan sekarang? Sekalian sama non Krystal."
Seolah jarum jam berhenti berputar, dan bumi berhenti berotasi. Mata mereka saling beradu, memancarkan kerinduan satu sama lain. Keduanya hanya mampu berdiri kaku dengan debaran jantung yang menggila.
Kai ingin sekali berlari memeluk tubuh Krystal, ingin mengatakan banyak hal, salah satunya adalah jika saat ini dia tidak sedang baik-baik saja, dia membutuhkan gadis itu sangat banyak.
Mata Kai tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangi lekuk tubuh yang sudah sangat dia rindukan itu. Seakan dari sorot matanya, Kai sedang melukis wajah Krystal untuk dia simpan di dalam kepalanya.
"Ehem ... ini pada mau makan kapan?" Suara bi Sumi kembali menjadi satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan itu.
Kai yang pertama kali memutuskan pandangan mereka. Cowok itu kemudian melangkah lebih dekat lalu menarik kursi dan duduk di depan meja makan dengan santai.
"Susu saya yang mana, bi?"
Bi Sumi lantas mendekatkan satu gelas susu ke hadapan Kai. "Ini punya den Kai." Lalu dia kembali menggeser satu gelas susu lainnya ke arah Krystal. "Nah, ini punya non Krystal."
"Makasih, bi." Ujar Krystal gugup.
"Duduk, non." Bi Sumi menarik kursi yang berada dekat dengan Kai untuk Krystal. "Nasi gorengnya bi Sumi ambilin dulu yaa.."
Kemudian, setelah kepergian bi Sumi dari ruangan itu, Krystal dengan canggung duduk di dekat Kai. Gadis itu hanya mampu menunduk dengan jari tangan yang saling bertaut di atas roknya.
Hening sesaat sebelum akhirnya suara Kai kembali terdengar. "Selamat."
Krystal mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Kai. Sesaat Krystal terdiam berusaha mencerna arti dari perkataan Kai barusan.
"Selamat udah ketemu sama bokap lo." Kai tersenyum miring. "Seperti yang diharapkan, dia datang buat ngejemput lo, tepat di hari ulang tahun lo."
"Kai.."
Hati Krystal mencelos. Rasa aman dan nyaman saat dia bersama Kai mendadak berubah menjadi rasa takut.
"Seharusnya lo seneng ... gue harap sih lo seneng." Terdengar nada mengejek dari setiap kata yang Kai ucapkan.
Semua perhatian dan sikap baik yang Kai berikan padanya dulu seketika menghilang. Yang tersisa hanyalah, sosok dingin yang tidak dia kenal.
"Kai.. aku--"
Bibir Krystal bergetar dan air matanya sudah berkumpul menjadi satu hingga kemudian menetes dengan deras membasahi pipinya. "A-aku minta maaf.."
"Berhenti bersikap kayak gini, lo semakin membuat gue gak betah ada di rumah." Seperti pertahanan diri yang biasa dia lakukan, Kai kembali menyakiti hati Krystal demi membunuh perasaannya.
"A-aku.. minta maaf." Gadis itu terisak, jantungnya seperti diremas dengan kuat, rasanya sangat sakit dan menyesakan. "Maaf.."
"Kenapa lo gak marah?" Pertanyaan Kai barusan sukses membuat Krystal kembali mengangkat wajahnya demi menatap mata cowok itu. "Kenapa lo gak marah sama gue? Gue udah ambil apa yang menjadi hak lo?"
"Aku minta maaf, Kai."
"Jangan pernah minta maaf atas kesalahan yang gak lo perbuat." Kai sedikit membentak. "Seharusnya lo marah sama gue!"
Krystal menggeleng. "Kenapa aku harus marah sama kamu? Kai gak salah, kamu memang berhak atas itu."
"Berhenti bersikap naif, Krystal!"
"Nggak ... kalo dengan cara seperti itu Kai merasa puas, aku gak pa-pa. Aku gak mau Kai bersikap kasar sama ayah, aku gak mau lihat Kai bertengkar dengan kakek seperti kemarin."
Kai tertawa sarkas. Krystal memanggil ayahnya dengan sebutan 'ayah', itu semakin memperkuat jika di antara mereka memang hanya ada hubungan kakak dan adik.
"Tck! Lo bikin gue gak nafsu makan." Lalu selayaknya cowok brengsek yang sudah menghancurkan hati gadis itu, yang Kai lakukan selanjutnya hanyalah berdiri dan pergi dari meja makan itu, menulikan telinganya dari panggilan Krystal yang semakin terisak.
• • •
"Krys.. Krystal!" Luna berdecak saat panggilannya yang kelima tidak juga mendapatkan sahutan dari pemilik nama. "Krystal! Woi!"
Gadis itu tersentak, ia menoleh kaget saat Luna menepuk pundaknya pelan. "Eh.. kenapa Lun?"
"Gue panggilin dari tadi gak nengok-nengok. Kebanyakan mikirin gombalannya mang Komar lo ya?"
Krystal menanggapi Luna dengan mata sendu dan seulas senyum tipis.
"Kenapa sih lo? Mikirin apaan? Dari jam pertama sampe bel pulang bunyi kerjaannya ngelamun mulu." Keluh Luna kesal. "Jangan bilang lo mikirin si Iblis gila itu ya! Gue marah loh!"
"Enggak, Lun." Krystal memasukan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. "Pulang yuk.."
Luna mendelik kesal, gadis itu berdecak sambil menyampirkan tasnya ke balik punggung. "Kan dari tadi gue udah ngajakin lo pulang, duh.. punya temen pinternya minta ampun tapi rada lemot."
Krystal terkekeh, menarik tangan Luna untuk dia gandeng. "Maaf.. maaf.. jangan marah-marah gitu dong, nanti cantiknya hilang loh." Rayu Krystal.
"Susah gue mau ngambek sama lo, apalagi kalo udah dibilang cantik." Luna mendengkus, lalu balik menggandeng tangan Krystal. "Besok temenin gue nyari baju yuk, kemarin gue lihat ada baju bagus tuh."
"Gak janji ya, Lun. Aku.." Krystal menahan kalimatnya di udara. Sampai saat ini Krystal belum juga menceritakan pada Luna jika dirinya dan Kai adalah saudara.
"Kenapa?"
"Aku.." Krystal mendadak gelisah, suaranya terdengar gugup. "Aku kan harus kerja."
Luna berdecak. "Yaelah, bolos aja napa.. sekali ini aja, Krys. Ya.. yaa..??"
"Lihat besok ya."
Dia menghela pelan. "Yaudah .. Okeh deh.."
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, sesekali Luna bercerita tentang cowok yang dia taksir, lalu Krystal akan menanggapi dengan senyum kecil. Sesekali gadis itu juga menahan air matanya ketika mengingat terakhir kali dia pulang bersama Kai. Saat tangan mereka saling tertaut untuk bergandengan.
Krystal rindu itu, tapi dia tidak bisa. Apa yang ada di hatinya adalah kesalahan, itu dosa.
Luna masih terus berceloteh riang di sebelah Krystal. Namun saat hampir mendekati pos penjaga mang Komar, langkah Krystal seketika terhenti begitu matanya tidak sengaja menangkap tubuh Rekha yang sedang duduk di atas motornya tepat di depan gerbang sekolah.
"Kenapa?" Tanya Luna bingung.
"Rekha?"
Luna mengernyit, mengikuti arah pandang gadis itu. "Siapa? Pacar baru lo?"
Krystal menggeleng. "Bukan, dia temen kerja aku, Lun."
"Itu, yang di depan gerbang, yang pake motor Varia?" Tanya Luna lagi, memastikan. "Widihh.. ganteng amat. Gue mah heran, lo kok bisa sih di kelilingin cowok-cowok ganteng."
"Dia cuma teman kok."
"Temen apa temen?" Ledek Luna, yang membuat Krystal menatapnya kesal. Gadis itu meninggalkan Luna begitu saja yang berdiri dengan wajah melongo. "Krys.. gue ditinggal?"
Tidak ada jawaban dari Krystal, gadis itu hanya berjalan cepat menuju pintu gerbang dan menghampiri Rekha yang sedang duduk di atas motor sambil tersenyum ke arahnya.
"Hai.."
"Rekha? Kamu ngapain di sekolah aku?"
"Aku mau jemput kamu."
Krystal menghela, wajahnya berubah kaku. "Gak usah, aku bisa pulang sendiri."
"Gak pa-pa, aku juga baru pulang dari kampus." Dia tersenyum. "Karena searah, jadi sekalian aja aku jemput kamu."
"Aku gak mau ngerepotin kamu."
"Aku gak ngerasa direpotin kok." Rekha lagi-lagi mengukum senyum senang ke arah Krystal. Lalu dia mengulurkan helm cadangan miliknya pada gadis itu. "Ayo naik."
Krystal menatap uluran helm itu dengan ragu, antara menerima ajakan Rekha atau menolaknya. Karena jujur, dia masih belum sanggup bercerita pada siapapun tentang statusnya saat ini, bahkan sekalipun pada bunda di panti asuhan.
Sesaat tangan Krystal terangkat untuk mengambil helm tersebut. Namun, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahannya. Sontak Krystal menoleh, dia terkejut dengan bibir terbuka.
"Dia pulang sama gue!"
Krystal terkesiap, matanya membulat sempurna saat melihat pemilik tangan itu. Mendadak tubuh Krystal terasa panas dan jantungnya berdetak semakin gila.
"Lo..." mata mereka bertemu. "Pulang bareng gue!"
"Kai.." gumam Krystal sambil mengerjap bingung.
• • • •
like dan komen ❤❤❤