Nobis

Nobis
Hancur



NOBIS


Chap 48






Kai menyentak kasar pintu ruang kerja Kevin hingga membuat lelaki yang dia sebut sebagai ayah itu tersentak kaget. Wajah Kai memerah dengan rahang mengeras, ia menujukan rasa benci yang teramat banyak pada lelaki yang sedang duduk dengan beberapa dokumen di mejanya itu.


"Dimana sopan santun kamu!" Bentak Kevin begitu Kai berdiri di depan meja kerjanya.


Tanpa banyak bicara, Kai melempar kalung berbandol batu crystal ke atas meja kerja Kevin hingga ayahnya membelalak kaget.


"Alisa juga punya kalung ini kan?" Tanya Kai keras menahan rasa sakit di dalam hatinya. "Kalung yang sama persis seperti punya papa!"


"Kamu buka-buka meja kerja papa?"


"Kalo saya gak buka, saya gak akan tahu tentang kalung ini!" Balasnya dengan deru nafas yang memburu. "Jadi bener, Alisa juga punya kalung seperti ini!"


"Tau dari mana kamu?"


"Tck!" Kai menggeram, menjenggut rambutnya kasar. "Brengsek!"


"Kaisar jaga ucapan kamu!" Kevin sontak berdiri, amarahnya mulai tak terkendali saat mendengar umpatan dari sang anak. "Papa tanya, kamu tau dari mana Alisa punya kalung seperti ini?"


"Jadi bener?" Kai tertawa sarkas menatap Kevin.


Lelaki tua itu hanya terdiam, dan keterdiaman sang ayah mampu membuat Kai menyimpulkan semuanya. Dia marah, mengusap wajahnya kasar.


"Semua bener, pah?" Lalu tawanya terdengar begitu miris. Matanya berkaca-kaca.


Kevin menghampirinya, menarik kedua pundak Kai. "Bilang sama papa kamu tau dari mana?"


Kai berdecih, menyeringai dengan hati yang hancur. "Saya tau semuanya! Bahkan saya tahu di mana anak papa sekarang berada."


Kevin benar-benar terkejut. Matanya melebar sempurna seolah tidak percaya.


"Kai.. bilang sama papa di mana anak itu?"


"Anak Beasiswa di yayasan kakek. Namanya Krystal." Ujar Kai bersama dengan dunianya yang hancur.


• • •


"Anjing!" Ringis Chandra saat menyentuh luka-luka pada wajahnya. "Muka gue pada sakit!"


"Baru di pukul gitu doang udah ngeluh! Payah lo!" Sahut Sean yang sedang menghisap rokoknya.


"Besok-besok kalo berantem jangan di depan gue deh! Apes banget!" Chandra meneliti wajahnya dengan kaca hape. "Sumpah, ganteng gue pudar!"


Kai sendiri hanya sibuk dengan pikiran-pikirannya sambil menghisap batang rokok yang terselip di jari tangan.


Beberapa jam setelah aksi pukul memukul itu, mereka bertiga balik ke apartemen Kai dengan wajah yang penuh babak belur. Seragam sekolah mereka bahkan sudah kotor dan tidak berbentuk lagi. Beruntung saat itu tidak ada yang melihat mereka berkelahi.


"Jadi bokap lo udah tau?" Sean menatap Kai yang sedang asik menghembuskan asap rokok dari hidung dan juga mulutnya. Cowok itu mengangguk pelan sebagai balasan.


"Gue gak bisa ngebayangin gimana rasanya jadi Krystal saat ini." Sambar Chandra. "Lo kelewatan, nyet. Nggak seharusnya juga lo nyakitin dia kayak gitu!"


Kai masih bergeming dengan satu batang rokok yang tinggal sedikit itu. Pikirannya melayang-layang dan membuat luka pada hatinya semakin membesar.


"Krystal ancur parah tadi. Gue aja nih, yang bisa dibilang bukan cowok baik-baik, nggak tega ngelihat dia kayak gitu." Lanjut Chandra.


Hati Kai semakin berdenyut nyeri. Hari ini dia sudah berhasil menjadi cowok paling brengsek untuk Krystal. Mungkin lebih parah dari sebelumnya. Dia sudah menghancurkan senyum gadis itu.


"Gue penasaran." Seru Sean tiba-tiba yang membuat Kai menatap ke arahnya. "Sebenarnya yang bikin lo marah sama Krystal itu karena dia anak selingkuhan bokap lo, atau karena lo sadar kalo ternyata lo sama Krystal itu adek-kakak?"


Kai mendadak kaku. Sampai detik ini pun dia masih tidak mengerti, kenyataan apa yang membuatnya semarah ini. Jika dipikir ulang, Krystal bukanlah orang yang tepat untuk dia jadikan sebagai tempat pelampiasan amarahnya, namun di sisi lain, Kai juga merasakan kebencian saat melihat wajah Krystal.


"Lo yakin dia anak bokap lo?" Tanya Sean lagi.


Kai menutup matanya, lalu meletakan punggungnya pada sandaran kursi. Cowok itu masih tidak membuka suara. Berharap teman-temannya mengerti apa yang ingin dia ucapkan dengan diam.


"Gue juga mikir gitu, masa iya lo sama Krystal seumuran, berartikan bokap lo selingkuh pas--"


"Chan!" Tegur Sean.


Chandra meringis. "Oke.. sorry-sorry."


Kai membuka mata, menghembuskan asap mengepul dari batang rokok terakhirnya. Dia menegakkan badan, menatap ke arah Sean.


"Lo serius sama ucapan lo?" Kalimat pertama Kai setelah mereka sampai di atas balkon apartemennya.


"Yang mana?" Tanya Sean pura-pura tidak tahu.


"***!" Kai berdecih.


Sean terkekeh dan membuang batang rokok terakhirnya. "Itu udah lama, gue nggak mau bahas."


"Cupu lo! Masalah kayak gini lo umpetin dari kita!" Chandra menyahut sambil melemparkan handuk bekas keringatnya ke arah wajah Sean.


"*** kambing, anduk bekas lo itu, ****!" Sungut Sean kesal dengan melempar kembali handuk tersebut.


"Gue boleh minta tolong sama lo?" Ujar Kai dengan nada lemah, dan mampu menarik perhatian kedua temannya.


"Kayaknya pukulan gue terlalu kenceng deh, ni bocah sejak kapan jadi ngalus gitu omongannya?" Seru Chandra.


"Chan, gue bosen temenan ama lo!" Sean menoyor kepala Chandra sebelum bertanya kepada Kai. "Apaan?"


"Jagain Krystal. Cuma lo, orang yang gue percaya saat ini."


"Maksud lo apa?" Tanya Sean.


"Mungkin gue bakalan nyakitin dia lebih dari hari ini." Kai menarik napasnya, "cuma lo, orang yang bisa nyegah itu terjadi."


"Kai-" ucap Sean tertahan.


"Bokap udah tau siapa anak yang dia cari, dan sebentar lagi dia bakalan bawa Krystal ke rumah untuk tinggal bareng."


Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya, Kai hanya bisa menarik napas menahan rasa sesak yang menghimpit jantungnya.


"Semakin sering gue ketemu dia, akan semakin sering juga gue nyakitin dia." Kai menatap Sean. "Yan, karena gue tau lo punya perasaan sama Krystal, jadi cuma lo yang bisa gue mintain tolong."


"Krystal butuh lo." Sahut Sean.


Kai menggeleng lemah. "Dia bakalan lebih ancur lagi kalo lihat gue."


Sean dan Chandra hanya mampu terdiam untuk mendukung keputusan sahabatnya itu.


Persahabatan yang terjalin sejak SMP membuat mereka memahami sifat masing-masing. Melihat Kai bisa dekat dengan perempuan seperti Krystal tentu menjadi hal langka untuk mereka, tapi seolah takdir benar-benar sedang mengutuk si iblis, Sean dan Chandra tidak pernah menyangka jika perempuan yang mampu membuat sahabatnya berubah, ternyata ditakdirkan hanya untuk menjadi adiknya.


"Gue bakalan bantu lo sebisa gue." Jawab Sean sambil menepuk pundak Kai pelan.


• • •


Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, Krystal merasa tidak bersemangat seperti hari ini. Langkah kakinya terasa berat, hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping, dan matanya terlihat sembab akibat menangis semalam.


Bahkan, kemarin malam Krystal masih setia menunggu Kai datang ke rumah. Masih berharap jika semua kejadian yang menimpanya kemarin hanya sebuah mimpi.


Kenapa harus Kai yang menyakiti gadis itu di hari ulang tahunnya?


"Krys, mau makan apa?" Tanya Luna saat mereka ada di kantin.


"Woi.." sentak Luna yang merasa tidak mendapat respon apapun dari gadis itu. "Mau makan apa?" Lanjutnya saat Krystal mulai mengalihkan pandangan dan menatap ke arahnya.


"Aku gak laper."


"Lo harus makan." Luna menaikan telapak tangannya begitu Krystal akan mengatakan sesuatu. "Jangan ngebantah gue kali ini. Lo tunggu di sini aja, gue ngantri beli somay dulu."


Lantas Luna melangkah meninggalkan Krystal di meja itu sedirian.


Tak lama setelah Luna pergi, datang tiga cewek yang kemarin ke kelasnya dengan sebotol air di tangan.


Krystal merasa ini akan berakhir buruk.


Karena gagal membully Krystal kemarin di kelas, ketiga cewek itu akan membalas kekesalan mereka hari ini. Berbekal sebotol air mineral, Jesslyn menyiram Krystal dari ujung kepala hingga membasahi seluruh bajunya.


Krystal tentu kaget. Gadis itu refleks berdiri sambil mengibaskan air yang jatuh dari rambutnya.


Sontak seluruh murid yang ada di kantin menjadikan itu sebagai sebuah tontonan.


"Rasain lo cupu!" Ujar Jesslyn mengejek. "Sekarang Kai gak bakalan bantuin lo! Lo itu udah dibuang kayak sampah!"


Mendengar nama Kai disebut membuat hati Krystal berdesir ngilu. Dia sudah dibuang, ingatan kemarin seolah berputar kembali di kepalanya.


"Nih ya cupu, gue bilangin. Dari awal harusnya lo gak usah kepedean, Kai gak pernah mau sama lo! Lo cuma dijadiin mainannya aja! Ngaca dong lo!"


Krystal ingin menangis, dadanya terasa terhimpit mendengar semua itu.


Jesslyn maju selangkah, menarik rambut Krystal kasar hingga gadis itu meringis kesakitan, lalu dia berbisik pelan. "Jangan seneng dulu karena Airin bantuin lo! Tuh cewek juga sama, sama-sama dibuang Kai. Jadi kalian emang cocok!"


Lalu sentakan kuat hingga membuat Krystal terdorong ke lantai dan mengakibatkan lututnya berdarah. Rasanya sakit, tapi tidak sesakit hatinya.


Krystal meringis dalam diam. Dia tidak mampu membela dirinya sama sekali, semua ucapan Jesslyn memang benar, Kai membuangnya sama seperti ayah.


Beberapa murid yang ada di sana mulai merekam kejadian itu dengan menggunakan hape mereka.


Krystal masih berusaha untuk terlihat kuat, walaupun di dalam hatinya semua itu sudah hancur. Dia mencoba berdiri, namun semua terasa sulit karena tubuhnya bergetar hebat menahan tangis serta luka di lututnya yang terasa perih.


"Apa-apaan sih nih!" Teriakan nyaring dari balik punggung Krystal membuat gadis itu menoleh. Dia terkejut bersamaan degub jantungnya yang berdebar cepat.


Di ambang pintu kantin ada Kai, Sean, dan juga Chandra sedang berdiri menatap dirinya. Namun bukan Kai yang barusan berteriak melainkan Sean. Cowok itu segera menghampiri Krystal yang terduduk di lantai lalu disusul oleh Chandra untuk membantu Krystal berdiri.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Sean.


Krystal menggeleng dengan senyum miris di wajahnya.


"Lo bertiga nyari mati ya?" Teriak Chandra kesal dan membuat ketiga cewek itu bergidik ngeri. "Mending lo pergi dari sini sebelum gue lempar pake bangku!"


Sontak mereka beringsut mundur dan keluar dari kantin dengan langkah terburu-buru.


"Pada lihatin apaan lo!" Teriak Chandra lagi pada semua murid yang mengerubung. "Mau gue lempar pake bangku!"


Seketika itu juga semua murid yang menonton kejadian tadi bubar dengan cepat sambil berbisik-bisik. Chandra menggeram kesal, dengan tatapan menyalang pada semua orang.


Sementara itu, Luna yang baru menyadari keadaan Krystal segera menghampiri gadis itu dengan wajah panik.


"Lo kenapa? Ya ampun baru gue tinggal beli somay udah begini aja sih, Krys." Keluhnya sambil memeluk pundak Krystal.


"Aku gak apa-apa kok, Lun. Cuma luka kecil."


Krystal melirik Kai yang juga sedang menatap ke arahnya dengan wajah mengeras. Tanpa pernah Krystal tau, Kai sedang mati-matian menahan perasaannya untuk tidak memeluk gadis itu.


Emosi Kai benar-benar memuncak saat melihat Krystal terduduk di lantai dengan baju basah dan lutut yang berdarah. Kai bersumpah jika ketiga gadis itu akan mendapatkan balasan yang setimpal darinya.


"Ke UKS deh, kaki lo perlu di obatin." Suara Luna membuat Krystal mengalihkan pandangannya.


"Hah?"


"Iya, lo ke UKS aja, Krys." Tambah Sean. "Bisa jalan gak? Mau gue gendong?"


Krystal terkekeh, "apasih, Sean. Luka aku cuma kecil gini, masih bisa jalan kok."


"Masih bisa ketawa lagi." Ujar Sean sedikit kesal.


Kai berjalan melewati mereka, dan duduk di tempat biasa yang sering dia tempati. Cowok itu menatap lurus seolah acuh pada apa yang terjadi dengan Krystal barusan.


Hati Krystal bertambah sakit melihat sikap Kai yang kembali dingin padanya. Kesalahan apa yang sudah dia lakukan hingga Kai memperlakukannya seperti itu?


"Sebentar, Lun." Pinta Krystal saat Luna menggandengnya menuju UKS. "Aku ada perlu."


"Mau ngapain?"


"Aku mau ngomong sama Kai sebentar."


Luna mendengus sebal, "Duh.. Krys! Udah sih, gak usah peduliin itu iblis."


"Woi! Kalo ngomong." Protes Chandra.


Luna semakin terlihat menantang. "Apa? Emang benerkan apa yang gue omongin, temen lo emang iblis!"


"Lun.." sela Krystal.


Chandra semakin mendekat ke arah Luna, seolah juga ikut menantang. "Lo gak tau apa-apa tentang Kai, dia itu begitu karena-"


"Chan!" Tegur Sean keras yang membuat Chandra mengantupkan bibirnya. Cowok itu menghela pelan sebelum kembali menatap Krystal. "Krys, biarin Kai sendiri dulu. Lo mendingan ke UKS aja."


Krystal menggeleng. "Enggak Sean, aku harus bicara sama Kai. Aku harus tau alasan kenapa Kai berubah sama aku seperti itu."


"Krys, tapi-"


"Pokoknya aku harus ngomong sama Kai sekarang." Ujar Krystal tanpa mendengarkan ucapan Sean.


Gadis itu melangkah menuju ke arah Kai yang sedang duduk dan sibuk dengan hapenya. Jantung Krystal berdetak semakin cepat ketika langkahnya semakin dekat dengan Kai. Sampai akhirnya, tubuh Krystal berhenti tepat di depan meja cowok itu.


Kai mendongak saat menyadari ada seseorang yang berdiri di depannya. Sama seperti Krystal, jantung Kai juga berdebar kencang. Dia merindukan wajah itu, wajah yang selalu tersenyum dengan binar, namun kali ini tidak ada lagi senyuman itu, yang ada hanya dua bola mata bulat yang berkaca-kaca dan mengenang.


"K-kai.. boleh aku ngomong sama kamu sebentar."


"Gue sibuk gak ada waktu." Balas Kai santai sambil kembali sibuk memainkan hapenya.


"Ngomong di sini juga gak apa-apa."


"Lo budeg!" Bentak Kai dengan wajah mengeras yang membuat Krystal berjengit. "Gue bilang sibuk!"


"T-tapi a-aku.."


Kai berdiri, menyentak meja ke arah Krystal hingga gadis itu melangkah mundur. "Lo tau gak, gue udah muak banget lihat muka lo! Seharusnya lo cukup tau diri untuk gak nongol di depan gue!"


"Krys.." Sean datang memegang pundak Krystal yang mulai bergetar. "Gue anter ke UKS aja ya?"


"Kai.. kamu kenapa sih?" Tanya Krystal pada Kai tanpa memperdulikan ucapan Sean.


Sementara di belakang sana Chandra menahan Luna untuk tidak ikut campur dengan urusan mereka berdua.


"Aku salah apa?" Cairan bening itu sudah tidak bisa lagi ditahan olehnya.


Kai menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. Tidak, dia tidak ingin membuat Krystal menangis. Ingatkah yang menjadi satu-satunya kelemahan Kai adalah air mata gadis itu.


Aku mohon jangan nangis, sayang.


"Gue harap lo nepatin janji lo untuk gak muncul di depan gue lagi!" Kai melangkah keluar melewati Krystal yang mematung.


• • • •


like dan komen aku tunggu !!!