Nobis

Nobis
Cowok Baik



WARNING :


CERITA INI SEDANG DALAM PROSES REVISI YA. BEBERAPA PART KE BELAKANG AKAN BERBEDA


****


NOBIS


Chap 6






Semua siswa sudah keluar dari kelas beberapa menit yang lalu setelah bel pulang berbunyi. Semua kelas kosong, jadi tidak ada yang mengganggu Krystal dan Kai untuk belajar hari ini.


"Ada yang nggak kamu ngerti?" Krystal bertanya karena sejak tadi Kai hanya duduk bersandar pada kursi sambil memainkan pulpen di tangan. Padahal Krystal sudah menyodorkan selembar kertas soal untuk Kai berlajar.


"Gue males!"


"Males mulu. Kapan kamu bisanya kalo terus terusan males." Sahut Krystal.


"Ini tuh nggak penting buat gue!" Kai melemparkan pulpen di tangannya.


Krystal menghela, berusaha sabar untuk mengajari Kai. "Nggak boleh ngomong sembarangan," ujarnya. "Di luar sana banyak orang yang mau sekolah tapi gak bisa karena gak ada biaya, harusnya kamu bersyukur masih bisa sekolah."


Kai menaikan sebelah alisnya ke atas, menatap Krystal penuh cemooh. "Lo pikir gue peduli, terus gue bakalan tersentuh sama omongan lo?"


"Mungkin enggak, tapi setidaknya sekarang kamu tahu."


Kai kembali memainkan pulpen di tangannya. "Sekali pun gue tahu gak akan ada yang berubah. Mereka bukan urusan gue."


Kepala Krystal menggeleng samar, helaan napasnya terdengar sangat berat. Ternyata memang susah untuk mengerti isi kepala dari seorang Kaisar "Sekarang kamu bisa ngomong kayak gitu, tapi nanti kamu pasti nyesel."


Meletakan pulpen di tangan ke atas meja, Kai mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu di atas layar. "Gue dari lahir sampe bernapas kayak sekarang ini nggak pernah ya yang namanya nyesel!"


"Itu karena kamu egois dan nggak pernah peduli sama orang lain!"


"Gue terlahir untuk diri gue sendiri!"


"Manusia diciptakan bukan untuk dirinya sendiri. Kamu masih berhutang satu nyawa sama ibu kamu. Ngelahirin kamu ke dunia ini tuh ibu kamu di antara hidup dan mati!"


Kai melirik Krystal yang kini sedang merengut. Cowok itu menegakkan badannya tidak peduli dengan ucapan Krystal barusan.


"Gue kan nggak minta dilahirin!" Katanya santai.


Krystal menggeram kesal. Ingin sekali dia memukul kepala Kai agar cowok itu sadar jika ucapannya benar-benar sudah kurang ajar. Ia tatap lelaki itu dengan mata menyipit, padahal tampang Kai tidak terlihat seperti anak-anak nakal, tapi kenapa belajar saja sulit sekali untuknya.


"Kenapa lo?"


"Kamu tuh beneran males apa memang gak bisa ngerjain soal sih?"


"Mau tahu?" tanya Kai dengan alis naik ke atas.


Krystal mengangguk.


"Bukan urusan lo!" sahut Kai.


Krystal mendengkus, berbicara dengan Kai memang butuh kesabaran yang banyak. Rasanya Krystal ingin menyerah, tapi bayang-bayang kuliah secara gratis mampu menguatkannya.


"Ya udah, sekarang cepetan kamu kerjain soalnya."


"Iya bawel!"


Kai mengambil pulpennya dan mulai berkonsentrasi dengan kertas di tangan. Krystal hanya memperhatikan Kai yang terlihat sedang mencoret-coret kertas itu. Jarak tubuh mereka yang jauh hanya membuat Krystal melihat pergerakan tangan cowok itu.


Jika dilihat-lihat, wajah Kai yang serius memang sangat tampan. Kai memiliki kulit yang gelap namun tidak hitam, terlihat lebih eksotik. Rahangnya tegas, dan bibir yang tebal membuatnya semakin terlihat seksi.


"Kai,"


"Hmm.." jawab Kai yang masih serius mencoret-coret kertas soalnya.


"Nggak jadi deh."


Kai mengangkat wajahnya. "Kalo lo mau bilang gue ganteng, bilang aja. Itu fakta kok."


"Kamu pede banget sih." Krystal mendesis.


"Kenyataanya emang gitu kan?"


"Ganteng kalo nggak dibarengin dengan sikap kepedulian yang baik ya sama aja, kamu nggak ada apa-apanya di mata saya."


Kai terdiam, baru kali ini ada cewek yang bernai menilai dirinya, terlebih dia mengatakan itu tanpa rasa takut sedikitpun.


"Lo nggak tahu gue siapa?" Tanya Kai dengan wajah dingin.


"Tahu kok. Kaisar, sebelas IPS tiga." Dua bola mata bulat dan bening itu menatap ke arahnya tanpa takut. "Siapa sih yang gak kenal kamu di sekolah ini." Lanjutnya dengan senyum


"Kalo lo tau, kenapa lo gampang banget ngomong gitu?"


"Maksudnya?"


Kai berdecak, "Gue bisa aja nyekik leher lo sampe mati, terus jasad lo gue buang ke laut."


Tanpa pernah Kai sangka, Krystal malah terkekeh kecil dan tidak terlihat takut sama sekali. Gadis itu malah menutup bibirnya untuk menahan tawa, seolah Kai baru saja membuat lelucon yang sangat lucu.


"Kamu kebanyakan nonton film pembunuhan ya?" Krystal terkikik kecil. "Udah di lanjut jawab soalnya."


Kai mendengus. Krystal memang berbeda dari cewek-cewek yang lain. Ketika kebanyakan cewek langsung takut mendengar ancamannya, Krystal malah dengan santai menatapnya lalu tertawa.


"Lo nggak takut sama gue?" Kai kembali sibuk dengan kertas di depannya.


"Enggak." Cewek itu tersenyum.


"Kenapa?"


"Karena saya percaya kalo kamu cowok baik, mungkin cuma salah pergaulan."


"Sok tahu."


"Hehe ... emang enggak ya?" Krystal terkekeh.


Kai berdiri mengambil tas dan menyampirkannya di bahu sebelah kiri, kemudian dia berdiri menyerahkan kertas soal latihan itu kepada Krystal.


"Jangan percaya kalo gue cowok baik, entar lo nyesel." Lalu berlalu dari kelas itu.


Krystal mengedikan bahunya acuh lalu meneliti kertas itu. Matanya melebar sempurna saat mendapati coretan tangan Kai yang membentuk sebuah wajah.


Kai menggambar wajah Krystal di atas kertas itu tanpa mengisi satupun jawaban dari soal yang dia berikan.


"KAIIIIIIIIII!"



• • •


**hai . . . terima kasih sudah mampir. jangan lupa jadiin nobis sebagai cerita favorite kalian ya, dan tekan like serta berikan komentar . . .


jika suka dengan ceritanya, tolong beri rating lima bintang ya genksss . . .


love you all**


❤ ❤ ❤