Nobis

Nobis
Nobis



NOBIS


Chap 30






Kai tidak pernah menduga sebelumnya jika dia akan secemas ini hanya karena melihat Krystal menangis ketakutan di lorong sekolah. Sejak kapan dia pernah memperdulikan perasaan seseorang? Bahkan sekalipun itu kedua orang tuanya.


Katakan dia manusia yang tidak memiliki hati, tapi Kai memang tidak pernah memperdulikan seseorang sampai seperti ini. Kai sedikitpun tidak akan membiarkan siapapun memasuki isi kepalanya. Namun, nyatanya gadis itu yang memenuhi pikirannya kali ini.


"Kenapa-kenapa? Krystal?" Chandra bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Kai dengan terkejut, namun terlihat konyol dengan senyum miringnya. "Keknya gue ketinggalan berita nih?"


Kai masih terfokus pada arsiran di atas kertas gambarnya. "Diem, nyet!"


Chandra terkekeh. "Gue seperti melihat ada yang jatuh cinta, nih."


"Lo bakalan lebih heboh lagi saat ngeliat langsung apa yang gue bilang tadi." Celetuk Sean yang sedang merebahkan dirinya di sofa sebelah Kai.


"Nyesel gue pulang duluan kemaren," Chandra menghampiri Kai. "Udah khilaf sampe mana lo?" Ujarnya lagi yang membuat Sean tertawa, namun tidak membuat Kai mengubah fokusnya saat ini.


"Kita liatin aja si kambing jantan ini yang sebentar lagi bakalan berubah jadi budak cinta seorang gadis cupu di sekolah." Ujar Sean.


"Lo ngomong?"


"Enggak, gue lagi joget." Sahut Sean kesal.


Chandra menepuk-nepuk pundak Sean, "lo harus sabar ngadepin orang yang lagi kasmaran."


Sean mencebik. "Ternyata gini tampang Iblis kalo lagi jatuh cinta." Ujarnya yang tentu menyulut gelak tawa pada keduanya.


"Hidup lo berdua nggak enak ya kalo nggak gangguin orang." Kai menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap keduanya. "Gue nggak jatuh cinta sama siapapun! Perlu lo tau, cinta nggak ada di kamus gue!"


"Jangan lupa, kita udah kenal lo berapa lama!" Celetuk Sean. "Lo nonjok cowok di tengah lapangan karena dia nggak sengaja ngelempar bola ke arah Krystal."


Kai berdecak, "gue nggak mau bahas itu."


"Mana pernah lo ikut campur masalah orang sampe segitunya?" Sambar Chandra.


"Ya lo berdua kan tau, gue nggak suka ada orang yang sok berkuasa di tempat gue!"


Sean menyeringai, "terus, apa maksud lo bentak Airin di kantin kalo bukan karena tuh cewek nyekal kaki Krystal."


"Dia bawa-bawa nama gue, ya!" Balas Kai.


"Jangan lupa juga, lo nyuruh kita berdua dateng ke panti malem-malem buat bantuin Krystal yang saat itu hampir diusir dari sana." Sean semakin menyudutkan Kai.


"Gue cuma--"


"Dan lebih parahnya lagi, lo rela balik ke rumah yang lo bilang neraka itu cuma untuk nyelametin panti asuhan yang Krystal tempatin."


Kali ini Kai terdiam.


"Gue sama Chandra nggak pernah ngebuat perasaan lo jadi bahan lucu-lucuan." Sean berdecih. "Yang perlu lo tau, Krystal udah masuk jauh ke dalam hidup lo."


"Lo pada ngomongin apaan sih! Nggak jelas!"


"Mau sampe kapan lo nipu diri lo?"


"Chan.."


"Jujur susah banget sih, Kai! Elah ... gue nggak pernah masalah lo mau jatuh cinta sama siapa, gue cuma pengen temen gue seneng." Sambung Chandra.


Kai menutup buku gambar miliknya, "lo pada minum obat sana, ngelanturnya berlebihan." Lalu memasukan itu ke dalam tasnya dan berdiri.


"Mau kemana lo?" Tanya Sean.


"Males gue dengerin lo berdua ngomong." Lalu beranjak dari sana, menuju pintu dan keluar.


Kai menghela napas saat pintu itu tertutup. Dari balik pintu, dia mengusap wajahnya gusar. Tiba-tiba saja bayangan Krystal hadir di kepalanya. Bagaimana cewek itu tersenyum, tertawa, lalu mencebik saat Kai meledeknya.


Kepolosan Krystal memang membuat Kai merasa tertantang, hingga tanpa sadar, itu membuatnya tertarik. Segala kedekatan mereka tidak pelak membuat Kai merasa nyaman, dan merubah hidupnya lebih berwarna.


Kai dengan perlahan mengangkat tangan untuk menyentuh dadanya, disana ada getaran tak kasat mata yang terus membuatnya sulit bernapas, bahkan getaran itu menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Lo bikin gue gila, Krys."


• • •


Gedoran pada pintu rumahnya membuat Krystal mau tidak mau menghentikan kegiatannya mengerjakan tugas Fisika yang harus dia kumpulkan besok pagi.


Kaki mungilnya itu melangkah menjauhi meja belajar menuju pintu. Di luar hujan sangat lebat, ditambah bunyi petir dan guntur yang bersaut-sautan membuat suasana malam hari itu sedikit menakutkan.


Dengan perlahan dan was-was Krystal membuka pintu rumahnya, mengintip sedikit untuk mengetahui siapa yang bertamu pada malam hari, bahkan mungkin sebagian orang lebih memilih untuk tetap di dalam rumah dibanding harus keluar saat hujan seperti ini.


Sosok tinggi dengan masih meneteskan air hujan dan berlapis kaos tipis yang sudah basah kuyup adalah hal pertama yang Krystal lihat. Cowok itu mendongak, menatapnya dengan mata sayu.


"Kai?" Krystal terkejut saat mendapati Kai berdiri di depan pintu rumahnya dengan baju yang basah.


"Kamu ngapain?" Tanyanya. "Kok basah-basahan gini sih? Kenapa gak pake jas hujan?"


"Ya ampun, Kai, itu kan bisa besok pagi." Krystal terkekeh. "Yaudah masuk dulu yuk, sebentar aku ambilin handuk."


Kai menahan lengan Krystal saat cewek itu ingin beranjak dari depan pintu.


"Nggak usah," Kai menghela napas. "Ini penting."


"Iyaa, tapi masuk dulu."


Kai melepas tasnya lalu membuka resleting dan mengambil satu buku gambar yang sering dia bawa kemana-mana itu dengan tangan basah dan tetesan air yang menetes dari rambutnya.


"Lo buka ini." Pintanya, seraya menyerahkan itu pada Krystal.


Krystal menuruti, walaupun dengan kebingungan. Tangannya membuka lembar pertama dari buku gambar itu. Wajahnya seketika berbinar saat melihat lukisan gedung yang diarsir menggunakan pensil. Terlihat sangat bagus dan nyata.


"Ini gedung sekolahan kita ya?" Tanya Krystal tanpa mengalihkan tatapannya dari gambar tersebut.


Kemudian, dia membuka lagi lembar kedua dari buku gambar itu. Di sana terlihat sebuah bangku serta meja yang berjejer rapih serta beberapa etalase dan gerobak penjual makanan. Wajahnya masih terlihat sama, berbinar dan takjub dengan lukisan itu.


"Ini kantin?"


Krystal terus membuka setiap lembar, semua gambar yang ada di dalam buku itu hanya berisikan beberapa gambar gedung, pohon, hewan, seperti anjing, kucing, dan beberapa gambar lainnya. Semua terlihat nyata dan bagus. Disetiap arsiran dan goresan yang ada di atasnya mampu membuat Krystal berdecak kagum.


"Ini kamu yang gambar?"


Kai mengangguk. "Dari semua gambar itu apa yang bisa lo simpulin?"


Krystal mendongak, merubah perhatiannya dari buku gambar kemudian menatap Kai yang berada di depannya. "Kamu suka gambar."


"Selain itu?"


Cewek itu berpikir sebentar, menatap buku gambar di tangannya dan juga Kai secara bergantian.


"Hmm ... menurut aku, di sini nggak ada gambar wajah orang?"


Kai mengangguk lagi, kali ini tersenyum kecil. "Gue nggak suka ngegambar wajah orang."


"Kenapa?"


"Karena gue benci ngebayangin wajah orang lain berputar di kepala gue." Kai menarik napasnya. "Coba lo buka lembar paling belakang."


Krystal menuruti itu, tangannya langsung membalik lembar terakhir. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui gambar di lembar terakhir dari buku itu. Sotak Krystal menutup mulutnya, mendongak menatap Kai dengan sorot mata tidak mengerti.


"Terserah lo mau percaya atau enggak sama gue." Kai menghela. "Cuma dia, cewek yang gue biarin berputar-putar di kepala ini. Dia yang udah ngambil seluruh perhatian gue sampai gue bingung gimana caranya ngebuat dia berhenti ada di pikiran gue."


Krystal terkesiap. Bagaimana tidak, di lembar belakang, tepat di mana gambar yang sedang dia lihat, di sana ada wajah seorang gadis, sedang tersenyum, dan mengenakan seragam sekolahannya.


Itu dirinya.


"Kai..."


"Itu isi kepala gue." Kai memegang pundak Krystal, lalu menatapnya lekat-lekat. "Gue ... gue sayang sama lo."


Kai menggeram dalam hati. Seharusnya, dia belajar merangkai kata-kata romantis pada Chandra terlebih dahulu sebelum datang ke rumah Krystal, karena sungguh dia merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaanya.


"Gue ... nggak tau gimana harus ngejelasinnya sama lo." Kai menggaruk belakang kepalanya. "Gue ... gue gak pernah ngomong ini sama cewek lain. Gue ... astaga!" Kai menggeram. "Dada gue sering banget berdebar nggak jelas, Krys, kadang terasa sakit. Terus nyesek sendiri." Dia terkekeh, menurunkan tangan satunya lagi yang masih berada di pundak Krystal.


Cewek itu membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang sama, yang selalu membuat jantung Kai terpompa cepat hingga dia merasakan kupu-kupu terbang di dalam perutnya.


Krystal mengambil tangan Kai, lalu meletakan itu di atas dadanya. "Kalo maksud kamu detaknya seperti ini ... aku juga ngerasainnya."


Kai tersenyum berbinar.


"Detaknya kuat banget, aku sampe susah bernapas." Lanjut Krystal yang membuat Kai merasakan tubuhnya menghangat meski kini seluruh bajunya telah basah kuyup karena air hujan.


"Jadi?"


"Aku juga sayang sama kamu." Krystal tersenyum, begitu pula dengan Kai.


Mereka bertatapan dengan degub jantung yang memburu. Saling mengunci tatapan satu sama lain, hingga rasanya suara hujan di luar sana tertutupi oleh suara detak jantung keduanya.


"Gue pengen peluk lo, tapi takut basah." Kai terkekeh.


"Nanti aku bisa ganti baju kok." Jawab Krystal polos.


Mendengar itu, membuat Kai tertawa dan langsung mendorong tubuh Krystal masuk. Lalu dengan cepat Kai menutup pintu rumah, secepat dia menarik bahu Krystal, membawa cewek itu masuk ke dalam dekapannya.


Untuk malam itu, hujan menjadi saksi, bagaimana seorang Kaisar Wira Atmadja si penguasa kegelapan, dan Iblis nomor satu di sekolahnya, menyerahkan seluruh hatinya hanya untuk seorang gadis kutu buku bernama Krystal Putri.


Dan sendirinya telah berubah hari ini, ada seseorang yang membuatnya merubah itu, bahwa sendiri akan berganti dengan bersama, dan aku, akan menjadi kita.


NOBIS - KITA.


• • •


Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.


Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..


terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...


salam sayang,


anna ❤