
NOBIS
Chap 37
•
•
•
•
Lorong rumah sakit itu tampak hening. Tidak ada satu pun yang bersuara, semua memilih bungkam dan sibuk dengan pikiran masing-masinh. Setelah mengurus semua masalah yang terjadi di Villa Rendi. Sean, Chandra, dan Luna menyusul Kai ke rumah sakit.
Namun, sudah cukup lama setelah Krystal dibawa ke ruangan, Dokter dan perawat belum ada yang keluar satupun. Hal itu justru membuat Kai semakin terkurung dalam rasa bersalah yang menyakitkan.
Rasa kekhawatirannya membuat Kai semakin tidak berdaya, duduk di depan ruangan itu sambil terus menerus meremas rambutnya. Dia tidak ingin melihat siapapun kecuali Krystal. Gadis itu pasti sangat ketakutan, dan dia membenci itu.
Pintu ruangan terbuka. Kai lantas berdiri, menghampiri Dokter dan beberapa perawat yang baru saja keluar.
"Tolong jangan banyak orang dulu yang masuk, pasien masih mengalami syok. Saya harap kalian mengerti." Setelah mengucapkan kalimat peringatan, Dokter dan beberapa perawat meninggalkan ruangan tersebut.
"Krystal butuh lo," ujar Sean. "Kita bertiga tunggu di sini."
Luna dan Chandra mengangguk tanda setuju. Sementara itu Kai sudah membuka pintu ruangan, dan menutupnya kembali. Di sana, Kai melihat Krystal sedang meringkuk di atas ranjang dengan selimut hampir menutupi seluruh badannya.
Kai mendekati Krystal yang terbaring dengan tubuh memunggunginya. ia lalu duduk di tepi ranjang rumah sakit. Seketika Kai merasakan hatinya menjerit sakit saat melihat punggung Krystal yang bergetar. Rasa marah dan terluka langsung merayap di hatinya.
"Krystal," panggilnya yang malah justru membuat Krystal menggerakan tubuhnya menjauh. "Krys..."
Tidak ada yang berubah, Krystal masih menyembunyikan diri dengan memunggunginya, dan itu membuat hati Kai semakin menjerit kesakitan.
"Maaf karena nggak bisa ngejaga kamu." Kai menyentuh pundak Krystal pelan, mengusap bagian itu dengan lembut. "Ini salah aku. Harusnya aku selalu ada di samping kamu." Lanjutnya. "Aku nggak nyesel udah mukulin Rendi sampe dia babak belur kayak tadi, tapi aku nyesel karena nggak bisa lindungin kamu dari si brengsek itu."
Krystal masih diam tidak bersuara. Namun, getaran pada tubuhnya mulai menghilang.
"Kamu ... segalanya, Krys."
Perlahan tubuh rapuh itu berbalik, menatapnya tanpa binar dan dengan genangan air mata yang bertumpuk menahan tangis.
"Kai.." lirih Krystal saat mata mereka bertemu.
"Iya, sayang."
"Kai..." ulangnya dengan nada bergetar.
Mendengar itu membuat Kai langsung menarik bahu Krystal, membawa gadis itu masuk ke dalam dekapan hangat. Lengan kurus berbalut jarum infus itu melingkari bahunya, membuat Kai memajukan tubuhnya untuk lebih mengeratkan pelukan mereka.
"Aku takut," isaknya. "Aku takut banget tadi."
Kai mengusap punggung dan belakang kepala Krystal bergantian. "Maaf ... maaf karena aku, kamu jadi begini. Semua salah aku."
Gadis itu menggeleng, "bukan salah Kai."
"Harusnya aku bunuh dia."
"Aku bakalan merasa bersalah banget kalo Kai ngelakuin itu." Krystal semakin mengeratkan pelukannya. "Aku nggak mau kamu jadi pembunuh."
"Tapi dia pantes dapet itu."
Krystal menghirup napas dalam-dalam. "Aku takut, tapi aku lebih takut lagi kalo Kai ngelakuin itu."
Kai tertegun, mengusap kepala Krystal. "Kamu sekarang udah sama aku, dan aku janji, kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi."
Pelukan mereka terlepas, saling menatap dalam jarak yang dekat. Kai mengulas senyum, mengangkat tanganya untuk menghapus jejak air mata di pipi Krystal.
"Makasih, udah bertahan sampe aku dateng." Kai mengecup dahi Krystal lembut, lalu mengusap pipi gadis itu. "Kamu ... Krystal aku yang paling kuat."
Kai kembali menarik bahu Krystal. Mengeratkan pelukan mereka seolah tidak ingin melepaskannya sama sekali.
"Kai," panggil Krystal setelah beberapa saat terdiam. "Boleh aku tanya?"
"Apa?"
"Kenapa kamu bisa tau aku ada di tempat itu?"
Kai diam, tidak tau bagaimana menjelaskannya pada Krystal. Karena, di tengah-tengah pelukan mereka, ada rasa bersalah yang masih bersarang di hatinya.
"Aku akan selalu tau keberadaan kamu, bahkan jika kamu ada di belahan dunia manapun, aku pasti akan nemuin kamu."
"Kenapa?" Tanya Krystal pelan.
"Karena itu kamu."
• • •
Seseorang yang mungkin mengetahui dimana keberadaan Krystal saat ini. Orang yang sama yang membuat gadisnya harus menanggung kesalahannya dulu.
"Ngapain lo ke sini?" Ketus seorang gadis yang berada di depan mesin kasir coffee shop itu.
"Dimana Rendi?" Balas Kai.
Cewek di depan itu memutar bola matanya. Lalu pura-pura sibuk di dalam counter cafe. "Mau apa lo nyari abang gue?"
"Lo cukup bilang dimana dia sekarang!" Bentak Kai yang membuat beberapa pengunjung coffee shop menatap ke arah mereka.
"Kalo gue nggak mau?" Tantang Raisa.
Kai yang memiliki batas kesabaran sangat sedikit tiba-tiba memasuki counter tersebut dan menarik tangan Raisa keluar, menyeret cewek itu sampai di depan kafe.
"Sakit, Kai!" Teriaknya setelah Kai melepas cengkraman itu.
"Rendi bawa cewek gue!" Bentak Kai kesal.
"Cewek lo?" Raisa berdecih dengan seringai kecil. "Yang mana lagi tuh?"
"Jangan sampe gue berbuat kasar sama lo!"
"Woah, ternyata seorang Kaisar belum berubah ya?"
"Gue serius, *******!" Kai memukul tembok di sebelah Raisa, membuat cewek itu berjengit takut.
Dengan batas kesabaran yang sedikit, Kai memejamkan matanya, berusaha menahan emosi yang berkobar. "Abang lo bawa cewek gue, dan lo tau alesannya? Itu dia lakuin cuma untuk ngebales perbuatan yang bahkan nggak gue lakuin sama lo!"
Raisa terdiam, mengingat kejadian yang sudah lama terjadi, yang membuat permusuhan Rendi dan Kai semakin memanas.
"Lo tidur sama gue!"
"One Night Stand, Sa!" Sambar Kai. "Lo juga tau gue nggak pernah serius sama cewek manapun!"
"Kenapa?"
Kai mengepalkan tangan di kedua pinggangnya. Mendongak ke langit dan mencari napas berupa kesabaran menghadapi gadis keras kepala di depannya ini.
"Sa, gue ke sini bukan buat ngebahas itu! Gue minta tolong sama lo, dimana Rendi, cewek gue dalam bahaya!" Ujar Kai putus asa.
Raisa membuang pandangannya. Kai yang berada di depannya ini benar-benar sudah berubah, sejak kapan cowok angkuh sepertinya dapat menyebut kata 'tolong', dan perubahan Kai itu sudah dipastikan karena satu gadis yang sekarang sedang berada di tangan kakaknya.
"Ternyata lo udah berubah." Raisa berdecih. "Karena cewek itu? Kenapa bukan gue? Kenapa?"
Kai menarik napasnya pelan. "Karena dia satu-satunya cewek yang ngebuat gue merasa beruntung terlahir ke dunia."
Seperti terbangun dari tidur panjang, mendengar ucapan Kai membuat Raisa mematung di tempatnya. Cewek itu bersusah payah mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kai.
Tentang cinta adalah apa yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang Kaisar. Cowok angkuh berhati iblis itu merubah semua prinsip dalam hidupnya hanya karena seorang gadis.
Sulit mempercayai itu, tapi wajah cemas penuh kekhawatiran di depannya ini adalah bukti jika Kai telah jatuh hati pada gadis lain.
"Lo tuh brengsek!"
"Iya gue tau."
"Ngeselin tau gak!"
"Sa.."
"Villa bokap, di Bogor." Ujar Raisa pada akhirnya.
• • •
**Note : kalimat yang di italic artinya flashback.
Udah tau kan berarti itu bayangan siapa? Dan alasan Kai nutupin cerita tentang gimana caranya dia bisa tau tempat itu. Karena, dia dibantu sama Raisa.
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤**