
NOBIS
Chap 45
•
•
•
•
Papan pengumuman hasil ujian tengah semester yang ditempel di koridor utama sekolah menjadi incaran seluruh siswa untuk mengetahui hasil belajar dari setengah semester yang mereka lewati. Hasil ujian memang selalu dipajang di papan pengumuman. Hal itu membuat seluruh siswa tahu siapa yang selalu berada di urutan pertama dari seluruh kelas.
1. Krystal Putri
2. Angga Pratama
3. Muhamad Amar
4. Deswita Maharani
5. Regina
Krystal tersenyum sumringah saat membaca papan pengumuman tersebut. Bukan karena namanya yang masih bertahan di posisi pertama, tapi ketika matanya menangkap nama lain yang berada di urutan ke-78, Kaisar Wira Atmadja.
Jika biasanya Kai selalu berada di urutan 100 kebawah, namun kali ini nama cowok itu melejit naik hingga masuk ke dalam seratus besar. Krystal tentu sangat bangga, perjuangan Kai untuk bimbingan bersamanya ternyata tidak sia-sia.
"Selamat ya." Krystal berkata sambil menatap Kai dengan binar. "Kamu ada di urutan 78 tanpa remedial. Aku seneng banget, Kai."
Cowok itu terkekeh, mengusak puncak kepala Krystal gemas. "Selamat juga buat kamu karena masih di urutan pertama, makin hebat aja pacar aku."
Krystal merona bersama degub jantungnya yang menggila. Dia tersenyum simpul, merasakan ketulusan yang luar biasa saat Kai mengucapkan itu.
"Makasih juga karena kamu udah bantuin aku."
Krystal menggeleng. "Engga kok, ini hasil kerja keras Kai sendiri. Semua karena kemauan kamu. Aku bangga banget sama Kai."
"Berarti kalo gitu jangan lupa perjanjiannya." Ledek Kai yang langsung membuat Krystal mencebik.
"Ihh.. diingetin terus, gimana aku mau lupa." Krystal bersidekap dengan wajah cemberut, tentu hal itu menyulut gelak tawa Kai lebih besar. "Tuh kan malah diketawain."
"Kamu gemesin tau gak." Ujar Kai masih dengan gelak tawa, namun hanya beberapa saat sebelum akhirnya mereka kedatangan dua cowok perusuh yang tiba-tiba berteriak menghampiri mereka.
"Woi! Gak bosen berduaan mulu!" Teriak Chandra lalu merangkul bahu Kai yang langsung ditepis cowok itu.
"Bacot, ***!" Tandas Kai.
"Yaelah, belagu amat lo mentang-mentang masuk seratus besar." Chandra berdecak. "Tau gitu gue juga ikutan belajar sama Krystal deh." Lanjutnya dan mendapat jitakan dari Sean.
"Kalo lo belajar sama mereka, yang ada lo itu ngeganggu!" Sean menanggapi.
"Lah.. bagus dong kalo ada gue, jadi mereka gak bisa berbuat yang macem-macem berduaan." Balas Chandra.
Krystal hanya tersenyum tanpa tahu maksud ucapan Chandra barusan, sementara Kai menatap horor ke arah cowok itu seolah mengatakan untuk berhenti berbicara.
"Iya, ampun.." ujar Chandra seraya menutup bibirnya rapat.
"Krys, selamat ya," Sean memotong percakapan mereka dengan memberi selamat kepada Krystal sambil tersenyum menatap gadis itu. "Selamatnya ada dua nih ... yang pertama, selamat lo masih ada di urutan satu ujian kali ini, dan gue rasa emang gak akan ada yang bisa ngegantiin posisi lo." Ujarnya sambil meledek. "Yang kedua ... selamat ulang tahun, kata Kai hari ini lo ulang tahun."
Krystal membelalak. Terkejut sekaligus terharu. Mendapat ucapan ulang tahun dari orang-orang yang tidak terduga membuatnya merasa tersentuh.
"Selamat ya, pacarnya Kaisar.. kadonya nyusul, karena gue tau Kai gak sabar mau kasih kado spesialnya buat lo hari ini." Chandra terkekeh melirik ke arah Kai dengan raut jahil.
"Apa lo! Jangan ngaco, ***!" Sergah Kai cepat.
"Makasih ya, Sean, Chandra buat ucapannya. Aku seneng banget."
"Lo berdua mau ngerayain ini di apartemen kan?" Tanya Sean.
"Enggak dirayain kok, cuma nonton tv aja, yakan, Kai?" Krystal menatap mata Kai yang dibalas anggukan oleh cowok itu.
Chandra tersenyum miring sambil meledek. "Hati-hati, Krys, Kai suka gak ketebak. Jangan mau kalo disuruh tutup mata..."
"Chan!" Tegur Kai.
"...apalagi kalo dia bilang kejutannya ada di kamar."
"Loh kenapa?" Tanya Krystal polos.
Chandra terkekeh sambil menatap jahil ke arah cewek itu. "Soalnya Kai bakalan jadi beringas kalo udah di kamar."
"Diem, setan!" Sela Kai.
"Terus, usahain juga lo ajak kita berdua biar dia gak macem-macem."
Sean dan Kai langsung menoyor kepala Chandra secara bersamaan. Keduanya berdecak, melemparkan tatapan kesal. Sementara Chandra hanya meringis kesakitan.
"Maunya elo itu, sih!" Sambar Sean. "Lagian kerjaan lo ganggu orang pacaran mulu, cari cewek makanya, Chan!"
"Yang ngomong gak nyadar. Lo tuh move on, men. Siapa yang jomblo sampe sekarang gara-gara masih ngarep mantan." Ledek Chandra. "Mending gue jomblo terhormat, masih banyak yang mau."
"Si kambing! Nyari mati lo!" Sean menarik kerah seragam Chandra, memiting leher cowok itu dengan lengannya. "Gue udah move on, ***!"
Chandra meringis sambil berusaha melepaskan cengkraman lengan Sean di lehernya. "Apaan, tiap hari lo masih stalking si Bella, emang gue gak tau."
"Dasar kampret! Lo buka-buka hape gue ya!"
Kai dan Krystal terkekeh melihat kelakuan dua cowok yang kini sedang berkelahi layaknya anak kecil di depan mereka itu. Kai melirik Krystal, cewek itu terlihat sangat bahagia, dia bersyukur Krystal masih bisa tersenyum di hari ulang tahunnya.
Mengingat bagaimana gadis itu selalu melewati hari ulang tahun dengan menunggu sang ayah datang menjemput, membuat Kai ingin merubahnya. Dia ingin melihat Krystal selalu tersenyum di setiap hari lahirnya ini, Kai ingin Krystal tidak perlu lagi menunggu ayahnya. Tidak ingin gadis itu bersedih.
"Ikut aku." Bisik Kai sembari menggenggam tangan Krystal dan menuntun gadis itu untuk ikut dengannya.
Krystal mengerling. "Mau kemana?"
"Taman belakang, aku mau kasih sesuatu buat kamu."
"Kenapa harus ke taman belakang?"
"Jangan yang macem-macem ya." Krystal memperingati, hal itu justru membuat Kai ingin menggodanya.
"Emang yang macem-macem itu kayak apa?" Ujar Kai sembari menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Krystal.
Cewek itu terdiam, lalu menggigit bibirnya pelan. entah mengapa tiba-tiba saja Krystal menjadi salah tingkah sendiri.
"Mm ... ya macem-macem gitu." Jawab Krystal gelisah. Gadis itu merasakan pipinya memanas, mungkin kini sudah merah merona. Dan astaga, Krystal benar-benar merasa gugup dan salah tingkah ketika berada di hadapan Kai saat ini.
Cowok itu terkekeh kecil lalu mengusap pipi Krystal dengan punggung jarinya. "Kenapa kalo merah gini malah makin cantik ya? Masa aku harus ngeledek kamu dulu sih biar pipinya merah kayak gini terus."
"Ihh.. tuh kan, Kai malah ngeledekin aku." Rengek Krystal.
Satu capitan panas menjalar di otot perut Kai saat Krystal mencubitnya dengan kesal. Dia meringis kesakitan bersama gelak tawa yang tidak bisa berhenti.
"Jangan merah kayak gini ya kalo bukan sama aku." Kai menyentuh pipi Krystal lagi. "Nanti kalo banyak yang naksir aku bingung."
"Mana ada yang naksir aku."
"Ada. Tapi cuma penguasa kegelapan yang boleh."
"Kok serem ya." Krystal terkekeh geli, sementara Kai sudah duduk pada salah satu bangku yang ada di taman belakang itu.
"Iya, biar gak ada yang berani deketin kamu."
"Ihh.. jahat." Kedua bibir Krystal memberengut. "Nanti gak ada yang mau deket-deket sama aku."
"Kok jahat?" Kai mendongak, membalas tatapan mata Krystal yang menyorotinya dari atas. "Bagus dong."
"Bagus dari mana? Kalo kayak gitu aku gak akan punya temen."
"Kan ada aku."
Krystal tertawa kecil. "Emangnya kamu gak bosen sama aku terus."
"Enggak, dan gak akan pernah." Kai menepuk sisi bangku yang kosong di sebelahnya. "Duduk sini, aku pegel lihat kamu dari bawah kayak gini."
Bersamaan dengan Krystal yang duduk di sebelahnya, Kai mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaket. Sebuah kotak berwarna pink dengan pita kecil.
"Selamat ulang tahun." Ujar Kai seraya mengulurkan kotak tersebut.
"Kai..." cewek itu terkesiap, menatap kotak tersebut tidak percaya. "Ini buat aku?" Lalu beralih menatap Kai. Krystal menerima kotak itu masih dengan keterkejutan di wajahnya.
"Iya, kado ulang tahun." Kai tersenyum tipis, membelai puncak kepala Krystal. "Semoga suka."
Dengan perlahan Krystal membuka kotak tersebut. Wajahnya terlihat sangat terkejut ketika mendapati satu buah kalung dengan liontin permata berwarna ungu berada di dalamnya.
Krystal sontak membekap mulutnya dengan telapak tangan. Dia tidak mampu lagi untuk berkata-kata, mata Krystal mulai berkaca-kaca, menahan kebahagiaan yang selalu Kai berikan untuknya.
"Batu Amethys, melambangkan kelembutan dan ketenangan. Jika dijadikan sebagai perhiasan, siapapun yang memakainya akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi." Jelas Kai.
Krystal menatap cowok itu dalam. Pelupuk matanya mulai mengenang, hanya dengan satu kedipan saja, air bening itu mulai turun membasahi pipinya.
"Aku mau, kamu gak perlu lagi nungguin ayah." Kai menangkup kedua sisi wajah Krystal, menghapus air mata kekasihnya dengan ibu jari.
"Maaf aku bilang ini, tapi aku gak bisa ngebiarin kamu menunggu sesuatu yang gak pasti. Krys, ayah kamu mungkin sekarang sedang berbahagia di suatu tempat, dan aku yakin.. dia juga mau kamu bahagia tanpa harus selalu berharap dan lelah menunggunya datang."
Krystal tidak tahu harus merespon seperti apa. Karena di tengah-tengah ucapan Kai barusan, hatinya tiba-tiba menghangat. Perasaannya membuncang hebat. Sedikit menyakitkan, namun Krystal benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa beruntungnya dia saat ini.
"Bahagianya kamu, itu bahagianya aku juga. Sudah saatnya kamu berhenti menunggu. Berhenti menganggap jika kamu terbuang." Kai mengelus wajah Krystal lembut.
"Mungkin aku terlalu naif untuk berbicara seperti ini, tapi aku bakalan berusaha untuk membuat kamu selalu tersenyum. Seperti yang pernah aku bilang, kamu adalah tanggung jawab aku. Jadi ... izinin aku untuk membahagiakan kamu dengan cara aku."
Krystal sudah tidak tahu lagi sejak kapan air matanya mengalir sebanyak ini, serta isakan yang keluar dari bibirnya juga semakin kencang terdengar.
Jika ada yang bertanya padanya, apa yang membuat dirinya merasa beruntung? Krystal akan menjawab dengan yakin jika keberuntungannya adalah dapat dicintai oleh seseorang sebesar ini. Sehebat Kai memperlakukannya.
"Kok nangis? Kamu gak suka?"
Krystal menggeleng cepat, lalu menggenggam tangan Kai yang berada di pipinya. "Aku bahagia, Kai. Aku gak tau lagi harus bilang apa sama kamu. Kai adalah keajaiban yang Tuhan kasih buat aku. Kamu, hadiah yang sesungguhnya. Dicintai sebesar ini sama kamu, gak pernah terlintas di benak aku sama sekali, bahkan di dalam mimpi sekalipun."
"Aku yang harusnya bilang seperti itu. Kamu adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk menemani iblis seperti aku." Kai membelai pipi gadisnya, berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang menetes. "Aku harus bilang terima kasih sama ibu kamu karena udah ngelahirin anak secantik dan sehebat kamu."
Krystal terkekeh kecil mendengarnya, membuat Kai menatap lamat kedua mata gadisnya yang berbinar.
"Makasih untuk hadiahnya. Aku suka banget sama kalung ini." Krystal mengambil kalung tersebut dari dalam kotak, dan memberikan itu pada Kai. "Aku mau minta tolong kamu buat pasangin ini di leher aku. Kai mau?"
Apapun itu, jika untuk Krystal-nya, Kai akan selalu menyanggupinya. Lantas, dengan cepat Kai mengangguk, mengambil kalung tersebut, lalu memasangkannya di leher Krystal.
Sebelum Kai memasangkan kalung tersebut, Krystal sudah lebih dulu melepas kalung peninggalan sang ibu. Krystal berjanji, jika setelah ini dia akan menjalani hidupnya tanpa harus merasa terbuang. Bahwa dia juga diinginkan oleh seseorang.
"Makin cantik aja pacarnya Kaisar."
Jika sebelumnya Krystal mampu mengontrol cara kerja jantungnya, namun sekarang tidak. Apalagi ketika Kai menatap matanya dalam, Krystal merasakan pipinya memanas, dan mungkin sudah berubah seperti kepiting rebus.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling berpandangan. Krystal benar-benar tidak mengerti dengan cara kerja jantungnya, karena di sela-sela dia berusaha menormalkan debaran itu, Kai perlahan mendekatkan wajah mereka. Menangkup sisi wajah Krystal dan memiringkan kepalanya hingga kemudian menepelkan bibirnya di atas bibir Krystal.
Begitu cepat hingga Krystal tidak mampu menutupi rasa terkejutnya. Gadis itu mengerjap pelan sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.
Awalnya hanya sebuah kecupan, lalu berubah menjadi *******-******* kecil. Kai memperlakukan Krystal begitu lembut dan penuh kasih. Sementara, Krystal sendiri tidak tau apa yang harus dia perbuat.
Tangan Kai turun untuk mengelus leher dan juga tengkuk Krystal. Perlakuan Kai yang seperti itu tentu membuat Krystal tiba-tiba merasa pusing. Dia tidak menyangka akan begitu menikmati semua sentuhan yang Kai ciptakan pada tubuhnya.
Krystal sedikit membuka mulutnya saat Kai mulai menggigit bibir bawahnya pelan. Kai benar-benar membuat Krystal lupa bagaimana caranya bernapas dengan baik, dan mungkin Krystal juga lupa bahwa sekarang mereka masih berada di dalam lingkungan sekolah.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna