
NOBIS
Chap 50
•
•
•
•
Sepanjang perjalanan Krystal hanya bisa menangis di dalam mobil. Air matanya mengalir begitu saja tak bisa berhenti. Harusnya gadis itu merasa senang karena sudah berhasil bertemu dengan ayahnya. Ini yang dia tunggu-tunggu sejak lama, ayah datang untuk menjemputnya. Semestinya Krystal merasa senang karena doa yang selalu dia ucapkan di setiap hari lahirnya sekarang menjadi kenyataan.
Namun, entah bagaimana kenyataan menampar Krystal dengan keras. Dia memikirkan Kai saat ini, bagaimana perasaan cowok itu? Apa yang Kai lakukan untuk menghilangkan rasa sakit hatinya? Atau sudah sebanyak apa Kai membencinya?
Di sisi lain Krystal juga merasa jika dia tidak berhak mendapat kebahagiaan ini. Krystal tau dia adalah anak yang lahir dari hasil perselingkuhan. Dirinya dan ibu sudah merebut kebahagiaan sebuah keluarga. Krystal benar-benar merasa bersalah akan kenyataan ini, jika bisa memutar waktu, Krystal ingin menukar seluruh hidupnya demi kebahagiaan Kai. Seharusnya saat itu ibu juga membawanya pergi ke surga.
Krystal tidak bisa untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri atas semua penderitaan yang sudah ditanggung oleh Kai. Hampir tujuh belas tahun Krystal berdoa untuk kebahagiaannya ini, tapi di balik semua doa itu, ada satu kehidupan yang sedang dia hancurkan.
Kai... aku minta maaf.. aku minta maaf..
Kevin menggenggam tangan Krystal, mencoba menenangkan anak gadisnya itu. Tanpa pernah Kevin tahu, jika tangisan itu memiliki arti lain yang tidak akan dia mengerti.
"Kamu gak usah takut. Mama Morena akan baik sama kamu. Kai juga, kamu kenal Kai 'kan? Dia satu sekolah sama kamu."
Tubuh Krystar bergetar, dan hatinya berdesir ngilu saat nama itu disebut. Dia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan Kai nanti. Krystal tidak akan sanggup untuk melihat raut benci di wajah Kai. Tapi ... cowok itu memang berhak membencinya.
"Ayah tahu kamu kaget, tapi ini yang ayah tunggu selama belasan tahun. Maaf kalo kamu gak nyaman di rumah nanti."
Krystal tidak baik-baik saja saat ini. Rasa bersalahnya semakin menjadi saat mobil berwarna hitam itu memasuki sebuah halaman besar setelah berhasil melewati pagar besi berwarna emas yang menjulang tinggi di depan. Rumah ini tidak asing untuknya, Kai pernah membawanya datang ke rumah ini.
Jantung hati Krystal semakin berdenyut nyeri, rasa bersalah yang melingkupi dirinya membuat dadanya terhimpit rasa sesak yang sangat besar. Apalagi begitu Kevin membawanya masuk ke dalam rumah, dan saat itu juga air matanya kembali menetes.
Di depan sana, Morena berdiri dengan wajah terkejut. Wanita itu menatap tak percaya pada sosok Krystal di dalam rumahnya, terlebih saat Kevin mengucapakan satu kalimat yang langsung membuat dunianya runtuh.
"Dia Krystal, anaknya Alisa.."
Tubuh Morena limbung, dan hampir jatuh ke belakang jika saja dia tidak cepat-cepat menyadarkan diri untuk berpegangan dengan lemari pajangan di sebelahnya.
Morena menggeleng pelan. Menatap Kevin penuh rasa benci. "Kamu gila?"
"Ren..."
"Kevin aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu!"
Kevin mendesah frustasi. "Ini keputusan aku, Ren."
Kakek Wira yang berada di ruang tengah segera menghampiri mereka karena mendengar suara ribut. "Krystal?" Ujarnya begitu melihat Krystal berdiri di samping Kevin.
"Kamu benar-benar gak punya hati, Kevin!" Bentak Morena dengan amarah yang membuncang. Bukan hanya dirinya yang sakit, Morena tahu Kai akan jauh lebih sakit jika mengetahui semuanya.
"Ini ada apa? Kevin jelasin ke papa, apa maksudnya semua ini?" Kakek Wira ikut bersuara.
Sementara itu, air mata Krystal tak berhenti mengalir sejak tadi, gadis itu hanya menunduk, meremat jari tangannya dengan erat. Krystal takut.
"Pah.." Kevin menghela nafasnya sebentar. "Krystal ini anaknya Alisa."
"Alisa?" Kakek Wira merengut bingung. "Alisa anak perempuan dari Panti Asuhan di Bandung?"
Kevin mengangguk. "Kevin bawa Krystal ke sini untuk tinggal bersama kita."
"Kamu gila?" Morena berteriak. "Kamu bawa anak selingkuhan kamu ke rumah, Kevin!?"
"Rena.." tegur Kevin pelan.
Kakek Wira terkejut bukan main. Pria paruh baya itu sampai memegangi dadanya yang berdenyut karena terlalu kaget dengan ucapan Kevin.
"Apa maksudnya?" Kakek Wira merasa dadanya semakin sesak. Air mukanya menatap Kevin tidak percaya. "Kevin, benar Krystal anak kamu? Anak kamu dari Alisa?"
Kevin terdiam, merangkul pundak Krystal untuk menenangkan anak gadisnya. "Ini yang harusnya saya lakukan tujuh belas tahun yang lalu, pah. Saya harus bertanggung jawab untuk semua ini."
"Ya Tuhan... Kevin!" Teriak Kakek Wira murka. Dengan langkah lebar-lebar pria paruh baya itu menghampiri Kevin, lalu memukul wajah anaknya dengan keras.
"Masalah apa lagi yang kamu buat? Ya Tuhan.. kenapa Alisa? Kenapa kamu berbuat seperti ini, Kevin!" Marah Kakek Wira yang membuat semuanya mendadak terdiam.
Kevin masih terus memegangi pundak Krystal. Anak gadis itu akan menjadi tanggung jawabnya mulai sekarang. Kevin tidak mau membuat Krystal sedih, cukup tujuh belas tahun dia sudah mengabaikan anak itu.
Morena terdiam mematung, wanita itu sulit untuk mengucapkan kalimatnya. Dia sulit untuk mempercayai ini. Bukan pada kenyataan Kevin membawa anak dari selingkuhannya yang membuat kepalanya memanas, tapi kenyataan jika Krystal-lah anak yang selama ini dicari oleh suaminya itu.
Yang semakin membuat kepala Morena berdenyut nyeri adalah memikirkan perasaan Kai jika melihat ini, bagaimana anaknya itu melewati hari-harinya jika tahu bahwa Krystal adalah anak dari perempuan simpanan sang ayah.
Ini memang sangat mengejutkan, dan lebih mengejutkan lagi saat padangan Morena terpaku pada satu sosok yang sekarang sedang berdiri di undakan anak tangga dengan tubuh kaku dan wajah menegang.
"Kai.." panggilnya.
Seluruh mata langsung tertuju pada cowok itu, tak terkecuali Krystal.
Gadis itu sontak mengangkat wajahnya begitu nama Kai masuk ke dalam indera pendengarannya. Hati Krystal berdesir perih begitu mata mereka saling bertemu, dan rasa bersalah itu kembali datang memenuhi rongga dadanya.
"Wow.. kejutan.." Kai berdecak dengan senyum miring. "Rumah ini kayaknya bakalan jadi rame." Ejeknya dengan tawa sarkas. "Selamat ya, pah sudah menemukan Krystal-nya yang hilang."
Kevin menggeram, dia melepas tangannya dari pundak Krystal lalu menghampiri anak laki-lakinya itu. "Kai, papa mau bicara sama kamu."
"Saya sibuk." Balas Kai acuh dan langsung melangkah menuju pintu keluar.
Kevin menghentikan langkah kaki Kai. "Papa minta kamu bersikap baik dengan Krystal."
Gelak tawa penuh kepahitan terdengar begitu nyaring di ruangan itu. Kai menyeringai tanpa takut memandang ayahnya. Wajah Kai menunjukan ketidaksukaan yang sangat besar dengan kalimat Kevin barusan.
"Kenapa? Papa takut dia gak betah tinggal di sini?" Kai berdecih, "tenang pah, saya yang akan pergi dari rumah ini. Kayaknya kehadiran saya juga tidak terlalu penting di dalam keluarga ini."
Dengan penuh emosi, Kai melewati Kevin yang berdiri menahan amarahnya. Melangkah hingga berhenti di samping tubuh Krystal yang bergetar sejak tadi.
Gadis itu menatap Kai dengan rasa bersalah, seolah dari matanya terbaca kata maaf yang begitu banyak.
Tanpa menoleh ke arah Krystal, Kai melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah besar itu.
"Kai berhenti!" Kali ini Kakek Wira yang berteriak.
Seakan tidak peduli dengan apapun, Kai masih terus melangkah keluar hingga Kakek Wira terpaksa meminta ketiga bodyguardnya untuk menahan Kai.
"Minggir lo!" Teriak Kai.
"Gak ada yang boleh keluar dari rumah ini!" Ujar kakek Wira lagi. "Termasuk kamu!"
"Minggir brengsek!" Geram Kai.
"Kai!" Tegur Kevin.
"Lo bertiga mau minggir atau gue pukul!" Kepala Kai rasanya memanas, seperti kertas yang tersulut api, emosinya mulai terbakar, dan tangannya mulai mengepal bersiap memberi pukulan. "Nyari mati lo semua?"
Krystal tidak bisa lagi menahan isak tangisnya. Tubuh gadis itu bergetar, kedua tangannya mencengkram pinggiran dress yang dia kenakan. Krystal takut. Dia tidak ingin melihat Kai seperti itu.
"Kakek tidak akan mengizinkan kamu keluar dari rumah ini!"
"Kek!" Kai menoleh, bermaksud untuk memprotes pada kakek Wira, namun saat matanya tidak sengaja menatap tubuh Krystal yang bergetar serta diselingi isak tangis, saat itu juga tubuhnya melemah.
Air mata Krystal masih menjadi kelemahannya saat ini, bahkan mungkin selamanya. Dia tidak akan bisa melihat gadis itu menangis. Sungguh, Kai merasa tersiksa melihat kedua bola mata itu tak berbinar.
Jika saja tidak ada darah yang sama yang mengalir di tubuh mereka, mungkin Kai sudah menghampiri gadis itu, membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapan hangat. Menghapus air matanya, lalu membisikan kata rindu yang terlampau banyak.
Aku rindu, Krys.
Kai menundukan wajahnya, menarik nafas dalam bersamaan dengan kepalan tangannya yang terlepas. "Oke! Saya akan tinggal di rumah ini." Putusnya, lalu berbalik, berjalan menaiki tangga untuk sampai ke dalam kamarnya.
Katakan saja dia naif, tapi apapun itu jika menyangkut Krystal, Kai benar-benar mengakui kelemahannya.
Gadis itu..
Kelemahannya.
• • • •
like dan komen yaaa