Nobis

Nobis
Ketidakahlian



NOBIS


Chap 31






Beberapa jam sebelumnya.


"Ngapain lo balik lagi?" Tanya Sean saat melihat Kai kembali memasuki apartemennya dan berjalan menuju ke arahnya.


"******* lo berdua!" Kai melempar tasnya ke arah Chandra, dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


Kedua temannya hanya terkekeh melihat itu. Mereka tau apa yang saat ini sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Apalagi kalau bukan ucapan mereka tentang perasaan Kai pada Krystal.


"*****! Si monyet kepikiran.." ledek Chandra.


Sean berdecih, "ngaku aja sih, gue nggak masalah."


Kai tetap diam sampai dia mengeluarkan satu bungkus rokok dari kantong celananya, lalu menyelipkan satu batang di sela-sela jari dan memantiknya dengan api.


"Gue pengen tanya," Kai menghembuskan asap rokoknya keluar. "Apa yang buat lo berdua berpikir gue suka sama Krystal?"


"Nih si setan!" Tunjuk Sean pada Chandra. Sementara yang ditunjuk hanya menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Sebenernya gue takut dismash sama lo kalo ketauan, tapi ... berhubung lo bakal bilang makasih sama gue setelah tau, makanya gue akan buka suara."


"Kelamaan lo kambing, buru cerita!" Sahut Sean tidak sabaran.


Chandra mendengkus, "iya sabar, elah..." lalu menyengir lagi ke arah Kai. "Kemaren gue buka buku gambar lo!"


"Gilaaaa..."


Kai mendengar sahutan terkejut dari Sean. Namun, dia tidak sadar jika dirinya beringsut dengan cepat. Lalu membuang rokoknya dan menarik kerah baju Chandra. "Anjing!"


Sean tertawa, sementara Kai sudah bersiap untuk memukul sahabatnya itu.


"Bentar-bentar!" Chandra mengangkat tangannya. "Lo 'kan nanya, ya gue jawab."


Kai melepas kerah baju Chandra hingga cowok itu terhuyung. "Tayi emang lo!"


"Pukul aja Kai, biar kapok!" Celetuk Sean puas.


"Tapi kalo nggak gue buka, lo juga nggak akan tau kan sama perasaan lo!" Chandra berdiri, merapihkan bajunya.


Kai menghela napas, menyandarkan punggungnya lalu memejamkan mata. Semua yang Chandra katakan memang benar, kini dia menyadari sesuatu yang lain di hatinya, dan tidak menolak itu.


"Lo bilang nggak suka ngegambar wajah orang, tapi gue lihat ada gambar Krystal di buku gambar lo." Ujar Chandra yang membuat Sean menatap Kai penuh penjelasan. "Lo masih mau nyangkal?"


Kai kembali menegakan tubuhnya, lalu menatap kedua sahabatnya. "Jadi lo sengaja buka-buka buku gambar gue?"


"Iya, semenjak lo kalang kabut pas lihat Krystal di Club kemaren."  Ujar Chandra.


"Terus lo nyuruh kita buat ke panti malem-malem," sambung Sean. "Lo pikir kita nggak heran, sejak kapan seorang Kaisar mau repot-repot ngurusin hidup orang lain."


Chandra menepuk pundak Kai, "gue nggak masalah lo mau pacaran sama siapa, asal lo seneng, kita juga seneng, Kai. Gue cuma pengen lo jujur sama perasaan lo."


Kai berdecih, melirik Chandra. "Abis mabok lo ya? Ngomongnya jadi bener gitu?"


Sean tergelak. "Dia udah lama nggak orgasmee, jadi gitu."


"Tayi!" Teriak Chandra kesal. "Giliran gue ngomong bener, diledekin! Temen setan emang lo berdua!"


"Iya, elo setannya." Sahut Kai sambil berdiri mengambil tasnya.


"Mau kemana lagi? Di luar ujan." Tanya Sean.


Kai mengedikan bahunya acuh sambil berjalan ke arah pintu. "Gue mau jujur sama perasaan gue."


"Ciyeeeee..." ledek Chandra. "Jangan lupa pake ******!"


Sean langsung menoyor kepala Chandra dengan cepat. "Otak lo, Channnnnn!"


Sementara Kai sudah keluar dari apartemen Sean dengan kedua sudut bibir yang tertarik sempurna. Dia tidak bisa menunggu, hari ini dia harus mengungkapkan perasaannya. Seolah tidak ada hari lain yang lebih baik.


• • •


"Ujannya masih deres?" Tanya Kai yang baru saja keluar dari kamar Krystal dengan memakai piyama tidur cewek itu.


Krystal mengalihkan pandangannya dari jendela rumah, lalu terbelalak lucu menatap Kai dari atas sampai bawah. Setelahnya, dia tergelak kencang melihat itu.


"Ngeselin!" Kai cemberut sembari menghempaskan tubuhnya di sofa. "Gue pulang kalo lo masih ketawa."


Krystal melipat bibirnya, menahan tawa yang ingin keluar. "Kamu lucu." Lalu ikut merebahkan dirinya di sofa. "Minum tehnya dulu, mumpung masih anget."


Kai meminumnya sedikit, dan merasakan kehangatan yang mengalir turun dari tenggorokannya hingga menuju perut. Tapi itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa hangat di hatinya saat ini.


"Oh iya, aku belom bilang ya sama kamu kalo panti udah dapet Donatur."


Hampir saja Kai tersedak saat mendengar Krystal mengatakan itu. Dia buru-buru menetralkan wajahnya dan menatap gadis itu dengan santai. "Bagus dong."


"Hmm ... aku seneng banget, sampe rasanya mau nangis."


Kai diam sebentar, lalu berdehem kecil. "Nggak apa-apa, mungkin emang cara mereka kayak gitu buat ngebantu orang-orang."


"Iya..." Krystal tersenyum sumringah. "Pokoknya aku selalu berdoa, semoga orang itu hidup dengan bahagia dan diberikan kesehatan selama-lamanya."


Kai ikut tersenyum, selalu ada kedamaian di setiap senyuman Krystal. Bahkan binar di mata gadis itu bisa membuat siapapun ikut merasakannya. Kai ingin sekali menyentuh wajah itu, maka dia memilih untuk mengangkat tangannya dan mengelus pipi Krystal pelan. Cewek itu tersentak malu, hingga menimbulkan warna merah pada pipinya.


"Merah..." ujar Kai.


Krystal menunduk. "Jangan dilihatin."


"Kenapa?" Kai mengangkat dagu Krystal dan membuat pandangan mereka bertemu.


"Aku malu."


"Merah juga cantik." Kai mengelus pipi merona itu dengan punggung jari tangannya. "Gue suka,"


Lagi-lagi Krystal menahan napasnya, jantungnya berdebar cepat dan hampir menggila. "Kai, iihh... bikin dada aku deg-degan."


Kai tergelak. Siapapun tolong katakan padanya, kenapa gadis ini mudah sekali membuat hatinya menjerit gemas.


Masih dengan senyuman di bibirnya, Kai kemudian menarik bahu Krystal untuk masuk ke dalam dekapannya. "Makasih."


"Buat?"


"Pipi merah sama deg-degannya."


"Kok gitu?" Tanya Krystal bingung.


"Soalnya gue suka."


Krystal tertawa, membalas pelukan Kai dengan erat. "Kalo gitu aku juga mau bilang terima kasih."


"Buat apa?"


"Lukisan wajah aku."


"Suka?"


Cewek itu mengangguk di atas bahu Kai. "Hmm, aku suka banget. Apalagi kamu yang buat."


"Ciye gombal." Ledek Kai.


"Bener kok," pelukan mereka terlepas. "Inget gambar kamu di kertas soal yang aku kasih?"


Kai mengangguk, menyelipkan sebagian rambut Krystal yang menghalangi wajah cantik gadis itu pada balik telinga.


"Aku masih simpen loh."


"Yang itu buang aja, nanti dibikinin yang baru."


Krystal menggeleng. "Nggak mau, itu lukisan pertama yang aku punya." Kemudian tersenyum sambil memegang tangan Kai. "Tapi, bikinin lagi yang baru."


Kai pura-pura berpikir, "dikasih apa kalo dibuatin yang baru?"


Hal itu membuat Krystal memberengut, lalu menjauhkan dirinya dari Kai. "Kok minta imbalan?"


"Iya dong." Kai mengusak rambut gadis itu. "Biar adil."


Krystal berpikir sesaat. "Yaudah, kamu mau apa?"


"Cium."


Krystal tentu terbelalak, sekujur tubuhnya tiba-tiba memanas. Ketika wajah Kai berubah, Krystal melihat senyum cowok itu menatapnya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam dan hanya saling menatap.


Dan tatapan itu berubah hanya dalam beberapa detik ketika Kai memiringkan wajahnya, untuk mengecup bibirnya. Kedua tangan cowok itu menangkup wajah Krystal.


"Kenapa nggak tutup mata?" Bisik Kai yang membuat napasnya menyapu bibir Krystal.


"Takut kamu bohong,"


Ingatkah dengan kejahilan Kai saat di panti? Tentu membuat Kai terkekeh kecil sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka. Hanya sebuah kecupan halus dan samar.


"Sekarang beneran, tutup mata."


Masih dengan tangan yang menangkup wajah Krystal, Kai melihat jika gadis itu perlahan menutup matanya. Seperti mendapat izin, Kai kembali menyatukan bibir mereka.


Bibirnya bergerak dengan lembut, lambat dan penuh perasaan. Satu tangannya memegangi wajah Krystal, dan satu lagi mengelus leher gadis itu. Kai mengulum bibir bawah Krystal, menjilatinya, berusaha membuat gadis itu membuka mulutnya.


Krystal merenggut piyama yang dikenakan Kai saat merasakan sensasi lain dari ciuman mereka sebelumnya. Lalu terpekik saat Kai menggigit bibir bawahnya. Krystal melepas tautan itu.


"Kenapa digigit?" Tanya Krystal dengan napas terengah.


Kai hanya tersenyum, lalu kembali membungkam bibir Krystal. Kali ini mengulum bibir atas dan bawah secara bergantian dengan lembut. Jangan lupakan jika gadis ini adalah cewek terpolos yang baru pertama kali dia temui. Kai mengerti ketidakahlian Krystal dalam hal ini, maka itu dia hanya mencium gadisnya dengan lembut dan penuh perasaan. Seolah Krystal adalah makhluk terlemah di dunia ini


• • •


Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.


Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..


terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...


salam sayang,


anna ❤