Nobis

Nobis
Kehilangan Arah



NOBIS


Chap 51






Tangisnya sudah berhenti, namun rasa sesak di hatinya masih terasa hingga saat ini. Krystal hanya mampu menunduk di tepian kasur sambil meremat tangannya yang dingin.


Kevin memberinya kamar tidur yang berhadapan langsung dengan kamar Kai di depan sana.


Kamar itu terlihat jauh lebih luas dan sangat mewah dibandingkan dengan kamar Krystal yang berada di rumah kontrakan.


"Kamu suka?"


Krystal mendongak, menatap Kevin yang sedang berdiri di depannya, gadis itu tersenyum kaku sambil berusaha mengeluarkan suaranya. "Krystal suka."


"Bagus deh, ayah seneng jadinya." Kevin lalu mengusap puncak kepala Krystal dengan lembut, sebelum kembali berkata. "Yaudah, kamu tidur ya, kalo ada apa-apa bilang sama ayah."


Krystal mengangguk sebagai balasan.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar Krystal, Kevin mencium kening anak gadis itu dengan penuh rasa sayang, yang justu membuat kepala Krystal kembali berpikir.


Apa ayah juga melakukan hal ini sama Kai?


Tanpa mengatakan isi hatinya itu, Krystal kembali dibuat tersentuh dengan kalimat Kevin selanjutnya. "Selamat malam, anak ayah."


Lalu tubuh tegap itu menghilang dari balik pintu.


Sesaat Krystal merasa terenyuh dengan panggilan itu. Anak Ayah. Sudah sangat lama Krystal ingin dipanggil seperti itu, ternyata rasanya sangat menyejukan dan menenangkan. Tapi Krystal tahu, tidak seharusnya dia merasa senang, dia tidak pantas mendapatkan itu semua.


Tok.. tok..


Krystal menoleh saat pintu terbuka. Mendadak tubuhnya menegang begitu wajah kakek Wira muncul dari balik pintu.


"Boleh kakek masuk?"


Refleks Krystal berdiri, menyambut kakek Wira yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kirain sudah tidur." Ujar kakek Wira sambil melangkah masuk. Tubuhnya yang semakin tua membuat pria paruh baya itu sedikit sulit untuk berjalan. "Kakek ganggu ya?"


"Enggak, kek." Krystal memegang tangan kakek Wira untuk membantunya duduk di tepian kasur.


"Kenapa belom tidur?"


"Belom ngantuk." Balas Krystal.


Kakek Wira tersenyum. "Bukan karena tempatnya gak nyaman kan?"


Krystal buru-buru menggeleng. "Enggak, Krystal suka kok sama kamarnya."


"Syukur deh, semoga kamu betah ya." Ujar kakek Wira sembari menggenggam tangan Krystal, pria tua itu menepuk pelan punggung tangannya. "Kamu mirip sekali dengan Alisa ... Senyum kamu, mengingatkan kakek pada Ibumu."


Kakek Wira memandangi wajah Krystal lekat-lekat, matanya sedikit berkaca-kaca begitu mengingat anak berumur dua belas tahun yang dia temui di panti asuhan yang berada di Bandung.


Wajah Krystal memang sangat mirip dengan Alisa. Garis wajahnya, hidung, dan bibirnya. Semua itu membuat kakek Wira merindukan gadis kecilnya.


"Kamu menurunkan semua sifat-sifat Alisa. Ibumu itu sangat ceria, suka tersenyum, dan selalu bersikap sopan pada setiap orang yang dia temui."


Entah sejak kapan air mata Krystal menetes. Rasanya sangat sesak mendengar nama Ibunya disebut, apalagi bersama dengan kenangan yang tidak pernah dia rasakan.


"Kakek benar-benar sangat terkejut hari ini. Kevin tidak pernah bercerita jika dia memiliki anak dari Alisa. Kakek merasa gagal mendidiknya."


"Maaf, Kek." Lirih Krystal di tengah isak tangisnya.


Kakek Wira menggeleng sembari mengelus pundak Krystal. "Bukan salah kamu. Kakek yang salah, kakek yang tidak bisa mendidik Kevin dengan baik." Ada jeda sebelum kakek Wira melanjutkan kalimatnya. "Alisa pasti tersiksa selama ini."


Krystal semakin terisak. Air matanya mengalir semakin deras. Kakek Wira yang melihat itu segera memeluk pundak Krystal erat, berusaha menenangkan gadis itu.


"Boleh kakek tanya sesuatu sama kamu?"


Krystal menarik diri, lalu menghapus air matanya sebelum menganggukan kepala.


"Kamu sama Kai ... ada hubungan?"


Gadis itu tersentak dengan kedua bola mata yang melebar sempurna. Tenggorokannya seketika tercekat mendengar pertanyaan itu. Rasanya sekujur tubuh Krystal memanas, dia sangat memahami apa yang dimaksud Kakek Wira. Krystal mengerti arti pertanyaan itu.


Untuk satu pertanyaan yang mengganggu perasaannya, Kakek Wira sudah mendapatkan jawaban itu melalui air mata Krystal yang jatuh.


• • •


Kai memandang hampa pada luar jendela di dalam kamarnya. Dia tidak pernah menyangka jika Kevin akan membawa Krystal masuk ke dalam rumah secepat ini. Apalagi tanpa memberitahu kakek Wira terlebih dahulu.


Kai merasa ini terlalu cepat dan terburu-buru. Kai kira Kevin akan memberi waktu agak lama untuk membawa Krystal ke rumah, atau setidaknya sampai dia memiliki kekuatan untuk memperbaiki hatinya.


Pada beberapa detik di tengah-tengah dirinya menatap luar jendela, Kai memikirkan keadaan ibunya. Tentang perasaan ibunya saat ini. Apakah ibunya baik-baik saja. Bagaimana perempuan itu menerima kenyataan ini.


Lalu, seolah tidak dapat mengendalikan hatinya. Kai kembali memikirkan Krystal. Sedang apa gadis itu. Sudah sejauh apa dia menghancurkannya. Atau sudah sebanyak apa air mata yang Krystal keluarkan.


Kai merasa dirundung dilema.


"Hai anak ganteng."


Dia menoleh, mendapati Morena masuk ke dalam kamarnya dengan sebotol alkohol. Perempuan itu tersenyum padanya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menghela nafas kasar.


"Kayaknya minum di sini gak akan ketahuan kakek kamu." Morena berujar dengan senyuman, namun semakin banyak Morena tersenyum, semakin terlihat jelas kesedihan di wajahnya.


Kai berdecak. Menatap tidak suka pada botol yang berada di tangan Morena. Selalu seperti itu, Morena pasti akan melampiaskan perasaan sakitnya dengan meminum alkohol.


"Kakek kamu tuh rese, bikin mama gak bisa bebas minum." Ujar Morena sembari membuka tutup botol.


Perempuan itu lalu menenggak isi botolnya, membiarkan cairan memabukan itu turun membasahi tenggorokannya.


Kai hanya mengamati Morena dari tempatnya tanpa mau bersuara. Hingga kemudian dia berjalan mendekati, dan mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Untuk beberapa saat hanya hening yang terjadi di antara Ibu dan Anak itu. Kai memejamkan matanya erat-erat mencoba mengusir bayangan Krystal yang bersarang di kepalanya. Tidak, dia tidak boleh memikirkan Krystal lagi. Dia harus meninggalkan gadis itu demi membunuh perasaannya.


"Kamu udah tau sejak kapan?" Morena bertanya sembari memainkan botol di tangannya.


Mata Kai terbuka lalu mengerjap berat. Masih dengan posisi berbaring dengan kedua tangan sebagai bantalan, Kai menatap langit-langit kamarnya.


Morena menghela sebelum kembali bertanya. "Kamu baik-baik aja?"


"Sekarang bukan waktunya mama mikirin aku."


"Terus mama mikirin siapa lagi kalo bukan mikirin anak mama?" Perempuan itu terkekeh kecil, seolah sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan anaknya.


"Aku udah pernah bilang kan kalo aku benci lihat mama senyum kayak gitu." Kai beringsut duduk, menatap Ibunya yang menunduk sendu. "Mah, sekali aja jangan mikirin aku. Mama juga harus mikirin perasaan mama sendiri. Aku tahu selama ini mama bertahan sama papa karena mikirin aku, mikirin masa depan aku. Mama tersiksa.. aku tahu itu."


Morena mengeratkan jari-jarinya pada kaca botol alkohol di tangan. Perempuan itu memilih untuk membuang wajahnya ke lain arah, asal tidak melihat Kai.


"Mah ... aku baik-baik aja. Aku bisa jaga perasaan aku. Udah saatnya mama mikirin diri mama sendiri. Berhenti untuk terlihat baik-baik aja. Kalo mama kayak gini, mama sama aja nyakitin aku. Aku gak butuh apa-apa, mah. Selama ini yang aku butuhin cuma mama, bukan kebebasan."


Morena menoleh, menatap Kai dengan penuh rasa bersalah. "Anak mama udah gede ya, udah pinter ngomong sekarang."


"Mah!"


"Mama baik-baik aja, Kai." Morena menyentuh kepala anaknya, menatap sendu pada sosok dewasa yang selama tujuh belas tahun ini hampir dia lupakan. "Maaf ya kalo mama dulu sibuk sendiri sampe lupa sama kamu. Mama kasih kamu kebebasan seperti itu, berharap kamu bisa mencari kebahagiaan kamu sendiri, tapi mama salah, yang kamu butuhin itu keluarga."


Matanya berkaca-kaca, hatinya berdenyut ngilu. Morena sudah melewati banyak waktu tanpa tahu perkembangan anaknya, ternyata anak yang dia lahirkan tujuh belas tahun lalu sudah sebesar ini, sudah dewasa. Kemana saja dia selama ini.


"Kai.. bahagianya kamu, bahagianya mama juga." Morena menggenggam satu tangan anaknya, lalu mengelus itu dengan sayang. "Sejak lihat Krystal di apartemen kamu, rasanya mama mau bilang makasih sama dia, mama akhirnya bisa lihat senyum kamu lagi. Anak mama yang tadinya selalu menggebu-gebu dan emosian, sekarang berubah jadi lebih dewasa dan bijak."


"Mah.."


Morena menghapus air matanya yang menetes. "Lihat Krystal hari ini di dalam rumah bener-bener membuat hati mama sakit, rasanya hancur. Kenapa harus anak itu? Kenapa harus perempuan yang bisa membuat anak mama tersenyum ... hal yang gak bisa mama lakuin untuk kamu."


"Mama gak tahu harus bersikap seperti apa sama dia. Apa mama harus membenci atau malah sebaliknya." Morena menepuk lembut punggung tangan Kai. "Tapi kalo dipikir-pikir ... bukan Krystal yang salah. Dia gak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu, apalagi dari kamu."


Kai terdiam, sudut hatinya berkecamuk. Memang benar yang ibunya bilang, Krystal terlalu berharga untuk menjadi korban kebencian atas kesalahan kedua orang tuanya di masa lalu. Tapi, semua ini Kai lakukan juga semata-mata untuk pertahanan diri agar dia dengan cepat dapat membunuh semua perasaannya.


"Mama tahu hubungan kamu sama Krystal dulu seperti apa. Semuanya terlalu mengejutkan, mendadak terasa berat dan sangat menyakitkan. Tapi ... memang ini jalan yang harus kamu lewatin, ini takdir kamu sama Krystal." Morena memeluk tubuh Kai, mengusap punggung anaknya dengan sayang. "Sekarang bukan waktunya kamu buat mikirin perasaan mama. Kamu ... kamu jauh lebih sakit, Kai."


Memang benar apa yang Morena katakan, ini terlalu menyakitkan. Kai harus menghadapi dua kenyataan dalam satu waktu. Perempuan yang teramat sangat dia benci adalah orang yang sama dengan gadis yang amat sangat dia cintai. Lalu, seolah takdir sedang mempermainkannya lagi. Kai dan Krystal harus dipisahkan dengan hubungan darah yang mengalir di antara mereka.


"Mah.." Kai mengeratkan lengannya di tubuh Morena. Dia tidak pernah selemah ini sebelumnya, dia seperti kehilangan arah dan tidak memiliki tujuan lain.


Kai menangis di pelukan ibunya.


"Aku bakalan terima tawaran kakek."


• • • •


vote dan komen ❤❤❤