Nightfall

Nightfall
Nightfall 08



...Nightfall by VizcaVida...


...|08|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Aku mengantarnya pulang hanya sampai di depan gerbang masuk tempatnya tinggal yang juga merupakan gudang senjata kepolisian dan tempat dilatihnya calon polisi-polisi baru di negeri ini.


Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan karena aku juga tidak tau cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Namun sebelum dia turun dari mobilku, aku sempat bertanya padanya, “Apa kamu bisa membaca tulisan?”


Dia mengangguk dengan tatapan datar. Mungkin dia merasa aneh denganku yang mengira dirinya tidak bisa membaca abjad. Tatapannya seperti sedang bicara ‘Aku tunawicara, bukan seorang tunanetra. Ya, kira-kira seperti itu, dan aku menertawakan kebodohanku sendiri dalam hati.


“Mau bertemu lagi denganku?” tanyaku sambil membuat gerakan yang tidak masuk akal agar dia mengerti ucapanku. Aku menggabungkan dua tanganku dan menunjuk diriku dan dirinya. Aduh, ini benar-benar sulit. Semua gerakan yang aku buat sangat tidak masuk akal dan jauh dari gerakan isyarat yang diketahui Wendy.


Apa boleh aku melambaikan tangan ke kamera sekarang? Karena Wendy justru tersenyum manis dan membuat hatiku berdenyut penuh kegembiraan.


Dia mengangguk dan hendak meraih pengait pintu mobil. Aku menahannya.


“Kapan?” tanyaku tidak sabaran.


Dari sini aku bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan yang selama ini tidak pernah aku perhatikan. Aku selalu menolak setiap Vino menawarkan keindahan seorang perempuan padaku. Dan sekarang, aku seperti termakan karma. Aku seperti sedang jatuh cinta pada buruanku sendiri.


Wendy merogoh ponsel di saku jaketnya, lalu berfikir sejenak sebelum mengetik sesuatu.


Hari Sabtu sore, aku ke minimarket


Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku akan kesana juga.”


Wajahnya bersemu setelah mendengar jawabanku. Lalu aku kembali bertanya. “Siapa namamu?” pertanyaan yang sebenarnya hanya basa-basi dan tidak memerlukan jawaban karena aku sudah tau jawabannya. Tapi dia menjawab dengan tulus. Dia mengetik lagi dalam laman pesan di ponselnya.


Wendy


***


Kuparkir mobil di area parkir yang sudah penuh. Semua penghuni mungkin sudah kembali ke peraduan setelah seharian mengejar pendapatan.


Berbeda dengan orang normal yang akan senang saat sampai rumah, aku justru semakin tertekan. Pasalnya, ah ini memalukan jika di katakan. Tapi, memang, jawabannya hanya satu, karena tidak ada yang menghiburku ketika aku sampai di rumah dan melepas lelah. Mungkin begini ini yang dibayangkan Vino saat berkata ingin menikah dan punya anak. Agar ada yang menyambut dan menghiburnya saat sampai dirumah. Obat suntuk, penghilang lelah.


Aku melewati lantai dasar yang lumayan ramai. Kemudian ikut membaur bersama beberapa orang yang sudah berada didalam lift.


Tidak ada yang menyapa, hanya memperhatikan ku dengan tatapan aneh. Aku bisa melihatnya dari pantulan aluminum life yang bersih dan jernih. Mereka ada yang berbisik, tapi terdengar cukup jelas. Begini katanya,


“Bukankah dia penghuni baru yang menempati gedung paling atas?”


Penduduk apartemen ini tau apa yang ada di puncak gedung atau tingkat ke sepuluh dari bangunan yang bisa dikatakan, cukup mahal uang sewanya ini. Lalu orang yang dia bisiki menjawab begini,


“He'em. Gue pernah lihat orangnya satu kali secara nggak sengaja waktu hoodienya nggak nutup kepala dia. Orangnya cakep banget lho.”


Oh wow. Aku ganteng katanya? Aduh, terima kasih ya mbak sudah puji-puji fisikku. Tapi, sorry, aku tidak tertarik untuk dipuji karena otakku sedang memikirkan, bagaimana caranya untuk mendekati seorang gadis tunawicara yang menjadi salah satu misi ku. Misi sialan-ku sih, lebih tepatnya.


“Ck!!”


Aku mendecak sebal saat kembali ingat misi yang diberikan bos Yoseph padaku. Akan tetapi tetap berdiri tenang melihat satu persatu orang keluar dari lift di lantai yang berbeda-beda. Hingga tertinggal aku dan sepasang suami istri yang terlihat harmonis dan saling mencintai. Si suami menggendong seorang anak kecil berusia kisaran tiga tahun, sedangkan sang istri menggelayut pada salah satu lengan pria itu, perutnya sangat besar. Mungkin sebentar lagi melahirkan.


Diam-diam aku tersenyum. Kembali kata-kata Vino membesit, namun kali ini dengan diriku yang turut berbisik pada hatiku. “Apa aku bisa seperti itu?” setidaknya kalimat seperti itu yang muncul pertama. Kemudian, “Apa aku punya kesempatan?” aku membenahi pikiranku. Pekerjaanku sekarang begitu berbahaya. Siapa nanti cuma jadi wacana.


Ah, sudahlah. Jalani saja. Bisa gila kalau terus dipikirin begini.


Lift berdenting dan pintu terbuka di lantai sepuluh. Ternyata itu salah satu tetanggaku. Mereka juga tinggal di lantai yang sama denganku. Lantas si suami tersenyum dan menyapaku dengan sebuah bungkusan singkat saat kami berpisah di arah yang berlawanan.


Ku rogoh saku Hoodie untuk mencari kartu akses pintu tempat tinggalku. Namun bayangan seseorang yang berdiri disisi pintu membuatku tertegun. Aku mempercepat langkah, kemudian berdiri tak jauh darinya yang mulai mengomel dan protes tanpa mau tau keadaan.


“Aku sudah nunggu kamu dari tadi disini.”


Bukankah tadi bos Yoseph bilang jika Lili pergi keluar bersama temannya? Oh, mungkin sudah selesai dan sekarang mampir kesini hanya untuk melihat situasi rumah mewah dilantai sepuluh yang kutempati.


Ini memang konyol. Tapi penyamaran menjadi orang kaya itu, terlalu berlebihan bagiku.


“Lho, bukannya kamu sedang jalan sama temen-temen kamu? Papa kamu yang kasih tau aku.”


“Kamu dari rumah?”


Aku mengangguk kecil sebagai jawaban. Lili memang belum tau tentang misi kedua yang diberikan papanya untukku. Untuk itu aku berjuang untuk menjaga kata-kata yang hendak keluar dari mulut agar tidak salah bicara, keceplosan, atau apapun yang bisa membocorkan informasi itu.


“Ya, ada sesuatu yang harus aku ambil disana.”


Aku menempelkan kartu akses dan pintu berkelip biru setelah berbunyi beep. Kami masuk bersama.


Jangan heran, karena memang seperti inilah Lili. Tanpa dipersilahkan pun, dia akan masuk ke tempat yang menjadi ranah pribadi orang lain. Bagiku, rumah adalah privasi. Tapi bagi Lili, milikku adalah miliknya. Aku sedikit tidak nyaman dengan hal itu.


Dia duduk di sofa ruang utama yang disana, ada sebuah televisi berukuran raksasa yang dengan segera ia nyalakan. Sedangkan aku, bergegas masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian setelah membersihkan diri.


Menonton berita adalah tujuan gadis itu. Dia selalu menyempatkan diri untuk melihat warta berita untuk memastikan jika tidak ada wajah orang-orang terdekatnya yang tiba-tiba muncul menjadi bahan pemberitaan. Kebiasaan kami sebenarnya cenderung sama karena kami tinggal dilingkungan yang memang sama.


Aku keluar kamar tiga puluh menit kemudian dan Lili masih nyaman dengan posisi awalnya. Tiduran menyamping dengan kepala di sangga satu telapak tangan. Aku menggelengkan kepala sebagai reaksi kekaleman Lili saat ini, lalu aku berjalan menuju dapur bergaya elegan yang tidak jauh dari ruangan itu untuk mengambil air minum dingin dari lemari pendingin. Lalu aku kembali menghampiri Lili dengan sekotak jus buah siap saji yang banyak dijual di supermarket untuknya, dan sekaleng soda untukku.


Ah, mengingat supermarket, aku jadi ingat bagaimana membuat janji dengan Wendy di hari sabtu, minggu ini.


Aku duduk didepan Lili yang masih tidak mengalihkan tatapannya. Namun bibirnya langsung saja bersuara,


“Gimana, ketemu papa?” tanya Lilibpadaku.


Aku mengangguk.


“Bahas apa? Misi gila ini?”


Misi gila. Noted. Dia benar saat menyebut misi ini, adalah misi gila.


“Ya, kamu tau lah, Li. Papa kamu juga nggak bakalan batalin misi ini meskipun kamu memohon.”


Dia menoleh kasar dan menatap tajam padaku.


“Karena misi ini adalah salah satu bagian dari misi-misi lain yang masih belum bisa ku tebak.” jawabku santai karena tau karakter Lili yang tidak akan menghakimi apapun meskipun pembahasan yang kami bicarakan adalah tentang papanya.


“Lalu, apa misi ini sangat bahaya?”


Ya! Sangat berbahaya hingga aku harus mempertahankan hidup ku sendirian.


Jawabku tegas dalam hati. Akan tetapi apa yang kulihat selanjutnya membuat mataku terbelalak lebar. Lili sudah bergerak mendekat padaku, kemudian mengusap garis rahangku, dan mengecup pipiku satu kali.


Sekarang aku tau mengapa bos Yoseph mengutusku menjadi eksekutor meskipun aku tidak pengalaman dalam bidang itu.


Misi itu memang di tujukan untuk melenyapkan aku. Karena dia tidak suka Lili dekat denganku. []


...To be continue...


###


Eh sumpah! Kenapa gambarnya nggak bisa di upload sih? Nyebelin deh. 😤