Nightfall

Nightfall
Nightfall 10



...Sebelum mulai membaca, luangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...


...❣️❣️❣️...



...Nightfall by VizcaVida...


...|10|...


...Happy reading...


...[•]...


Sabtu datang begitu saja. Aku juga tidak menyangka jika hari berganti begitu cepat. Tapi belum ada apapun yang bisa aku banggakan di depan bos. Gerakan ku stay ditempat pertama kali aku mengambil langkah salah satu misi. Catat, hanya salah satu, bukan dua-duanya. Karena yang kedua, bakalan menegangkan. Pertaruhan hidup yang real.


Aku menyemprotkan parfum Bvlgari Extreme Pour Homme ke beberapa titik tubuh bagian atasku, kemudian memakai kemeja hitam yang baru saja ku keluarkan dari dalam walk in closet yang hanya terisi oleh beberapa helai pakaian, dan satu jeans sopan berwarna senada. Ku tata rapi rambut bergaya French crop dengan sedikit Pomade, lalu memasang arloji coklat berlogo ... pada pergelangan tangan kiri ku.


Gila, seperti mau kencan saja, padahal biasanya aku cuma berpakaian seadanya. Tidak peduli pada penilaian orang. Tapi hari ini? What's wrong with crazy me? This is out of topic style to go to meet some one not special for me. Dengan kata lain, GUE KEPEDEAN. Di tulis dengan huruf kapital biar kalian sadar kalau aku sudah mulai gila dan terlalu percaya diri.


Nanti, kalau Wendy menatap aneh padaku, kira-kira aku jawab apa ya?


Buru-buru kulepas kemeja, lalu mencari t-shirt polo warna gelap dan memakainya. Nah, ini lebih mendingan.


Ku raih ponsel dan bergegas pergi dari rumah menuju ke minimarket tempatku dan Wendy membuat janji. Sepanjang koridor, aku melihat suasana yang memang selalu sama, sepi. Orang yang tinggal di lantai atas memang terkesan memilih hidup tenang dan privat. Tidak ingin urusan atau ketenangannya diganggu orang lain. Untuk menjaga privasi mungkin adalah tujuan tempat ini dibuat.


Oh, aku jadi ingat jika salah satu tetanggaku ada yang sudah punya dua anak. Dan itu tiba-tiba mengingatkan aku pada sesuatu.


Aku mengehentikan langkah. Keningku berkerut, dan tumitku berputar ke arah berlawanan dimana ada dua pintu lain disana yang salah satunya adalah tempat orang yang semalam berada dalam satu lift denganku. Dia ...


“Bukankah itu Joni?” gumamku pelan. Aku memutar badanku seluruhnya dan memperhatikan lorong yang sepi. Kalau dia tinggal disini, lalu alamat yang diberikan bos Yoseph waktu itu, alamat siapa? Apa dia memiliki dia alamat berbeda? Tinggal ditempat berbeda? Atau tempat ini hanya untuk melindungi anak dan istrinya?


Astaga, kenapa bos tega ingin menghabisi orang yang bahkan memiliki keluarga kecil yang terlihat bahagia itu. Bahkan, istrinya sekarang sedang mengandung. Bagaimana perasaan istrinya jika suaminya dihabisi oleh orang sepertiku?


Aku berkacak pinggang. Mendongak menatap langit-langit bangunan yang ternyata terlihat sangat elegan. Kemudian ku raup wajah karena berada dalam dilema.


Harusnya bos tidak memberi tugas seperti ini pada orang sepertiku yang memang terkadang berubah menjadi pribadi yang lemah. Bagaimana bisa aku menghancurkan pusat dan sumber kebahagiaan keluarga itu, kalau ternyata Joni memang orang yang anak-anaknya butuhkan? Aku bisa merasakan bagaimana hidup tanpa kasih sayang utuh dari orang tua, dan itu sangat menyakitkan.


Baiklah, aku akan mencari jalan lain setelah ini. Tapi mari pergi bertemu Wendy terlebih dahulu. Aku sudah janji dengan dia, jadi tidak mungkin aku ingkar dan membuat dia tidak lagi mau meletakkan rasa percaya padaku.


“Permisi.”


Aku menoleh, dan yang ku dapati adalah seorang wanita hamil besar sedang tersenyum padaku—yang kuduga adalah istri Joni—sedang membawa sebuah kotak makanan.


“Ya?” sahutku pelan dengan ekspresi sedikit terkejut. Pasalnya dia tiba-tiba muncul begitu saja dibalik punggungku.


“Eumm, maaf baru memperkenalkan diri. Saya penghuni baru disini.”


Ah, ini poinnya. Ternyata keluarga Joni memang baru pindah kesini. Pantas saja aku baru melihatnya semalam.


“Oh, iya.” aku membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu dia menyodorkan kotak berbungkus kain ungu itu kedepanku.


“Ini, sebagai sapaan dari keluarga kecil saya.”


aku menerimanya dengan gerakan sangat ragu—antara mau atau tidak—karena menurutku, aku ini jahat, aku ini orang jahat yang ditugaskan untuk membuat mereka sengsara. Lalu masih pantaskah aku menerima kebaikan mereka?


Pada akhirnya ku terima saja daripada menyakiti perasaannya.


“Nama saya Rosalin, dan suami saja, Joni Santono. Kami tinggal di unit nomor 3. Letaknya di ujung sana.” katanya menjelaskan sambil menunjuk ke arah dimana pintu tempat tinggalnya berada.


“Mohon bantuannya sebagai tetangga ya, mas .... ”


“Panggil saja Ale.” sahutku karena dia terlihat kebingungan karena aku belum memperkenalkan diri. “Panggil nama saja, biar akrab.” lanjutku sembari tersenyum.


“Ah, iya. Terima kasih sudah meluangkan waktu menerima sapaan saya. Maaf membuat anda tertahan sebentar disini.”


Ku gelengan kepala. Dia wanita yang sopan dan baik. Mungkin Joni juga orang yang baik.


“Ah, tidak apa-apa. Cuma ada janji dengan teman kok.”


“Kalau begitu, saya permisi. Sekali lagi terima kasih, dan mohon bantuannya jika kami membutuhkan sesuatu yang mendesak tanpa diduga, ya.”


Lagi-lagi, ku anggukkan kepala. Kemudian dia berlalu, dan aku menatap punggung sempit itu hingga sedikit menjauh. Ku putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk meletakan kotak bingkisan pemberian wanita itu, lantas bergegas menuju mini market dan bertemu Wendy.


Ada satu hal yang ingin kulakukan dan kuberikan padanya.


***


Sesampainya di depan minimarket, aku sedikit melongok kedalam dan ku dapati dia sudah di dalam sana, membawa keranjang belanja dan sedang memilah di salah satu rak tanpa sadar dengan kehadiranku.


Ku ulas senyuman kecil dibibir sebagai reaksi dari rasa lega yang muncul dalam hati. Ternyata dia tidak membohongi dan membodohiku. Dia gadis yang terkesan sangat jujur dan ... polos.


Pintu kaca terdorong pelan. Aku sengaja tidak langsung menyapanya, dan memilih berjalan menuju rak dimana dijual alat tulis dan beberapa buku agenda. Ya, aku ingin membeli satu buku agenda dan akan ku berikan padanya sebagai hadiah pertemanan yang ternyata tanpa sadar sudah terjalin diantara kami. Aku ingin dia menulis untukku, saat aku tidak tau maksud gerakannya nanti. Aku ingin buku agenda yang kuberikan ini, menjadi sesuatu yang berguna untuk menjadi salah satu media komunikasi kami.


Ada beberapa motif yang unik dan menarik, serta cantik menurut pandanganku. Aku meraihnya, meraih sebuah buku agenda yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tanganku. Sampulnya bergambar beruang kutub berwarna ... kecoklatan yang duduk dibawah pohon sakura yang sedang bersemi. Warna yang kontras dan terlihat begitu, cantik. Bagaimana bisa, orang yang mendesign ini, menggabungkan seekor beruang yang biasa hidup di tempat dingin, dengan musim semi yang indah?


Ah, aku terlalu jauh membuat teori. Mariambil dan bayar saja. Jangan terlalu banyak teori dan berakhir membuat bayangan indah sampai berandai-andai.


Aku berjalan ke arah kasir dan membayarnya terlebih dahulu, kemudian mengambil langkah menuju Wendy berada dengan kesibukannya.


Senyuman kembali terbentuk di bibirku saat melihatnya fokus pada deretan bumbu masak yang tersusun rapi di rak. Dia mengambil beberapa dan memasukkan ke dalam keranjang. Aku pun mengambil langkah mendekat dan dengan gerakan tiba-tiba mengulurkan buku agenda yang sudah ku beli itu dihadapannya.


Sontak dia menoleh. Wajahnya yang ternyata lebih cantik jika dilihat sedekat ini, membuat senyuman tak berhenti membentang di bibir hingga gigi rasanya mengering karena dingin.


“Buat kamu.” kataku singkat, berhasil membuatnya kembali mengalihkan tatapan mata kami yang bertemu beberapa saat itu, kearah buku agenda yang disodorkan padanya.


Telapak tangan kecilnya terulur menerima. Lalu dia tersenyum. Mungkin dia suka dengan gambar sampulnya. Jadi, dia suka dengan seleraku? Selera kami sama? Atau aku saja yang terlalu besar kepala? Hahahah ... gila. Kenapa aku berfikir sejauh itu, sih?!


Senyuman itu masih bertahan sampai mata kami kembali bertemu. Dia menyentuh dagu dengan telapak tangan, lalu mengarahkan telapak tangan yang terbuka bebas itu ke depanku, yang tentu saja aku tidak tau apa artinya.


Keningku mengerut mencoba menebak apa artinya. Tapi buru-buru dia membuka pembungkus plastik, lalu menarik ballpoint yang terselip di sisi buku, membukanya, lalu menulis,


Terima kasih,


Sungguh. Aku tidak menduga jika efek berteman dengan lawan jenis akan berdampak seperti ini. Dengan catatan, perempuan itu bukan Lili, ya.


Jantungku seperti dipaksa memompa lebih cepat. Hatiku tiba-tiba terasa menghangat dan bahagia hingga sebuah jawaban meluncur dari bibirku.


“Jadi, mau berteman denganku.”


Ia buru-buru menunduk, menyelipkan anakan rambutnya dibalik telinga dengan bibir yang masih tersenyum. Lalu dia kembali menulis di atas kertas berwarna pink bergaris yang disudut bawahnya ternyata tercetak gambar beruang yang menggenggam sebuket bunga.


Jawaban yang membuatku ingin melompat girang. Jawaban yang mungkin akan bisa membuatku merasa bangga karena sudah berhasil memasuki kehidupan perempuan ini. Jawaban itu berbunyi,


Tentu.


[]


...To be continue...