
...Nightfall by VizcaVida...
...|07|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Aku sampai bingung. Sebenarnya peranku disini itu apa? Misiku menjadi dua, dan dua-duanya tidak menyenangkan. Tentu saja bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga membahayakan. Orang yang di targetkan si boss untukku itu, dua-duanya orang penting.
Aku membuka pintu ruangan dimana dulu selalu ku gunakan untuk bekerja bersama Vino. Dan benar saja, disana Vino sedang sibuk didepan layar komputer. Teman baikku itu sedang memakan mie dalam cup, ditemani secangkir kopi hitam juga. Wah, nyaman sekali. Sedangkan aku, mau menelan ludah sendiri saja sulitnya minta ampun.
“Makan terus ya? Enak banget Lo, vin.” sapaku sambil menarik satu kursi menganggur yang dulu selalu aku gunakan. Sumpah, aku rindu duduk disini dengan mata melotot menatap layar komputer, tapi tetap duduk. Oh iya, perlu kalian tau juga, aku tipikal orang yang tidak suka ribet.
“Oh, Le. Kapan dateng?” tanya Vino, meletakkan cup mie seduhnya di meja, lalu menyambar tanganku untuk ia dorong di keningku sendiri. Kalian tau maksudnya, kan? Dia sedang memintaku menyalaminya seperti seorang anak pada bapaknya.
“Menurut Lo, apa gue udah di ruangan ini lebih dari satu jam?” cebikku kesal. Entah mengapa mood ku berubah buruk. Pikiranku kacau, kesabaranmu semakin menipis. Sumpah demi apapun, bos Yoseph memang sudah gila.
“Kayaknya sih, belum sampai sejam.”
Ku toyor kepalanya karena kesal. Dia mengumpat tapi aku tidak peduli.
“Gimana misi Lo?” tanya Vino penasaran dengan perkembangan misi personal yang diberikan bos untukku.
“Jangan bahas misi-misian deh. Gue lagi badmood.”
Vino tertawa kecil. Lalu menyambar keyboard dengan cepat dan mengetik banyak sekali angka dan huruf. Aku hanya diam memperhatikan.
“Ya terus Lo kesini ngapain?”
Ingin lu jotos mulutnya yang bicara asal-asalan itu. ‘Aku kesini mau mau baku hantam sama bos’ maunya bilang seperti itu, tapi kusimpan dalam hati saja agar aman. “Bos panggil gue, ada misi baru lagi.”
Vino mengerutkan kening. Alisnya bahkan hampir menjadi satu. “Serius? Kenapa Lo kayak berubah haluan jadi agen rahasia begini?”
Aku mengedikkan bahu. “Mungkin bos mau pensiun guru tapi nggak enak, makanya dia kirim aku jadi tukang misi biar hilangin jejaknya gampang.” jawabku asal yang membuat Vino menepuk dadaku cukup keras hingga aku terbatuk. Sialan!
“Jangan ngaco! Lo kan orang kesayangannya bos.” kata Vino, lalu kembali menatap komputer. Sedangkan aku, terkekeh atas jawaban yang baru saja kudengar dari Vino. Orang kesayangan katanya? Lalu ancaman yang tadi aku dapetin itu tujuannya apa? Hah, sudahlah. Iyain aja, biar gampang.
“Gue dikasih misi di luar passion gue.” curhat ku berlanjut. Mending cerita dulu ke Vino, biar dia tau kalau posisi ku tidak sebaik yang dia kira. Aku sama seperti yang lain, hanya sebagai budak yang harus menuruti semua kemauannya. Posisiku tidak lebih baik dari siapapun. “Gue di suruh ngatasin si Joni.”
Vino yang mendengarnya menoleh kasar. Mungkin dia juga terkejut, sama seperti ketika aku baru pertama kali mendengarnya tadi.
“Apa maksud Lo?!” tanya Vino dengan nada suara dan tatapan tidak percaya.
“Beneran. Gue dikasih misi itu ” jawabku yang tentu saja membuat Vino geleng kepala. Mungkin dalam kepalanya sekarang mempertanyakan seberapa sayang bos Yoseph padaku hingga memberikan misi berat begitu kepada orang amatir seperti aku? Atau mungkin juga Vino mempertanyakan, apa aku bisa melakukan itu dengan rapi?
“Kok ... nggak dikasih ke gue?”
“Ya Lo tanya aja sendiri sana sama si bos kalau berani.” celetukku, lalu mengambil kopi milik Vino dan menenggaknya tanpa ragu. Dan alasan terbesar yang buat aku tidak bisa menolak adalah pertemanan kami. Pertemanan ku dengan Vino. “Udah lah, gue mau balik dulu. Urusan gue disini udah selesai!”
Aku berdiri, merapikan jaket yang ku pakai, lalu membalik badan dan bersiap pergi setelah melakukan tos dengan Vino.
“Gue do'ain misi Lo berhasil.”
Dengan berat hati dan senyuman palsu, aku mengangguk dan pergi meninggalkan markas besar. Melewati jalan yang tadi juga ku lewati saat berangkat.
***
Aku sampai di depan gedung apartemen sekitar jam tiga sore, dan aku baru ingat jika aku belum makan siang sangking budreg nya pikiran. Aku suka blank kalau udah kebingungan begini.
Ku putar kemudi mobil keluar area parkir apartemen, dan kembali mengitari jalanan sekitar untuk mencari makan. Bawa mobil saja, lagi males jalan soalnya.
Kemarin aku lihat ada warung nasi Padang didekat kompleks perumahan polisi yang kelihatannya enak. Pengunjungnya juga lumayan mengantre, jadi ku asumsikan jika makanan disana memang enak. Hal itu yang membuatku kini rela kesana meskipun otak rasanya mau gila.
Sesampainya, seperti yang kuberitahu tadi, warung rumah makan Padang ini ramai pengunjung. Ada beberapa orang yang mengantre saat aku turun dari mobil dan ikut mengantre disana.
Sambil menunggu giliran, aku melongok kedalam untuk memastikan apa aku bisa makan ditempat, atau harus take away. Dan aku memutuskan untuk harus makan ditempat, karena ada objek yang membuatku tertarik. Ada Wendy disana. Senyuman terukir dibibirku. Mungkin takdir dan alam masih berbelas kasih kepadaku, untuk itu aku diberi sedikit kemudahan untuk menyelesaikan satu persatu tantangan hidup yang terasa memuakkan ini.
Aku bersumpah dalam diriku sendiri, jika aku memang masih selamat dan bertahan setelah menjalankan misi ini, aku akan pensiun dan berdamai dengan kenyataan. Aku akan melepas semua atribut konyol yang disematkan dalam diriku, lalu memperbaiki diri. Setidaknya aku tidak akan dilempar langsung ke kerak neraka jika memang harus kembali ke pangkuan sang pencipta.
“Nasinya satu, pak. Dimakan sini ya?” kataku ramah kepada bapak penjual yang sedang melayaniku. Pria yang ku perkirakan berusia setengah abad ini terlihat tentram dan nyaman sekali. Aku iri.
“Pake lauk apa, mas?”
Aku kembali melongokkan kepala. “Daging rendang saja, pak.” soalnya aku tidak begitu suka ayam. Bosan. “Teh hangatnya satu ya, pak.”
Aku menerima piring berisi nasi Padang yang porsinya diluar nalar. Lalu, aku membawanya menuju kursi kosong di meja seseorang yang sampai sekarang belum menyadari keberadaan ku.
Dan saat aku sudah berhasil duduk disana bersamanya, Wendy mendongak menatapku. Manik kami bersinggungan dan aku melemparkan senyum padanya agar suasana tidak berubah aneh karena ini tempat umum dan banyak orang.
Reaksi pertama yang ia tunjukkan adalah membuka lebar mata indahnya itu, lalu merapatkan bibir seperti menahan jeritan saat melihat hantu. Tidak apa-apa, samakan saja aku seperti hantu jika perlu. Aku baik-baik saja kok.
“Maaf ganggu.” kataku biasa, tidak memberikan gerakan apapun karena aku memang tidak menguasai bahasa gerak tubuh. Lalu aku melanjutkan,
“Apa boleh aku duduk disini?” kali ini aku membuat gerakan. Aku menunjuk diriku sendiri, kemudian menunjuk meja yang kami tempati. “Aku lapar.” aku menunjuk diriku sekali lagi, kemudian mengusap perutku, lalu segera melahap nasi Padang di piring dengan perasaan senang. Semua masalah seperti lupa untuk sesaat. Entah karena makanan ini, atau karena kehadiran Wendy yang tidak kuduga?
Entahlah, yang terpenting aku merasa nyaman untuk saat ini. Di jarak sedekat ini dengan dia, Wendyta Senja.[]
...To be continue...