
...Nightfall 02...
...Selamat membaca...
...[•]...
Aku membawa koper besar berisi beberapa stel pakaian, beberapa peralatan mandi, serta beberapa parfum kesukaan, juga deodorant yang biasa aku pakai saat di markas.
Hari ini aku pindahan. Menjalankan misi adalah alasan mengapa aku harus keluar dari sarang yang selama bertahun-tahun ini ku tinggali. Lili sempat protes pada tuan Yoseph dengan cara mogok makan seharian karena memberiku misi yang menurutnya tidak jelas. Ya ... benar juga sih kata Lili. Mana ada misi besar yang katanya amat sangat penting, tapi isinya mendekati seorang perempuan? Benar-benar konyol si boss itu. Mending suruh bobol banK offline dari pada misi beginian. Aku tidak mahir dalam hal ini. Serius, nggak bohong.
Di perjalanan, tiba-tiba aku ingat membutuhkan sesuatu. Mie instant kuah pedas kesukaan, lalu aku memutuskan untuk berhenti di salah satu mini market dekat tempat tinggal baruku, sebuah apartemen yang letaknya di dekat pesisir pantai, yang katanya tidak jauh dari rumah target. Kata boss Yoseph.
Aku turun dari mobil Juke inventaris dari papa Yoseph tersayang, manusia paling loyal sedunia—tapi konyol, lalu berjalan memasuki area minimarket untuk membeli beberapa bungkus mie instant. Eumm, aku juga butuh telur, beberapa sachet kopi seduh siap saji, beberapa detergen, dan entahlah, aku beli seingatnya saja nanti. Karena terlalu fokus menatap lantai saat berjalan, tanpa kuduga aku membentur pintu kaca mini market, cukup keras hingga berbunyi jedug dan menarik perhatian beberapa orang yang ada didalam sana.
Gila, ini sangat memalukan bray, seumur-umur baru kali ini aku ceroboh bin bodoh seperti ini. Bisa-bisanya cowok kull macam saya bisa menabrak pintu kaca yang terpampang nyata didepan mata seperti itu? Mungkin dalam batin mereka, punya mata ya di pake jangan buat pajangan doang, begitu. Definisi oleng dan linglung yang sebenarnya, barangkali.
Sialannya lagi, dua orang yang mengantre didepan kasir, dan satu kasir cantik yang sedang bekerja itu, menertawakan ku terang-terangan. Apes.
Aku berdehem, memperbaiki postur tubuh, lalu menarik semakin dalam baseball hat yang kugunakan untuk membenamkan wajah karena malu. Oh Em Ji, benar-benar memalukan. Lalu aku mendorong pintu kaca itu dan masuk tanpa melihat bagaimana wajah-wajah itu menatapku dengan curiga. Curiga kalau aku agen FBI, atau mungkin curiga aku adalah orang jahat. Ahahaha, benar sih kalau yang berfikir aku criminal, karena nyatanya memang begitu. Aku criminal berdarah dingin.
Dengan cepat sekali aku memilih barang yang aku butuhkan agar cepat pergi dari sini. Tidak ada yang ku beli selain mie instant kesukaan karena merasa harus segera menghilang dari pandangan orang-orang yang memperhatikan penampilanku.
Mungkin mereka heran, mengapa siang-siang begini aku memakai jumper hitam, topi hitam, jeans hitam, sepatu boots hitam, dan tidak lupa masker hitam. Kalau dipikir-pikir memang aneh karena semuanya serba hitam, tapi aku suka style seperti ini. Terkesan misterius bukan?
Too much bro.
Aku tertawa dalam hati, lantas membawa keranjang belanja menuju kasir, menunggu giliran membayar. Hingga aku mengingat sesuatu yang tertinggal belum kebeli, lalu berbalik cepat. Tapi, kenapa kesalahan itu datang kedua kali. Kali ini bukan lagi kaca, melainkan manusia. Aku menabrak seorang gadis berbalut sweater kebesaran dengan rambut diikat menjadi satu di belakang kepala, dan poni menyamping yang membingkai wajahnya yang cantik. Gadis itu nyaris jatuh kebelakang jika aku tidak menahannya dengan cekalan kuat.
“Aduh, maaf ya.” kataku, agar dia tidak menganggap ku tak beretika karena mengacuhkan setelah membuat kesalahan. Jangan tanya tatapan orang-orang, mereka menatapku makin aneh.
Gadis itu hanya diam sembari menunduk dengan wajah bersemu seperti buah tomat. Dia menarik dirinya, lalu mengambil barisanku, menerobos tanpa meminta persetujuan.
Tak peduli lagi, aku pergi dari sana dan menuju rak dimana deretan kopi berada. Untuk yang satu ini tidak boleh terlewat. Aku tidak bisa hidup tanpa kopi. Menatap layar komputer berjam-jam butuh amunisi yang kuat, kopi jawabannya.
Saat aku sudah kembali berjejer di antrian kasir, gadis yang tadi ku tabrak masih disana. Belanjaannya cukup banyak, macam belanja bulanan. Lalu, aku bisa melihat sekilas ketika melongok kedepan, gadis itu sedang tersenyum manis sambil membuat gerakan menyentuh dagu dengan jemarinya yang terbuka bebas ke atas, kemudian mengarahkannya kedepan. Itu, bahasa isyarat? Jadi, dia tidak bisa bicara? Aku jadi merasa bersalah.
Ku ikuti langkahnya meninggalkan meja kasir hingga keluar dari pintu minimarket dengan sorotan mata. Tepat setelah pelanggan didepanku telah selesai dengan belanjaannya, gadis itu menghilang dari pandangan dan aku tiba-tiba ingat pernah melihat wajah gadis itu. Tapi entah dimana, hanya terasa cukup familiar.
“Selamat sore, mau nambah pulsanya sekalian, mas?” tanya mbak-mbak kasir berwajah bulat dengan riasan tipis yang membingkai wajah ayu nya.
“Nggak dulu, mbak. Ini saja.”
Kata teman-teman di markas, aku ini laki-laki idaman wanita. Kata mereka juga, dengan wajah tampanku, aku bisa menggaet banyak wanita dan mengeruk uang tante-tante kaya kalau mau. Tapi tidak, aku ingin hidup tenang, bahagia dengan diriku sendiri dan fokus ke pekerjaan. ya, meskipun jujur pekerjaan yang ku lakoni ini kadang-kadang bikin crazy.
Cukup narsis nya. Aku masih ada urusan penting dengan mbak-mbak kasir didepanku ini. Ada sesuatu yang harus kutanyakan sebelum total belanjaanku disebutkan dan aku diusir pergi secara halus oleh pelanggan di belakangku.
“Mbak boleh tanya?” kataku menyita atensinya.
Aku langsung saja mengatakan apa yang sedang aku pikirkan. Aku memang tipikal orang yang to the poin dalam hal-hal tertentu.
“Mbak-mbak tadi itu, nggak bisa bicara ya?”
Mbak kasir tersenyum dan terlihat semakin manis. Tapi sayangnya, aku nggak tertarik. Bukannya aku nggak suka perempuan, tapi aku masih belum mau memikirkan perempuan. Itu jawaban yang masih konsisten sampai sekarang.
“Oh mbak yang tadi?” tanya mbaknya balik, dan aku mengangguk. “Iya mas. Dia nggak bisa bicara.”
Aku mengangguk paham.
“Dia kalau belanja selalu kesini.”
“Langganan ya?”
“Iya.” jawab si mbak sambil tertawa. “Totalnya lima puluh lima ribu rupiah, mas.”
Aku mengeluarkan uang seratus ribu. “Kembaliannya buat mbak saja.”
“Lho—”
“Udah nggak apa-apa.” kataku sambil meraih kantong berisi belanjaan, lantas pamit.
Didalam mobil, aku kembali mengingat-ingat wajah gadis yang katanya tidak ku ketahui namanya itu. Dahiku mengerut ketika mengingat sesuatu.
“Ouh shi-iiit!!” aku meremas dan memukul stir kemudi mobil saat mulai tau mengapa wajah itu begitu familiar untukku. Dua hari yang lalu, Yoseph memperlihatkan foto putri dari kepala kepolisian yang menjadi misi ku. Misi gila yang benar-benar gila. Aku, harus berurusan dengan kepala polisi, dan putrinya yang ... tidak bisa bicara?
Aku menyalakan mesin mobil, dan segera melacak ke arah yang sama setelah gadis itu tadi meninggalkan mini market.
Nihil. Aku kehilangan jejak, lalu aku memutuskan untuk segera menuju apartemen yang hendak ku tempati. Mungkin belum rezeki ketemu, bisa ketemu lain hari. Santai, Deket pantai kok. Bisa kapan saja kesana, Sh-iiit! Ngomong apa sih aku ini?!
Sesampainya di apartemen, ternyata tempat tinggalku ada di lantai paling atas. Kebetulan, bangunan ini terdiri dari sepuluh lantai dan menghadap langsung ke pesisir pantai, juga bisa melihat beberapa rumah penduduk disekitarnya.
Aku membuka jendela dan juga gorden, mempersilahkan angin sepoi masuk kedalam ruangan. Kutatap bentangan samudra yang terlihat cantik. Lalu, tatapan mataku jatuh pada punggung seseorang yang sedang berdiri menatap laut. Seperti seorang perempuan, siluetnya tidak begitu jelas karena jarak yang lumayan jauh. Tapi aku langsung bisa menebak siapa itu.
Bukankah itu perempuan yang tadi kutemui di minimarket tadi? []
...To be continue...
###
Like dan komennya di tunggu kakack ...
Atau jika berkenan, beri vote dan hadiah untuk Ale dong 🤭
Terima kasih